
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
James mengusap wajahnya kasar. Merasa bingung dengan apa yang dikatakan Elden tadi. Lalu, kenapa keluarga Raya waktu itu berkata jika yang membuat Raya bunuh diri itu karena Sean?
"Apa yang membuatmu begitu mempercayai keluarga Raya, James? Bukankah aku sudah mengajarimu tentang mencari dulu kebenarannya sebelum mempercayainya?" Ujar Elden dengan menatap sendu wajah James.
James terdiam ditempatnya. Kedua tangannya mengepal kuat ketika merasa dibodohi oleh keluarga Raya.
"Apa kau tidak berfikir jika Raya waktu itu butuh dukunganmu?" Kata Elden dengan menelisik wajah James yang terlihat campur aduk.
Elden menghela nafasnya kasar. "Raya waktu itu tengah mengandung anakmu. Sedangkan Sean waktu itu belajar ikhlas menerimanya. Sean di ajak baikan oleh Raya, tapi Sean menolaknya karena tidak ingin memperpanjang masalah dengan mu. Sean tidak ingin merebut kebahagiaanmu seperti kebahagiannya yang telah kau renggut darinya. Meskipun dia sangat ingin bersama Raya, tapi ketika melihat kebersamaan mu dengan Raya, melihat senyuman Raya ketika bersamamu, Sean mulai menerimanya. Sean belajar mulai melepaskan Raya demi kebahagiaan Raya dan demi kebagiaanmu. Tapi, apa yang kau lakukan sekarang? Kau merenggut kebahagiaanya. Kau merebut sumber kebahagiaan yang tah ia nanti-nantikan."
Tubuh James langsung jatuh dan bersimpuh di atas lantai yang lusuh itu. Begitu terkejut dengan semua kebenarannya.
James tau, James tau betul jika Elden tidak membohonginya. Apalagi James tau, jika Elden bukanlah tipe pembohong yang suka mengadu domba.
"Sial! Jadi selama ini James telah di tipu dan di adu domba oleh keluarga kurang ajar itu! Damn it!" Umpat James di dalam hatinya.
Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Rasa sakit dan sesak mulai melingkupi perasaanya.
"James, minta maaflah pada Sean. Terutama ke istrinya. Istrinya tidak tau menahu tentang masalah ini. Istrinya tidak ada kaitannya dengan semua ini. Jadi minta maaflah padanya. Kau jangan terlalu buta karena masa lalumu. Jangan terlalu buta dengan rasa balas dendam mu. Bukankah Daddy sudah bilang padamu, jika sebelum mempercayai sesuatu, carilah kebenarannya terlebih dahulu. Tidak semua orang bisa kau percaya. Tidak semua orang baik padamu." Ujar Elden dengan mensejajarkan tubuhnya. Ditepuknya pelan pundak anak didiknya itu. James tau betul bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang disayang. "James, ada dua tipe orang di dunia ini. Ada yang baik didepanmu ternyata busuk dibelakangmu. Dan ada yang dingin didepanmu ternyata peduli padamu."
Deg
Hati James terenyuh dibuatnya.
"Minta maaflah sebelum kesalah pahaman ini semakin menjadi dan panjang. Minta maaflah secara baik-baik dan bicaralah berdua dengan Sean." Ujar Elden dengan teesenyum. "Aku tau kau anak yang baik James. Aku sudah menganggapmu sebagai anakku. Bukan hanya sebagai anak didik ku tapi kau sudah aku anggap sebagai anak ku sendiri." Ujar Elden dengan menatap wajah James. "Tapi aku sekarang kecewa padamu James. Aku benar-benar tidak menyangka jika kebaikan ku selama ini padamu menjadi boomerang bagi keluarga kecil anakku."
James hanya menundukkan wajahnya. Merasa malu dengan apa yang telah ia lakukan.
Lalu, Elden bangkit dan berdiri dengan memegang lengannya yang berdarah.
Membuat James langsung mendongak dan menatap Elden.
"Aku harus kembali ke mansion James. Istriku menungguku sekarang. Mommy mu menunggu Daddy pulang." Ucap Elden dengan menatap nanar James.
Setelah itu Elden berbalik berjalan meninggalkan ruangan. Begitupun juga dengan Rafael yang berjalan dan mengikuti Elden dari belakang.
"Argghhhh!!!" Jerit James dengan frustasi.
"Kenapa harus seperti ini?!! Kau bodoh James! Kau bodoh!" Umpatnya dengan menacengkram kuat rambutnya.
Bodyguard yang berada di sana hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Hanya itulah yang bisa mereka lakukan sekarang.
***
Setelah itu dengan cepat Elden berjalan masuk kedalam mobil sportnya.
"Raf, lo yang mengemudi." Ucap Elden yang langsung di angguki oleh Rafael.
"Langsung ke mansion Sean. Lexa pasti menungguku sekarang." Ucap Elden dengan menyenderkan tubuhnya ke bangku mobil. Kedua bola matanya terpejam dengan deru nafas yang tidak beraturan.
Rafael mengangguk dan mengikuti titah sabahatnya itu. Tidak ada waktu untuk berdebat sekarang. Rafael tau jika Elden begitu sangat menyayangi James. Begitu menyayanginya seperti anak sendiri.
Dengan kecepatan di atas rata-rata Rafael mengendarainya.
Jam telah menunjukkan pukul setengah 3 dini hari.
Tak terasa buliran kristal jatuh membasahi kedua bola mata Elden. Elden hanya terdiam sambil menyenderkan tubuhnya. Tubuhnya, hatinya mereasa lelah dengan semua yang telah terjadi hari ini.
Rafael tau jika Elden tengah menangis sekarang. Yang bisa Rafael lakukan sekarang adalah segera kembali ke mansion Sean. Yang Elden butuhkan sekarang adalah Lexa. Hanya Lexa lah yang dapat menghibur Elden sekarang.
Setelah itu, tak berselang lama kemudian Rafael dan Elden telah sampai di mansion Sean.
Dengan cepat Elden membuka pintu mobilnya dan segera berjalan untuk memasuki dalam mansion. Meningglakan Rafael yang duduk terdiam di dalam mobil. Rafael akan langsung pulang sekarang. Istrinya juga menunggunya sekarang.
Elden masih mengingat janjinya pada istrinya tadi sebelum berangkat.
Dan benar saja. Disana Lexa tangah duduk membelakanginya. Tetap setia munggu kepulangannya.
Dengan tersenyum yang tersungging dibibirnya Elden berjalan mendekati istrinya yang masih tidak tau akan kehadirannya.
Roy berbalik dan betapa terkejutnya ketika melihat kepulangan Elden dengan penampilan yang acak-acakan.
Elden memberikan isyarat pada Roy agar diam dan tidak memberitahukan akan kepulangannya.
Roy mengangguk mengerti dan mulai berjalan mundur meninggalkan ruangan. Memberikan ruamg untuk Elden dan Lexa berdua.
Sekarang hanya tersisa Elden dan Lexa yang berada di ruangan dapur.
Lexa yang masih helum rau kepulangan suaminya. Sedangkan Elden yang telah berdiri dibelakang tubuhnya.
Elden tersenyum. Istrinya sedari dulu tidak pernah berubah. Meskipun Elden telah melarang Lexa untuk menunggunya, tapi tetap saja Lexa dengan keras kepala akan menunggunya. Mengabaikan waktu yang telah mulai menjelang pagi.
Namun, disisi lain Elden juga merasa bangga dan bersyukur karena telah dipertemukan dan dusatukan dengan Lexa.
Elden benar-benar mencintai istrinya.
Setelah itu, dipeluknya dari belakang tubuh istrinya. Didekapnya denga hamgat tubuh yang selama ini ia rindukan.
Hal itu sukses membuat Lexa terkejut dengan sebuah pelukan itu.
Tubuh Lexa berbalik dan langsung menghadap ke arah Elden.
Betapa terkejutnya Lexa yang melihat kepulangan suaminya itu.
"Aku pulang sayang." Lirih Elden dengan tersenyum.
Jemarinya mengusap pelan buliran kristal yang jatuh membasahi kedua bola mata istrinya.
Dengan perasaan bahagia, Lexa langsung memeluk tubuh tegap itu. "Aku tau kamu pasti pulang El." Ujar Lexa dengan memeluk erat tubuh suaminya.
Rasa gelusah dan khawatir yang telah menyelimuti tadi langsung menghilang.
"Dan aku tau jika istriku pasti menungguku kepulangan ku." Ucap Elden dengan membalas pelukan istrinya.
***
- Foto Elden waktu masih Muda
- Foto Lexa masih muda
- Foto Sean yang sekarang
- Foto Dara yang sekarang
- Foto anak Sean dengan Dara
Sudah siyap untuk Novel My Possesive Husband Season 2? 🤗❤💙
Nb : Ini cuman pemberitahuan doang ya 🤗🤗 kalau novel MPHnya belum end kok. Anaknya aja belum lahir 😂
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤