
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Dikamar yang didominasi warna putih tulang itu tampak berantakan. Sean masih terjaga ditempatnya. Tidak tidur sama sekali. Ingatannya masih memutar kenangannya saat bersama Raya. Didinding kamar itu terdapat layar besar yang memutar videonya saat bersama Raya. Saat dirinya merayakan ulang tahun bersama kekasihnya itu.
Tatapannya terfokus melihat layar itu. Saat dirinya dicium oleh Raya. Saat dirinya dipeluk oleh Raya, dan hal-hal tomantis yang ia lakukan bersama Raya, Sean masih mengingatnya dengan jelas. Ya, sedari awal Sean tidak akan pernah bisa melupakan Raya. Tapi, dilain sisi Sean tidak akan pernah bisa dan tak akan pernah mau untuk melepaskan Dara. Dara adalah istrinya. Miliknya. Apapun yang ada di Dara adalah miliknya. Hanya dirinyalah yang berhak atas Dara. Tidak ada yang lain.
Tangannya mengepal kuat ketika bayangan Dara tersenyum. Mamanggilnya sayang.
"Aku sayang kamu." Kata Dara dengan serius. Sungguh, Dara tidak mau laki-laki lain selain Sean.
"Aku juga sayang kamu." Jawab Sean dengan tersenyum. "Kamu lucu sekali sayang. Aku menyukainya." Ujar Sean.
Saat itu juga bayangan istrinya menangis karenanya terlintas dibenaknya. Hal itu sukses membuatnya langsung tersulut emosi.
"DAMN IT!" Umpatnya.
Sean tidak suka melihat istrinya menangis. Tidak suka melihat istrinya sedih. Sean hanya ingin melihat istrinya bahagia karnanya.
Lalu, Sean baerdiri dan berjalan ke arah jendela besar yang terdapat didalam kamar itu. Dengan cara apapun Sean akan membuat Dara terikat dengannya. Sean tidak akan membiarkan Dara pergi meninggalkannya. Meskipun Dara meminta ijin untuk pergi, Sean tidak akan pernah mengijinkannya. Karena Dara adalah miliknya. Hanya miliknya.
Sebuah seringai muncul dibibirnya. "Apapun akan aku lakukan sayang agar aku tetap bersamamu."
Tok Tok Tok
Pintu terbuka. Disana Liya sedang menunduk hormat.
"Maaf tuan, nona tidak mau makan sebelum nona bertemu dengan tuan." Ucap Liya dengan sopan.
"Apa yang sedang dia lakukan sekarang?" Kata Sean dengan dingin. Emosinya mulai menghampiri dirinya lagi ketika mendengar berita tersebut.
Rasa takut mulai menyelimuti dirinya ketika mendengar nada dingin dengan aura yang menyeremkan itu. "Nona sedang berada didalam kamarnya tuan." Jawab Liya sambil menunduk. Tidak ingin berkontak mata langsung dengan tuannya. Sean sangat menakutkan jika seperti ini.
"Apa kau sudah bilang jika aku pasti akan kembali?"
"Sudah tuan. Tapi nona masih teguh dengan pendiriannya. Nona tidak mau makan sebelum bertemu dengan tuan."
"Shitt!"
Bulu kuduk Liya seketika langsung meremang ketika mendengar umpatan kasar dari tuannya. Tuannya benar-benar menyeramkan.
"Semoga, nona baik-baik saja."
Sean langsung berjalan keluar kamar dengan langkah tegasnya. Dan lagi, emosinya yang sedang tidak stabil datang menguasai dirinya.
Maid dan para bodyguard yang berpapasan dengan Sean langsung menunduk hormat. Aura menyeramkan sangat kental terasa ketika mereka berpapasan dengan bos Mafia itu.
Dibukanya pintu kamarnya dengan kasar dan ditutupnya dengan kasar.
Brak!
Dara yang semulanya sedang duduk disisi tempat tidur langsung terkejut mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar. Tubuhnya berbalik dan kedua matanya langsung tertuju dengan Sean. Orang yang ia sayang dan ia tunggu datang juga.
"Kamu darimana saja Sean? Aku khawatir." Ujar Dara sambil berjalan menghampiri Sean dengan kedua bola mata yang telah berair. Dara tersenyum melihat kedatangan suaminya itu. Ada perasaan lega ketika melihat Sean yang tampak baik-baik saja. Tidak ada luka sedikitpun.
Namun berbeda dengan Sean. Tatapannya menajam ketika melihat kedua bola mata istrinya yang sembab karena habis menangis. Kedua tangannya langsung mengepal kuat ketika melihat istrinya yang menangis karenanya.
Dara tertegun dengan tatapan dingin yang menusuk itu. "Kamu marah?" Tanya Dara dengan khawatir. "Apa sesuatu terjadi denganmu Sean? Ayo cerita. Akan aku dengarkan. Mungkin aku bisa membantumu." Dara mencoba untuk tetap tersenyum mengabaikan tatapan tajam yang dinyalangkan oleh suaminya untuk dirinya.
Deg
Nafasnya tercekat mendengar perkataan suaminya itu. Padahal Sean tidak pernah sebelumnya berkata seperti ini padanya.
"Mungkin aku bisa membantumu Sean. Akan aku usahakan semampuku. Setidaknya aku bisa memberimu saran yang baik atau menjadi pendengar yang baik untukmu." Ujar Dara sambil memandang sendu wajah suaminya itu.
"Tidak akan bisa." Jawab Sean dingin.
Seketkak hatinya langaung terluka mendengar penolakan tegas dari Sean. Setidak bergunanya itukah aku untukmu Sean?
Dengan kasar Sean langsung mencengkeram pergelangan tangan mungil itu.
"Au--" Pekik Dara terkejut karena tiba-tiba Sean mencengkeram kuat pergelangan tangannya. "Sean sakit." Lirihnya pelan ketika Dara semakin merasakan cengkraman kuat dipergelangan tangannya.
Sean menulikan pendengarannya. Seakan tidak peduli dengan rintihan kesakitan itu.
Dipepetnya tubuh mungil itu kedinding.
Benturan keras punggungnya dengan dinding membuatnya meringis kesakitan. Namun, seakan buta, Sean tidak memperdulikannya.
"KENAPA KAMU TIDAK MEMAKAN SARAPANMU HAH?!" Bentak Sean. Emosi yang semalam ia tahan karena Raya terlampiaskan begitu saja ke istrinya.
Dara tersentak kaget. Begitu terkejut dengan bentakan keras itu.
"Aku menunggumu Sean."Jawab Dara sambil menatap kedua mata itu yang telah memberikan warna di kehidupannya. "Aku akan makan kalau kamu datang." Lirihnya pelan.
Tangan Sean semakin mengepal erat ketika mendengar jawaban itu.
"Jangan menungguku."Jawab Sean dengan dingin.
Hatinya terluka mendengar penuturan itu.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menunggumu? Aku istrimu." Ucap Dara dengan kedua bola mata yang telah berair.
Sean menahan nafasnya melihat air mata itu. Dara menangis karenanya.
Tanpa sepatah kata apapun Sean langsung meninggalkan Dara begitu saja. Menutup pintu kamar dengan kasar.
Brak!
"Hiks!" Tangisanya langsung pecah begitu saja. "Apa salahku Sean? Bukankah kemarin hubungan kita baik-baik saja?"
Dara terduduk lesu di atas lantai yang dingin. Tangisannya semakin pecah begitu saja.
Kenapa Sean? Kenapa? Apa salahku? Apa?
***
Apa salahku Sean? Bukankah kemarin hubungan kita baik-baik saja? - Andara Claire
Jangan menungguku Dara - Sean Crishtian
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤