
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Sudah satu jam lebih Sean dan Nick menunggu didepan pintu kamarnya. Tapi, Albert tak kunjung keluar juga. Membuat Sean menahan diri untuk tidak mengumpat dan berkata kasar. Sean sekali-sekali melampiaskannya dengan memukul dinding berulang kali. "Sialan. Sialan. Sialan." Umpatnya pelan, tapi masih terdengar oleh Nick.
Nick hanya diam menatap Sean. Tanpa berniat untuk menenangkan sahabatnya itu. Namun sebuah pertanyaan muncul dibenaknya. "Kenapa kau menikahi Dara?" Tanya Nick secara tiba-tiba. Membuat tubuh Sean langsung berbalik menghadapnya.
"Apa maksud mu menanyakan hal itu?" Kata Sean sambil menatap tajam kedua mata sahabatnya itu. Sean tidak suka jika ada yang mengusik hal pribadinya.
Nick tersenyum tipis. "Menurutku itu sangat aneh. Kau tiba-tiba mengajak Dara untuk menikah sedangkan kau saja belum bisa melupakan Raya, kekasih tercintamu itu."
Rahangnya langsung mengeras ketika nama Raya, perempuan yang ia cinta disebut oleh Nick. "Jangan kau sangkut pautkan Raya dengan hal ini Nick! Raya tidak ada hubungannya!" Bentak Sean keras. Sean tidak terima jika kekasihnya disangkut pautkan seperti itu.
"Oh benarkah? Kalau Raya tidak ada hubungannya, lalu kenapa kau seperti ini? Bukankah kau selalu seperti ini jika mengingat tentang Raya. Bahkan kau masih menyimpan barang-barang kenangan saat bersama Raya. Lalu untuk apa kau menikahi Dara jika Raya saja tidak bisa kau lupakan?" Ujar Nick dengan menatap lekat wajah Sean yang mulai memerah, menahan emosinya. Nick memang pandai memancing emosi seseorang.
Tangannya mengepal erat. "Kau tidak perlu ikut campur dengan urusanku Nick."Jawab Sean dengan dingin. "Urus saja, urusanmu sendiri Nick."
Nick menegakkan badannya. Berdiri tepat dihapadan Sean. "Bukannya aku ingin ikut campur dengan urusanmu bung. Tapi aku hanya ingin memberimu saran untukmu, kalau penyesalan selalu berada dibelakang. Tidak didepan. Kau ingat perkataan Dara bukan?
Waktu kita melakukan permainan Truth Or Dare. Dara mengatakan kalau perasaan itu bukan dibuat permainan. Jadi, jelas terlihat kalau Dara tipe perempuan yang serius dalam menjalani hubungan bukan seperti kekasih tercintamu itu. Jadi saranku berhentilah mengingat masa lalu mu itu. Kuburlah dan lupakan. Cobalah untuk berdamai dengan masa lalumu. Raya yang memilih untuk meninggalkanmu bersama pria lain. Bukan kau yang meninggalkannya. Dan kau jelas ingat bukan, jika Raya sudah mengandung anaknya pria itu saat berhubungan denganmu. Jadi, bukalah mata hatimu itu. Kau jangan buta hanya karena cinta masa lalu mu. Karna apa? Aku bisa saja merebut Dara darimu." Ujar Nick dengan seringai tipis yang tersungging dibibirnya.
Sean yang mendengar perkataan Nick, langsung memukul rahang Nick. Dara adalah miliknya! Tidak akan ada yang bisa merebut Dara darinya. Tidak ada!
"Brengsek kau!" Umpat Sean lalu memukul telak rahang Nick sekali lagi.
Sedangkan Nick hanya diam ditempatnya. Sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, Nick tersenyum tipis.
"Santai bung, aku tidak akan merebut Dara darimu. Tapi jika Dara yang memintaku untuk mendekatinya, maka akan aku lakukan dengan senang hati." Ujar Nick dengan seringainya. Entah kenapa, Nick paling suka membuat seseorang emosi. Apalagi tipe orang yang seperti Sean. Nick semakin gencar melakukannya.
Dengan penuh amarah, Sean langsung mencengkram erat baju Nick.
Wajah Sean menggelap. Tatapannya menajam ketika menatap wajah Nick. Sedangkan Nick hanya tersenyum tipis.
"Kau pilih Raya atau Dara?" Tanya Nick. "Kau tidak boleh egois untuk memiliki kedua-duanya. Meskipun Raya sudah tiada, tapi jika hatimu untuk Raya, lalu untuk apa Dara? Untuk kau jadikan pelampiasan?" Tambahnya.
Sean yang emosi, langsung mendorong kasar tubuh Nick.
Ceklek
Pintu terbuka. Albert menghela nafasnya kasar ketika melihat Sean dan Nick sedang bertengkar. Sedangkan Sean langsung menghampiri Alberd.
"Bagaimana kondisi istriku?" Tanya Sean dengan khawatir.
Albert mengambil nafasnya dalam-dalam. Membuat Sean cemas dengan keadaan istrinya itu.
"Ada beberapa luka yang memerlukan untuk dijahit dan kondisinya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, yang aku lihat, sepertinya, istrimu kurang asupan hari ini, alias tidak makan sama sekali. Apa kau tau itu?"
Hatinya seperti runtuh begitu saja. Sean bahkan tidak memperhatikan istrinya sudah makan atau belum. Dirinya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Dan lagi, perasaan bersalah muncul dihatinya.
Albert yang mengerti keterdiaman Sean hanya menghela nafasnya. "Baiklah, mungkin dia akan sadar besok. Jadi kau bisa memberinya obat yang telah aku resepkan untyk istrimu. Dan jangan lupa istrimu kau beri asupan makanan juga." Ujar Albert sambil menepuk pelan bahu Sean.
"Baiklah kami pergi terlebih dahulu." Pamit Albert yang diikuti oleh lima perawat yang lain dengan membawa alat-alat medisnya.
Roy bernafas lega. Setidaknya istri tuannya itu tidak terluka terlalu parah. Nyawanya masih terselamatkan.
"Roy, transfer uang ke rekening milik Albert dua kali lipat besok. " Titah Sean.
"Baik tuan." Jawab Roy sambil menunduk hormat.
Lalu Sean segera berjalan masuk kedalam kamar miliknya bersama Dara. Ditutupnya pintu kamar itu. Membuat Nick terdiam. Ada perasaan cemburu yang menyelimuti perasaanya.
Tapi, untunglah. Setidaknya Nick cukup merasa lega dan senang, karena Dara tidak mendapatkan luka yang terlalu parah.
Setelah itu Nick memilih untuk segera berjalan menuju kebawah untuk pulang. Mungkin besok Nick akan membicarakannya bersama Sean mengenai pemilik kancing baju yang telah ditemukan oleh Darren.
***
Sean terdiam didalam kamar miliknya. Menatap seisi kamar yang tampak rapi dan bersih. Ya, Sean jelas tau jika istrinya yang membersihkan dan merapikannya. Karena istrinya itu tidak suka dengan tempat berantakan. Apalagi berdebu. Sean tersenyum tatkala mengingat itu semua. Istrinya sungguh benar-benar menggemaskan dan cantik sekali.
Sean berjalan menghamipiri ranjang tempat istrinya berisitirahat.
Sean memilih duduk ditepi ranjang, disisi istrinya. Sean mengamati wajah cantik itu. Sean begitu terkagum-kagum dengan wajah cantik itu.
Sudah tiga jam dirinya hanya menatap wajah cantik itu. Pikirannya menelisik jauh. Banyak memori yang berputar di otaknya tentang Raya.
Lalu dikecupnya dengan sayang wajah cantik itu. "Aku dulu memiliki kekasih yang sangat cantik sekali. Dia namanya Raya. Dia hampir sepertimu. Hanya saja Raya itu manja padaku. Tidak seperti mu yang mandiri. Kami menjalani hubungan selama dua tahun. Awalnya semua baik-baik saja. Raya menerimaku. Dan aku juga sangat menyayanginya. Tapi itu semua hancur seketika, ketika dia bilang padaku jika sudah muak denganku dan Raya memilih untuk bersama pria lain. Bahkan kami sudah merencanakan pernikahan. Namun itu semua hancur. Raya memilih pergi dari kehidupanku. Dan aku tidak mau egois dengan hal itu. Aku melepaskannya maskipun hati ini terasa berat. Di hari pernikahan kita sebenarnya adalah hari pernikahan aku bersama Raya. Tapi, Raya telah pergi selama-lamanya."
"Maafkan aku, maaf. Untuk saat ini aku tidak bisa melepaskan Raya. Tidak bisa melupakan Raya. Jadi, aku mohon tunggu aku dan jangan pergi." Ujar Sean. Digenggamnya tangan mungil itu. "Untuk sekarang aku akan egois. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Sekalipun kamu yang memintanya, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu milikku. Hanya milikku. Selamanya akan tetap begitu." Kata Sean sambil megenggam erat tangan mungil itu. "Kamu istriku. Kamu wanitaku." Ujar Sean. Lalu dikecepunya tangan itu. "Selamat tidur sayang." Lalu, Sean bangkit dan berjalan menuju sofa yang tersedia di dalam kamar miliknya. Sean memilih tidur di sofa itu.
Lalu tanpa sepengetahuannya, sebenarnya Dara telah sadar sedari tadi. Hanya diam berpura-pura memejamkan kedua matanya ketika mendengar nama Raya yang keluar dari bibir Sean. Dara memilih diam mendengarkan semua cerita Sean. Hatinya teriris pilu dan sesak mendengar cerita suaminya. Mendengar kenyataanya dan fakta yang sangat menyakitkan.
Jadi, hari pernikahannya itu sebenarnya adalah hari pernikahannya Sean bersama Raya? Bukan dirinya. Buliran kristal menetes membasahi kedua matanya. Tanpa isakan yang keluar dari bibirnya. Dara mati-matian menahan isakan yang akan keluar dari bibirnyatang mungil itu
Tapi maaf Sean, kamu tidak bisa memaksaku untuk tetap tinggal sedangkan hatimu masih terisi oleh wanita lain.
***
Lepaskan Aku Sean. Biarkan aku pergi. Jangan menahanku disini jika hatimu saja masih terisi oleh wanita lain.
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤