My Possesive Husband

My Possesive Husband
110. HANCUR


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Dara menghela nafasnya pelan. Kini mereka berdua sedang berada di meja makan. Baru saja selesai melakukan aktivitas sarapan paginya.


Hari ini suaminya akan pulang larut malam karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di perusahaanya.


"Jangan sedih sayang. Aku akan segera pulang." Ujar Sean yang berusaha menenangkan istrinya yang terlihat sedih.


Dara yang semulanya menundukkan wajahnya demi menghindari wajah suaminya langsung beralih menatap wajah suaminya. "Janji langsung pulang Sean. Jangan pergi kemana-mana." Lirih Dara dengan menatap sendu wajah suaminya. Merasa berat jika sehari ini harus ditinggalkan suaminya.


"Iya sayang. Tentu saja, oke. Aku janji akan langsung pulang." Kata Sean dengan memeluk tubuh mungil istrinya. "Aku akan menyuruh Roy untuk menjagamu dan aku akan menelfonmu untuk mengabarimu." Tambahnya dengan mengecup sayang puncak kepala istrinya agar istrinya sedikit merasa terhibur.


Dara mengangguk, pasrah. Ingin menahan susminya tapi itu sudah menjadi kewajibannya sebagai pimpinan perusahaan.


"Jangan cemberut sayang." Ucap Sean pelan. "Bagaimana bisa aku pergi bekerja jika istriku sedang cemberut seperti ini?" Ujar Sean dengan menatap wajah cantik istrinya. Diusapnya dengan sayang wajah yang semakin berseri itu.


Dara langsung tersenyum terenyuh setelah mendengar perkataan suaminya barusan. Dara berusaha meyakinkan dirinya jika hari ini pasti akan berlalu dengan sangat cepat. "Iya Sean. Aku tidak cemberut." Ujar Dara dengan memasakkan sebuah senyuman agar tersungging di bibirnya.


Sean yang melihat istrinya tersenyum langsung ikut tersenyum. "Ini baru istriku." Ucapnya dengan mendekatkan hidungnya dengan hidung istrinya. Hidung mancung Sean tampak lebih mendominasi daripada hidung istrinya yang terlihat mungil. Digesek-geseknya pelan ujung hidungnya dengan ujung hidung istrinya yang memberikan sensasi geli pada dirinya.


"Aku akan berangkat sayang. Jangan sampai telat makan dan jangan lupa untuk beristirahat." Ujar Sean memperingatkan istrinya dan bangkit dari tempat duduknya. Menata beberapa berkas yang ia butuhkan di dalam tas kerjanya.


"Iya Sean. Kamu juga jangan sampai telat makan." Kata Dara dengan menatap sendu suaminya. Sungguh, Dara merasa berat ketika akan ditinggalkan suaminya bekerja.


Setelah dirasa semuanya telah siap, lantas Sean jongkok dihadapan istrinya. Ia sejajarkan wajah tampamnya dengan perut istrinya yang membuncit.


"Daddy akan pergi bekerja. Jangan nakal di dalam sana. Jaga mommy dengan baik, son." Kata Sean yang berbicara dengan malaikat kecil yang berada di dalam kandungan. Dikecupnya dengan sayang perut istrinya yang buncit itu. "Daddy berangkat." Pamit Sean kepada malaikat kecilnya. Setelah itu Sean bangkit dan berdiri menjulang tinggi dihadapan istrinya. "Aku berangkat dulu sayang. Aku akan segera pulang." Ucap Sean dengan mengecup sayang kening istrinya. "I love you istriku. Aku sayang kamu."


Dara menatap wajah tampan suaminya. "I love you too sayang. Aku juga sayang banget sama kamu." Kata Dara menanggapi perkataan cinta suaminya.


"Afi!" Teriak Sean dengan sura yang menggelegar.


Afi yang namanya dipanggil langsung segera menghampiri tuannya. "Iya tuan." Ucap Afi dengan membungkuk hormat.


Lalu, Sean membalikkan badannya. Menghadapa ke arah maidnya. "Kau jaga istriku. Jangan sampai kenapa-kenapa." Titah Sean dengan suara yang tegas.


"Baik tuan." Jawab Afi dengan sopan.


"Aku tidak pernah mentolerir kesahalan sekecil apapun. Aku tidak pernah memberikan ampun pada penghianat. Meskipun orang itu telah lama bekerja denganku ataupun masih baru, penghianat tetaplah penghianat." Ucap Sean dengan suaranya yang terkesan dingin.


Glek


Afi menelan air ludahnya kasar. Berusaha menimalisir kegugupannya. "Baik tuan. Saya mengerti." Ucapnya.


Lalu, Sean mengecup singkat bibir istrinya. "Aku berangkat." Ucap Sean.


"Iya Sean." Jawab Dara.


Setelah mendengar perkataan istrinya, dengan segera Sean berjalan keluar mansion. Meninggalkan istrinya di mansion dengan orang-orang kepercayaanya.


Setelah kepergian Sean, Dara langsung duduk kembali di kursi. Menghela nafasnya berkali-kali.


"Apa nona perlu sesuatu?" Tanya Afi dengan sopan.


"Tidak Afi. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." Kata Dara dengan tersenyum.


Dara mengangguk menanggapi perkataan Afi.


"Roy." Panggil Dara ketika melihat Roy yang berjalan melewatinya.


Roy dengan langkah tegasnya, langsung berjalan menghadapi istri majikannya. "Iya nona."


"Sudah lama kita tidak mengobrol bersama Roy. Bagaimana kabarmu?" Tanya Dara dengan menatap wajah Roy yang terlihat tidak seperti biasanya.


"Baik nona." Jawab Roy dengan datar.


Deg


Dara baru menyadari, jika senyuman yang biasa tersungging di bibir Roy kini telah menghilang. Tidak ada tatapan ramah yang biasa terpancarkan di kedua bola matanya.


"Apa kau yakin?" Tanya Dara lagi. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya nona. Saya baik-baik saja." Jawab Roy lagi dengan tenang dan datar.


Dara langsung menarik pergelangan tangan Roy agar duduk berhadapan dengannya.


"Roy, tatap aku." Ucap Dara dengan menatap serius wajah Roy.


Tangan Roy langsung mengepal kuat. Otot-otot di rahangnya terlihat. Karena setiap kali melihat senyum ceria Dara, maka Roy akan selalu mengingat senyuman Liya yang selalu ia rindukan.


"Roy.." Lirih Dara.


Mau tak mau Roy lantas menatap kedua bola mata Dara.


"Maafkan aku."


Hening. Tak ada jawaban apapun dari Roy.


Buliran kristal langsung jatuh membasahi kedua bola matanya yang cantik. Rasa bersalah dan penyesalan masih menyelimuti dirinya.


"Maafkan aku Roy. Maafkan aku. Hiks!" Isak Dara. Tangisnya mulai pecah ketika mengingat Liya yang selalu berkeliaran dalam mansion.


"Aku sungguh tidak tau jika akan menjadi seperti ini. Aku tidak tau jika Liya dan kau ada hubungan. Maafkan aku. Hiks!"


Srek


Roy langsung berdiri. Hal itu membuat Dara sedikit terkejut dengan suara bangku yang bergerak.


"Lupakan saja. Anggap saja itu tidak pernah terjadi. Saranku, jangan mengorbankan orang lain hanya untuk memenuhi keinginan mu sendiri." Ucap Roy dengan suara yang dingin. Wajahnya datar dan tak ada pancaran ramah yang biasa ia layangkan. "Saya permisi." Pamit Roy dan langsung berjalan meninggalkan Dara sendirian di dapur.


Hati Dara hancur mendengarnya. Ternyata tanpa ia sadari, dia adalah pembawa bahaya bagi orang-oramg disekelilingnya.


🌹🌹🌹


TRAILER TERBARU NYA UDAH AKU UPLOAD DI IGTV INSTAGRAM PRIBADI YA 🤗 YANG BELUM LIAT BURUAN LIAT YUK 😉




Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤