
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Jernihkan pikiran mu Sean. Kau harus segera menyelesaikan semuanya satu persatu." Ujar Sean pada dirinya sendiri.
Lantas Sean segera bangkit dari duduknya dan segera memakai pakaian kerjanya yang telah disiapkan oleh istrinya.
Setelah itu Sean segera meletakkan kembali handuknya ke tempatnya. Jika tidak, nanti pasti Sean akan di omeli panjang × lebar oleh istrinya. Membayangkannya saja, Sean sudah tidak sanggup. Selain bawel, istrinya juga cerewet.
Tunggu sebentar, apa bedanya dengan bawel dan cerewet Sean?
Oke. Lupakan saja. Anggap saja itu berbeda.
Sean menggeleng pelan dengan tersenyum. Menertawakan dirinya sendiri. Baru kali ini Sean dibuat senyum-senyum sendiri seperti ini karena seseorang, yaitu istrinya.
Lalu, dirasa semuanya telah siap, Sean segera berjalan menuju keluar kamar.
Dengan langkahnya yang tegas, Sean segera berjalan menuju ruang makan. Tempat dimana istrinya sedang menunggunya sekarang.
Maid yang berpapasan dengan tuannya langsung menunduk hormat.
"Selamat pagi tuan." Sapa maid dengan sopan dan menunduk hormat.
Sean hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis.
Tak hayal, hal tersebut membuat maid yang melihat respon dari tuannya langsung memekik kegirangan. Baru kali ini tuannya menanggapi sapaan mereka.
Dan lihat? mereka langsung memekik kegirangan hanya karena senyuman Sean. Apalagi kalau Sean menjawabnya dengan tersenyum. Sean yakin, pasti itu langsung menjadi double kill untuk maidnya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri Sean?" Tanya Dara ketika mendapati suaminya yang tengah tersenyum sendiri. Kedua bola matanya langsung menyipit dan menatap penuh curiga wajah suaminya. Tumben sekali suaminya senyum-senyum sendiri? Habis kepentok apa kepala suaminya?
Sean tertawa renyah melihat respon istrinya. "Aku hanya tidak habis pikir dengan maid sayang." Jawab Sean dengan tersenyum.
Oke. Senyum suaminya telah mengalihkan duniaku.
"Mereka langsung memekik dan kegirangan hanya karena aku tersenyum." Lanjutnya lagi. Setelah itu Sean menarik kursinya dan segera duduk dikursinya.
Kening Dara berkerut, heran. "Memang kenapa kalau mereka tersenyum? Terus kenapa kamu tersenyum?"
"Ya tidak apa-apa sayang. Aku hanya tidak habis pikir dengan mereka. Padahal aku hanya tersenyum sebagai balasan sapaan selamat pagi mereka."
Dara mengangguk mengerti. Bagaimana mereka tidak menjerit, orang suaminya aja setampan ini. "Aku kira ada apa hubby." Jawab Dara dengan pandangan yang mulai melunak. Karena sedari tadi istrinya menatapnya seperti ingin mengguliti kulitnya.
Setelah itu Dara segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Diolesnya empat lembar roti gandum dengan selai keju dan coklat.
Setelah mengolesinya dengan rapi, Dara langsung melatakkan dua lembar roti di piring suaminya. Dan tidak lupa juga segelas susu.
"Hufftt.." Sean menghela nafasnya pelan. Membuat wajah Dara yang semulanya tengah serius membuat bekal makanan untuk Sean langsung menatap wajah Sean dengan alis yang terangkat heran. "Kenapa hubby? Apakah roti gandumnya tidak enak?"
"Tidak sayang. Tapi alangkah baiknya jika susu di gelas ini aku minum dari sumbernya. Dan lebih baik lagi jika aku meminumnya dari.." Pandangannya langsung jatuh ke arah dada istrinya.
Dara yang mengerti tatapan mesum itu reflek langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Stop berfikir yang tidak-tidak Sean!" Ujar Dara dengan menatap galak wajah suaminya. Wajahnya langsung memerah karena perkataan suaminya tadi.
Sean langsung tertawa renyah. "Berfikir yang tidak-tidak apa sayang? Hm?" Ucap Sean dengan nada yang menggoda. Sean pura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan istrinya tadi.
"Permisi tuan."
Sean dan Dara langsung menoleh.
Dara langsung tertegun dengan kehadiran Roy yang begitu tiba-tiba. Sekelebat kejadian naas malam itu langsung datang ke otaknya. Ada rasa takut ketika Dara berada disekeliling Roy.
"Ada apa Roy?" Jawab Sean dengan memakan sarapannya. Tidak berminat untuk menatap Roy, tangan kanannya.
Roy menunduk hormat. "Mobil tuan sudah siap dan tadi ada salam dari tuan Elden sebelum berangkat. Tuang Elden bilang jika tuan di tunggu dikantor jam 9 pagi ini." Kata Roy dengan sopan.
Sean mengangguk, mengerti. "Kau bisa kembali bekerja."
"Baik tuan. Saya permisi."
Roy segera membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan dapur. Melalui ekor matanya, Roy melirik ke arah Dara. Roy hanya menatap datar tanpa ekspresi.
"Sean, kamu hari ini pulang jam berapa?" Tanya Dara dengan menatap wajah suaminya yang tengah asik menyantap nikmat rotinya.
"Mungkin jam 8 malam sayang. Nanti jam 7 malam aku ada pertemuan pribadi dengan Darren." Jawab Sean lalu meminum segelas susunya hingga tandas.
Dara mengangguk mengerti. "Baiklah. Hati-hati kalau berangkat dan jangan lupa untuk menghubungiku." Kata Dara mengingatkan suaminya dengan menutup rapat kotak bekal untuk suaminya. "Jangan lupa bekalnya ini dimakan. Awas aja kalau dibuang." Ucap Dara dengan memasang wajah galak.
Namun, berbeda dengan Sean. Menurutnya wajah istrinya yang tengah seperti itu terlihat sangat menggemasakan. "Iya sayang. Pasti akan aku makan. Tidak akan aku buang. Inikan masakan spesial dari istri tercinta." Ujar Sean dengan mengedipkan sebelah matanya. Sepertinya, menggoda istrinya akan menjadi kebiasaan barunya.
Dara menggleng pelan mendengar perkataan suaminya tadi. Suaminya memang benar-benar suka menggodanya. Untung sayang.
Lantas Sean bangkit dari tempat duduknya. "Aku akan berangkat sayang. Sekarang sudah jam 8 kurang lima belas menit." Ucap Sean dengan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Tidak lupa juga membawa kotak bekal yang telah istrinya siapkan.
Lalu, Dara segera bangkit dan berjalan ke arah suaminya. Tangannya yang mungil itu langsung merapikan dasi yang melingkar dileher suaminya. "Ingat pesan ku Sean. Dilarang nakal dan bermain mata dengan perempuan lain diluar sana. Jangan lupa menghubungiku."
"Siap ibu negara!" Sahut Sean dengan semangat empat lima dan tidak lupa juga hormat ke istrinya.
"Apaansi Sean." Ujar Dara yang melihat tingkah absurd suaminya.
"Tidak apa-apa sayang." Dikecupnya kening istrinya dengan sayang. "Aku berangkat kerja dulu. Kamu baik-baik dirumah. Kalau ingin sesuatu dan terjadi sesuatu, langsung hubungi aku, oke?"
"Iya hubby. Siap laksanakan." Jawab Dara dengan semangat.
Dengan gemas Sean mengacak pelan puncak kepala istrinya. "Kamu gemesin banget. Aku suka."
"Aku juga suka."
Bunga yang mekar mulai layu..
Bunga yang semulanya segar mulai mengering..
Bunga yang semula berwarna merah mulai menghitam..
Apakah itu sebuah pertanda atau hanyalah sebuah angin lalu?
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤