
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Apa kita akan pulang?" Tanya Lucas dengan memasang wajahnya yang polos.
Daniel langsung memukul kepala Lucas. "Hentikan sifat kepura-puraan mu itu Lucas."
"Aku akan menunggu kedatangan mu Darren." Bisik Marvin dengan tersenyum tipis lalu berjalan menyusul Garvin, Lucas, Jayden dan Daniel.
Sementara itu Alfa masih terdiam di tempatnya. Masih diam dan menatap ke arah Nick. "Sepertinya aku sudah menemukan saingan yang sepadan dengan ku." Kata Alfa lalu berjalan menyusul kawan-kawannya.
"Setelah ini kita harus mengadakan rapat besar-besaran dengan seluruh anggota Geng Mafia kita." Ujar Damian sambil menatap kepergian Geng Mafia The King Of Blood.
"Kau benar Damian. Kita tidak boleh diam seperti ini." Sahut Nick sambil menatap kepergian anggota Geng Mafia The King Of Blood. "Kau akan habis di tangan ku Daniel." Ucap Nick di dalam hatinya. Kedua tangannya mengepal kuat. Pancaran kebencian terlihat jelas dari kedua bola matanya.
"Kau hutang penjelasan dengan kami Darren." Ujar Damian sambil menoleh untuk menatap wajah Darren yang tengah berdiri di sebelahnya.
Darren dengan tenang hanya merespon nya dalam diam. Tidak berbicara sama sekali.
"Apa lebih baik kita pulang?" Tanya Nick kepada kedua sahabat nya.
Damian dan Darren mengangguk. "Lebih baik kita pulang dan beristirahat. Kita bicarakan lagi besok mengenai masalah ini." Usul Damian yang disetujui oleh Nick dan Darren.
Setelah itu mereka bertiga berjalan menuju mobil sport mewah masing-masing. Sesampainya di dalam mobilnya Darren menghembuskan nafasnya pelan. "Tenangkan diri kamu Darren." Ujar Darren pada dirinya sendiri. Berusaha untuk menenangkan dirinya.
Sedangkan Nick memukul stir mobilnya dengan kuat. Emosi tengah melingkupinya. "Akan aku habisi kau Daniel! Berani-beraninya kau mengganggu perempuan yang aku cinta!" Kedua bola matanya menatap tajam dengan tangan yang mengepal erat.
Berbeda dengan Damian yang terlihat tenang dengan sebuah seringai tipis yang tersungging di bibirnya. "Lucas Endless." Ujarnya dengan nada yang rendah.
Lalu, mereka bertiga pun dengan mengendarai mobilnya masing-masing pergi meninggalkan mansion Sean untuk menuju tempat tujuan nya masing-masing.
"Sean." Panggilan dari suaranya Daddy nya itu membuat Sean langsung menoleh.
"Yes Dad?" Jawab Sean dengan tenang. Tidak ada ke khawatiran sama sekali. Di tatapnya wajah Daddy nya dengan tenang.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya Sean?"
Sean tersenyum mendengarnya. "Tentu saja aku akan menyerangnya Dad." Jawab Sean. Pandangan nya beralih menatap pintu Mansion yang masih terbuka lebar. Perkataan Garvin tadi sangat terekam jelas di ingatannya.
"Jadilah kuat terlebih dahulu baru melawanku. Perluas daerah kekuasaan mu agar kau bisa menandingi kekuasaan ku." Dengan suara yang dingin Garvin mengatakannya. Smirk tipis lagi-lagi tersemat di bibir tipisnya. "Kau tau Sean, kau tidak ada apa-apanya untuk ku. Dulu kita memang sepadan. Tapi sekarang kita sudah tidak sepadan. Level mu masih jauh berada di bawah ku."
Sampai kapan pun Sean akan mengingat perkataan saudara tirinya itu. Sampai kapan pun itu.
Setelah mendengar jawaban dari Sean, Elden hanya bisa terdiam di tempatnya. "Jika itu memang terjadi, aku berharap semoga sosok ku yang dulu jangan sampai datang lagi."
Sean yang melihat respon Daddy nya lantas memutuskan untuk beranjak dari tempatnya. "Aku akan ke kamar Dad." Pamit Sean ke Elden.
"Iya Dad." Lantas kedua kaki Sean mulai berjalan menapaki tangga untuk menuju kamar pribadinya. Sean tahu, pasti istri kesayangannya itu tengah meng-khawatirkan keadaannya sekarang.
Sesampainya di depan pintu kamar, Sean membuka pelan pintu kamarnya. "Sayang." Sean memanggil istrinya dengan nada bicara yang pelan. Takut jika suaranya dapat menggangu tidur pangeran kecilnya.
Dara yang tengah duduk di sisi ranjang langsung menoleh. "Hubby." Ada perasaan lega setelah melihat suaminya.
Sean tersenyum. "Iya sayang." Sambil melangkah kan kedua kakinya Sean menghampiri istrinya.
Dara yang semulanya duduk langsung berdiri untuk menyambut suaminya.
Dipeluknya tubuh istrinya dengan sayang. "Aku baik-baik saja sayang." Dikecupnya puncak kepala istrinya. Di usapnya dengan lembut punggung istrinya itu.
Lexa memutuskan untuk berjalan keluar dari dalam kamar. Tidak mau menganggu waktu berdua anaknya dengan menantunya.
"Hiks!" Isakan tangis mulai terdengar. "Aku takut kamu kenapa-kenapa Hubby. Garvin terlihat sangat menyeramkan." Kata Dara di sela tangisnya.
Sean tertawa renyah mendengar ucapan polos itu. "Dia memang terlihat menyeramkan sayang. Tapi ingat, suami mu ini lebih menyeramkan." Bisik Sean tepat di telinga istrinya. "Apalagi jika bersama kamu. Suami kamu ini semakin menyeramkan." Tambahnya lagi.
Tubuh Dara meremang mendengarnya. "Ish! Apaan si hubby!" Di dorongnya dada bidang suaminya itu. Membuat pelukan mereka langsung terlepas. Di tatapnya wajah Sean dengan cemberut. "Jangan mulai lagi Hubby." Sergah Dara dengan bersedekap dada.
Salah satu alis Sean terangkat sebelah. "Mulai apa sayang?" Tanya Sean dengan berpura-pura tidak tau.
Dara langsung memutar kedua bola matanya malas. Suaminya mulai lagi.
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
@nickalbertreal
@raraagathareal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊