My Possesive Husband

My Possesive Husband
54. PERGI SULIT BERTAHAN SAKIT


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Nb : Sambil dengerin lagu mellow ya. Wajib bgt! Agar feelnya semakin dapat!


Setelah Sean mengucapkan perkataan tersebut, Sean langsung berjalan ke kamar mandi. Pikirannya perlu di dinginkan dengan mandi air dingin. Dan Sean akan menyuruh Roy untuk mencari tau hubungan Dara dengan Raya, kekasihnya.


Sedangkan Dara hanya terdiam ditempatnya. Setelah Sean mengucapkan hal tersebut, Dara tidak bisa membalas perkataan Sean. Mulutnya seakan terkunci rapat karena tatapan tajam itu. Namun, Dara tidak boleh diam seperti ini. Dara harus pergi dari mansion Sean. Dengan apapun caranya.


Lalu dengan keputusan yang telah bulat Dara menyibak selimutnya. Dengan perlahan Dara menurunkan kedua kakinya. Rasa sakit langsung menyerangnya dengan sangat kuat. Tapi, Dara tidak peduli dengan itu. Tetap memaksakan kedua kakinya untuk bergerak. Dengan pelan-pelan Dara mulai berjalan, dibantu dengan berpegangan pada meja yang ada di kamarnya.


"Kamu kuat Dara. Kamu bisa." Ucapnya dalam hati.


Buliran kristal mulai membasahi kedua matanya. Ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Setiap kakinya melangkah, nyeri dan rasa sakit langsung menyerang salah satu kakinya dua kali lipat. Apalagi luka dilengannya mulai terbuka lagi, darah mulai mewarnai perbannya, akibat dari cengkraman Sean tadi. Namun, Dara mencoba untuk mengabaikan rasa sakitnya. Dengan perlahan Dara menyeret kakinya untuk bergerak menuju pintu kamar disana. Tujuannya hanya satu, Dara ingin keluar dari mansion ini.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka. Disana Sean hanya memakai handuk yang melilit dipinggangnya. Pandangannya menajam ketika melihat istrinya yang tengah berjalan mendekati pintu kamar. Sean jelas mengerti akan hal itu. Istrinya pasti ingin lari darinya.


"Kembali ketempatmu sekarang." Titah Sean tegas. Tapi, Dara tidak mendengarkannya. Bahkan tidak menoleh sama sekali. Ingat, Dara tidak mau tunduk dengan laki-laki yang seperti Sean.


"Jangan memancing emosiku sayang." Ujar Sean tegas. Lalu, dengan langkah tegasnya Sean langsung menggendong tubuh mungil itu. Membuat Dara tersentak kaget.


"Turunkan aku! Aku mau pulang Sean! Aku tidak mau disini!" Jerit Dara. Tubuhnya memberontak meminta diturunkan. Namun, Sean semakin kuat menggendongnya.


"Diam!" Suara dingin dan tegas itu langsung membuat Dara terdiam.


Lalu, diturunkan tubuh mungil itu ke atas tempat tidurnya. Lalu Sean jongkok dihadapan istrinya. Ditariknya nafas beberapa kali, berusaha menormalkan emosinya. Sean mencoba untuk berbicara lembut pada istrinya. "Rumahmu disini sayang." Ujar Sean sambil memegang kedua tangan istrinya. Ditatapnya wajah cantik yang ia rindukan. Sean rindu dengan senyuman istrinya. Rindu dengan semuanya.


Dara menggeleng lemah. Tidak setuju dengan perkataan Sean. "Tidak Sean. Sedari awal tempatku bukan disini. Seharusnya aku kembali kerumahku. Harusnya aku pergi ke Indonesia Sean. Tidak disini."


Rahangnya mengeras mendengar perkataan istrinya. Sean menggeram marah. Dara sukses memancing emsoinya pagi ini. "Berhenti bicara yang tidak ada gunanya. Kamu akan tetap disini. Selamanya akan tetap disini. Tempatmu hsnya disini." ujar Sean dengan nada yang ditekan disetiap perkataannya.


Dara menatap wajah itu dengan pandangan tak terbaca. "Kamu egois Sean." Buliran kristal langsung terjun bebas membasahi kedua matanya yang indah. "Tidak ada gunanya kamu menahan ku disini Sean. Tidak ada gunanya." Ujar Dara yang mulai menangis. Diusapnya air mata itu dengan punggung tangannya. "Kamu hanya akan menyakitiku Sean. Jadi lepaskan aku. Hubungan kita hanya saling menyakiti satu sama lain."


Wajahnya menggelap. Baru kali ini dirinya mudah terpancing emosinya karena masalah seorang perempuan. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Ingat itu baik-baik Dara." Ujar Sean dingin. Setelah itu Sean langsung berdiri dan menatap wajah istrinya yang telah basah dengan air mata dengan datar. Didalam hatinya, Sean sangat ingin memeluk tubuh mungil itu. Menghapus air mata itu. Bermanja dengan tubuh hangat itu. Tapi, egonya seakan menolak untuk melakukannya. "Aku memang egois. Jadi, tenangkan pikiranmu itu. Berhenti berbicara sesuatu hal yang tidak ada gunanya sama sekali." Jawab sean dengan dingin. Lalu, Sean berjalan meninggalkan Dara sendirian di dalam kamar itu. Sean memilih masuk kedalam ruang ganti untuk memakai pakaiannya.


Kedua tangan mungil itu meremas pakaiannya. Dara merutuki kebodohannya karena telah tergoda dengan sebuah janji dan kebahagiaan yang semu. "Hiks! Kamu bodoh Dara. Kamu bodoh. Bodoh. Harusnya kamu jangan luluh dengan pria brengsek seperti Sean! Hiks!" Tangisnya langsung pecah begitu saja.


Sean terdiam dibalik pintu ruangan ganti. Sean mendengar semuanya.Tangannya mengepal kuat hingga menimbulkan otot-otot yang terbentuk sempurna itu. "Aku memang brengsek sayang. Jadi bantu aku. Bantu aku untuk melupakan Raya." Dengan keras Sean memukul sebuah meja kaca yang terdapat di dalam ruangan ganti tersebut. Hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring. Bahkan kaca itu mulai retak. Sean memukulnya dengan seluruh tenaganya.


Tubuh Dara menegang ketika mendengar suara pukulan keras itu. Ingatannya langsung tertuju saat dirinya dilempar ke kaca oleh suaminya. Tubuhnya menggigil ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


"Jangan. Jangan Sean. Ayah. Bunda." lirih Dara. Dara langsung memeluk kedua lututnya. Wajahnya ia sembunyikan di balik lipatan tangannya. Tubuhnya semakin ketakutan ketika mendengar suara pukulan keras itu berulang kali.


Seseorang tolong bantu aku. Bantu aku keluar dari sini.


Setelah puas melampiaskan amarahnya, Sean segera memakai pakaiannya. Diabaikannya darah yang telah mengering di tangannya. Lalu, Sean keluar dari ruangan tersebut.


Pandangannya langsung tertuju pada sosok perempuan yang tengah meringkuk ketakutan di atas tempat tidur.


Dengan khawatir, Sean segera berjalan mendekati tubuh mungil itu. Rasa bersalah menyelimuti perasaanya. "Sayang.." Ujar Sean. Diusapnya puncak kepala itu namun istrinya semakin meringkuk ketakutan. Mencoba untuk menjauh dari jangkauan Sean.


Hal itu sukses membuat singa yang tertidur di dalam diri Sean terbangun.


Ditariknya tubuh mungil itu dengan kasar.


"Jaga bicaramu Dara! Aku tidak seabar itu untuk menghadapimu!" Bentak Sean.


Dara semakin ketakutan. Dara tidak mau jika dilempar ke kaca lagi. Tidak mau lagi.


Wajah Sean memerah. Baru kali ini ada orang yang berani membantah melawan perkataanya. "Aku sudah cukup bersabar menghadapimu!" Bentaknya dengan suara menggelegar. Dara terdiam dan tergugu dengan tangisannya.


"LIYA!"


Liya segera berlari menuju kamar tuannya.


Liya sungguh terkejut melihat kondisi Dara.


"Iya tuan." Jawab Liya seraya membungkuk hormat.


"Kau urus dan jaga Dara disini. Jangan biarkan dia keluar dari kamar ini." Titah Sean tegas.


"Baik tuan."


Lantas Sean berjalan keluar kamar tanpa berniat mengusap air mata istrinya.


Brak


Pintu kamar langsung tertutup dengan keras.


"Hiks!" Tangis Dara langsung pecah begitu saja. Liya segera menghampiri dan merengkuh tubuh yang tampak rapuh itu. Dipeluknya tubuh Dara dengan lembut.


"Liya bantu aku, bantu aku keluar dari sini. Aku mohon." Kata Dara disela tangisannya.


Liya terdiam.Tidak tau harus menjawab apa.


"Aku mohon Liya. Bantu aku. Aku tidak mau disini. Disini bukan tempatku." Dilepasnya pelukan itu dan Dara menatap Liya dengan penuh permohonan.


Liya yang melihat itu merasa tidak tega sama sekali. Hatinya tersentuh. Liya jelas tau bagaimana sikap tuannya itu.


"Tapi nona harus berjanji, berjanji untuk lari sejauh mungkin. Jangan menoleh kebelakang meskipun terjadi sesuatu."


Dara mengangguk. Dipeluknya dengan erat tubuh Liya.


"Terimakasih Liya. Terimakasih."


Liya tersenyum lembut. "Sama-sama nona."


Apa mungkin ini akan menjadi pengabdiannya yang terakhir sebagai kepala pelayan disini?


***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤