My Possesive Husband

My Possesive Husband
124. HANCURNYA HATI SEORANG DARA


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. πŸ™‚πŸ˜Š


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku πŸ€—


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata πŸ€—


Happy Reading


***


Nb: Wajid dengerin lagu mellow agar feelnya semakin dapat! Thank you!


Otak kecilnya mulai berfikir liar karena tidak kunjung mendapatkan jawabannya. Dara mengalihkan pandangannya untuk menatap perutnya yang datar. Kemana perginya malaikat kecilnya?


"Sean jawab!" Bentak Dara dengan buliran kristal yang semakin deras membasahi kedua bola matanya.


Tubuh Sean membeku dibuatnya. Mulutnya seakan terkunci rapat. Tidak tau harus menjawab apa.


"Hiks!!" Isakan tangis langsung terdengar dan mengisi penjuru ruangan. Jangan katakan jika bayinya...


Dara menggeleng lemah, mengusir pikiran negatifnya.


Lantas Dara langsung bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.


Sean yang melihat pergerakan dari istrinya langsung membantunya untuk bangun dan duduk bersandar dengan bantal.


"Hiks! Sean kemana bayi kita?! Kemana?!" Jerit Dara frustasi dengan menatap wajah suaminya yang terlihat sendu.


Kedua tangan Sean mengepal kuat ketika mendengar pertanyaan beruntun dari istrinya. "Maafkan aku sayang." Jawab Sean dengan suara yang lirih yang masih terdengar dipendengaran Dara.


Apa yang harus Sean katakan selain kata maaf dan maaf? Ini semua terjadi juga karena kelalaiannya. Dan karena apa yang Sean telah lakukan di masa lalunya.


Jika Sean tau kalau akan terjadi seperti ini, Sean pasti mencegahnya. Sean akan menjaga istrinya sebisa dan semampunya.


"Hiks!!" Dara menggeleng lemah setelah mendengar perkataan Sean tadi. Bahkan kedua bola matanya sekarang telah sembab karena menangis terus menerus.


Tidak mungkin kan jika bayinya telah---Tidak! Tidak mungkin! Jangan ambil bayiku. Jangan.


Peristiwa malam itu langsung berputar di otaknya.


Makan malam, minum susu, tiduran di atas tidur dan dari sela-sela kedua kakinya mengeluarkan darah. Dara menggeleng kuat.


"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin." Lirih Dara dengan suara yang bergetar.


Inilah yang Sean takutkan jika istrinya telah sadar. Sean tidak tau harus menjawab apa untuk pertanyaan istrinya. Sungguh, Sean juga merasakan hal yang sama dengan istrinya. Sean jug merasa sedih dan hancur ketika tau itu semua. Namun, Sean harus menjadi kuat untuk istrinya. Untuk menjadi tempat bersandar istrinya.


Dengan sigap Sean langsung memeluk tubuh mungil istrinya yang bergetar karena menangis.


Dipeluknya dengan erat tubuh mungil istrinya. Seakan-akan menyalurkan kekuatannya pada istrinya. Sungguh, Sean juga butuh istrinya untuk menguatkannya. Butuh istrinya untuk menjadi tempat sandarannya.


Beberapa hari tanpa istrinya bagaikan Sean hidup segan matipun tak mau.


Apalagi melihat keadaan istrinya waktu itu.


Dan mengetahui jika bayinya adalah bayi kembar namun sudah tidak bisa diselamatkan.


Sungguh, hari itu.


Malam itu menjadi hari kehancurannya. Hari kesedihannya dan menjadi malam kerapuhannya.


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku." Ujar Sean dengan suara yang bergetar karena menahan tangisnya.


Kesedihan istrinya dan melihat keadaan istrinya yang seperti sekarang, bagaikan cambukan untuk dirinya sendiri.


"Tidak cukupkah Tuhan mengambil kedua orang tuaku dan orang-orang yang aku sayangi? Tidak cukupkah itu?" Lorih Dara dengan suara yang bergetar.


"Maafkan aku." Ucap Sean. Karena hanya itulah yang dapat Sean katakan sekarang.


Tangisnya semakin pecah. "Dan sekarang malaikat kecilku pergi meninggalkanku Sean! Meninggalkan kita! Bayi yang selama ini aku nanti-nanti. Bayi yang selama ini aku jaga dan aku rawat. Sekarang pergi meninggalkan kita." Jerit Dara dengan suara yang melengking kecil. Bahkan jika ada orang yang melihatnya sekarang pasti akan ikut menangis dan merasakan kesedihannya.


Bayi yang akan menjadi penyempurna dikeluarga kecilnya bersama Sean telah pergi meninggalkannya.


Tenggorokan Sean seakan tercekat. Sean juga merasakan kesedeihan itu. Sean juga telah menanti-nanti kehadiran malaikat kecilnya yang akan menjadi penyempurna keluarganya bersama Dara. Anak pertamanya dari perempuan yang ia cinta dan yang ia sayang.


Dengan kasar Dara melepas pelukannya. Ditatapnya wajah Sean dengan pandangan terluka. "Katakan jika ini semua mimpi Sean! Katakan jika sekarang aku tengah bermimpi. Hiks!!" Bentak Dara frustasi.


Rasa pusing langsung menghatam kepalanya dengan kuat.


Deru nafasnya mulai terdengar. Kedua tangannya bergetar dan menyentuh wajah sendu suaminya. "Lihat aku Sean. Lihat aku." Ujar Dara dengan suara yang lirih.


Sean langsung menatap kedua bola mata istrinya.


Tatapan sendu dan tersirat akan kekecewaan terpancar disana.


"Katakan Sean. Aku mohon." Pinta Dara dengan menatap tepat di iris kedua bola mata suaminya yang telah basah dengan air mata. Bahkan sekarang keduanya tengah menangis.


Sean mengepalkan kedua tangannya kuat. Berusaha menguatkan dirinya sendiri untum mengatakannya. "Malaikat kecil kita telah pergi meninggalkan kita sayang. Anak kita bayi kembar. Mereka laki-laki dan perempuan."


Dan lagi buliran kristal itu semakin deras membasahi kedua bola matanya. Tubuh Dara menegang mendengarnya.


Lalu Sean menarik nafasnya pelan. Berusaha menormalkan deru nafasnya. "Dua hari yang lalu aku memakamkannya di taman mansion. Kedua malaikat kecil kita, aku beri nama Kenzi dan Meira." Ujar Sean dengan buliran kristal yang jatuh membasahi kedua bola matanya.


Dara menatap tidak percaya apa yang Sean katakan tadi.


Apa yang Dara fikirkan ternyata telah menjadi kenyataan.


Dunianya seakan runtuh dan hancur begitu saja.


Tuhan, kenapa harus sekejam ini takdirku? Kaenapa harus sesakit ini yang aku rasakan? Apa salahku?


Lantas Sean megenggam erat kedua tangan mungil istrinya. "Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang telah lalai menjagamu. Maafkan aku yang tudak becus menjadi suamimu. Maafkan aku. Seharusnya aku menjagamu. Seharusnya ini semua tidak terjadi." Ujar Sean yang terlihat putus asa.


Dara menggeleng lemah. "Jangan salahkan dirimu sendiri Sean Jangan." Ujar Dara dengan menatap tepat kedua bola mata suaminya.


"Maafkan aku." Lirih Sean.


"Ini bukan salahmu Sean. Ini bukan salah kamu. Jangan salahkan dirimu."


Lalu, dipeluknya dengan erat tubuh tegap suaminya.


Lantas, Sean juga membalas pelukan istrinya.


Keduanya menyalurkan kekuatan melalui pelukan itu.


Bukankah menjadi pasangan harus saling menguatkan satu sama lain?


***


Jangan lupa spam komentar di part ini + Follow IG aku ya untuk next chapterπŸ€— Dan yang mau kenalan dengan Garvin, bisa follow IG aku juga πŸ€—πŸ’Ÿ Jangan lupa Screenshoot dan tag nama IG aku yaa. Akan aku repost satu persatu di Story IG akuπŸ€—


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❀