
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Apa kau dalang dibalik semua ini?Apa kau yang telah memasukkan penyusup kedalam mansion Sean? Apa kau yang telah menyuruh penyusup itu untuk menggugurkan calon bayi Sean dan Dara?" Tanya Elden dengan menatap tajam ke arah James.
James menghela nafasnya kasar. Lalu, memakai sarung tangan hitamnya. Kebiasaan yang selalu Elden lakukan turun ke arah James.
"Jika iya apa yang akan kau lakukan Daddy?"
Deg
Jantung Elden terasa berhenti saat itu juga.
"Apa yang akan kau lakukan Daddy? Apa Daddy akan membunuhku?"
Pegangan di pistol Elden semakin menguat.
Rafael juga tidak menduga jika James akan memanggil Elden seperti itu disaat-saat seperti ini.
Elden menatap kecewa ke arah James. "Tidakkah kau berfikir jika itu sangat keterlaluan James? Tidakkah kau berfikir dengan akibat apa yang kau timbulkan dari perbuatanmu itu?" Ucap Elden dengan menatap tepat kedua bola mata James. Mencoba untuk mencari sebuah titik kebenaran melalaui kedua bola mata itu.
James tersenyum miring dan mulai berjalan melangkah maju mendekati Elden dengan tenang. "Bukankah itu pembalasan yang setimpal untuk perbuatan yang telah Sean lakukan pada Raya, Dad?" Ucap James dengan wajah yang tidak bersalah. Terlihat sangat puas dengan apa yang telah ia lakukan.
Rafael yang melihat pergerakan James lansung mengarahkan ujung pistolnya ke arah James. Membuat suasana terasa semakin memanas. Bahkan bodyguard milik James juga langsung bertindak dan menodongkan pistolnya tepat ke arah Rafael.
Elden yang mengerti itu langsung menoleh dan menatao wajah Rafael. "Turunkan pistolmu Raf." Titah Elden dengan tegas.
"Jangan bodoh El. Itu musuh lo. Meskipun dia pernah jadi anak didik lo, tapi sekarang dia menjadi musuh terbesar lo, El." Bantah Rafael dengan tegas.
Elden menatap tajam ke arah Rafael. Namun, tatapan tajam itu tidak berangsur lama. Tatapan tajamnya langsung berubah menjadi sendu dan memohon pada Rafael. "Please Raf. Gue minta tolong sama lo. Percaya sama gue." Ujar Elden dengan menatap penuh permohonan ke arah Rafael.
Rafael menghela nafasnya kasar ketika menatap wajah sahabatnya yang seperrti itu. Dengan perlahan Rafael menurunkan pistolnya. Namun, tetap berada di genggaman tangannya. Akan tetapi dengan status yang tetap waspada. Apalagi, melihat James yang telah berdiri tepat di hadapan Elden. Hal itu sukses membuat Rafael terus berwaspada dan mengawasi setiap gerak-gerik yang James lakukan.
Rafael tau, jika seseorang yang dilatih Elden pasti akan tumbuh menjadi orang yang berpengaruh. Akan menjadi seseorang yang tidak patut untuk di anggap remeh. Seperti James sekarang. Namanya juga dikenal dalam dunia bisnis gelap.
Elden menatap wajah James dengan sendu. Hatinya merasa kecewa. Elden merasa tidak becus menjadi seorang ketua. Apa yang ia didik selama ini sekarang tumbuh menjadi musuhnya. Menjadi pembawa bahaya bagi kehidupan anak dan keluarganya.
"Apa yang telah kau lakukan sangat keterlaluan James. Kau telah melukai dua bayi kembar yang tidak bersalah. Dan itu tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan pribadimu." Kata Elen dengan tenang. Meskipun sekarang perasaan Elden sedang sangat kacau.
James menghela nafasnya kasar. "Kata Daddy tidak ada sangkut pautnya?" Ucap James dengan tersenyum miring. "Ini semua ada sangkut pautnya dengan Sean dan Raya Dad!" Ujar James dengan suara yang menggelegar. "Jika saja Sean tidak menyuruh Raya mati, tidak menghina Raya, tidak mengatai Raya, mungkin sampai sekarang Raya akan masih hidup Dad! Mungkin Raya sekarang masih bersamaku!!" Bentak James dengan kedua bola mata yang memerah.
Elden terdiam ditempatnya. Merasa bingung dengan apa yang dikatakan James berusan. "Bukankah Raya yang mati bunuh diri karena frustasi?" Ucap Elden dengan menatap datar wajah James. "Kenapa kau sekarang menyalahkan Sean, James? Sean bahkan tidak pernah berkata menyakitkan seperti itu pada Raya!" Bentak Elden dengan kilatan amarah yang mulai memuncak. Kedua tangannya mengepal kuat. Berusaha menahan emosinya. "Bahkan Sean sangat mencintai Raya waktu itu. Sean bahkan sangat menyayangi Raya. Tapi, kamu malah menghinatinya. Kau malah merebut Raya dari Sean. Kau malah merebut Raya dari kehidupan Sean. Padahal kau tau jelas jika Sean begitu teramat mencintai Raya. Kau tau jelas jika Raya adalah segala-galanya buat Sean. Tapi dengan teganya kau malah menusuk Sean dari belakang?! Kau tega menghianatiku dengan cara yang srperti ini?!" Bentak Elden dengan keras. "Padahal aku sudah cukup baik padamu James. Aku sudah mengangkatmu menjadi orang kepercayaanku. Aku sudah meletihmu dan memberi kehidupan yang layak untukmu, dan ini balasan yang kau berikan padaku? Ini balasannya?!!" Bentak Elden dengan wajah yang memerah.
James mengusap wajahnya kasar. Merasa bingung dengan apa yang dikatakan Elden. Lalu, kenapa keluarga Raya waktu itu berkata jika yang membuat Raya bunuh diri itu karena Sean?
- Masa lalu James dengan Raya
Beberapa hari telah berlalu. Hubungan Sean dengan Raya semakin merenggang. Namun, hal itu tidak membuat Sean menyerah.
Sean berusaha mendekati Raya lagi. Mulai dari membujuk Raya dan meminta maaf pada Raya.
Sean memilih mengalah daripada mempertahankan ke egoisannya.
Tapi, tidak dengan Raya. Raya selalu beralasan jika Sean mengajak Raya bertemu. Akan tetapi, sekali lagi Sean berusaha positif thingking dengan kekasihnya itu.
Sesampainya di mall, Sean segera berjalan masuk kedalam toko jam tangan ternama. Lantas, Sean langsung segera memilih jam tangan yang sekiranya cocok dan pantas untuk kekasihnya itu.
Hampir selama 45 menit Sean menghabiskan waktunya untuk memilih jam tangan.
Dan hingga akhirnya terpilihlah jam tangan yang seharga 450 juta. Jam tangan yang akan sangat pas sekali jika di pakai untuk kekasihnya.
Setelah itu Seab segera menyelesaikan pembayaran. Meminta ke pelayan toko untuk membungkusnya. Karena Sean saja tidak bisa dalam urusan membungkus kado. Alhasil Sean memilih jalan pintas yaitu meminta pelayan toko untuk membungkusnya.
Dengan perasaan penuh bahagia Sean berjalan keluar toko dengan membawa bingkisan yang berisi jam tangan.
Lalu, Sean mengecek ponselnya. Melihat apakah Ray membalas pesannya atau tidak. Namun, sekali lagi Sean harus menelan rasa pahit itu. Raya bahkan hanya membaca pesannya tanpa membalasnya. Hal itu sukses membuat Sean merasa sedih dan kecewa. Tapi, untuk saat ini bukanlah hal yang tepat untuk bertingkah seperti itu. Lantas, Sean memutuskan untuk pergi ke toko makanan. Sean akan membelikan makanan spesial untuk kekasihnya itu.
Akan Sean laukan apapun untuk membuat Raya bahagia disisinya. Tidak akan Sean biarkan siapapun melukai dan menyakiti kekasih tercintanya itu.
Namun, langkahnya langsung terhenti ketika tanpa sengaja kedua bola matanya menatap wajah Raya yang tengah asik menggandeng mesra lelaki lain.
Dengan emosi yang memuncak Sean langsung menghampiri Raya.
Dengan kasar Sean langsung membalikkan tubuh pria itu dan memukulnya dengan kasar. Membuat pria itu langsung jatuh dengan darah yang mulai keluar dari sudut bibirnya.
Sean benar-benar memukulnya dengan seluruh tenaganya.
Raya begitu terkejut ketika tertangkap oleh Sean.
Raya segera berlari dan membantu James untuk berdiri.
"Kenapa kau bersama James Ray?!" Bentak Sean dengan penuh amarah. Ditariknya dengan kasar pergelangan tangan Raya agar bangkit dan berdiri disampingnya. "JAWAB RAY!"
Tubuh Raya mematung mendengarnya.
Sean mengusap kasar wajahnya.
"Aku tidak percaya kau tega melakuakan ini semua Ray. Aku sudah berbaik hati padamu. Tapi kau malah bersikap seperti ini padaku. Kau tega bermain dibelakang ku." Lirih Sean dengan menatap tidak percaya.
"Ini salahmu Sean! Ini salahmu!" Bentaj Raya tidak terima..
Sean menatap kecewa wajah cantik itu. "Maafkan aku jika aku salah."
Dengan perasaan kecewa Sean berjalan meningglkan James dengan Raya.
Raya adalah dunianya. Raya adalah hidup dan matinya. Raya lah yang memberikan warna dikehidupannya. Sean nenar-benar mencintai dan menyayangi Raya. Hingga karena cintalah Sean dibuat buta. Mata hatinya seakan dibuat buta oleh cintanya pada Raya.
Hingga beberapa hari berlalu Sean tetap terdiam memikirkan itu.
Namun, tidak lama kemudian, tiba-tiba Raya mengiriminya sebuah pesan dan mengatakan ingin bertemu.
Dengan perasaan bahagia Sean langsung segera datang kerumah Raya.
Dan disitulah sebuah insiden terjadi, Raya memutuskan hubungannya.
Nb : Baca Part 16. yang ke 12. FLASHBACK KENANGAN SEAN DENGAN RAYA untuk versi selanjutnya yang telah apa yang terjadi.
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤