My Possesive Husband

My Possesive Husband
149. SEBUAH FAKTA YANG TERUNGKAP


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Elden menghela nafasnya kasar. Meninggalkan Sean dengan James berdua mungkin keputusan yang terlalu beresiko.Tapi, ini adalah tindakan yang tepat untuk sekarang. Mereka harus menyelesaikan secara berdua dan empat mata untuk menemukan titik kebenarannya. Jujur, Elden juga ingin menghabisi James di tangannya. Tapi, menurutnya itu terlalu ceroboh untuk ia lakukan. Namun, di satu sisi Sean dan James harus cepat menyelesaikan masalah mereka secara berdua.


Elden menarik nafasnya pelan. Apapun keputusan yang akan mereka ambil, Elden akan mengikutinya dan Elden juga tidak bisa telalu ikut campur dalam urusan masa lalu Sean dan James.


Setelah itu, Elden memutuskan untuk pergi ke ruang makan tempat istrinya berada.


Dengan langkahnya yang lebar, Elden segara menuju ke ruang makan.


"Hai sayang." Sapa Lexa dengan tersenyum ketika melihat wajah kusut suaminya itu.


Sedangkan Dara langsung melihat kedatangan Elden, namun ada satu yang kurang, suaminya kenapa tidak ada? Padahal tadikan bersama Daddynya.


"Dad, Sean pergi kemana?" Tanya Dara dengan suaranya yang terdengar lembut.


Elden langsung menoleh dan menatap wajah menantunya itu. "Sean sedang menyelesaikan beberapa urusannya. Tidak perlu khawatir. Suami mu baik-baik saja." Jawab Elden dengan menarik kursi dan menggesernya agar bisa duduk di dekat istri tercintanya.


Dara langsung tersenyum mendengarnya.


Setelah itu, Elden megenggam kemari istrinya dan dikecupnya pelan punggung tangan istrinya dengan sayang. Membuat Lexa langsung tersipu malu di buatnya.


"El, ingat disini bukan hanya kita berdua." Ucap Lexa dengan tersenyum canggung ke arah Dara yang tengah menatapnya.


"Iya sayang aku tau. Tapi, Dara juga pasti memaklumi kita. Iyakan Dara?" Ujar Elden dengan menaik turunkan alisnya.


Sumpah. Baru kali ini mertuanya bertingkah seperti itu padanya. Biasanya Daddynya itu hanya menatap datar ke arahnya tanpa ada senyuman sedikitpun. Tapi, lihat sekarang, Daddynya terlihat berbeda 100% daripada srbelumnya.


Dara mengangguk. "Iya Dad." Jawab Dara dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Oh iya Dara, ingat apa yang Mommy katakan sebelumnya bukan?" Kata Lexa dengan menatap wajah Dara dengan kedua bola mata yang berbinar senang.


"Sebelumnya?" Dara mencoba mengingatnya.


"Lakukan sesering mungkin ya proyeknya, kalau perlu setiap malam, agar cepat mendapat hasilnya."


Oke. Dara baru mengingatnya sekarang. Padahal baru beberapa menit yang lalu Mommy memgatakannya.


"Iya Mom. Dara mengingatnya." Jawab Dara dengan wajah yang tersipu malu.


Lexa tertawa renyah melihatnya.


Lalu, Elden menegakkan tubuhnya dengan menatap wajah Dara yang duduk diseberangnya yang saling berhadapan. "Daddy ingin berbicara serius padamu, Dara."


Dara menelan ludahnya pelan setelah mendengar perkataan "Iya Dad."


"Apa kamu tertarik untuk latihan tembak-menembak dengan Daddy?"


Deg


"Apa Dad?" Ujar Dara dengan kedua bola mata yang membola karena terkejut.


"Jika kamu mau, Garvin akan melatihmu untuk tembak-menembak."


Kening Dara berkerut. "Garvin Dad?"


Elden menganggukan kepalanya.


"Jadi, apa kamu mau Dara?"


***


Sean langsung menghajar telak wajah James hingga James terjatuh dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Rasa kesal, kecewa dan amarah tercampur menjadi satu. "Apakah masih kurang kau merebut Raya dari hidupku James?" Ujar Sean dengan suara yang terdengar lirih.


Deg


Tubuh James membeku di tempatnya. Tidak tau harus menjawab apa lagi.


"JAWAB JAMES!" Bentak Sean dengan suara yang menggelegar. Tubuhnya mundur beberapa langkah ke belekang dengan memandang wajah James dengan pandangan yang tak terbaca. "Aku relakan Raya untuk mu. Aku ikhlaskan Raya untuk kebahagiaanya. Aku memilih mengalah karena tidak ingin bertengkar dengan mu. Tapi ini yang aku dapat? Ini?!" Kata Sean dengan kedua bola mata yabg memerah.


"Kau tau James, kalau aku begitu sangat mencintai Raya. Aku sangat begitu menyayanginya, tapi saat aku melihatnya tersenyum dengan mu, aku memilih mengalah. Aku tidak ingin egois untuk menahannya tetap bersamaku. Aku tidak ingin egois karena keinginanku sendiri." Ujarnya dengan buliran kristal yang mulai jatuh membasahi kedua bola matanya.


"Maaf. Aku tidak pernah tau jika kebenarannya seperti ini. Jika aku tau seperti ini, aku tidak akan pernah melakukannya." Ucap James dengan kepala yang menunduk. Merasa malu dengan dirinya sendiri. Padahal Elden sudah berbaik hati padanya, tapi ini yang ia balas setelah kebaikan yang Elden berikan padanya. Sumpah, jika James dulu tidak terlalu bodoh, pasti James tidak akan pernah melakukan hal semacam ini.


Sean mengusap wajahnya kasar. Lalu, dengan emosi yang memuncak Sean langsung membanting guci besar yang berada di sudut ruangan.


Ctarr


Guci mahal itu langsung hancur dengan serpihan yang berserakan. Membuat James terkejut dengan tindakan yang Sean lakukan. Sungguh, James tidak pernah menyangka jika Sean bisa melakukan tindakan sejauh itu.


Dengan kedua bola mata yang berkilat marah, Sean menunjuk guci hancur itu dengan jari telunjuknya. "Kau tau guci itu James?" Ujarnya dengan suara yang tertahan.


Kapala James langsung mendongak dan melihat apa yang Sean tunjuk.


Yap. Benar sekali, itu adalah guci pemberiannya dulu sebagai hadiah Sean dan Raya. James membelikannya sebagai ucapan selamat atas anniversary hubungan Raya dengan Sean.


"Sekarang aku tanya padamu. Apa kau bisa mengembalikannya seperti semula? Menyusunnya dengan sempurna seperti bentuk di awal?" Ujar Sean dengan menatap tajam ke arah James.


James terdiam di tempatnya. Hal itu sangat mustahil untuk ia lakukan. Tidak mungkin bisa James menyusunnya seperti semula.


Sean menyeringai tipis. "Dan lihat? Kenapa kau cuman diam? Apa kau tidak bisa melakukannya James? Menyusunnya seperti semula." Kata Sean dengan menatap datar. Kedua bola mata yang semula berkilat marah itu langsung berubah menjadi datar. Aura menakutkan mulai sangat terasa di ruangan itu. "Jika kau tidak bisa melakukannya, maka nyawamu yang menjadi tanggungannya. Bukankah kau sudah mengerti mengenai dunia Mafia? Mata di balas dengan mata. Darah di balas dengan darah. Maka nyawa juga di balas dengan nyawa." Ujarnya dengan seringai menakutkan yang tersungging di bibirnya.



***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤