My Possesive Husband

My Possesive Husband
98. MORNING SICKNESS


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Disudut ruangan kamar yang gelap dengan penuh botol minuman keras, disana ada sosok pria yang tengah menahan isak tangsisnya.


Ditangan kanannya yang kekar berotot itu tengah megenggam botol minuman keras yang telah diteguknya hingga tandas tak bersisa. Sedangkan tangan kanannya berkali-kali meremat rambutnya yang berantakan itu.


"Liya.." Lirihnya pelan. "Maafkan aku sayang." Ucapnya dengan nada yang rendah dan lirih.


Buliran kristal telah jatuh berkali-kali membasahi kedua bola matanya yang tajam itu disetiap malamnya. Hal itu tidak membuatnya merasa lelah sama sekali.


"Maafkan aku. Maaf." Penyesalan datang memenuhi otaknya. Setiap pagi, setiap malam, senyuman Liya selalu menari-nari di otaknya. Jika saja Liya tidak membantu Dara, Liya pasti tetap bersamanya sekarang. Menemaninya dan menjahilinya. Jika saja..


Namun sayang, faktanya telah berbeda. Kenyataannya berbanding terbalik dengan keinginannya.


"I love you too Liya."


***


Pagi telah menjelang. Matahari telah terbit di ufuk timur. Burung berkicauan ddngan suara merdunya. Dan jangan lupakan, sekarang lengan kekar suaminya tengah memeluk pinggangnya possesive.


Akan tetapi, tiba-tiba perutnya merasa sedang diobrak-abrik sekarang. Lalu dengan gesit, Dara langsung melepas pelukan suaminya dan segera berjalan ke arah kamar mandi.


Setelah itu, Dara langsung memuntahkannya ke wastefel kamar mandi.


Sean yang telah terbangun karena pergerakan tiba-tiba yang dilakukan oleh istrinya langsung turun dan tempat tidur. Dengan hanya menggunakan celana selutut tanpa baju, Sean segera berjalan ke kamar mandi.


Raut wajahnya berubah cemas ketika melihat istrinya yang sedang mual. Dipijatnya dengan sayang leher putih mulus istrinya. "Sayang, kamu kenapa?" Tanya Sean dengan khawatir.


Dara menggeleng lemah. "Aku juga tidak tau Sean. Badanku terasa tidak enak sama sekali. hari ini." Ucap Dara dengan membersihkan bibirnya dengan air. Entahlah, tubuhnya hari ini terasa sangat lemas dan Dara merasa tidak semangat sama sekali.


Sean menatap khawatir wajah istrinya. "Aku akan menyuruh Roy untuk memanggil Albert hari ini. Agar Albert bisa memeriksa keadaanmu sayang."


Namun, Dara menggeleng lemah. Dara juga sedang tidak mood hari ini. "Tidak perlu Sean."


"Tanpa batahan sayang." Ucap Sean dengan tegas tak terbantah.


Baiklah, lebih baik Dara mengalah daripada nanti berdebat.


Lalu, digendongnya tubuh mungil istrinya dan dibawanya untuk menuju tempat tidur.


Ditidurkannya tubuh mungil istrinya di atas tempat tidur. "Kamu istirahat dulu sayang. Aku akan mandi terlebih dahulu agar badanku segar."


"Iya Sean." Jawab Dara dengan lemah.


Tunggu sebentar. Kenapa sekarang istrinya hanya memnaggil namanya lagi? Bukannkah sudah menjadi kesepakatan bersama jika istrinya akan memanggilnya dengan panggilan "Hubby."


"Sayang, kenapa kamu hanya memanggil nama ku saja? Bukankah kamu biasanya memanggilku dengan hubby?" Tanya Sean dengan menatap instens wajah pucat istrinya.


Hufft..


Helaan nafas keluar dari bibirnya yang mungil. "Aku sedang tidak ingin berdebat hanya karena sebuah panggilan Sean. Jadi, sesuka ku saja mau memanngilmu apa Sean. Nanti, aku akan memilih panggilan yang pantas untukmu Sean." Ucap Dara dengan tegas. Sudah dibilang kalau pagi ini moodnya benar-benar buruk.


Sean yang mendengar perkataan tegas istrinya langsung memberengut kesal. "Aku lebih suka kamu memanggilku hubby sayang. Jangan nama. Menurutku itu panggilan jika kamu sedang marah." Rajuk Sean berusaha membujuk istrinya.


"No Sean." Kata Dara dengan menekan perkataanya.


"Hm" Jawab Sean.


Setelah itu Sean segera bangkit dari duduknya dan segera menghubungi Roy.


"Baik tuan." Jawab Roy diseberang telfon.


Lalu, Sean langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja.


Sedangkan Dara hanya menatap tajam suaminya dengan bersandar di sisi ranjang.


Sean segera berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya yang mulai terasa berat.


15 menit telah berlalu, Sean telah menyelesaikan mandinya dan tekah siap dengan menggunakan pakaian santainya.


Albert telah datang sejak 5 menit yang lalu dan tengah memeriksa keadaan istrinya.


Sebuah senyuman terbit di bibir Albert.


Sean yang melihat senyuman itu tidak suka sama sekali. "Kenapa kau senyam-senyum Albert?" Tanya Sean dengan berjalan menghampiri tempat tidur king size miliknya. "Apa kau ingin aku merobek mulutmu itu agar berhenti tersenyum?" Ancam Sean dengan serius.


Seketika senyuman Albert langsung hilang begitu saja. "Selamat, kau sekarang telah menjadi ayah, Sean." Kata Albert dengan serius.


Deg


Apa Albert sedang bercanda sekarang?


Dara yang mendengar berita tersebut langsung terdiam.


Apa Dara bisa menjadi Mommy yang baik untuk anaknya?


"Baiklah. Sekarang istrimu sedang mengalami gejala Morning Sickness. Jadi wajar jika istrimu akan sering mual-mual dipagi hari."


Lalu, Sean segera memeluk tubuh mungil istrinya dengan sayang. Tak terasa buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya. Sebentar lagi Sean akan menjadi seorang ayah. Sebentar lagi Sean akan memiliki malaikat kecil yang akan mengisi hari-harinya.


Dikecupnya dengan sayang puncak kepala istrinya. "Terimakasih sayang. Terimakasih." Ucap Sean dengan tulus.


Dara tersenyum mendengar perkataanya. "Sama-sama sayang." Jawab Dara dengan lirih. Dibalasnya pelukan suaminya tak kalah erat.


Oke. Apa Albert sekarang hanya dianggap patung disini? Memang benar-benar ya, dunia berasa milik berdua. Sedangkan yang lain terasa seperti sedang mengontrak di bumi.


"Ekhem." Deheman dari Albert membuat Sean menoleh dan menatap Albert dari atas kebawah.


"Kau meganggu Albert." Ucap Sean dengan spontan.


Sabar Albert. Sabar.


"Ini obat yang aku resepkan untuk mengurangi gejala morning sicknees. Harap diminum teratur." Kata Albert seraya mengemasi peralatan medisnya.


"Terimakaaih Albert." Ucap Dara dengan tersenyum.


Namun dengan gerakan yang tiba-tiba, Sean mengecup bibir mungil istrinya.


"Senyum ini milik ku sayang. Senyum ini hanya untuk ku. Bukan untuk pria lain."


Dara yang mendengar perkataan suaminya itu langsung tertawa renyah.


Ya.. ya. Sejak kapan suaminya jadi seperti ini?


Sedangkan Albert memilih berjalan keluar dari kamar Sean. Hawanya terasa gerah. Jiwa-jiwa kejombloannya langsung memberontak ingin merasakan.


Sabar Albert. Jodohmu sedang disimpan oleh Tuhan.


💙💙💙


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤