
"Apa ini Mba?" tanya Zifa ketika tiba-tiba Lyra muncul di tokonya, dengan penampilan yang acak-acakan dan langsung menyodorkan foto pernikahan, bahkan Zifa tidak tahu foto siapa itu.
"Mantan suami aku sudah menikah lagi, padahal kami bercerai secara resmi baru satu minggu. Memang gatal laki-laki itu. Tidak heran kalau Abas mungkin saja meper-kosa kakak kamu, itu semua karena dia tidak puas dengan perlayanan aku. Terlebih setelah aku hitung mundur setikdaknya kakak kamu mengalami pelecehan itu ketika aku baru saja melakukan proses bayi tabung untuk kedua kalinya. Berhubung Dokter menyarankan aku untuk tidak berhubungan dulu sampai anak kami jadi. Lalu sangat mungkin kan Abas yang biasa selalu melakukan perkawinan silang setiap malam tiba-tiba puasa. Biasa saja bukan Zara saja yang jadi korban dia, jangan-jangan semua yang ada di rumah itu jadi korban kejahatan kela-min Abas," oceh Lyra, meluapkan sakit hatinya. Sedangkan Zifa hanya diam saja memberikan waktu untuk Lyra agar dia bisa lebih tenang setelah meluapkan apa yang mengganjal didirinya.
Yah, tentu Zifa tahu kalau Lyra sedang kesal dan ingin meluapkan kekesalanya, dan Zifa pun mencoba menjadi pendengar yang baik.
"Aku sudah hubungi asisten rumah tangga di rumah Baji-ngan itu dan meminta mereka mencari bukti-bukti kejahatan itu, dan buat yang bisa memberikan bukti kejahatan orang rumah itu aku menawarkan uang seratus juta. Rasanya aku tidak sabar ingin buru-buru mereka kena karmanya," lirih Lyra sembari menyeruput teh hangat yang Zifa bawakan untuk Lyra.
"Terima kasih Mba, Ifa enggak tahu mau ngomong apa, tanpa mba Lyra, Ifa tidak mungkin seperti ini. Mungkin selamanya Ifa akan menunggu hingga ada waktu yang tepat, tetapi waktu itu akan datang atau tidak Ifa tidak tahu, berkat ada Mba Lyra, Ifa jadi tahu harus memulai dari mana." Zifa memang pantas berterima kasih dengan Lyra, mungkin bisa dibilang bahwa Lyra adalah lawan yang sepadan dengan keluarga Abas. Dari meteri dan juga dari keangkuhannya.
"Kamu santai ajah, toh aku melakukan ini semua bukan semata-mata untuk membantu kamu saja, aku juga akan mendapatkan balasan yang setimpal, sakit hatiku terbalaskan dengan hancurnya orang-orang itu. Jujur aku tidak menyangka kalau Abas itu kelakukanya seburuk ini. Padahal aku terakhir bertemu dengan dia, terlihat sekali wajah dia yang sangat kusut dan seolah dia sangat sedih dan menyesal, tetapi aku tertipu dia ternyata hanya pura-pura untuk menarik simpati aku." Lyra tertawa dengan renyah.
Ternyata selama sepuluh tahun dia hidup bersama Abas, belum juga ia tahu bagaimana sifat asli mantan suaminya. Entahlah, Lyra yang terlalu bodoh atau justru Abas yang terlalu pintar menyembunyikan watak aslinya.
"Mba Lyra butuh jalan-jalan malam? Kalau butuh ada Beni nanti biar Beni yang akan menemani Mba Lyra." Zifa mencoba menghibur Lyra, dia masih banyak kerjaan sehingga tidak bisa menjadi pendengar Lyra terlalu lama, sedangkan Beni sudah selesai kerjaanya.
Lyra nampak diam sejenak, dia memang butuh waktu untuk menghilangkan pikiranya, belum membaca komen-kome yang membuat dia jadi semakin pusing. Bahkan saking setresnya dia sampai tanpa pikir panjang ia kembali lagi ke tempat Zifa yang jaraknya tidak sebentar.
"Boleh lah, aku juga butuh jalan-jalan sejenak," jawab Lyra, lagian Beni kan berondong, tidak mungkin dia macam-macam, terlebih Beni terlihat culun dan pendiam, jadi Lyra tidak perlu takut dengan Beni.
"Ben... Beni, temanin Mba Lyra jalan-jalan keliling biar menghirup udara segar," ucap Lyra, dan Beni seperti biasa tanpa protes dan tanpa banyak kata langsung menerima usulan Zifa.
"Baik Teh, Beni mau ambil kunci motor dan jaket dulu." Beni langsung naik ke kamarnya dan memakai jaket dengan rapat dan juga kunci motor metiknya. Lyra yang melihat penampilan Beni tercengang, kaget. Kenapa bisa Beni berpakaian tertutup seperti manusia kutub.
"Emang dikira aku bakal apain dia, sampai pakaianya rapi banget, pake jaket celana panjang, aneh. Padahal bangusan tadi pakai celana pendek dan kaus lebih santai," batin Lyra mengejek penampilan Beni yang dinilainya aneh.
"Siapa Ifa?" tanya Zara, dia ternyata sejak tadi menguping pembicaraan Lyra dan Zifa.
"Oh, itu Mba Lyra, Mba Lyra lagi sedih, mantan suaminya nikah lagi makanya dia sekarang sedih banget." Zifa, mencoba mengajak kakaknya bercerita, mungkin saja kakanya akan tahu dengan laki-laki yang bernama Abas itu. Diam-diam Zifa juga menyimpan foto yang beberapa Lyra kirim untuk memberitahukan bahwa cowok ba-jingan itu sedang berbahagia.
Zifa membuka ponselnya dan menunjukan poto-poto Abas yang diambil dari ponsel Lyra, dan itu semua sebelum Lyra menghapusnya.
"Ini suami Mba Lyra." Zifa menunjukan photo laki-laki yang mungkin saja Zara mengenalnya. Dan Zifa juga semakin yakin kalau Zara pasti mengenal siapa itu mantan suami Lyra.
Tangan Zara segera mengambil ponsel Zifa dan mengamati foto yang ada di di ponsel adiknya. Wajah Zara seperti tengah mengingat sesuatu. "Ini suami Ara." Suara Zara lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Zifa.
Deg!! Zifa terkejut dengan ucapan Zara. Ini memang yang Zifa inginkan kalau kakaknya mengenali laki-laki itu, tetapi kenapa ketika Zara mengenalinya dengan mantan suami Lyra, dada Zifa sakit sekali.
"Apa yang laki-laki itu katakan pada kakaku, kenapa Kakak Zara tahu kalau dia itu suaminya, pasti laki-laki itu menggunakan cara yang kotor, untuk memcuci otak Kakak Zara," ucap Zifa masih penasaran dengan apa yang kakaknya ingat, tetapi rasanya hatinya juga tidak kuat untuk mengetahui satu per satu fakta yang terbongkar.
Berkali-kali Zifa mencoba menguatkan hatinya agar dia kuat untuk menerima kenyataan yang semakin terbongkar. "Aku harus kuat-aku harus kuat, karena keadialan buat ibu dan kakak hanya mengandalkan aku," batin Zifa, dengan menepuk-nepuk pundaknya pelan.
"Kakak nama laki-laki ini siapa, dan nama suami kakak siapa?" cecar Zifa dengan suara yang lembut.
"Ini suami Kakak, Kakak di beri permen yang banyak sama suami Kakak dan juga kue yang banyak buat Kakak sama ciki punya Kakak banyak di beri sama suami Kakak," oceh Zara, dan Zifa yang mendengar ocehan Zifa langsung duduk termenung, kedua matanya terasa panas.
"Jadi benar dugaan kita selama ini, laki-laki itu adalah orang yang sudah memper-kosa Kakak Zara, dan dia dengan pintarnya menggunakan cemilan-cemilan yang Kakak Zara sukai, sampai Kakak Zara diam saja ketika laki-laki itu gera-yangi," batin Zifa.
Kali ini Zifa mengirim pesan sama dokter Alwi, untuk bercerita apa yang Zara ingat, seperti biasa Zifa merekam apa yang diingat oleh kakaknya, dan dokter Alwi akan siap membantu dalam hal apapun. Meskipun pekerjaan dia yang sangat padat, tetapi dokter Alwi selalu meluangkan waktunya untuk Zifa, dan Zara . Terlebih apabila sudah menyaangkut perkembangan Zara dia akan selalu dengan senang hati mendengarkanya.
...****************...
Sembari nunggu kebongkar siapa itu Abas, yuk mampir ke karya teman othor.
langsung ajah yah cus...