
Dokter dan perawat berlarian menuju ruang instalasi gawat darurat, setelah dua unit mobil ambulance membawa dua korban kecelakaan yang cukup parah dan yang menjadi tantangan mereka adalah satu korban sedang hamil yang cukup besar.
Polisi langsung menghubungi keluarga korban setelah menemukan ponsel korban, dan dari chat yang terakhir di hubungi oleh korban wanita. Yaitu sesaat sebelum terjadi kecelakaan. Polisi membaca chat korban wanita seperti sedang mengatakan kalau posisinya tidak aman.
"Apa mungkin ini adalah salah satu pembunuhan berencana? Atau percobaan bunuh diri bersama dari sang sopir?" tanya salah satu petugas yang berwajib ketika membaca pesan korban wanita, dan juga dari kecepatan yang diluar normal seperti suatu kesengajaan.
"Dugaan sepertinya sedang melakukan upaya bunuh diri, mungkin. Atau mereka telibat pertengkaran yang hebat," balas dari rekan kerjanya.
"Kita hubungi keluarganya dulu untuk dimintai keterangan yang mungkin bisa saja memang mereka hubunganya sedang tidak sehat, dan semuanya terjadi karena mereka sedang terlibat pertengkaran." Polisi pun langsung menghubungi nomor terakhir yang di kirim pesan oleh korban wanita.
[Hallo selamat malam, mohon maaf kalau saya mengganggu waktu Anda, apa saya sedang terhubung dengan orang tua atau kerabat dari Nyonya Orlin dan Tuan Abas?" tanya petugas polisi yang menangani kecelakaan tuggal akibat oleng dan menabrak beton pembatas jalan.
[Iya betul, saya Mamihnya Orlin, ini dengan siapa?] tanya Maryam dengan hati yang sudah tidak tenang, terlebih ketika dari seberang teleponya samar terdengar suara ambulance dan juga suara panik lainya.
[Kami adalah petugas kepolisian yang saat ini sedang menangani satu kasus kecelakaan tunggal di ruas tol menuju kota Bandung dengan korban adalah Orlin dan Abas. Apa Anda bisa datang ke rumah sakit Menuju Sehat yang di kota Bandung.]
Jeduerrrr.... bak disambar petir hati Maryam langsung hancur dan tulang lututnya seolah telah lepas tubuhnya terjatuh seketika ketika mendengar kabar buruk itu.
[Nyonya, apa Anda baik-baik saja di sana?" tanya polisi yang mendengar kegaduhan dari balik sambungan teleponya.
[Apa ini bukan salah satu sindikat penipuan mengatas namakan anak dan menantu saya yang mengalami kecelakaan?] tanya Maryam dengan sedikit terbata. Wanita paruh baya itu ingin ini semua adalah salah satu sindikat penipuan. Tidak mungkin anak dan menantunnya ada di kota kembang yang cukup jauh dari kota mereka tinggal. Ada apa kenapa mereka menuju kota itu. Bukanya Orlin dan Abas baru saja melkukan check up kehamilan, dan kenapa tiba-tiba Maryam mendengar kabar yang tidak mengenakan, ingat wanita paruh baya itu mengatakan kalau ini hanya mimpi.
[Bukan Nyoya, kami dari tim kepolisian asli yang menangani kasus kecelakaan putri dan menantu Anda, kalau Anda tidak percaya saya akan kirimkan bukti barang-barang anak Anda,] Sang petugas pun mengambil beberapa jepretan barang-barang yang di miliki korban dari nomor kendaraan yang terlibat kecelakaan tas dan barang-barang lainya yang diyakini di kenal oleh mereka, tidak ketinggalan kartu tanda penduduk juga mereka ambil gambarnya agar semuanya semakin jelas.
Di tempat lain Maryam yang melihat beberapa jepretan kamera yang diambil oleh polisi, langsung lemas tubuhnya. Yah, Maryam memgenali semua yang terlihat di layar ponselnya. Itu adalah mobil Abas, menatunya, KTP dan barang-barang lainya, Maryam sangat mengenalinya.
Brukkkkk... Maryam yang tubuhnya lemas pun akhirnya pingsan. Asisten rumah tangganya yang melihat majikan pingsan pun langsung berlarian meminta bantuan. Cukup lama Maryam tidak sadarkan diri tubuhnya yang lemah pun dipaksa bangun.
"Antarkan saya ke rumah sakit Menuju sehat," lirih Maryam dengan tubuh dan tangan yang bergetar wanita paruh baya itu memberikan ponselnya, dan asisten rumah tangganya membuka posel sang majikan.
"Astaga, Nyonyah ini serius? Kalau gitu biar Bibi panggil Tuan untuk pulang atau mau langsung kerumah sakit itu?" tanya asisten rumah tangga dengan cemas.
"Kabarkan pada suami saya Bi, tapi saya harus berangkat lebih dulu anak saya sedang membutuhkan saya," lirih Maryam, dan tubuhnya yang lemas itu di paksa bangun untuk mememui putri tercintanya.
Di lain tempat Orlin dan Abas yang kondisinya cukup parah mendapatkan pertolongan pertama. Kondisi Orlin jauh lebih beruntung dari pada Abas. Orlin yang sedang mengandung hanya luka lecet dibeberapa tubuhnya, hal itu karena begitu mobil oleng Orlin sendiri memilih membuka pintu dan loncat, tepat dengan itu Abas yang terkejut karena aksi dari sang istri langsung banting setir dan menabrak beton pembatas hingga mobil setengah hancur dan tubuh Abas terjepit reronsokan mobil yang ia tumpanginya.
Mata Orlin terbuka dengan sempurna setelah melewati cukup lama ia tidak sadarkan diri. "Auuuhhh..." Orlin meringis tubuhnya yang banyak luka lecet sangat sakit untuk digerakan, bahkan tubuhnya terasa kaku. Tangan Orlin meraba perutnya, yang awalnya wanita itu sangat mengharapkan ketika bangun nanti perutnya sudah kempes dan anaknya mungkin meninggal dunia karena aksinya. Terlebih ia menjatuhkan tubuhnya pertama adalah bagian perut terbentur
bentur. Yah wanita itu masih sangat ingat dirinya merasakan sakit di perutnya beberapa kali sebelum pingsan
"Sus..." panggil Orlin yang melihat ada perawat yang datang menghampirinya.
"Iya, ada yang bisa dibantu Nona?" tanya perawat yang akan mengecek dirinya, dan dari wajahnya perawat itu cukup terkejut dengan Orlin yang sudah sadar.
"Apa anak saya dalam kondisi baik-baik saja?" tanya Orlin, tujuanya bukan karena ia cemas dengan kondisi anaknya, justru Orlin ingin sebaliknya. Kondisi anaknya tidak baik-baik ada kemungkinan untuk lahir prematur dan pergi dari dunia ini. Orlin masih belum bisa menerima kondisi anaknya itu.
Sang perawat membalas pertanyaan Orlin dengan senyum yang manis. "Alhamdulillah Nona, kondisi anak Anda baik-baik saja. Anak itu memang kuat dan hebat. Bahkan dalam kondisi Anda yang terpental jauh dari luar mobil anak Anda masih aktif dan baik-baik saja," jawab suster, tapi jawaban itu bukan yang diinginkan oleh Orlin dia ingin anaknya mengalami yang sebaliknya.
"Oh, terima kasih Sus." Wajah Orlin justru terlihat masam dan sedih, sehingga suster yang memberikan jawaban justru bingung dengan reaksi pasienya. Biasanya mereka akan menangis haru dan bahkan mengucapkan syukur berkali-kali ketika ia mendapat kabar yang bahagia itu.
Namun Orlin justru terlihat murung dan juga sedih dengan kabar yang seharusnya menjadi kabar bahagianya.
"Orlin Sayang." Maryam yang saat itu langsung pergi untuk menemui Orlin pun tidak kuasa melihat kondisi anaknya yang banyak luka itu.
Mata Orlin dan juga Maryam berkaca-kaca. "Mamih, Orlin ingin pulang dan tinggal dengan Mamih," lirih Orlin tidak sedikit pun air matanya bisa ia bendung.
Wanita paruh baya itu datang dan menghampiri Orlin yang sudah terisak. Maryam memeluk tubuh putrinya dengan hati-hati. "Kamu tunggu sampai sembuh yah setelah itu kita akan pulang," jawab Maryam, ia tahu bahwa anaknya tidak bahagia dengan pernikahanya, sepanjang perjalanan Jakarta Bandung Maryam membuka ponselnya, dan betapa menyesalnya ia ketika mengetahui kalau pesan dari putrinya terlalu banyak dan dari pesan-pesan itu Maryam tahu isi hati Orlin.
Tangan yang bergetar mengusap air mata di pipi mulus Orlin. "Mamih akan ada terus untuk kamu," lirih Maryam, ibu mana yang tega melihat anaknya hidup tidak bahagia dengan pernikahanya. Harapan yang tinggi kalau anaknya akan bahagia di dalam pernikahanya ternyata justru anaknya tersiksa dalam hubungan yang suci itu.
"Apa Mamih juga akan melakukan seperti ini kalau tahu anak yang aku kandung memiliki kelainan yang cukup akan membuat keluarga malu," batin Orlin yang justru air matanya semakin deras mengalir. Membayangkan anaknya lahir dengan kebutuhan kusus dan hinaan serta cibiran dari yang lain. Dalam otaknya berpikir bagaimana cara dirinya menyembunyikan anaknya agar ia bisa hidup bahagia.
Baru saja Orlin membayangkanya, tetapi rasanya hatinya sudah sakit, ia tidak kuat apabila itu benar-benar terjadi. "Apa aku harus katakan pada Mamih yah, setidaknya Mamih akan memiliki ide untuk anak ini," gumam Orlin.
"Mih apa Mamih sudah memberi kabar pada keluarga Abas?" tanya Orlin, bukan karena ia peduli dengan Abas, tetapi karena ia tidak ingin keluarganya mengurus segala urusan Abas, biarkan Abas ada keluarga yang sudah pasti bisa merawat putranya dengan baik.
Maryam hanya mengangguk sebagai jawabanya, dia juga tidak sudi apabila harus merawat Abas yang sudah jelas-jelas menyakiti anak kesayangannya.