Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 131


Hari-hari yang dilalui oleh Zifa dan Zara adalah selalu di rumah tidak sedikit pun Alwi dan juga Ghava mengizinkan Zifa pergi bekerja atau ke kampus, semuanya di lakukan secara online, dan kuliah Zifa juga untuk sementara mengambil cuti  untuk sementara waktu dan sampai kapan ia akan terus bersembunyi, Zifa sendiri juga tidak tahu.


Satu minggu sudah berlalu dari acara pernikahan Zifa yang artinya Zifa sudah sah menjadi istri sahnya Ghava selama satu minggu. Sudah satu minggu juga Kemal dan Wina berada di kota kembang itu yang mana artinya ia sudah mencari tahu tempat persembunyian Ghava dan Zifa selama satu minggu juga. Namun selama satu minggu itu juga Zifa dan  Ghava masih aman.


"Aku berangkat kerja dulu yah," ujar Ghava ketika ia sudah selesai sarapan. Zifa mengangguk samar sudah satu minggu ia terkurung di dalam rumah mewah ini, Wanita itu sudah mulai bosan, meskipun hampir setiap jam dan setiap hari ia berkomunikasi dengan dua ponakan dan juga kakaknya, tetap saja Zifa merasakan rindu yang sangat berat. Ingin Ifa bertemu dengan keponakanya yang makin lucu dan pintar itu.


"Mas, apa Ifa boleh meminta izin untuk mengunjungi Raja dan Ratu. Ifa sangat kangen dengan ponakan Ifa dan juga sama Kakak Ara," lirih Zifa begitu mengantar Ghava hingga depan rumahnya, Ghava memang sudah kembali bekerja, hanya Zifa yang dilarang kemana-mana. Sedangkan Zifa yang sudah biasa melakukan kegiatan apapun dan saat ini semua aktifitasnya dibatasi tentu merasakan sangat-sangat terkurung, dan ingin menghirup nafas segar bertemu dengan ponakan dan kakaknya.


Ghava menatap tajam pada Zifa, "Kamu sabar yah, tunggu sampai aku pulang kerja, kita akan mengunjungi Raja dan Ratu secara bersama-sama," lirih Ghava dengan mengusap tangan istrinya. Sebenarnya selama ini Ghava sangat baik dan juga Zifa tidak bisa memungkiri kalau suaminya itu sangat romantis, tetapi Zifa masih takut untuk memulai semuanya ia takut kalau nanti dia justru terpecah fokusnya dengan cinta Ghava yang mengganggunya.


Zifa pada akhirnya mengangguk pasrah saja dengan ucapan Ghava, karena ia juga tidak ingin membuat masalah, takut justru nantinya akan membuat masalah dengan dia yang diam-diam pergi ke rumah Alwi untuk menemui kakak dan kedua ponakannya.


Cup... tubuh Zifa seketika membeku ketika Ghava tiba-tiba memberikan satu kecupan di pucuk keningnya. Hal yang dalam satu minggu ini tidak pernah dilakukan oleh laki-laki yang menyandang sebagi suaminya.


"Kamu jaga diri yah di rumah. Tunggu aku sampai pulang, dan kita akan mengunjungi Zara dan ponakan kita." Suara Ghava yang meneduhkan membuat Zifa tertegun.


Padahal baru juga ia merasakan bimbang dengan kebaikan Ghava, tetapi justru ia kembali di goyahkan pertahanannya oleh sifat Ghava yang semakin hari semakin hangat, dan romantis.


"Ehemmm...." Zifa hanya membalas dengan deheman, dan sikap yang kaku. Wanita itu sadar kalau Ghava pasti akan merasakan kekakuan sikapnya, tetapi Zifa juga tida bisa berbuat manis, karena ia takut tidak bisa fokus dengan niatnya.


Setelah berbasa-basi Ghava meninggalkan rumahnya, yang di jaga dengan super ketat. Hal itu ia lakukan karena takut kalau sampai persembunyiannya ketahuan oleh orang-orang yang bisa saja mencelakai Zifa.


Setelah memastikan Ghava pergi, Zifa seperti biasa akan buru-buru masuk ke dalam rumahnya yang dipersembahkan oleh suaminya sebagai hadiah pernikahan mereka.


"Kamu lihat kan itu Ghava?" tanya Wina yang sudah sejak kemarin mengikuti mobil yang dia duga kalau mobil itu adalah mobil milik Ghava. Dan pagi ini Wina dan Kemal pun mulai mengawasi di rumah yang  mereka duga rumah Ghava.


Namun perjuangannya selama satu minggu ini kembali Kemal pertimbangkan. Dia sudah terjun sejauh ini tidak mungkin ia kembali mundur hanya karena tidak tega karena Ghava adalah saudaranya.


"Kemal, ayo kita ikuti Ghava!! Kenapa kamu jadi seperti ini?" Wina menggoyangkan tubuh Kemal yang justru tiba-tiba melamun.


Kemal langsung tersadar dan kembali melajukan mobilnya mengikuti kemana mobil yang diduga ditumpangi Ghava pergi, sebuah kantor yang baru di buka menjadi tujuan utama mobil itu. Dari kantor yang di masuki oleh mobil itu, tentu Kemal sudah semakin yakin, di mana kantor itu adalah kantor cabang milik Ghava.


"Iya orang yang ada di dalam mobil itu sudah jelas Ghava," ucap Kemal dengan suara yang melemah. Kalau gitu tunggu apa lagi ayo kita mulai rencanakan rencana selanjutnya, yaitu buat wanita murahan itu mendapatkan karmanya," pinta Wina, dengan wajah yang terlihat marah berat.


"Sabar Wina, kita tidak bisa gegabah. Ghava bukan orang yang bodoh, pasti dia sebelum meninggalkan wanitanya pergi, dia sudah memastikan keamanannya. Kita harus bertindak hati-hati kalau tidak malah kita yang kalah sebelum bertindak," balas  Kemal, entah dia berkata seperti ini karena benar-benar bertindak hati-hati atau justru ia memang ingin memberikan nafas untuk Ghava dan Zifa mengetahui bahaya dari dirinya.


Hati Kemal masih sangat labil dan seperti berada di tengah awan yang terombang-ambing tanpa menapak yang jelas. Sebentar ia akan yakin dengan rencananya, tetapi sebentar lagi ia akan menyalahkan dirinya yang salah.


Dilain tempat Eira juga sudah mulai pulang kerumahnya paska tiga hari dirawat di rumah sakit. Hubungan keluarga itu sudah mulai membaik baik. Orlin juga saat ini sudah kembali percaya pada Abas kalau suaminya itu tidak mungkin melakukan perselingkuhan yang dilakukan oleh Abas, apalagi sampai mengakibatkan adanya anak diantara mereka.


Bahkan saat ini Orlin sering menyindir Lyra dan begitupun Lyra yang balik menyindir Orlin. Dua wanita itu tidak mau kalah dalam membela dirinya sendiri.


Abas secara diam-diam juga mencari informasi mengenai Zara wanita yang pernah menjadi pelam-piasan nafsu dunianya. Dalam hatinya ia tetap ada rasa bersalah, dan yakin kalau memang Zara hamil atas perbuatanya, tetapi ia juga tidak bisa mengakuinya ancaman dari Eira menjadikan ia menolak pengakuan atas perbuatanya, dan tentu mengatakan fakta yang sebaliknya, dan menuduh Lyra lah yang telah memfitnahnya, dan memojokanya dengan sebuah perselingkuhan.


Dari pengakuan Abas ini lah yang membuat Orlin dan keluarganya selalu menyerang Lyra tidak hanya Orlin dan keluarganya yang menyerang Lyra, Wina dan keluarganya juga sama, selalu menyindir wanita itu untung Lyra  memiliki watak yang sama dengan mereka sehingga ia akan tetap santai dengan yang terjadi dengan serangan-serangan dari orang-orang yang menyudutkannya. Lyra justru semakin menantang orang-orang itu, agar nanti kalau semuanya terungkap ia akan menertawakannya lebih keras.


Lyra sudah mempersiapkan hal itu. Tinggal menunggu hari itu akan tiba.