
Zifa yang terkejut dengan ucapan Lyra pun hanya bisa diam dan mencerna ucapan wanita yang berada di sampingnya.
"Apa kamu menganggap kalau aku akan semakin membuat kamu dan Ara terpojokan dengan masalah ini?" lirih Lyra yang melihat Zifa seperti ketakutan ketika ada orang lain yang mengetahui rahasia keluarganya, atau bahkan ada yang mengetahui siapa dia dan Zara sebenarnya. "Atau jangaan-jangan selama ini ada yang mengancam kamu?" tebak Lyra, otaknya terus berputar menebak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Zifa dan Zara.
"Untuk mengancam secara terus terang tidak ada, tetapi aku merasa hidup kami itu seperti terancam," lirih Zifa, tanganya masih terus memainkan gelang di tanganya, seolah ia sedang berdzikir.
"Kemal, yang mengancam kamu, Abas atau bahkan Ghava yang mengancam kamu?" cecar Lyra. Mungkin setelah tahu orang yang kira-kira melakukan hal itu Lyra bisa membantu Zifa agar lolos dari ancaman itu.
Pandangan Zifa langsung terangkat ketika gadis itu mendengar nama yang akhir-akhir ini sedang dekat dengan dia. "Ghava? Ghava siapa?" tanya Zifa kebingungan. Apakah Ghava yang Lyra maksud adalah Ghava yang sama dengan laki-laki yang dekat dengan dia selama ini.
"Lyra menghembuskan nafas kasar. "Aduh Zifa jadi kamu tidak tahu Ghava siapa?" tangan Lyra mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto profil Ghava yang menggunakan photo Raja dan Ratu. "Kamu kenal kan sama orang yang menggunakan foto profil ini?" tanya Lyra dengan menujukan kontak Ghva.
Tanpa harus dilihat dengan seksama Zifa kenal dengan siapa yang dimaksud oleh Lyra. Zifa mengangguk, masih dengan kebingungan.
"Jadi kamu hanya kenal Ghava tanpa tahu dia siapa?" tanya Lyra dengan setengah terkekeh mungkin menertawakan kepolosan Zifa.
Lagi, Zifa mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Lyra, memang benar Zifa tidak kenal siapa Ghava, ia hanya kenal nama dan wajah, tanpa tahu sil-silah keluarga siapa itu Ghava.
"Baiklah sepertinya aku harus kasih tahu kamu siapa Ghava sebenarnya," Lyra menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan, "Mantan mertua aku yang aku ceritain orangnya ikut campur kerumah tangga aku, dan memaksa anaknya menceraikan aku, dia itu memiliki tiga anak laki-laki yang pertama Abas mantan suami aku, Abas. Kedua Ghava yang foto profilnya menggunakan foto Raja dan Ratu, dan yang ketika adalah Kemal yang sudah kamu kenal sebelumnya. Jadi kamu tahu kira-kira Ghava ngedekatin kamu untuk apa?" Lyra tersenyum dengan sinis.
Zifa tentu terkejut dengan ucapan Lyra. "Pantas saja aku melihat Ghava seperti melihat Kemal, ternyata dia memang adik kakak." Kali ini Zifa terkekeh, ia menertawakan kebodohan dan kepolosnaya yang justru memasukan keluraga yang tengah ia mata-matai untuk menjadi bagian dari hari-harinya. Sakit, itu yang Zifa rasakan, ketika ia merasakan nyaman dengan laki-laki tetapi justru laki-laki itu lagi-lagi adalah bagian dari kisah masa lalu yang membuatnya kehilangan ibunya.
"Tapi tunggu kamu jangan benci Ghava dulu, aku mau tanya menurut kamu Ghava itu tahu sil-silan kamu tidak?" tanya Lyra, yang dalam otaknya terbesit ide untuk memanfaatkan salah satu diantara mereka untuk membuat keluarga itu hancur.
"Kalau dia belum tahu kamu, maka terus rahasiakan jati diri kamu, jangan sampai dia tahu kalau kalian adalah Zifa dan Zara anak dari asisten rumah tangga di rumahnya, kamu bisa manfaatkan Ghava untuk menghancurkan keluarga itu sendiri." Lyra dengan yakin kalau rencana ini akan berhasil, bahkan wanita itu akan sangat yakin apabila Ghava memperjuangakan Zifa keluarga itu akan saling perang.Terutama ibu mertuanya yang super matrealitis. Sebagai menatu yang sudah sepuluh tahu hidup dengan anaknya. Tentu Lyra tahu banget gimana kelakuan Eira.
"Caranya gimana Mba, tapi maaf aku dengar nama Ghava saja jadi ilfil dan merasa malas untuk dekat-dekat lagi," lirih Zifa, ingin saat itu juga memilih tidak kenal dengan Ghava.
"Jadikan Ghava kekasih kamu, kuras hartanya dan buat Ghava membangkang pada ibunya, dan buat dia memilih kamu wanita yang saangat dia cintainya. Ghava sebenarnya sudah di jodohkan tetapi setahu aku Ghava menolak karena tidak menyukai wanita itu dan setelah aku amati sepertinya Ghava lebih tertarik dengan kamu. Maka dari itu kamu harus jadi wanita penggoda untuk Abas meninggalkan wanita yang dijodohkanya. Apabila itu terjadi pasti rumah itu akan saling serang terutama setahu aku Abas berpihak pada Ghava, begitu pun Kemal, dan berati akan ada kemungkinan kalau mereka akan saling bertengkar dan kamu bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menghancurkan keluarga itu, jual kesedihan agar Ghava dan yang lainya simpati dengan kamu. Aku akan ada di belakang kamu. Mungkin aku tidak akan menujukan secara langsung bantuan aku, tetapi percayalah aku akan berada di pihak kamu, terutama untuk menghancurkan keluarga itu aku akan membantu terdepan," oceh Lyra menjabarkan rencananya, dan tentu wanita itu sendiri sudah tidak sabar menunggu hari itu terjadi.
Zifa tidak langsung menerima usulan Lyra karena ia tidak yakin bisa melakukanya.
"Kenapa malah diam, apa rencana aku terlalu pasaran?" tanya Lyra , mungkin Zifa ada rencana lain.
Zifa menggeleng. "Aku hanya takut kalau rencana ini akan ketahuan dan aku malah bernasib naas lagi. Lagian mana bisa aku bersikap seperti penggoda sedangkan pacaran aku saja belum pernah," jawab Zifa, dengan kata lain Zifa kurang setuju dengan cara Lyra.
"Aduh Zifa, aku gemas deh sama kamu. Ini aku bilang penggoda itu bukan berati kamu harus melenggak-lenggok menawarkan kemolekan tubuh kamu, bukan. Justru sebaliknya, kamu harus menggoda Ghava dengan kepribadianmu, buat Ghava tergila-gila dengan kamu karena kepribadian kamu yang baik, sopan, perhatian, pekerja keras, romantis dan penyabar, percaya Ghava akan memperjuangkan kamu apabila dia sudah merasa kalau kamu adalah wanita yang dia cari. Sebab dari yang aku kenal, di rumah itu yang cukup teguh pendirianya hanya Ghava dan Kemal, kamu bisa manfaatkan dua laki-laki itu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu. Itukan tujuan kamu kemarin bertanya-tanya terhadap aku, karena kamu mengira aku bagian dari orang yang tahu akan kejadian yang menimpa keluarga kamu," ujar Lyra, tanpa di jabarkan atas pertanyaan dan perasaan Zifa, Lyra bisa menebak dengan lancar.
Lyra memang beda, sealain dia memiliki kelemahan di mana dia adalah orang yang pelupa, tetapi daya tangkap dia tajam contohnya hal ini. Tanpa Zifa sebutkan masalah yang membelit keluarga Zifa tetapi Lyra bisa mengurutkanya satu demi satu kejadian hingga ia bisa menebak tujuan dari Zifa kemarin meanyakan keluarga mantan suaminya.
"Baiklah Mba, Zifa akan coba untuk mengikuti cara Mba Lyra," balas Zifa dengan lemah.
"Jangan hanya di coba, tapi kamu memang HARUS mengunakan hati juga agar rencana kamu lebih natural, kalau Ghava tahu kamu hanya memanfaatkan dia untuk balas dendam malah kamu sendiri yang repot. Buat dia benaar-benar sayang dan cinta sama kamu, bucin. Dan kamu juga jangan lupa tebar perhatian yang meyakinkan. Aku percaya pasti rencana kamu akan terbalaskan kalau kamu melakukanya dengan hati," ucap Lyra dengan menaik turunkan alisnya.