Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 124


Acara yang di buat semeriah mungkin dengan dana yang tidaklah murah tetapi dengan sangat gampangnya dihancurkan oleh Lyra.


"Kalau gitu saya pamit dulu Tante. Orlin jaga kandungan kamu, setidaknya sampai lahiran apakan mereka akan tetap baik pada anak kamu, tau kamu akan bernasib sam seperti merek," ujar Lyra ia akan pergi, namun buru-buru Kemal menahannya.


"Tunggu Lyra. Apa yang loe tahu tentang anak-anak itu?" tanya Kemal ia sangat penasaran dari mana mantan kakak iparnya tahu anak-anak Zara.


"Semua yang kamu tahu aku tahu semua Kemal, tanpa terkecuali, kematian Ibu Farida asisten rumah tangga kalian yang meninggal secara tiba-tiba dan kalian bilang serangan jantung, ternyata....(Lyra menghentikan ucapannya sejenak) Kamu tahu jawabannya, apakah itu serangan jantung, atau ada upaya penyingkiran mengingat wanita itu tahu kebusukan Abas, dan meminta pertanggung jawaban dari Abas. Aku rasa aku tidak harus membukanya di sini, karena aku tahu satu atau dua dari kalian saat ini ada yang sedang mengharapkan aku celaka setelah ini. Jadi untuk kalian yang ada di sini. Kalau esok atau suatu saat melihat jasadku di temukan dalam ketidak wajar kalian bisa curigai satu dari mereka, mengingat mereka bisa lolos dari satu kaus dengan cara yang sama, bisa saja aku juga akan bernasib sama dengan asisten rumah tangga kalian." Lyra benar-benar kali ini sudah menabuh genderang peperangan. Tidak sedikit pun wanita itu merasakan takut.


Justru Lyra merasa semakin tertantang dan semakin membuat mereka tidak berkutik, dan ia ingin membuktikan bahwa sepandai-pandainya menyimpan bangkai akan tercium juga.


Tanpa menunggu dan berpamitan kedua kalinya Lyra pergi meninggalkan kegaduhan di ruangan itu yah gaduh, karena Eira jatuh pingsan mungkin malu atau justru ia pura-pura agar semua ini tidak semakin berlarut dan dirinya bisa kabur dari situasi yang membuat ia terpojok.


Namun kalau itu salah satu aksinya, dia salah besar karena justru semakin banyak yang bertanya-tanya dengan dia yang tiba-tiba jatuh pingsan itu.


Brukkkk... pintu mobil di tutup dengan kencang oleh Lyra. Ponsel genggam menadi tujuan utamanya. Ada orang yang harus tahu dengan kejadian ini. Semuanya sudah Lyra siapkan termasuk rekaman dari orang yang ia perintahkan.


[Ifa kamu lagi ngapain?] tanya Lyra bahkan begitu ponsel tersambung dia langsung mencecar pertanyaan seperti orang yang takut ketahuan mencuri.


Zifa di tempat lain bingung dengan pertanyaan Lyra. [Ifa? Ifa lagi di rumah Ghava, sejak Ghava minta kita pindah di rumahnya dia juga tidak izinin kerja katanya demi keamanan kita.] jawab Zifa, dengan bingung dan sedikit terbata.


[Fa buka ponsel dan lihat video yang gue kirim. Loe siap-siap semuanya sudah aku mulai dan loe tinggal melanjutkannya. Manfaatkan Ghava untuk tempat persembunyian kamu.] Lyra langsung mematikan ponselnya, dan membuang ke bangku penumpang sampingnya.


Selanjutnya ia menginjak pedal gasnya dan mobil mewahnya berjalan meninggalkan gedung yaang mana lalu lalang tamu undangan sudah mulai berhamburan pulang.


"Kasihan mereka menyiapkan acara semeriah itu dan menghabiskan uang yang tidak sedikit tetapi aku hancurkan begitu saja," kekeh Lyra sembari meninggalkan area parkir hotel berbintang itu.


Di tempat lain seperti yang Lyra minta Zifa membuka ponselnya, dan Vidio dari pertama Lyra datang dan beramah taman dengan keluarga mantan majikan ibunya hingga keributan dan serangan demi serangan dari Lyra terekam dengan jelas setiap apa yang mereka katakan.


Air mata Zifa tanpa sadar menetes dengan deras, dan ia sudah sesenggukan, bukan sedih karena Lyra sudah melakukan keributan tetapi senang karena Lyra memiliki keberanian yang amat hebat. Jujur Zifa tidak akan pernah bisa melakukan ini semua terlebih mereka adalah orang yang berkuasa, tetapi Lyra dengan lantang membungkam mulut mereka semua.


Ghava yang baru selesai makan malam pun menghampiri Zifa yang sedang menangis dengan layar ponsel di hadapannya.


Saat ini Zifa dan Zara benar-benar seperti sedang bersembunyi dengan apa yang ia  lakukan tidak ada satupun yang membuat mereka jadi seperti ini selain sebuah keadilan.


Ghava mengusap punggung Zifa. "Ada apa?" tanya Ghava dan hal itu berhasil mengagetkan Zifa yang sedang menonton video dari Lyra.


Zifa yang sudah benar-benar pasrah dengan semuanya, memilih memberikan video rekaman itu kepada Ghava biarkan Ghava yang menilai sebagaimana kelakuan keluarganya yang sangat keterlaluan itu.


Ghav mengambil ponsel yang Zifa berikan dan menontonnya dengan sangat khusu tanpa sedikitpun berkomentar. Sedangkan Zifa masih terisak dengan semuanya.


"Apa kamu yakin Ibu kamu di bunuh?" tanya Ghava setelah ia selesai melihat video itu.


Zifa hanya menangguk dengan sisa tangisnya yang sangat sedih.


Ghava menggenggam tangan Zifa dan menariknya kedalam pelukannya. "Menikahlah denganku agar aku punya alasan untuk membela kamu di pengadilan nanti." Suara tegas Ghava lagi-lagi membuat Zifa terkejut kaget.


"Aku akan sulit membela kamu kalau kamu tidak ada hubungan denganku. Aku akan berada di pihak kamu.' Ghava lagi-lagi bersikap tenang dan bicara yang tegas. Zifa masih bingung. Menikah bukan perkara ijab kabul selesai. Ada banyak yang harus di pertimbangkan.


"Aku bingung," lirih Zifa.


"Ayolah Ifa, hal ini bukan untuk kebaikan kamu juga, aku melakukan ini agar kamu bisa mendapatkan keadilan. Inikah yang kamu cari Keadilan, dan saat ini aku siap membela kamu meskipun taruhannya aku kehilangan keluarga dan nyawaku." Ghava terus meyakinkan Zifa bahwa apa yang dia katakan adalah untuk kebaikan semuanya.


"Bagaimana kalau ternyata menikahi aku adalah cara kamu untuk membuat aku semakin tidak bisa bergerak dan tidak bisa mencari keadilan dengan kata lain kamu sebaliknya dengan apa yang kamu lakukan tadi," tanya Zifa waspada itu perlu.


"Kalau aku melakukan hal sebaliknya dari yang aku katakan tadi, kamu boleh meminta ceria saat itu juga dari aku, atau kalau kamu mau meminta kematianku itu juga sepertinya tidak akan kenapa-kenapa,' balas Ghava dengan santai.


"Beri waktu setidaknya aku bertanya pada Abangku Alwi dan juga Lyra yang selama ini sudah menjadi saudaraku." ucap Zifa dengan suara yang lirih.


"Tidak apa-apa kalau kamu mau bertanya pada mereka, aku tunggu tetapi ingat kataku Ifa, aku melakukan ini agar aku bisa melindungi kamu dengan kuat," ucap Ghava.


...****************...