Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Ibu Baru


Bunda Anna datang menggunakan motor metic. Kemal yang masih di luar mobil mengembangkan senyum manis untuk penyambutan, guru dan juga sahabatnya.


"Zara ada di dalam mobil Bun, dia masih menangis dan sulit untuk di bujuk,"  ujar Kemal begitu bunda Anna menghampirinya. Sebelumnya mereka tentu sudah saling berjabat tangan. Bunda Anna pun tanpa banyak berkata-kata langsung menuju mobil Kemal dan melihat kondisi Zara, di mana di sana juga ada Zifa yang sedang berusaha membujuk kakaknya.


Bunda Anna melemparkan senyum manisnya untuk menyapa Zifa, begitpun Zifa langsung membalasnya dengan senyum terbaiknya, dan berjabat tangan sesuai dengan ke biasaan orang-orang di negara ini.


"Mba bisa minta tolong keluar dulu, biar Bunda yang coba berbicara dengan kakaknya," ujar Bunda, mengodekaan agar mereka di berikan waktu untuk bersama-sama agar saling mengungkapkan isi hati. Pengalaman Bunda Anna yang sudah puluhan tahun menangani kasus seperti ini pasti lebih bisa mengambil hati mereka yang sedang emosinya meninggi.


Zifa pun memberikan waktu untuk Bunda Anna dan kakaknya, gadis itu memilih turun dari dalam mobilnya dan menemui Kemal untuk mengobrol santai mengehilangkan hawa ngantuknya.


Zara yang seolah terhipnotis dengan Bunda Anna pun tidak keberatan ketika Zifa meninggalkanya hanya dengan orang asing. Padahal biasanya Zara akan sulit mau menyapa orang yang tidak ia kenal sebelumnya. Namun dengan Bunda Anna, sikap Zara sangat manis.


"Zara cantik, kenalkan ini Bunda sayang, Zara ada yang ingin di ceritakan pada Bunda?" tanya Bunda Anna dengan suara yang lembut seperti suara ibunya yang apabila berbicara selalu lemah lembut seperti itu.


'Ibu... Ibu... Ibu..." lirih Zara yang mengira suara bunda Anna adalah ibunya yang selama ini ia rindukan. Mungkin memang Bunda Anna itu memiliki ilmu hitam, hipnotos. Terlalu mustahil kenapa bisa membujuk Zara dengan begitu gampangnya. Sementara Kemal dan Zifa saja harus berjuang dengan sangat lembut dan semua rayuan, dan janji-janji manis di keluarkan, tapi Zara tidak bergeming, tetapi ketika bunda Anna baru menyapa saja Zara seolah merasakan kedamaian hatinya.


"Iya sayang ini Ibu, Zara mau cerita sama Ibu?" tanya Bunda Anna dengan mengelus rambut sepunggung milik Zara yang terlihat sedikit acak-acakan karena bangun tidur. Bunda terus mengelus rambut Zara agar perempuan itu datang ke padanya, dan tidak berjauhan lagi duduknya, di mana saat ini Zara duduk di ujung kursi. Seolah ia takut apabila mendekati Bunda Anna.


"Ibu di mana?" tanya Zara seolah ia menemukan ibunya kembali tangisnya berhenti seketika dan setelahnya senyum yang manis terlihat di wajah lelahnya.


"Ibu ada di sini, di depan Zara. Apa Zara mau peluk Ibu?" tanya Bunda Anna, wanita berhijaab itu tahu bahwa Zara memang sedang merasakan rindu yang teramat dengan wanita yang telah melahirkanya, tetapi mungkin keadaan yang memaksa dia memendamnya di dalam dadanya. Andai dia sama seperti Zifa pasti dia juga akan mengungkapkan perasaannya dengan lantang agar dadanya yang seolah di himpit oleh batu besar bisa lega.


Tanpa menunggu lama Zara langsung merangkul wanita yang ada di sampinya, terdengar isakan tangis lagi dari bibir mungil Zara, wajahnya di benamkan di atas pundak bunda Anna, harum tubuh Bunda Anna membuat Zara tidak lagi menanyakan ibunya. Seolah wanita yang tengah berbadan dua itu menemukan apa yang selama ini ia carinya. Sosok ibu yang selama delapan belas tahun selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang.


Sementara di dalam mobil Zara dan Bunda Anna tengah berbagi rasa kangen, Zifa dan Kemal masih saling diam. Zifa bingung mau memulai dari mana begitupun Kemal bingung mau ngomong apa. Sebenarnya Kemal banyak banget nasihat-nasihat yang ingin dia sampaikan untuk Zifa, di mana mungkin saja besok adalah hari terakhir mereka bertemu. Namun Kemal seolah kaku mulutnya ketika berhadapan dengan gadis yang telah berhasil merebut hatinya hingga tidak tersisa, bahkan untuk dirinya sendiri saja Zifa tidak mengizinkanya, sehingga hatinya terisi nama Zifa seorang. Yah, Kemal memang lebih mencintai Zifa dari.pada dirinya sendiri. Lebay, memang tetapi itulah yang terjadi, hatinya sudah penuh dengan nama Zifa. Maka dari itu dia rela melakukan ini semua. Selain iba dengan nasibnya juga agar Zifa bisa tahu gimana dalamnya dia mencintai Zifa.


"Kamu kapan akan berangkat ke luar negri, Mal?" tanya Zifa yang langsung mengagetkan lamunan Kemal yang tengah membayangkan dirinya juga. Membayangkan Zifa gadis yang sangat ia cintainya bahkan lebih dari cinta pada diri sendiri. Gadis itu tahu dengan apa yang terjadi, dan pada ujungnya akan membencinya. Apakan itu akan terjadi? Mungkin saja setelah Zifa tahu semuanya, tahu siapa Kemal sebenarnya.


"Ah... mungkin lusa Mey, lihat jadwal dari kantor papih aku," jawab Kemal dengan terbata, karena kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu.


"Aku tidak punya apa-apa sebagai kenangan-kenangan, yang akan mengingatkan kamu, bahwa kita memang sahabat, selain gelang ini. Gelang ini adalah gelang pemberian ibuku. Aku memakainya sudah dari dulu, dan aku ingin memberikanya pada kamu. Memang gelang ini bukan gelang mahal, tetapi semoga kamu bisa mengingat aku terus yah, jaga gelang ini untuk aku. Sampai nanti kita bisa bertemu kembali." Zifa memberikan gelang yang sudah hampir lima tahun menemaninya. Gelang tali dengan warna hitam dan ditengahnya terdapat dua mutiara lombok berwarna pink muda, yang entah dari mana ibu mendapatkanya dan gelang itu di berikan pada Zifa dan Zara. Bedanya hanya warna milik Zara bertali merah, milik Zifa hitam. Namun milik Zifa kini di berikan untuk Kemal. Sebagai kenang-kenangan yang mungkin saja ia bisa memakainya, karena gelang itu masuk apabila dipakai oleh wanita maupun pria.


Kemal menatap pada Zifa yang tengah mengangsurkan gelangnya di atas telapak tangan kananya untuk Kemal. Kemal mengambilnya dan melihat gelang itu, hanya gelang tali biasa sih, tetapi ketika di pakai gelang itu terlihat sangat mewah. "Ini terlalu berharga Zifa, aku takut aku membuat kamu menyesal nantinya, karena telah memberikan gelang ini. Aku tidak sebaik yang kamu bayangkan. Aku tidak pantas menerima hadiah perpisahan seperti ini Zifa," lirih Kemal sembari membalikan gelang yang tqdi sempat ia ambil dari tangan Zifa.