Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Tidak Perlu di Cemaskan


"Fa aku mau ke kamar dulu yah, ambil ponsel, ketinggalan. Takutnya ada hal yang penting." Ghava pun mengembalikan Ratu pada Tantenya. Ia baru keingat bahwa ponselnya masih nyangkut di dalam kamar.


Zifa pun dengan segera menghentikan kegiatanya dan mengambil Ratu dari gendongan Ghava. "Iya terima kasih yah Mas, udah bantuin jaga Ratu," balas Zifa sengambil ponakanya.


"Iya sama-sama malahan penginya setiap hari datang kesini buat main sama calon ponakan, tapi apa daya masih banyak kerjaan. Ini nanti siang juga harus mulai cari-cari tempat sama Alwi, kalau udah nemu tinggal sibuknya deh, dan kayaknya bakal tidak bertemu lama sama bayi cantik ini." Ghava menoel pipi yang kemerahan karena tadi bayi cantik itu di jemur.


"Hehehe iya enggak apa-apa Mas yang terpenting doain biar Ratu dan Raja tidak kekurangan kasih sayang dan tidak kekuraangan satu apapun, doa lebih baik, dari pada datang setiap hari, takutnya juga jadi timbul fitnah malahan kalau datang setiap hari," jawab Zifa biarpun mungkin di lingkungan ini orang-orang cuek dengan urusan tetangga lingkungan sekitar, tetapi bukan berati bisa bebas, tetap jaga hubungan dengan lawan jenis biar tidak timbul omongan yang tidak-tidak.


"Ok siap baginda Tantenya Ratu." Ghava memberikan hormat seperti prajurit. Lalu ia pun meninggalkan Zifa dengan Ratu.


"Astaga, ini orang ngapain ajah sih, rese banget bikin panggilan sampai berapa puluh kali, mana pesan banyak banget. Gila, gue lama-lama. Belum jadi istri ajah sudah ribet banget," dengus Ghava, ketika membaca pesan satu-satu. Terlebih pesan dari Wina, Laki-laki itu membuka pesanya pengin muntah. Dia baru kali ini mendapatkan teman lawan jenis yang sangat posesif. Bagaimana menjadi istri, bisa-bisa Ghava kurus kering.


[Sayang, kamu di mana, aku mencemaskan kamu sayang, kamu beri kabar aku yah, semalaman aku tidak bisa tidur, karena memikirkan kamu, sayang...] Seperti itu kira-kira pesan yang berderet yang di kirimkan oleh Wina, yang mamihnya katakan bawa perempuan seperti itu yang akan menjadi calon istrinya. Sulit untuk Ghava menerima calon istri yang seperti itu. Wina bukanlah kretiria wanita yang Ghava inginkan. Ghava lebih suka dan lebih tertarik dengan Zifa, tetapi akan sulit memasukan Zifa dalam keluarganya. Di mana keluarganya lebih tertarik dengan calon menantu yang kaya seperti Wina dan Lyra.


"Apakan kalau aku dan Zifa menjalin kasih akan masuk ke dalam hubungan terlarang dan tidak di restui," batin Ghava. Wina memang wanita sukses dengan banyak prestasi yang dia capai di usia mudanya, tetapi Ghava yakin bahwa prestasi yang Wina capai ada campur tangan dari orang tuanya. Yah, keluarganya yang sudah kaya-raya dari lahir dan bisnis papahnya yang sudah bersinar, sangat gampang untuk Wina mewujudkan pencapaianya sampai detik ini. Sangat berbeda tentu dengan Zifa yang semuanya dia bangun dari nol, dan harus memutar otaknya dari keuntungan bisa membayar karyawan dan bisa makin mengembangkan usahanya itu.


Jari jempol lelaki itu menekan tombol berwarna hijau ketika nama Mamih dengan foto pofil keluarganya memanggil. "Ghava, kamu di mana ajah, Mamih sampai bingung cari kabar kamu kemana lagi, semua orang mencemaskan kamu, terlebih Wina dia sekarang ada sama Mamih, calon istri kamu dari tadi menangis takut terjadi sesuatu dengan kamu, sayang," suara Era dengan nada cemas langsung menerobos gendang telinga Ghava. Sampai-sampai Ghava harus menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinganya itu.


Ghava menggosok-gosok daun telinga yang terasa gatal, karena suara Mamihnya yang luar biasa nyaring, masih untung tidak merusak gendang telinganya.


"Ini kenapa sih Mih? Kan Ghava udah bilang kalau Ghava lagi kerja, dan memang kerjaan Ghava ada di luar kota, tidak mungkin kalau Ghava harus pulang setiap hari, dan soal ponsel semalam Ghav sampai di tempat ini udah malam, dan ponsel mati baru di cas tadi pagi, tapi malah ponselnya tidak di bawa ke lokasi kantor cabang yang baru. Ponsel ketinggalan di kamar hotel, mana sempat sih Mih, cek-cek ponsel kalau kerjaan lagi banyak," jawab Ghava dengan malas. Sedikit berbohong demi kebaikan akan lebih baik dari pada berkata jujur dan akan membuat mamahnya semakin murka.


Laki-laki itu asik dengan laptopnya untuk mengecek perkembangan bisnisnya yang di laporkan anak buahnya di mana presentasenya semakin menjanjikan. Grafik penggunakan aplikasi yang di gagasnya menukik tajam keatas setiap harinya, dan itu tandanya banyak orang-orang yang memilih aplikasinya untuk pilihan perencanaaan liburan.


Tanpa menunggu persetujuan dari Ghava, Eira menjulurkan ponselnya pada calon menantunya Wina.


"Sayang kamu lagi di mana sih kok tidak pulang, padahal Mamih Eira bilang kita harus sering-sering jalan berdua biar semakin mengenal satu sama lain. Tapi malah kamu enggak pulang," ucap Wina, ketika telpon Eira sudah di tanganya.


"Kan aku udah bilang, kalau aku mau kerja. Masa sih aku kemana-mana harus lapor sama kamu. Aku sedang membuka banyak cabang untuk bisnis aku biar semakin berkembang dan target aku kantor cabang aku bisa sampai kota-kota di setiap provinsi, biar makin banyak yang pakai aplikasi yang aku buat, dan kalau kamu mau jadi istri aku, kamu juga harus mau tahu dong dengan kesibukan aku," balas Ghava dengan nada bicara yang malah terkesan jutek dan terkesan sangat malas untuk menanggapi pertanyaan tidak penting yang Wina lemparkan.


"Ya udah sayang kamu hati-hati di sana yah, kalau urusanya sudah selesai kamu segera pulang yah. Aku tunggu kamu, dan aku sayang sama kamu," balas Wina untuk terakhir kalinya, setelahnya ponselnya di kembalikan pada calon Mamih mertuanya.


"Ya Tuhan kenapa kirimkan aku calon istri semacam itu sih,"  batin Ghava merinding sendiri dengan kelakuan calon istrinya. Bayanganya menikahi Zifa tetapi malah dapat yang jauh dari impianya.


"Kamu dengarkan Ghava, Wina itu sudah sayang banget sama kamu seharusnya kamu terima kasih, karena ada wanita yang begitu sayang dan begitu peduli sama kamu. Sedangkan kalau kamu dapat orang lain belum tentu dia akan sayang dan peduli seperti Wina." Eira selalu mengunggulkan calon menantunya yang kaya raya itu.


"Iya Mih, Iya. Udah yah Mih, Ghava harus bekerja lagi, banyak kerjaan yang harus Ghava kerjaan,"


Ghava yang merasa kupingnya langsung gangguan pun lebih baik mengakhiri percakapan dengan mamihnya. Setelah sambungan telepon dengan mamihnya selesai dan juga Ghava sudah memberikan kabar pada adik bungsunya. Ia langsung membawa perlengkapan kerjanya dan kembali turun ke bawah. Menemui dua calon ponakanya adalah pilihan terbaik dan tentunya melihat wajah Zifa yang menenangkan akan sangat lebih baik dari pada memikirkan Wina dan Mamihnya.


"Kenapa sih susah banget pengin cari istri sesuai dengan impian ajah, malah direpotin dengan pilihan orang tua," dengus Ghava sembari terus berjalan menuju lantai bawah.