
"Semua hasil pemeriksaanya bagus, bahkan tidak ada yang perlu di cemaskan, karena baik calon ponakan kamu dan juga ibunya sehat semua. Si kembar sehat kuat sama sepertinya wanita kuat yang ada dihadapanku saat ini, kalian para wanita tangguh. Jadi tidak heran kalo calon buah hatinya juga kuat. Perbanyak makanan yang bergizi, kalo ada uang minum susu buat ibu hamil juga yah, tapi kalau tidak ada uang untuk membelinya tidak apa-apa, semuanya tidak wajib kok dan itu hanya tambahan nutrisi, tapi sejauh ini sudah sehat semuanya kok. Vitamin dan penambah darah jangan lupa di minum." Dokter menjelaskan apa saja yang harus di lakukan oleh Zifa, dan Zifa pun yang baru memeriksakan kakaknya, menyimak dengan teliti, dan dicatat dalam ingatanya.
Zifa pun setelah dinasihati oleh dokter Marni, tidak lagi cemas dan takut karena memiliki ponakan kembar. "Benar yang dikatakan dokter Marni mungkin ini adalah rezeki buat kami yang di kasih ponakan dua sekaligus. Aku berdoa bersungguh-sungguh, biar laki-laki yang membuat kakak aku seperti ini tidak akan memiliki keteurunan, biarpun menikah sampai seratus kali, semoga saja semua wanita yang dia nikahi mandul. Atau juga berusaha hingga keluar negri sekalipun untuk bisa memiliki keturunan, tetapi tidak penah tercapai keinginanya, biar dia tahu rasa gimana telah membuat wanita seperti kaka Zara menderita. Aku yakin hukum karma masih ada," batin Zifa dengan bersungguh-sungguh.
Setelah semua beres Zifa dan Zara pun berjalan beritingan, menuju mobil. Di mana Kemal sudah mengirim pesan bahwa ia menunggu di palkiran. "Kakak, tadi senang engga kalo punya anak?" tanya Zifa mungkin saja dia bisa tahu kenapa kakaknya wajahnya bisa sebahagia tadi.
"Ifa, suami Ara di mana?" tanya Zara, seolah dia sudah menikah.
Zifa menyipitkan matanya. "Kakak Ara sudah punya suami?" tanya Zifa, ia bingung apakah ini hayalan Zara atau memang ada yang Zifa tidak tahu dari kakaknya, yang berhubungan dengan si pemerkosa. Zifa pun tersenyum getir sulit menerima apa yang Zara katakan sebab mungkin itu hanya hayalan kakaknya tetapi juga mungkin saja itu yang terjadi dalam dunia kenyatanya. "Kaka tahu seperti apa suami kakak Zara?" tanya Zifa lagi, otaknya sangat penasaran dengan apa yang Zara katakan.
Zara nampak berfikir tapi sedetik kemudian dia menggeleng lemah, dan lagi-lagi hal itu membuat Zifa kecewa. Yah, mungkin memang itu hanya hayalan Zara saja. Namun andai di coba di pahami sangat tidak masuk akal Zara memiliki bayangan suami sedangkan dia saja pikiranya kadang masih seperti bocah, mustahil membayangkan suami istrian sedang ia tidak tahu hubungan suami istri itu seperti apa. Tidak mungkin Zara berfikir ke sana, tanpa ada yang meracuni otaknya.
"Ya udah kalau kakak lupa, tapi nanti kalau kakak sudah tahu siapa nama suami kakak jangan lupa beri tahu pada Zifa yah, Ifa juga pengin tahu gimana suami kakak Ara," ujar Zifa mereka kini pun sudah berada di depan mobil dan Zifa mengedarkan pandangan mencari Kemal, dan ternyata sahabatnya itu sedang minum kopi hitam di gelas pelastik. Duduk di kursi taman yang tidak jauh dari mobil mereka palkir.
"Kemal..." Zifa memaggil Kemal, dan laki-laki yang merasa namanya di panggil pun langsung menatap wajah Zifa yang sedang berdiri di samping mobinya. Kemal buru-buru menghabiskan kopi hitam dan membuang gelas plastik sisa kopi ke dalam tempat sampah. Dengan berjalan lumayan tergesa Kemal menghampiri adik dan kakak yang hanya berbeda satu tahun itu.
"Kalian sudah selesai," tanya Kemal sembari membuka pintu mobil di susul oleh Zifa dan Zara juga melakukan hal yang sama.
"Sudah, kita sekarang mau ke mana?" tanya Zifa. Sedangkan Zara dari tadi seolah tengah mengamati jalanan sehingga calon ibu itu memperhatikan jalanan dari balik jendela terus.
"Kalau membelikan apa yang tadi kakak kamu mau gimana?" tanya Kemal, tidak bertanya sih, tetapi lebih memberikan usulan pada Zifa agar dia membelikan apa yang menjadi ke inginan Zara.
"Hemzzz... terserah kamu ajah Mal, kalo menurut kamu itu yang terbaik, dan tidak akan terjadi apa-apa dengan kak Zara ataupun dua bayi calon keponakan aku masih aman maka lakukanlah," ucap Zifa wajahnya menunjukan ia masih tidak rela Kemal membelikan ke inginan Zara, tetapi di sisi lain Zifa juga kadihan pada Zara yang ingin makan kue ulang tahun, tetapi karena terauma Zifa kakaknya harus mengalah.
Zifa pun memaksa bibirnya untuk senyum. "Aku akan belajar menghilangkan trauma itu, dan mungkin langkah pertama memulainya akan belajar dari kue ulang tahun itu," jawab Zifa, agar Kemal tidak lagi menasihatinya terus, sedangkan di dalam hatinya ia sampai kapan pun akan membenci perayaan terutama ulang tahun.
Tidak menunggu lama dan kini Kemal telah memalkirkan mobil mewah milik Ghava di halaman toko kue yang lezat dan tentu harganya bukan kalangan bawah. "Kamu mau di sini ajah atau ikut kedalam untuk memilih kue yang mana yang sekiranya kakak kamu inginkan?" tanya Kemal, sebelum ia membuka pintu mobilnya.
"Kamu ajah Mal, mohon maaf aku tidak bisa ikut ke dalam, soal pilihan kue apa? Apa saja kakak aku pasti akan memakanya," balas Zifa tanpa mau membuka matanya sedangkan dia sendiri dari tadi tidak tertidur, hanya memejamkan matanya.
Kemal pun pergi meninggalkan Zara dan Zifa di mana Zara yang memang tertidur sungguhan sedangkan Zifa hanya pura-pura tidur.
Tidak lama Kemal pun sudah balik dengan satu paper bag dengan berisi kue yang Zara inginkan. "Setelah ini mau kemana lagi? Mumpung masih di luar, jadi enggak harus bolak balik lagi" tanya Kemal sebelum menyalan mobilnya.
"Super Market kayaknya Mal, mumpung kak Zara masih tidur. Tadi dokter menyarankan Kaka untuk minum susu hamil," ujar Zifa memberi tahu yang dokter katakan.
"Ok" Kemal langsung menginjak kembalin pedal gasnya dan mengemudikan mobil menuju super market yang Zifa katakan.
"Kamu di sini saja Mal, biarkan aku yang membeli yang dibutuhkan kak Zara, sekalian takut kak Zara bangun juga." Zifa membuka pintu mobil dengan perlahan, agar Zara tidak terganggu dan bangun.
Gadis itu langsung membeli apa saja yang sekiranya di butuhkan oleh mereka, terutama Zara. Setelah memastikan cukup ia langsung bergegas ke kasir, ia takut kalau kakanya bangun. Terlebih Zifa tahu bahwa Zara kurang nyaman dengan Kemal. Sehingga takut malam menangis ketika tahu adiknya tidak ada dan hanya berdua saja dengan Kemal.
Setelah semuanya selesai Zifa berjalan dengan dua tas belanja besar, yah dia sekalian membeli perlengkapan untuk dia dan juga kakaknya. Bersyukur kecemadanya tidak terjadi. Zara masih tertidur dengan pulas, ketika Zifa masuk ke dalam mobil.
Mereka pun karena tidak ada lagi yang di butuhkan langsung beranjak pulang. Hari ini akan di lanjutkan mengantarkan Zara ke Yayasan, tugas yang paling besar, dan berat untuk Zifa.