
cupppp... Wina memberikan kecupan hangat dan lama di pipi Kemal yang banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Aku pulang dulu, berbahagialah dengan wanita yang kamu cintai." Wina kembali meraih tas selempangnya, dan melangkah meningglakan Kemal yang masih tidak merespon apapun. Setidaknya ia sudah mengatakan apa yang terjadi pada dirinya. Biarkan dia akan membesarkan anaknya seorang diri, karena wanita itu tahu kalau bukan dirinya yang diharapkan oleh Kemal.
Namun sedetik kemudian Wina terkejut, tubuhnya kaku mematung. Ia seketika membalikan tubuhnya yang masih terasa kaku.
"Kemal apa kamu sudah sadar?" lirih Wina yang menatap, mata kemal yang sudah terbuka dengan tatapan yang sayu. Kemal yang tubuhnya masih terasa kaku hanya membalas ucapan Wina dengan kedipan yang cukup lama sebagai tanda kalau ia telah sadar.
Wina kembali meletakan bokongnya di kursi yang ada di samping Kemal, tangan Kemal, ia raih dan di genggamnya dengan kuat.
Ingin Kemal berucap, tetapi rasanya ia masih sangat lemah, dan tubuhnya seperti mati rasa, sedikit kaku dan badanya terasa sakit semua.
"Kemal, apa kamu dengan semua ucapan aku?" tanya Wina lagi, entah mengapa hatinya terasa sangat senang, senang sekali ketika melihat kalau ayah dari jabang bayinya sudah sadar. Lagi laki-laki itu membalas dengan kedipan mata yang cukup lama, tenggorokanya juga terasa sakit.
Wina terisak di hadapan Kemal, entah ia merasa malu dan juga dia merasa senang, itu tandanya setidaknya ia tidak akan menghadapi ujian yang berat seorang diri.
"Ha...u..s..." liris Kemal dengan melirik air minum yang ada di atas meja sofa.
"Tunggu yah!!" Wina mengambil air minum dengan satu sendok yang ada di sana, setelah mencuci sendok dan mengelapnya hingga kering Wina kembali lagi, dan memberikan minum pada Kemal dengan menggunakan sendok. Kemal meminum cukup banyak dan itu cukup membuat tenggorokanya tidak sakit.
"Te...rima kasih...," lirih Kemal dengan suara terbata. Wina membalasnya dengan anggukan.
"Aku senang lihat kamu sadar, itu tandanya aku tidak akan sendiri menghadapi ini semua," balas Wina kini ia masih berdiri di samping Kemal. Dengan sekuat tenaga, laki-laki itu menggerakan tanganya meskipun beberapa kali gagal.
"Kamu mau apa?" tanya Wina yang melihat kalau tangan Kemal mencoba di gerakan. Kemal sendiri mengabaikan pertanyaan Wina ia terus mencoba menggerakan tanganya. Ia terus mencoba mengagkat tanganya, senyum samar terlihat di wajah Kemal, ketika ia bisa mengangkat tanganya.
Wina pun tetap mendiamkan apa yang Kemal lakukan, yah Kemal sedang belajar menggerakan saraf motoriknya, yang kaku, karena memang peluru yang mengenai tulang belakanya, sehingga menyebabkan saraf-sarafnya terutama motorifnya cukup terganggu.
Degg!!
Jantung Wina berhenti seketika, darahnya mengaliri lebih deras dari jantung ke otaknya, tubuhnya seketika menghangat. 'Kemal menyentuh perutku, itu tandanya dia memang mendengar apa yang aku katakan sejak tadi,' batin Wina, bahkan tubuhnya sekarang juga terasa kaku, mungkin sama dengan yang Kemal rasakan.
"Aku panggil Zifa yah, pasti Zifa sangat senang kalau kamu sadar," tekan Wina, ia ingin menghindar, dan gerakan tangan Kemal di atas perutnya berhasil membuat tubuhnya sangat panas, baper, mungkin itu yang saat ini Wina rasakan, terbawa perasaan dengan perlakuan Kemal yang sangat hangat. Padahal mungkin apa yang di lakukan oleh Kemal tergolong biasa saja, tetapi tidak dengan Wina, yang bisa membuat hati Wina terombang ambing, tidak menentu. Tujaunnya dan perasaan yang lain membuat Wina jadi salah tingkah sendiri.
Kemal yang tahu kalau Wina memang merasa kurang nyaman dengan Zifa, ia langsung menggeleng tidak ingin membuat Wina merasa kalau hanya Zifa yang ada dihatinya, itu pasti akan sangat menyakitkan bagi Wina. Lagi pula Zifa sudah menikah dengan abangnya sampai kapan ia terpuruk dengan kisah masa lalunya. Sementara Zifa saja sudah tidak mungkin menjadi miliknya.
Wina mengernyitkan keningnya cukup heran. 'Tumben sekali Kemal tidak mau aku panggil Zifa, ah mungkin dia sedang menjaga perasaanku,' batin Wina, dan paling yang terjadi denganya hanyalah ras bersalahnya.
Seulas senyum tipis Wina berikan, lucu memang hidupnya hanya mendapatkan rasa simpati bukan cinta yang tulus.
"A.. ku ingin kamu yang temanin aku," lirih Kemal, yang paham perasaan Wina saat ini.
"Tapi aku harus kerja banyak yang harus aku kerjakan, lagi pula di sini sudah ada yang jagain, ada Zifa dan juga Siti. Selama satu bulan ini mereka menjaga kamu dengan baik, dan pasti akan mencukupi kebutuhan kamu juga. Aku di sini hanya akan membuat situasi tidak nyaman," balas Wina, dan lagi dia pasti akan baanyak emosi apabila bertemu dengan Zifa.
"Baiklah tidak apa-apa," balas Kemal, pasrah, memang pada kenyataanya seperti itu Wina yang umurnya lima tahun lebih tua dari Kemal, dan pastinya kekayaan yang ia gunakan bukan hanya semata dari kekayaan warisan keluarganya, tetapi karena Wina memang bekerja dengan baik hingga ia memiliki cabang klinik kecantikan di berbagaai kota-kota besar. Sementara Kemal? Kuliah saja belum selesai, pekerjaan masih tergantung pada abangnya Ghava.
"Kalau gitu aku pulang yah, semua niat aku datang ke sini kamu sudah tahu. Aku hanya ingin mengatakan kalau kamu akan jadi ayah, dan aku tidak memaksa kamu untuk menikahi aku, cukup kamu tanggung jawab atas anak ini. Karena aku tahu kalau kamu menikahi aku itu sama saja kamu menyakiti diri kamu sendiri, dan tentunya kamu juga menyakiti aku." Wina berbicara dengan santai, seolah dalam hatinya baik-baik saja, tetapi pasti itu bohong, dalam hatinya menjerit dengan kuat. Takdir cintanya sangat sangat tragis.
"Ban... tu aku untuk lepas dari Zifa, dan menjadikan kamu wanita satu-satunya di hidupku," balas Kemal, dengan suara yang masih tersenggal dan putus-putus
"Aku tidak bisa Kemal, karena semua itu datangnya dari diri kamu sendiri, aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau kamu sendiri tidak bisa menjaga perasaanmu sendiri," balas Wina.
"Kalau gitu tunggu aku sampai sembuh, aku akan menikahi kamu dan kita akan hidup sendiri jauh dari Ghava dan Zifa." cecar Kemal.
"Aku tidak bisa hanya mencintai satu wanita, terlebih wanita itu adalah istri dari abangku sendiri. Dia di ciptakan bukan untuk aku," imbuh Kemal, ia tahu Wina akan mengatakan sesuatu sehingga Kemal menahanya.
Bushhh... Wina merasa kalau dia tengah di perjuangan oleh Kemal, meskipun Kemal mungkin belum benar-benar melupakan Zifa, tetapi ia sudah merasakan bahagia, setidaknya Kemal mau berusaha.
"Kalau gitu aku akan tunggu kalau ucapan kamu itu benar bukan hanya isapan jempol semata agar aku terperangkap oleh ucapan kamu," balas Wina tetap terlihat dingin dan jutek.
"Tunggu aku aku pasti akan sembuh, untuk kamu dan anak kita."