Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Kehilangan


"Kenapa kamu juga harus meninggalkan aku? Aku merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya, setelah semuanya satu persatu meninggalkan aku." tanya Zifa pada Kemal dengan tatapan mengiba di mana kedua tangan mereka masih saling tertaut.


"Aku tidak ada pilihan lain. Mungkin kita memang lebih baik berpisah untuk mematangkan pikiran kita. Kita berdua masih labil, sehingga Tuhan putuskan jalan ini," lirih Kemal. Andai ia bisa memilih pasti Kemal juga ingin tetap bersama Zifa. Meskipun resiko Zifa membencinya setelah tau semua faktanya.


*****


Setelah bermelow-elow ketika berpisah dengan kakaknya, Zara. Kini Ifa harus mengalami kesedihan yang sama di mana kini tiba waktunya Kemal akan bepamitan. Mereka akan berpisah dengan Zifa, apabila Zara nanti Zifa kangen masih bisa saling mengunjungi dan berbagi cerita. Sedangkan Kemal entah sampai kapan Kemal dan dirinya akan bertemu lagi.


"Fa, aku pamit yah. Kamu harus ingat pesan-pesan aku, kamu harus jadi wanita yang kuat. Bikian aku selalu mencintaimu dengan kepribadian kamu yang tidak di miliki oleh wanita lain, kamu adalah wanita yang sangat beruntung karena deberi kekuatan yang lebih hingga kamu terpilih mendapatkan ujian ini. Aku yakin banget kamu pasti akan memdapatkan apa yang sedang kamu cari. Karena kamu wanita gigih dan mau berusaha terus untuk mengejar apa yang kamu cita-citakan." Kemal sudah bersiap akan pergi, sedangkan Zifa masih duduk di sova di mana mereka sebelumnya menikmati makan malam bersama secara sederhana untuk mengenang sebelum mereka berpisah untuk menjalani kehidupan masing-masing. Walaupun mereka hanya makan baso, tetapi kenangan itu tidak akan mudah terbuang begitu saja.


"Kamu hati-hati yang, berjanjilah kamu kalau balik ke ngeara ini lagi langsung temui aku karena aku pasti akan kangen sama kamu," ucap Zifa dengan sedikit di bikin muka jutek, agar dia tidak melow terus.


"Aku pasti akan menemui kamu, tetapi aku takut kalau kamu yang tidak mau bertemu lagi degan aku," ujar Kemal agar dia tidak terlihat tengah mengungkapkan fakta yang masih tertunda, yah Kemal sudah sangat yakin ketika Ifa tahu siapa dirinya. Yang memiliki hubungan darah sangat dekat dengan orang yang di duga melakukan pemerkosaan dan pembunuhan pada kakak dan ibunya, sudah pasti Zifa akan kecewa dan mungkin justru Zifa akan marah, dan ia menganggap semua yang Kemal lakukan adalah upaya keluarganya untuk menebus kesalah anggota keluarganya, atau justru dugan Zifa akan lebih buruk lagi.


"Itu tidak mungkin, kamu adalah satu-satunya yang perduli dengan aku, dan aku tidak mungkin membenci kamu," jawab Zifa dengan senyum tenduhnya, hati Kemal perih seolah teriris sembilu ketika melihat senyum teduh itu. Hidupnya terlalu misteri hingga Zifa saja tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Atau Kemal yang sudah terlalu jago menyembunyikan sesuatu sehingga Zifa tidak curiga sedikitpun kebaikanya, terutama memberikan yang cuma-cuma dari keluarganya senilai tiga milliar, seharusnya andai Zifa memiliki kecurigaan sedikit sajah sesimpati dan kasihanya orang tidak mungkin rasanya memberikan uang senilai tiga miliar dengan cuma-cuma. Selain untuk menebus nyawa dan kelakuan kakaknya yang di lecehkan oleh anggota keluarganya.


Kemal membalasnya dengan senyum kecut, wajar Zifa berkata demikian karena memang Zifa belum tahu rahasia yang Kemal sembunyikan. Kemal pun setelah memberikan nasihat dan berpamitan, langsung pergi menaiki mobil kakaknya, Ghava. Bahkan Kemal saking sibuk dan fokusnya dengan urusannya, lupa memberi tahu kabar mereka pada Ghava di mana Abangnya itu di negara yang berbeda juga sedang cemas memikirkan nasib adiknya yang mungkin saja sedang ke susahan, entah berhasil rencana mereka atau justru gagal. Namun Kemal justru terlihat mengabaikan kecemasan Ghava.


"Bagaimana caranya aku melindungi Zifa, sedangkan aku akan pergi," batin Kemal. "Kenapa ini, kenpa dada aku terasa semakin sakit dan sesak."


Di mana Kemal selalu memegangi dadanya, dia coba meraih ponselnya yang sejak memutuskan pergi dengan Zifa, Kemal justru mematikan ponselnya, hal itu ia lakukan agar mamih atau siapapun tidak tahu dengan keberadanya, Begitu ponsel di aktifkan terlihat pesan saling berlomba masuk, entah pesan dari siapa saja, Kemal yang akan membukanya sudah pusing duluan, karena begtu banyaknya pesan. Entah mereka cemas dengan kondisi Kemal atau memang kepo dengan apa yang Kemal lakukan.


Seperti duganya pesan terbanyak di tujukan dari mamihnya yang entah ada berapa banyak pesan yang mamihnya kirimkan. Kemal tidak membukanya, tetapi langsung kembali menginjak pedal gas dan langsung menuju ke rumahnya.


"Kira-kira hukuman apa yang akan mamih lakukan ke aku yah," batin Kemal dengan senyum masam. "Mungkin malah ini adalah malam terakhirku berada di negeri ini." Kemal merasakan hidup menjadi orang kaya itu sangat tidak menyenangkan, di mana dia tidak bisa bebas berteman, dia tidak boleh bebas memilih jurusan atau profesi apa nantinya akan ia tekuni sebagai mata pencaharianya. Semua hidupnya sudah di atur dengan sangat matang. Sang anak tinggal menjalaninya, meskipun tidak semua orang kaya seperti itu, tetapi yang Kemal alami adalah seperti itu keadaanya. Sehingga andai ia bisa memilih, ia akan memilih di lahirkan oleh keluarga biasa saja, tetapi setidaknya ada kebasanya untuk menentukan arah hidupnya. Orang tua boleh mengarahkan tapi jangan menuntut seperti ini dan itu.


Sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta, Kemal justru berdoa agar dia mendapatkan ke malangan dan Tuhan mencabut nyawanya, tetapi ternyata Tuhan masih sayang dengan nyawanya sehingga meskipun laki-laki itu mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, tetapi selamat sampai apartemem Ghava, untuk kembali menukar mobilnya. Kemal menatap tempat tidur Ghava yang seolah memanggilnya untuk merebahkan badanya, yang sebenarnya badan Kemal sangat cape ingin istirahat sejenak di apartemen abangnya, tetapi kembali teringat mamihnya yang mungkin saja sudah siap memberikan hukuman di dalam rumahnya. Sehingga Kemal dengan tubuh lelah dan capenya kembali melajukan kendaraanya dan pulang ke rumah orang tuanya.


Doa, segala doa yang Kemal hafal sudah di baca sepanjang jalan agar syetan yang ada di diri mamihnya  pergi dan tidak mengompor-ngomporin mamihnya untuk menghukumnya.


Rumah mewah yang terdiri dari tiga lantai lengkap dengan kolam renang dan tempat fitnes pribadi di dalamnya sudah terlihat. "Huh... bahkan rumah sebesar ini pun sudah tidak lagi nyaman untuk ditinggalin," dengus Kemal sembari membuang nafas kasar, dan memalkirkan mobil di garasi yang di dalam sana sudah berjejer mobil yang lain. Itu tandanya abangnya Abas dan Lyra, kakak iparnya sudah pulang kerja.


"Dari mana ajah kamu Kemal?"