Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Mencari Jalan Terbaik


"Ibu..." pekik Zara begitu melihat bunda Anna datang menyambut kedatangan mereka. Yah Kemal sebelumnya sudah mengabarkan bahwa dia akan datang, sehingga bunda Anna dengan senang hati menyambut kedatangan mereka, dengan senyum terbaiknya. Zifa dan Kemal berjalan dengan membawa tas yang berisi perlengkapan kakaknya. Kini hati Zifa sudah sedikit tenang setelah di nasehati oleh Kemal, lagi-lagi Kemal yang bisa membuat gadis itu sedikit tenang. Caranya ketika memberi nasihat itu tidak seperti menggurui, tetapi benar-benar memberikan solusi. Meskipun perasaan cemas atau tidak tenang nanti akan datang lagi apabila Zifa ada masalah. Begitu seterusnya perasaan Zifa yang masih berusia tujuh belas tahun itu. Labil, yah pemikiran Zifa masih sangat labil.


"Hay sayang..." Bunda Anna memeluk Zara dan mengelus rambut yang indah itu. Zara dan Bunda Anna memang sangat terlihat seperti ibu dan anak.


"Kalian apa kabar?" tanya Bunda Anna ketika Zifa dan Kemal menyalaminya.


"Baik Bun," jawab Zifa dan Kemal hampir bersamaan.


Bunda Anna mengajak semuanya masuk, kedalam bangunan yang besar dan tentu rapih serta bersih. Bunda Anna menunjukan kamar Zara yang nantinya kamar itu di tempati oleh Zara, di mana untuk sementara mungkin nanti Bunda Anna yang menemani Zara untuk tidur, tetapi mereka juga sekalian melatih Zara untuk tidur dengan yang lainya. Agar tidak bergantung terus dengan bunda Anna. Tidak hanya menunjukan tempat tidur untuk Zara tetapi juga Bunda Anna mengenalkan lingkungan yang ada di yayasan itu.


Luas, itu kesan pertama Zifa lihat dari tempat yang akan menjadi tempat untuk Zara, bersih dan banyak permainan dan teman yang akan menemani Zara nantinya. Setelah berkeliling memberi tahu kesekeliling lingkungan yayasan. Zifa dan yang lainya pun duduk, terutama beberapa pengurus yayasan. Yah, karena ini bukan yayasan yang di peruntukan gratis untuk orang-orang yang kurang beruntung. Sehingga Zifa juga harus merogoh kantong yang tidak sedikit untuk memberikan biaya untuk perawatan dan semua kebutuhan Zara selama beberapa waktu kakaknya akan di titipkan di yayasan ini.


"Bun, tapi maaf, kondisin Kak Zara juga sekarang sedang hamil, apa kalian masih bisa menerima kondisi kakak yang seperti ini?" tanya Zifa, karena baru kali ini Zifa di berikan kesempatan untuk mengatakan ini semua.


"Hamil?" tanya Bunda Anna, selanjutnya Bunda Anna dan pengurus yayasan yang lain saling bertatapan, seolah mereka saling bertanya dengan keputusan kedepanya mengenai kondisi Zara. Zifa menunduk, menunggu keputusan dari bunda Anna dan yang lainya. Dia siap meneria keputusan apapun nantinya.


"Apa Zara juga mengalami pelecehan seksual?" tanya Bunda Anna dengan raut wajah kagetnya. Kemal juga memang belum memberitahukan kondisi Zara yang selengkapnya, hanya baru menceritakan bahwa Zara hanya pengindap keterbelakangan mental, dan ingin menjalani terapi untuk bisa bersosialisasi dengan warga umum.


Zifa mengangkat wajahnya. "Benar Bunda, itu alasan Zara ingin menitipkan Kaka di sini ada harapan besar Zifa, yang mungkin kakak Zara bisa mengingat kejadian itu, dan kami bisa tahu siapa laki-laki yang tidak punya perasaan yang sudah melakukan pelecehan kepada kakak Zara." Zifa kembali menunduk dengan memainkan jari-jarinya. Sesak, dadanya ingin menaangis, tetapi apa lagi yang belum Zifa tangisi?


Semuanya sudah Zifa tangisi bahkan bukan sekali dua kali Zifa menangisi kejadian yang sama, tetapi apa yang Zifa dapatkan? Zifa tidak mendapatkan apa-apa, justru semakin sesak saja, dan terus menambah lukanya.


"Ya Allah," Hampir bersamaan Bunda Anna yang lainya mempelihatkan keterkejutanya. Bahkan ada yang hingga menangis ketika mengetahui nasib Zara.


"Manusia seperti apa yang tega melakukan pelecehan dengan wanita bernasib seperti Zara, apa dia tidak memiliki perasaan atau dia sudah gila." Bunda Anna saja sampai geram mendengar apa yang Zifa katakan, apalagi kalau beliau tahu bahwa ibu mereka meninggal kemungkinan di bunuh oleh orang yang sama.


"Kamu tidak udah khawatir Zifa, kalau untuk kehamilan kakak kamu, kami sangat tidak mempermasalahkanya, tetapi apa ada rahasia lain yang ingin kamu sampaikan pada kami?" tanya Bunda Lusi, beliau adalah petugas di yayasan ini sama seperti Bunda Anna.


Zifa mengangguk dengan lemah. "Banyak Bun," jawab Zifa dengan suara yang seolah hampir tidak terdengar.


"Kalau begitu, bisa Zifa ikut Bunda! Kita ceritakan semuanya, agar Bunda dan pengurus yang lain juga tahu bagaimana dan apa saja kesulitan yang tengah Zifa dan Zara alami." Bunda Anna mengulurkan tanganya agar Zifa mengikuti dirinya pergi dari ruangan di mana di sana tidak akan bebas untuk Zifa menceritakanya.


Zifa tidak langsung berdiri mengikuti Bunda Lusi tetapi justru bola matanya melirik pada Kemal, dan kebetulan saat itu juga Kemal melakukan hal yang sama. Kemal mengangguk sebagai kode kalau memang Zifa harus cerita dengan jujur apa yang telah menimpa pada keluarganya.


Setelah mendapatkan dukungan dari Kemal Zifa langsung mengangkat tubuhnya guna mengikuti kemana Bunda Lusi pergi. Yah di ruangan kerja Bunda Lusi kini Zifa dan wanita yang kalau ditafsirkan umurnya tidak jauh berbeda dari bunda Anna berada.


"Enggak usah takut, anggap saja Bunda seperti Ibu kamu yang telah meninggal, Bunda Anna sudah bercerita sedikit tentang kehidupan kalian, tetapi sepertinya masih banyak masalah yang mengganjal yang belum kamu ceritakan pada Bunda Anna. Zifa boleh menceritakanya pada Bunda Lusi, biar menjadi bahan untuk kami melakukan terapi pada kakak kamu," ucap bunda Lusi, nada bicara yang sangat teduh membuat Zifa merasakan bahwa ia kini tengah berbicara dengan ibunya. "Mungkin ini yang di rasakan oleh kakak Zara sehingga kakak merasakan  ada sosok ibu di tubuh bunda Anna," batin Zifa, dia tengah mengatur keberanianya untuk mengatakan semuanya, termasuk rasa benci yang luar biasa pada kue ulang tahun dan jenis perasaan, terutama perayaan ulang tahun.


"Bisa kita mulai, silahkan apa yang ingin Zifa ceritakan, Bunda akan mendengarkan apa yang Zifa ceritakan, terutama yang menimpa keluarga kalian terkhusus mungkin Zara?" Bunda Lusi bahkan sudah menyiapkan alat perekam, tentu tanpa sepengetahuan Zifa, tujuanya untuk mengetahui cerita Zifa dan bisa membagi dengan yang lainya, bukan untuk memperolok tetapi justru untuk bisa saling sharing dan mencari solusinya. Karena dari cerita yang di bagi berdasarkan rekaman, akan lebih mudah untuk melakukan penelitian seberapa emosinya Zifa dengan cerita yang ia bagi.


Zifa nampak menghirip nafas dalam dan menghembuskanya lalu bersiap untuk memulai ceritanya, tanpa satu yang terlewatakan. Bunda Lusi juga terlihat sangat menyimak cerita Zifa hingga tanpa sadar beberapa kali Bunda Lusi menitikan ait mata dengan cerita yang tengah Zifa bagi. Bunda Lusi tahu segimana bebanya kehidupan yang Zifa tanggung dan itu pasti tidak mudah.


"Kamu dendam dengan mereka?" tanya Bunda Lusi takut kalau Zifa akan dendam dengan pembunuh dan pemerkosa kakaknya. Meskipun kalau dendam boleh-boleh saja.


"Lebih tepatnya Zifa ingin mencari keadilan, maka dari itu Zifa membawa Kakak Zara sampai ke yayasan ini, karena kunci satu-satunya yang Zifa punya untuk kematian ibu dan kehamilan kakak, hanya pada kakak Zara," jelas Zifa pandangan matanya masih menatap lurus kedepan dengan kosong.


"Yah Bunda tahu apa yang kamu rasakan, bukan bunda mendukung kamu untuk balas dendam, tetapi apabila untuk mecari tahu semua kejadianya dan menuntut keadilan Bunda dan yang lainya akan upayakan yang terbaik dengan kakak kamu, dan soal kehamilan kakak kamu dan lagi babynya kembar, kamu tidak usah khawatir semuanya akan menjadi tanggung jawab yayasan sini juga. Bunda hanya minta, kamu jangan terjerumus dengan dendam. Lebih buka hati kamu untuk keiklasan semuanya, kalo maaf dan menutup dan damai tanpa keadilan Bunda juga tidak setuju karena ini sudah masuk kejahatan luar biasa kejam, kriminal kelas atas. Sehingga harus di hukum pelakunya, tetapi hilangkan dendam agar semua yang kamu lakukan nati tidak menggebu-gebu dan akan memendekan akal kamu." Bunda Lusi berusaha masuk kedalam permasalahan Zifa dan dia juga tidak ingin mengompor- ngomporin untuk balas dendam dan juga tidak mengomporin untuk jalan damai, Bunda Lusi lebih memberikan solusi agar hati Zifa tenang dan tidak terbawa emosi.


Perasaan Zifa tentu menjadi tenang setelah mengatakan semua yang menimpa keluarganya pada Bunda Lusi. Ini adalah momen di mana Zifa akan berpisah dengan Zara, terasa sangat berat. Kini Zifa harus tinggal seorang diri, mencari jalan kehidupanya, dan Zara juga berjuang diyayan ini untuk menemukan keadilan nantinya..