
"Kemal... Papih...," jerit Eira ketika ia baru saja mendapatkan kabar dari polisi kalau putranya Abas mengalami kecelakaan.
Kemal yang baru saja pulang pun langsung kembali turun, sedangkan Omar yang sedang sibuk dengan kerjaanya pun mau tidak mau keluar dari ruanganya menyambangi istrinya yang sedang heboh itu.
"Mamih...." Kemal langsung lari dari lantai dua ketika tahu kalau Eira sedang menangis meraung. Kemal cemas dengan kondisi Eira.
"Mih, ini ada apa?" tanya Omar yang kaget juga dengan keadaan Eira. Wanita paruh baya itu langsung tersentak kaget ketika pipinya di tempuk-tempuk oleh Kemal.
"Pih, Abas... Abas kecelakaan Pih," lirih Eira dengan mata yang berkaca-kaca, dan wanita itu sudah terlihat sekali sedih dan paniknya.
Bukan hanya Eira, dan Omar saja yang kaget dengan berita ini, Kemal yang sebelumnya tidak pernah terlibat komunikasi yang begitu dekat dengan Abas pun ikut terkejut.
"Kecelakaan di mana Mih? Kondisi Abas gimana?" cecar Omar yang terlihat sangat cemas. Sementara Eira yang memang tidak tahu kondisi anaknya lebih detail pun hanya bisa menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Mamih tidak tahu, bagaimana kondisin Abas , Polisi hanya meminta kita datang ke rumah sakit karena Abas dan Orlin terlibat kecelakaan tunggal di ruas tol Jakarat-Bandung," balas Eira dengan suara lirih dan tersengal, sedangkan Kemal yang mendengar jawaban Eira lnagsung terpikirkan Ghava, Zifa dan anak-anak Abas.
"Apa Abas sudah tahu tetang fakta ini, dan dia akan menemui anak-anaknya ke Bandung dan terlibat kecelakaan?" tanya Kemal dalam batinya.
"Kalau gitu kita langsung susul Abas Mih." Omar yang lebih sigap, di mana Eira dan Kemal justru termenung dengan semua yang ia alami.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, ketiga keluarga itu sibuk dengan pikiranya masing-masing, terutam Kemal yang sudah menduga dan sudah yakin kalau Abas sudah tahu fakta yang selama ini ditutupinya.
"Kemal, kamu hubungi Ghava. Beritahu dia kalau Abas mengalami kecelakaan dan minta Abas menemuinya," ucap Omar, dan Kemal pun langsung patuh mengirimkan pesan. Sementara itu Ghava yang sudah lebih dulu tertidur tentu tidak mendengar dan tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan abangnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama kini keluarga Abas sudah ada di rumah sakit dan langsung menemui Abas yang kondisinya masih kritis, dan belum sadarkan diri.
"Abas kecelakaan dengan Orlin kan? Lalu kondisi Orlin sendiri gimana Mih?" tanya Omar laki-laki paruh baya itu mengingat kejadian siang tadi di mana wajah Orlin terlihat sangat sedih, terutama dengan ucapan mertuanya.
Eira mengedarkan pandanganya seperti orang yang kebingungan. "Mamih tidak tahu kondisi Orlin. Coba Papih tanya sama petugas rumah sakit. Mamih saja sangat sedih melihat nasib anak kita yang seperti ini tidak mungkin Mamih akan terpikirkan orang lain," jawab Eira dengan air mata yang mengalir melihat kondisi putranya itu.
"Mamih, kenapa Mamih berbicara seperti itu. Hati-hati kalau bicara takut di dengar oleh orang tua Orlin, bagaimanapun Orlin adalah menantu kita, dia juga tanggung jawab kita. Apalagi kecelakaan ini adalah salah Abas. Papih mau cari tahu dulu tentang Orlin." Omar yang dulu selalu diam dengan tingkah-tingkah Eira, kali ini Omar selalu menegur apapun yang Eira lakukan terutama kalau tidak sejalan dengan pikiran dengan dirinya. Omar langsung menolak apa yang menjadi keinginanya.
Eira hanya menatap suaminya pergi dengan ekor mata yang terlihat kesal dengan ucapan suaminya. Kemal yang tidak terima dengan Mamihnya pun lagi-lagi tidak ingin Eira besar kepala. Lagian ang dikatakan oleh papihnya benar kok.
Eira lagi-lagi terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkanya. Tadi Omar yang menekanya dengan masa lalu Abas yang sengaja di tutupinya, dan belum juga Omar ia bisa cerita dengan detail, karena alasanya adalah keamanan. Kini Kemal juga secara tidak langsung ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Abas dan kisah masa lalunya.
"Kemal apa kamu tidak tahu kondisi sama sekali. Abang kamu saja dalam kondisi yang masih kritis kenapa kamu justru bertanya yang tidak penting," dengus Eira, sama seperti pada Omar, Eira juga tidak mau menceritakan kisah itu pada Kemal.
Yah Eira tahu tentu Kemal dan Omar tidak akan dengan mudah menceritakanya.
Kemal membuang nafasnya kasar dan berusaha untuk tetrap tenang. "Justru Mih, Kemal bertanya seperti ini karena Kemal yakin Abang seperti ini ada hubunganya dengan masa lalunya," balas Kemal yang kali ini lebih bisa mengungkapkan persaanya.
Wajah Eira menatap pada Kemal yang sedang duduk di kursi tunggu dan Eira sendiri sedang berdiri menatap Abas yang sedang terbaring dengan banyaknya alat-alat medis.
"Maksud kamu berkata seperti itu apa? Apa kamu juga akan sama dengan Papih ingin membuat Mamih tersudut dan mempertanggungjawabkan yang bukan perbuatan Mamih?" cecar Eira dengan tatapan yang sinis. hatinya sedang sedih tetapi malah Kemal membuat suasana hatinya semakin buruk.
"Kemal hanya ingin mencari kebenaranya karena memang benar apa yang dikatakan Papih kalau anak itu adalah anak Abas dan itu tandanya dia juga anggota keluarga kita lalu kenapa mereka dibiarkan hidup dengan ketidak pastian nasibnya. Mereka sudah terlalu banyak mengalami kemalangan kini saatnya mereka..."
"Tidak!! Mamih tidak akan pernah mengakui mereka anak Abas. Mereka hanya anak haram yang lahir karena ketidak seganjaan, jadi jangan bahas anak itu lagi. Mamih tidak akan sudi menganggap mereka adalah cucu Mamih," balas Eira bahkan wanita itu langsung memotong ucapan Kemal.
"Baiklah kalau memang Mamih tidak akan pernah mau mengakui mereka senbagai cucu-cucu Mamih, tetapi Kemal dan Papih akan tetap mengakui mereka anggota keluarga. Dan mereka akan mendapatkan kelayakan hidup yang seharusnya di dapatkan dari bagian harta kita." Kalau Eira saja bisa dengan egois tetap dengan pendirianya. Maka Kemal pun sama.
"Jangan macam-macam kamu Kemal, kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan anak itu kenapa bisa ia hamil dengan Abas, itu semua karena..."
"Karena Abas yang menjebak gadis polos itu. Kemal tahu-tahu semua Mih. Ayolah Mih sebelum semuanya hancur. Mamih harus perbaiki hubungan ini, karena bukan tidak mungkin justru nasib buruk yang membawa Mamih ke sebuah nasib yang lebih buruh," balas Kemal dengan suara lembut dan bergetarnya.
Eira hanya bisa diam, tetapi dia bukan mengikuti apa yang Kemal katakan tetapi tentu Eira mencari tahu bagaiamana caranya agar dirinya tetap dalam posisi yang aman.
"Kamu tidak tahu Kemal, jadi jangan sok tau nanti yang ada kamu akan menyesal." Eira menatap tajam pada putra bungsunya.
"Ok, kalau Kemal tidak tahu lalu yang tahu siapa? Papih, Lyra, Ghava atau siapa? Semua orang sudah tahu dengan kelakuan Abas lalu Mamih masih mengelaknya. Sampai kapan Mih, sampai semua terbongkar dan Mamih tidak memiliki kesempatan untuk membela diri lagi?" Kemal yang biasanya akan diam kali ini dia menjadi lebih berani.
"Kemal... kenapa kamu jadi kurang ajar seperti ini?" lirih Eira dengan suara tidak percaya kalau anak bungsunya berani mengatakan seperti itu.