Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Kepulangan Ghava


Di negara yang berbeda.


"Loe yakin mau balik sekarang Bang?" tanya Kemal pada Ghava, yang mengabarinya mendadak bahwa dia akan pulang hari ini ke tanah kelahiran.


"Iya lah, lagian loe kan sudah bisa gue tinggal, dan loe juga udah bisa urus bisnis gue yang di sini, teus gue harus nunggu apa lagi? Bosen juga kalau di sini, ceweknya kurang menarik." Akhirnya Ghava mengatakan alasan pertamanya.


"Lah, perasaan justru cewek disini itu cantik-cantik, tinggi, putih, memperbaiki keturunan," jawab Kemal sembari menaik turun kan alisnya.


Ghava membuang pandanganya jengah. "Gue kurang apa, sampe harus narik cewek dari negara ini, kan gue sudah perfect tidak harus cari cewek dari negara ini, karena gue yakin keturunan gue tidak perlu di perbaiki, wong bapaknya ajah sudah tampan dan sempurna seperti ini," balas Ghava dengan percaya diri. Iyah, dong percaya diri orang dia wajah tampan, tubuh idaman wanita banget. Bahkan kalau mau dia sudah banyak memiliki cewek-cewek bule. Namun, Ghava berperingsif tidak akan berpacaran hanya karena nafsu. Dia menunggu ada wanita yang benar-benar bisa menarik hatinya, mampu menggetarkan perasaanya, di saat itu tiba dia akan memperjuangkanya.


"Sombong," dengus Kemal, nyesal dia bahas fisik, karena pasti jatuhnya abanya akan lebih menyombongkan diri.


Ghava pun segera pamit pada Kemal, dan menyerahkan semua urusan bisnisnya agar di bantu oleh adiknya, Kemal. Hanya di bantu yah, sebab semua tetap Ghava yang akan ambil keputusanya dari tanah kelahiranya. Sesuai rencana Ghava bahwa ia akan fokus dengan bisnisnya di Indonesia, bukan karen hasil bisnis di negara kakeknya kecil atau tidak berkembang, hanya saja hati dan nuraninya mengatakan bahwa tanah kelahiranya tetap menjadi tempat ternyaman untuk ia tinggali.


Setelah melewati perjalanan berjam-jam di atas pesawat, kini Ghava sudah menginjakan kaki di tanah kelahiranya.


Tujuan utamanya adalah rumah orang tuanya. Sekaligus untuk malam pertama tiba di negara kelahiranya, Ghava akan tinggal di rumah orangtuanya.


****


"Astagah, Ghava kenapa kamu pulang tidak memberi kabar pada Mamih, sayang," pekik Eira, ketika melihat putra keduanya sudah ada di ambang pintu dengan senyum merekahnya. Tanganya di rentangkan ketika melihat wanita yang melahirkanya berjalan tergesa ingin memeluknya.


Eira menghambur kedalam pelukan Ghava, anak kedua yang sudah hampir satu tahun berpisah dengan dia. Seharusnya Ghava beberapa bulan yang lalu pulang, bersama dengan suaminya, tetapi karena ia yang sedang fokus dengan Kemal yang tengah berlatih untuk mengurus bisnisnya, Ghava mengundur kepulanganya, sampai Kemal bisa diandalkan. Yah, Kemal disamping kuliah juga sekaligus membantu abangnya mengawasi bisnisnya.


"Pengin kasih kejutan buat Mamih, dan Papih," balas Ghava, sembari jalan ke meja makan, di mana mereka sedang pada makan bersama.


  "Dan kejutan kamu berhasil bikin Mamih kamu senang," sela Omar, papih Ghava, yang lebih dulu pulang ketanah air, karena semua urusan bisnis sudah bisa di kerjakan oleh dua putranya.


Mamih dan Ghava nampak tersenyum bahagia, tetapi tidak dengan pasangan suami istri Abas dan Lyra yang nampak seperti tidak senang dengan kepulangan Ghava.


"Kalian apa kabar Bang?" tanya Ghava pada Abas yang justru sedang fokus dengan makanya dari pada menyambut kepulangan adiknya.


Namun tidak dengan kenyataanya, Lyra dan Abas sedang ada masalah, karena Abas dan Eira mengancam Lyra apabila diusaha bayi tabung yang sekarang Lyra tidak bisa hamil  juga dia harus bisa merelakan Abas untuk menikah lagi, atau kalau Lyra tidak mau di mafu, itu tandanya pernikahan yang sudah hampir di jalaninya selama sepuluh tahun harus kandas di tengah jalan.


Lyra dan Abas adalah pasangan yang menikah karena di jodohkan. Pernikahan bisnis, dan sudah hampir memasuki pernikahan yang kesepuluh. Meskipun dua sejoli itu di jodohkan, tetapi mereka saling mencintai. Bahkan sampai saat ini baik Abas maupun Lyra masih sangat-sangat mencintai. Itu sebabnya baik Abas dan istrinya masih membuka kesempatan usaha untuk mendapatkan momongan.


Padahal sebelumnya mamihnya sudah memberikan calon istri baru untuk Abas, agar segera mencari solusi lain di mana berobat atau melakukan bayi tabung dan lain sebagainya selalu gagal. Meskipun Lyra hamil tetapi pada akhirnya akan ke guguran lagi. Abas yang dari dulu menurut dengan mamihnya tentu tidak ingin membuat wanita yang sudah melahirkanya kecewa dengan keputusanya. Sehingga Abas memilih mengikuti kemauan mamihnya dan setelah di bicarakan dengan Lyra. Hasil akhirnya mereka berdua di beri kesempatan untuk mencoba usaha untuk memiliki momogan sekali lagi selama satu tahu, dan andai itu tidak ada hasilnya makan Lyra harus merelakan Abas memiliki wanita lain. Atau wanita yang mau menyewakan rahimnya untuk Abas dan dirinya memiliki keturunan yang sudah lama di tuntutkan pada dia dan suaminya.


Ghava pun percaya saja bahwa abang dan kakak iparnya tidak ada masalah apa-apa. lagian kalau ada masalah pun itu bukan hak dia untuk ikut campur. Pertanyaanya barusan juga hanya sebagai pertanyaan basa basi yang ia tunjukan untuk menghormati abangnya.


Mereka kembali makan bersama dengan harmonis. Ghava mengedarkan pandanganya ke rumah yang luas. Ingin laki-laki itu bertanya tentang asisten rumah tangganya yang meninggal dunia dirumah keluarganya, tetapi Ghava mengurungkanya. Kemal saja memilih berpura-pura cuek, lalu malah Ghava pulang dengan kecurugaan. Rasanya takut membuat keluarganya curiga.


Setelah makan malam dan bercengkrama, mengobrol ringan masing-masing anggota keluarga pergi beranjak dari kekamar masing-masing di mana hari sudah semakin malam.


*****


"Kamu kenapa akhir-akhir ini selalu banyak diam?" tanya Abas pada Lyra. Wanita itu memang lebih murung dari biasanya. Tepatnya setelah membuat perjanjian pernikahan mereka.


Lyra menatap suaminya yang sudah menikah selama sepuluh tahun itu dengan sayu. "Apa Kamu saat ini sudah tidak mencintaiku lagi? Apa pernikahan kita akan berakhir begitu saja, kalau aku tidak bisa memberikan anak buat kamu?"


"Kita sudah bahas ini kemarin bersama Mamih, dan kamu sudah setuju," jawab Abas dengan raut wajah malas, hampir setiap hari yang dibahas itu dan itu. Hingga rasanya dia adalah laki-laki paling payah karena tidak bisa tegas dengan rumah tangganya sendiri. Selalu ada campur tangan Mamihnya yang ikut adil dalam masalah rumah tangganya.


"Kenapa setiap membahas malah ini, kamu seolah tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Apa ada yang tidak aku tahu?" tanya Lyra dengan curiga.


"Tidak usah kemana-mana pembahasanya. Tadi kan membahas anak, ya udah jangan cari bahan untuk yang lain," dengus Abas. Laki-laki yang sudah mau tidur itu bangkit dan akan pergi dari kamarnya. Karena istrinya sekarang banyak curiganya.


"Abas, kenapa kamu sekarang beda sekali, kenapa kamu seperti menyimpan rahasia yang besar. Apa yang membuat kamu berubah seperti ini," batin Lyra. "Kenapa aku melihat yang selama ini bersama dengan aku bukan Abas yang dulu. Abas yang cinta dan sayang dengan istrinya." Air mata Lyra luluh, ketika suaminya terlihat sangat berubah. Bahkan pernikahanya tidak seromantis dan bahagia seperti dulu.


Namun Lyra tidak bisa berontak, wanita itu sudah sangat cinta dengan suaminya.