Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 121


Setelah Zifa mengurus semua perizinan pulang kini wanita itu bersama Ghava pulang dengan Beni yang menjemputnya.


 "Kita akan pulang kemana Mas?" tanya Zifa mengagetkan lamunan Ghava. Yah sejak tadi ia memang sedang melamun, memikirkan hubungannya dengan wanita yang saat ini ada di sebelahnya itu.


"Pulang ke rumahku ajah Fa, aku sudah mempersiapkan kalian rumah untuk nanti ketika kita sudah menikah," jawab Ghava sembari menunjukkan alamat rumahnya pada Beni sebagai pengemudi.


Deg, Zifa seolah merasakan kalau Ghava memang sudah sangat baik. 'Maaf Ghava, kamu memang sangat baik, tetapi aku harus memanfaatkan kamu untuk melakukan misi-misiku," lirih Zifa dengan tatapan yang di buang ke luar jendela, memperhatikan setiap kesibukan orang-orang di luar sana.


Zifa membaca pesan yang dikirimkan oleh Alwi di mana laki-laki itu mengatakan kalau Lyra tidak jadi membawa Zara dan kedua anaknya pergi ke Jakarta, hal itu karena Zara yang menolaknya, dan juga kedua anak kembar Zara tidak mau ikut dengan Lyra.


Alwi juga mengatakan bahwa saat ini Zara dan anak-anaknya ada di rumahnya. Yah, Alwi merasa rumahnya lebih aman untuk Zara dan anak-anaknya, setelah mendengan cerita dari Lyra, yang sudah mulai khawatir dengan keamanan mereka.


"Kenapa Fa?" tanya Ghava ketika melihat Zifa sepertinya tidak senang ketika Ghava mengatakan kalau ia akan membawanya pulang ke rumahnya.


"Tidak, perasaan Ifa sedang tidak baik-baik saja Ifa sedang banyak pikiran, dan entah mengapa Ifa seperti sedang menunggu boom waktu yang akan meledak," lirih Zifa, pandangan matanya masih terfokus pada jalanan yang ramai dengan lalu lalang orang dan kendaraan.


Ghava diam tidak membalas kecemasan Zifa, dia juga mungkin merasakan hal yang sama merasakan kegundahan hati yang sama, kalau perasaanya mengatakan bahwa hubungannya tidaklah akan berjalan dengan mudah. "Katakan aku harus apa Fa, tetapi aku tidak akan pernah bisa meninggal kan kamu Fa, aku tidak akan pernah bisa meninggalkan kamu," ujar Ghava semakin keras laki-laki mengingatkan Zifa.


"Kita pindah dari tempat ini Fa, kita menikah saja dan hidup di tempat lagi," lirih Ghava dengan menatap tajam Zifa. dan kini wanita yang sedang duduk dengan pandangan di buang ke luar jendela pun langsung menoleh pada Ghava. Zifa menggeleng pelan.


"Kenapa apa kamu tidak mencintai aku?" tanya Ghava dengan pandangan yang mengiba.


"Aku tahu keluarga kamu Mas, aku menjadi kekasih kamu saja sudah merasa bagai memiliki musuh di mana-mana belum lagi kalau aku dan kamu benar-benar menikah mungkin bukan aku yang jadi sasaran orang-orang kamu tetapi juga keluargaku yaitu Kak Zara dan dua ponakan aku," jawab Zifa dengan tegas.


Lagi pula bukan ini tujuan Zifa mendekati Ghava. Menikah dan hidup bahagia, tentu bukan tujuanya. Zifa hanya ingin berlindung di balik kekuatan Ghava hingga dia mendapatkan keadilan, setelah itu ia akan hidup dengan kehidupan yang baru tanpa ada bayang-bayang dari keluarga pembunuh itu. Dan juga Ghava, Zifa akan melepaskanya, tanpa terikat satu apapun.


"Justru Fa kalau kamu menjadi istri aku, kedudukan kamu akan semakin kuat, dan aku bisa melindungi kamu hingga mereka tidak bisa membuat kamu celaka," lirih Ghava dan laki-laki itu meraih tangan wanita yang saat ini berada di sampingnya.


Zifa hanya diam membisu tidak ada yang ingin ia katakan, "Aku tidak tahu Ghava, aku saat ini berada di tengah-tengah kebingungan. Aku mundur juga sudah tidak bisa, dan maju juga aku semakin sulit," lirih zifa.


"Aku memiliki rahasia yang besar dengan keluarga kamu, dan entah maksud apa Tuhan justru semakin membuat aku terikat dengan keluarga kamu," jawab Zifa, bibirnya seolah ingin memberitahukan kalau aku dan kamu hanyalah sebuah persinggahan yang tidak akan menemukan muara yang jelas.


"Soal ibu kamu yang meninggal di rumah keluargaku?" Atau soal kakak Kamu Zara yang hamil karena salah satu keluarga kami?" Ghava sudah mengingat semua permasalahan Zifa yang pernah di ceritakan oleh Kemal.


Saat itu juga Zifa langsung menatap Ghava dengan tajam. "Dari mana kamu tahu semua itu? Apa kamu sengaja selama ini memata-matai kami dan ingin menebus  kesalahan yang anggota keluarga kamu lakukan. Sama seperti Kemal dulu?" tanya Zifa dengan suara yang bergetar.


Ghava tersenyum kecut. "Aku baru ingat tadi kalau Kemal tiga tahun lalu pernah meminjam uangku dua milliar, karena aku curiga dan kaget uang sebanyak itu untuk apa. Aku sempat tanyakan dan Kemal cerita semua yang terjadi pada kamu dan kakak kamu, bahkan Kemal sempat kirim foto kalian, tetapi aku lupa kalau aku pernah mengenal kamu. Mungkin itu alasan kenapa ketika aku melihat kamu seperti kenal, mungkin dari foto yang pernah Kemal kirimkan. Dan benar apa kata kamu dunia itu sangat sempit. Kamu justru di pertemukan dengan aku lagi." Ghava terkekeh dengan semua yang terjadi dalam hidupnya seperti skenario Tuhan hanya seputar Zifa dan keluarganya.


"Jadi uang-uang itu dari Mas Ghava?" tanya Zifa tidak menyangka, wanita itu uang dua milliar yang di beri Kemal adalah murni dari laki-laki itu ternyata dari abangnya.


"Setahu aku Kemal bahkan sempat berbohong dengan Mamih untuk mendapatkan uang itu. Dia berbohong kalau dia terlibat kecelakaan dan menyebabkan satu anak kecil meninggal dunia, dan untuk mempertanggung jawabkan ya dia harus mengeluarkan sejumlah uang kalau tidak ingin kasusnya di bawa ke ranah hukum. Nekad memang Kemal ini, dan itu menandakan kalau dia sangat menyayangi kamu sih. Mungkin itu alasannya ia marah besar  sama aku karena aku yang lebih mendapatkan hati kamu." Ghava kembali mencium tangan Zifa.


Zifa merasa tercubit dengan perjuangan Kemal, tetapi juga Zifa tidak pernah meminta menginginkan hal itu. Kemal yang ingin membantu dengan uang-uang itu.


'Berati apabila uang-uang itu dari Kemal dan Ghava, aku tidak mendapatkan santunan dari uang kematian ibu dari majikan ibu?' batin Zifa tertawa kecil.


"Lalu Mas Ghava sudah tahu aku dan bagaimana kalau aku justru selama ini sedang mencari keadilan yang seharusnya aku dapatkan dari orang tua Mas dan Abas, abang dari Mas Ghava sendiri. Apa Mas Ghava akan berdiri di pihak aku sebagai pencari keadilan atau justru berdiri di pihak keluarga Mas, selaku anak dari  mereka," tanya Zifa semakin serius.


"Aku akan berdiri di pihak yang menurut aku benar," jawab Ghava dengan menatap Zifa serius.


"Yang menurut Mas benar aku atau keluarga Mas?" tanya Zifa lagi. "Tentu Mas juga sudah tahu cerita aku dari Kemal kan?"


Zifa semakin penasaran dengan jawaban Ghava.


...****************...