
Pagi hari menyapa, pukul enam seperti biasa Ghava dan Abas sudah siap untuk kembali menjalankan pekerjaanya. Meja makan adalah tempat di mana mereka berkumpul dengan anggota lain. Sesuai yang sudah di sepakati tadi malam dari perundingan Ghava dan Abas, pagi ini Ghava akan mencoba bernegosiasi dengan orang tuanya dan juga orang tua Wina sendiri atau Wina itu sendiri juga. Ghava tidak akan mudah menyerah begitu saja, Ghava akan berusaha hingga orang tuanya setidaknya mengundur hari perernikahanya dengan Wulan hingga, nantinya ia bisa merasakan bahagia karena bebas dari hukuman perjodohan ini.
"Mih, Pih, Ghava ingin bicara, kalau bisa dengan keluarga Wina juga." Suara Ghava memecah kesunyian di ruang makan.
Eira dan suaminya segera mengangkatkan wajahnya degan pandangan mata penuh tanya. Bertanya soal apa? Apa ini masih menyakut obrolan kita yang semalam, mengenai perjodohan kamu dan Wina?" tanya Eira dengan suara lirihnya.
"Iya Mih, rencananya Ghava ingin meminta keringanan dari mamih kalau Ghava ingin mengundur pernikahan dengan Wina, sampai bisnis-bisnis Ghava semakin lancar dan semakin banyak cabangnya. Ghava ingin fokus dulu dengan pembukaan cabang Ghava yang baru. (Ghava membuka tabnya dan menunjukan perencanaan dalam empat tahun ke depan, dan semua perencanaanya sudah dia persiapkan dengan matang) Ghava mohon setidaknya Mamih memberikan Ghava kesempatan untuk mengembangkan aplikasi yang Ghava miliki, karena pada akhirnya Ghava sukses kan buat kita semua juga," tutur Ghava dengan penjelasan yang sangat komplit dan sangat terencana,
Padahal konsep yang Ghava tunjukan pagi ini adalah hasil kerja sama antara dirinya dengan Abas agar mamihnya dan papihnya menyetujuinya karena dua laki-laki itu tahu betul kalau rencananya Ghava tidak serapih ini akan sulit meyakinkan orang tuanya untuk mengundur pernikahan dirinya dan Wina.
Eira dan suaminya lagi-lagi mengamati laporan yang Ghava berikan. Dua pasangan suami istri itu sedang bekerja sama dengan sangat apik agar tidak kena tipu oleh anaknya. Dira dan Omar pastinya tidak akan percaya begitu saja dengan penjelasan anaknya.
"Aplikasi yang di gagas oleh Ghava sedang naik daun Mih, Pih, sehingga bisa di bilang ini adalah kesempatan emas untuk Ghava mengembangkan bisnisnya, di samping pesaingnya yang belum ada, bisnis Ghava juga sangat cocok dengan selera rakyat indonesia yang ingin liburan tetapi biasanya akan bingung dengan uang yang cukup banyak, nah dialikasi Ghava diadakan tabungan liburan, tentu dengan banyaknya keuntungan sehingga makin hari, makin berkembang bisnisnya. Kalau kata Abas, selagi masih belum ada pesainya lebih baik pernikahan dengan Wina ditunda dulu sampai Ghava benar-benar bisa bekerja dengan benar, tidak hanya itu Ghava juga sekarang harusnya bertolak ke Bali untuk membukan kantor yang baru, karena Bali adalah hampir menjadi tempat tujuan untuk berwisata nomor satu jadi setidaknya harus ada kantor cabang satu," jelas Abas, sontak saja Ghava terkaget dengan penjelasan dari Ghava di mana laki-laki itu mengira bahwa abangnya hanya akan membuatku makin gila.
Namun, tanpa sepengetahuan Ghava, Abas juga sebenarnya merencanakan ini untuk membantu adiknya selamat dari perjodohan. Abas tidak ingin Ghava merasakan gimana menderitanya menjalani pernikahan di dalam perjodohan.
"Tapi cara bilang sama keluarga Wina gimana Abas?" tanya Eira yang sejak tadi lebih menanggapi ucapan Abas, sementara Omar lebih banyak diam, tidak seperti malam tadi yang mana papihnya juga lebih banyak berinteraksi dengan Ghava, tetapi kali Omar justru lebih banyak makan dan bahkan seolah ia tidak terganggu dengan obrolan Ghava dan yang lainya.
"Kalau memang Mamih butuh bantuan Abas, nanti Abas yang akan bantu untuk mengobrol dengan keluarga Wina, dan meminta kesepakatanya, lagian kan keputusan menikah minggu depan adalah keputusan Mamih dan papih dan keluarga Wina, tidak ada runding dengan Ghava, sedangkan niat Ghava datang ke negara ini untuk mengembangkan bisnisnya, sangat sayang kalau bisnisnya di campur adukan dengan pernikahan," oceh Abas malah nampaknya ia yang lebih semangat untuk menolak perjodohan ini, hingga Ghava merasa terharu dengan perjuangan abangnya itu.
'Tidak lah Mih ini kan demi kebaikan kita semua, toh kalau Ghava sukses juga kalian yang akan menikmati semuanya kan," papar Abas, lagi. Sementara Ghava juga hanya menjadi pendengar yang handal. Ghava lebih banyak menyimak seperti papihnya, dan begitupun dengan Lyra yang dari tadi murung. Sebenarnya Ghava kasihan melihat Lyra yang sepertinya juga sangat tertekan dengan hubungan ini, yang mana saat ini baik dirinya dan Abas sedang tidak baik-baik saja komunikasi bahkan terpurus.
Mungkin wanita itu juga sedang dilema antara berpisah dengan Abas atau tetap dirumah ini dengan catatan mereka saling diam-diaman. Sebab kalau bangun kerumah orang tua Lyra tentu wanita itu malu, di mana biasanya ia bilang kalau Abas adalah laki-laki sempurna dari segi hubungan dan perhatian. Namun siapa sangka bahwa kehidupan rumah tangganya justru penuh dengan cerita dan nestapa.
"Yau udah kalau begitu kapan kira-kira kamu bisa temanin Mamih ke rumah Wina?" tanya Eira, sesuai dengan dugaan Abas dan Ghava bahwa mamihnya apabila yang berhubungan dengan materi ia akan kembali memikirkanya.
"Abas terserah Mamih saja, kalau Mamih mau mengajak kita bertemu saat ini juga Abas siap, biarkan Abas yang menggantikan Ghava untuk menemui keluarga Wina, karena Ghava sendiri harus melakukan penerbangan ke Bali," jawab Abas dengan yakin, dan di bahwah sana dua kakak beradik sedang mengadukan kakinya. Bukan karena Ghava tidak terima dengan apa yang terjadi pada dirinya tetapi Ghava seolah tengah mengucapkan rasa terima kasihnya.
Eira kembali menatap pada Ghava.
"Apa kamu yakin bahwa kamu harus berangkat pagi ini juga?" tanya Eira seolah merasakan berat sekali, kembali melepaskan Ghava, entah berat karena apa yang jelas kalau bukan demi masa depan anaknya, mungkin Eira tidak akan mengiziknkan Ghava untuk kembali pergi lagi.
"Iya Mih, gimana lagi kan memang niat Ghava datang kenegara ini hanya untuk mengembangkan bisnis dan kenapa Mamih meminta Ghava menikah secepat ini, yang jelas Ghava belum yakin, dan Ghava masih banyak sekali memikirkan bisnis Ghava, tidak ingin buru-buru menikah dengan alasan yang ribet.
Eira seolah kembali lesu, tetapi memang itu sudah menjadi resikonya dan mungkin nanti Wina calon menantunya akan marah. Wanita itu ingin bersikap bodo amat, tetapi wanita paruh baya itu kembali mencoba tidak peduli, toh itu adalah kesepakatan Ghava dan yang lainya. Dan kesepakatan hasil obrolan nanti akan disampaikan pada Ghava.
"Ya Allah mudah-mudahan semua urusan di mudahkan Tuhan," lirih Ghava.