Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Kesaksian Dari Rekan Kerja


"Halloh, Assalamuallaikum," sapa orang yang berada di sebrang telepon. Hati Zifa bergetar ia bingung mau berkata apa, ia juga masih bingung apa yang akan dia tanyakan. Padahal sebelumnya Zifa ingin langsung menelepon orang yang berada di sebrang, begitu membaca pesanya dan ia ingin mencecarnya dengan pertanyaan yang yang sudah lama ia ingin tanyakan pada rekan kerja Ibu


"Halloh, Assalamuallaikum," sapa orang di sebrang telepon lagi.


"Waalaikumsallam... mohon maaf Bund, tadi Ifa baca pesan dari Bunda apa Bunda teman Ibu? Mohon maaf sebelumnya ini Zifa anak Ibu farida," ucap Zifa mencoba tetap tenang, seperti yang Alwi katakan. Yah, semalam Alwi banyak mengajarkan Zifa untuk mengontrol emosi maupun perasaan yang sering membuat hatinya lemah dan gampang menangis, marah dan cuek tiba-tiba. Dan kini Zifa sedang mempratekanya, sehingga dia ingin tidak sedikit-sedikit menangis. Meskipun dalam hatinya perasanya sudah tidak tenang, tetapi sebisa mungkin dia tetap terlihat tenang.


"Ya Allah Ifa, apa kabarnya Nak? Gimana kondisi kamu sekarang, kalian sehat-sehat saja kan?" tanya wanita dari sebrang telepon. "Ini Bibi Tina, Bibi teman kerja Ibu kamu, dan sekarang nasib Bibi sudah tidak bekerja di rumah majikan yang dulu lagi tapi, sekarang Bibi malah bekerja di samping rumah majikan yang dulu. Dan malah di sini majikanya lebih enak dari pada yang dulu, kami kerja di sana malah tertekan," imbuh Bi Tina. Yah kini Zifa tahu nama siapa yang sedang berteleponan dengan dirinya.


"Alhamdulillah, kabar kami baik Bibi, dan Allhamdulillah juga Bibi sudah dapat kerjaan baru lagi. Bi, Zifa ingin bertanya pada Bibi apa Zifa tidak mengganggu pekerjaan Bibi?" tanya Zifa untuk memastikan apah Bi Tina sedang sibuk atau tidak.


"Oh, tidak Fa, bertanya tentang ibu kamu yah? Kebetulan Bibi juga sebenarnya menghubungi kamu karena ada yang ingin di omongkan mengenai meninggalnya ibu kamu, Bibi rasa terlalu janggal dan tidak masuk akal ketika Ibu kamu masuk ruangan majikan sehat kenapa tiba-tiba ada kejadian yang tidak mengenakan, tapi semua tidak ada yang berani bertanya padahal Bibi yakin para pekerja di rumah itu pun sebenarnya pada curiga. Tetapi mau bagaimana lagi, mereka pasti takut kalau akan bernasib sama seperti Bibi, di pecat tanpa sebab. Yang bikin Bibi semakin curiga pemecatan Bibi ada kaitanya dengan meninggalnya ibu kamu adalah Bibi di pecat jam satu malam. Di panggil untuk di berhentikan paksa, sungguh janggal kan Fa?" tanya Tina yang memang dia sendiri tengah mencari jawaban atas pertanyaanya, kenapa ia di berhentikan kerja secara paksa kalau dia sendiri tidak merasa ada masalah dalam pekerjaanya, tentu ada alasan yang hanya mereka yang ketahui tetapi Tina lagi-lagi menduga bahwa masalahnya adalah kematian rekanya, Farida dan kemahian Zara.


"Ifa pengin bertemu dengan Bibi, apa kira-kira Bibi bisa? Kalau bisa biarkan Ifa yang menemui Bibi mau ketemuan di mana, sekalian Ifa pengin lihat rumah majikan ibu." Zifa merasa pembicaraan ini tidak seharusnya di bicarakan di telepon, karena Zifa juga ingin tahu rumah majikan ibunya, di mana Zifa selama ini tidak tahu di mana lokasi pastinya ibunya bekerja. Yah, lagi-lagi kesebukan Zifa di mana ia sekolah, dan setelah sekolah berjualan sehingga tidak pernah mau tahu urusan ibunya.


"Ya udah memang lebih baik kita ketemu Fah, Alamatnya nanti Bibi Tina kirimkan yah sayang, kamu hati-hati di jalan. Oh iya kabar Zara gmana? Dia anak yang baik tapi malah kemalangan menimpa sama anak sebaik Zara." Bi Tina yang memang banyak menghabiskan hari-hari bersama Zara dan ibunya, tentu kangen dengan Zara, celotehnya dan juga tawanya yang selalu ceria.


"Bibi juga tahu apa yang menimpa sama Kak Zara?" tanya Zifa dengan penasaran.


"Tau Fa, kebetulan pagi sebelum kejadian Ibu kamu cerita sama Bibi, dan dari situ Bibi tahu apa yang terjadi dengan Zara, dan semoga kalian kuat menghadapi ini semua yah. Meskipun Bibi tahu bahwa kepergian ibu adalah hal yang sangat sulit buat kamu ikhlaskan, tetapi Bibi cuma berharap dan selalu berdoa kalau kamu bisa melewati ini dan kebahagiaan kamu tergantikan berkali-kali lipat." Doa Tina dengan tulus.


Sebenarnya ketika bekerja Farida banyak memiliki teman, dan selalu terlihat akur dengan teman kerjanya. Namun ketika meninggal tidak ada satupun teman kerja atau bahkan utusan dari majikanya untuk membantu acara pemakamannya hingga selesai. Bahkan untuk datang kerumah duka untuk berbelasungkawa pun tidak ada. Yang mereka datang adalah orang yang mengantar jenasah ibunya, entah dia pekerja di rumah itu atau hanya petugas klinik yang di minta mengantarkanya. Janggal, lagi-lagi Zifa merasakan semakin ditelusuri semakin banyak kejanggalan yang mereka kurang rapih dalam membuat sekenario kematian ibunya.


Zifa harus benar-benar menyiapkan mental sebelum menggali lebih dalam atas kematian ibunya. Karena bisa jadi faktanya akan sangat membuat jantungnya tidak menentu.


"Amin Bi, terima kasih buat doanya dan juga terima kasih buat Bibi yang mau meluangkan waktu buat Zifa mengobrol, soal kejanggalan yang Bibi bilang. Jujur Bi, Zifa itu sedang mengumpulkan bukti-bukti kejanggalan atas meninggalnya ibu, dan mungkin nantinya Ifa akan melibatkan Bibi, apa Bibi tidak keberatan apabila Zifa repotkan terus?" tanya Zifa hanya ingin memastikan apakah Tina mau membantunya atau dia justru sama takut kalau mantan majikanya tahun dan membuat Bibi Tina celaka seperti yang laianya. Atau yang paling mengerikan adalah mungkin dibuat seperti Ibunya yang di bikin celaka didepan orang lain dengan sekenario kematian karena serangan jantung.


"Tidak atuh Zifa, tidak mungkin Bibi keberatan, justru Bibi setuju dengan ide kamu, keadilan harus terus di junjung tinggi. Semakin sulit untuk meraih keadilan berati memang banyak kejanggalan yang di sengaja di bikin untuk menutupi kasus kematian ibu kamu, kita harus terus berusaha agar kita tidak merasakan bersalah, dan membiarkan pelaku kejahatan dengan gampangnya berkeliaran." Setelah memastikan bahwa Bibi Tina mau membantu Zifa, gadis itu pun memutuskan sambungan teleponya.


Senyum kelegaan tersungging di wajah Zifa, ia semakin bersemangat untuk terus mencari keadilan. Di tambah sekarang Zifa juga semakin yakin bahwa kakaknya akan sembuh dan bisa menginggat kejadian itu.


"Tunggu Nyoyah, Tuan, saya janji kalian akan merasakan di mana makan dan tidur tidak enak karena selalu dihantui rasa bersalah. Tertawalah untuk sekarang-sekarang karena cepat atau lambat waktu itu pasti akan tiba," gumam Zifa di mana pandangan matanya menatap tajam kearah kakanya yang masih asik bermain.