Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 139


"Laja... itu punya aku," pekik Ratu ketika mainan barunya di pegang oleh saudara kembarnya.


"Pelit banget, nih." Raja melempar mainan adik kembarnya dan mengakibatkan Ratu menangis, karena takut mainannya rusak. Ramai itu yang terjadi saat ini.


Yah momen seperti ini yang membuat Zifa akan kangen ketika berjauhan dengan dua ponakannya itu. Sedangkan Sisri yang menemani mereka bermain mulai memberikan nasihat pada Raja kalau cara dia salah dan meminta Raja meminta maaf pada Ratu.


"Raja, ayo dong minta maaf sama adik kamu, kalau kamu tidak minta maaf itu namanya anak nakal," ujar Alwi dan ketika Alwi akan berbicara maka itu tandanya anak-anak angkatnya sudah keterlaluan.


Zara  pun beranjak dari duduknya dan menghampiri putra putrinya, di mana Ratu menangis karena Raja yang melempar mainannya, dan Raja sendiri sudah terlihat akan menangis karena semua orang dirasa menyudutkan dia.


Zara nampak berbisik pada Raja, dan tidak lama Raja pun berdiri dan menghampiri adik kembarnya. "Latu, aku minta maaf," ujar Raja sembari menjulurkan tangannya, dan Ratu pun langsung terhenti menangis dengan sendirinya hingga gadis kecil itu menerima uluran tangan kakaknya dan mencium punggung tangannya.


"Latu juga minta maaf," ucapnya dengan suara lirih dan masih ada sisa isak tangisnya, setelah melihat Zara yang tengah tersenyum menatap kedua anaknya.


Setelah meyakinkan putri dan putranya kembali akur dan bermain bersama lagi, kini Zara kembali duduk bersama adik dan adik iparnya serta Alwi dokter yang selalu ada untuk memberikan terapi sehingga Zara seperti saat ini kondisinya.


Siapa pun yang melihat tidak ada yang percaya bahwa Zara pernah berada dititik dia dianggap memiliki kelainan pola pikir.


"Kakak, apa yang tadi di bisikan kenapa bisa Raja sangat nurut?" tanya Zifa dengan kepo.


"Tidak ada, hanya nasihat yang biasa Dokter Alwi katakan," balas Zara sembari menatap Alwi  yang mana Zara akan merasa tenang apabila ada Alwi di sampingnya.


"Jadi kalian yakin, Ghava, Ifa kalau kalian akan pindah ke Jakarta?" tanya  Alwi dia sudah tahu kalau kedatangan Zifa dan Ghava kerumahnya memang untuk berpamitan akan ke Jakarta.


"Yakin Bang. Kan kata Abang juga semakin cepat kita memulainya semuanya akan segera terungkap. Ifa datang kesini untuk meminta doa agar niat Ifa di permudahkan," balas Zifa, dia yakin terlebih di sana juga nanti ia akan dekat dengan Lyra jadi Zifa tidak merasa sendiri masih ada Lyra yang setidaknya dengan tangan terbuka mau membantu dirinya, mencarikan keadilan ini. Sehingga apabila Zifa menundanya lagi ia hanya  sedang mengubur kesempatan yang sudah beberapa kali datang.


Alwi pun mengerti dan memang dari awal ia kenal Zifa tujuannya adalah untuk berada di titik ini, sehingga Alwi tidak bisa menahan Zifa, tugasnya hanya mendoakan Zifa agar  mendapatkan jalan yang mudah.


"Ifa mau ke makan ibu, Kakak ikut," lirih Zara yang sudah sejak lama ia sangat menginginkan mengunjungi makam ibu kandungnya, bahkan kakaknya itu rela bekerja mengumpulkan uang yang banyak tujuannya agar ia bisa mengunjungi makam ibunya.


"Kakak di sini dulu yah, kalau semuanya sudah beres dan aman. Zifa berjanji kalau Zifa akan datang kesini dan mengajak Kakak, Raja dan Ratu untuk mengunjungi makam ibu dan ayah," lirih Zifa, dengan sangat hati-hati agar Zara tidak berkecil hati.


"Ifa mau ngapain?" tanya Zara dengan pandangan yang terus mengamati adiknya itu, seolah Zara sedang mencari jawaban dari sorot mata Zifa.


Sedangkan Zifa yang ditatap tajam oleh kakaknya merasa kebingungan untuk menjawabnya. Dia sangat bingung harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Zara. Zifa menatap dokter Alwi untuk meminta bantuan untuk menjelaskan gimana berkata pada kakaknya. Apakah Zifa harus jujur atau Zifa akan menutupinya lagi semua kenyataan dari kakaku.


Zara pun tanpa menjawab ucapan Alwi beranjak dar tempat duduknya dan masuk ke dalam kamarnya.


"Kakak... apa Kakak marah?" pekik Zifa, yang mulai panik karena takut kalau Zara akan marah dan membenci dirinya.


Zara tidak menjawab pertanyaan Zifa dan dia terus berjalan meninggalkan orang-orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Kamar pribadinya menjadi tujuannya.


"Dok, apa Kakak marah?" lirih Zifa menatap sang dokter dengan tatapan memohon dan sedih itu.


"Kamu tenang yah Zifa, biarkan Zara menenangkan dirinya dulu, baru nanti aku yang akan mencoba berbicara dengan Zifa," lirih Alwi.


Ghava pun menggenggam tangan Zifa seolah ia tengah memberikan kekuatan pada istrinya itu.  Zifa menatap Ghava dengan tatapan yang sedih, karena ia sudah berhasil membuat kakaknya sedih.


"Benar kata dokter Alwi, biarkan Kakak kamu tenang dulu semuanya pasti akan baik-baik saja," lirih Ghava mencoba memberikan kekuatan pada Zifa, dan wanita itu pun hanya mengangguk dan kembali menatap dua ponakannya yang masih berceloteh dengan polos, seolah mereka tidak pernah merasakan kesedihan, dia tidak pernah tahu bagaimana menjadi dewasa itu sangat melelahkan. Andai boleh meminta Zifa juga ingin menjadi anak-anak yang polos seperti itu.


Bahkan Zifa sesekali terkekeh mendengar celotehan dua ponakannya itu. Memang sesekali celotehan anak-anak itu menjadi obat yang mempan buat menghilangkan lelahnya. Beruntung Sisri menjadi pengasuh mereka yang setiap hari setiap saat mendengarkan celoteh yang tidak jelas itu, tetapi juga sesekali tingkah mereka itu bikin gemas, yang susah mandi, yang susah makan semuanya dialami oleh Sisri.


Tidak lama ketika Alwi akan beranjak untuk menghampiri Zara di kamarnya yang ia kira Zara sedang bersedih karena ucapan Zifa yang melarang dirinya untuk ikut ke Jakarta untuk mengunjungi makam ibunya.


"Kakak, apa kakak tidak marah?" tanya Zifa dengan senyum yang terkembang sempurna. Ketika wanita itu melihat Zara datang kembali berkumpul dengan mereka.


Zara membalas senyuman adik kandungnya. "Tidak, Kakak hanya mengambil ini." Zara menunjukan benda yang ia ambil barusan, memang dia sedikit lama karena dia sendiri lupa meletakkan benda peninggalan ibunya.


"Ponsel? Punya siapa, dan untuk apa?" tanya Zifa dengan heran, bukan hanya Zifa yang bingung tetapi Alwi dan Ghava juga bingung ponsel siapa itu, sedangkan ponsel Zara yang selalu di pakai untuk berkomunikasi dengan Zifa dan Alwi bukan seperti itu.


Zara mengulurkan ponsel itu pada Zifa.  "Ini ponsel Ibu, sebelum Ibu pingsan ibu memberikan ponsel ini pada Ara. Dan kata Ibu, minta dikasih ke Ifa. Maaf Kakak baru ingat pesan Ibu yang itu," ucap Zara dengan mata berkaca-kaca, dan suara yang serak. Menandakan bahwa sang kakak sedang sedih.


Zifa pun langsung memeluk tubuh kakaknya dengan pelukan yang hangat dan tangannya menepuk-nepuk punggung Zara. "Apa Kakak mengingat sesuatu tentang Ibu di hari terakhirnya?" lirih Zifa yang tidak bisa membendung kesedihannya. Membayangkan Kakaknya melalui itu semua terkurung dalam ingatan yang menyeramkan di detik-detik terakhirnya menyaksikan ibunya meregang nyawa.


Zara mengangguk dan itu berhasil membuat jantung Zifa seperti berhenti berdetak. Senang dan juga serasa belum siap mengetahui apa fakta yang akan kakaknya katakan sebelum ibunya meninggal.


"Apa Kak?"


"Apa yang Kakak ingat tentang Ibu dihari itu? Apa Kakak tahu apa yang terjadi sama Ibu hingga Ibu jatuh pingsan dan meninggal dunia?"