Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 165


Zifa melangkahkan kakinya, menuju rumah tahanan wanita, di mana saat ini Eira menjalani hukumanya. Dalam hatinya semakin bulat kalau dia memang kan meninggalkan Kemal dan Ghava. Dia akan membiarkan Ghava mencari kebahagiaanya, dia tidak tega selama ini laki-laki itu hanya mencintai dirinya sebelah tangan. Zifa terlalu takut kalau harus mencintai Ghava atau malah dia terlalu takut untuk menyakiti Kemal?


Saat ini wanita itu sedang duduk menunggu Eira, bahkan Zifa sendiri masih bingung ia datang ke sini untuk apa? Dia ke sini karena tidak ingin buru-buru pulang ke rumah Ghava dulu, terlebih di rumah itu dia tidak ada tamanya, sehingga ia memilih menemui Eira.


Tidak lama wanita paruh baya yang penampilanya sangat menyedihkan datang dengan dua orang penjaga di sampingnya, tangannya di borgol, banyak luka di tubuhnya. Kedua mata Zifa mengawasi wanita itu dengan sangat serius. Setelah itu wanita itu menyunggingkan senyum pertemuanya.


"Mau apa kamu ke sini, wanita murahan?" cecar Eira padahal wanita itu masih berdiri.


"Ifa hanya ingin melihat gimana kondisi Anda Nyoyah. Tapi setelah saya datang dan melihat kondisi Anda, ternyata yang saya rasakan cukup bahagia, karena ternyata rencana saya sesuai dengan taujuan saya masuk ke keluarga Anda. Tidak sia-sia saya menikah dengan Ghava kalau hasilnya begini bagus, dan pastinya lebih cepat dari target saya sebelumnya. Saya pernah berpikir kalau pasti membuat Anda masuk penjara akan sangat licin mengingat Anda berkuasa, tetapi ternyata sangat gampang, cukup di gunakan pancingan Anda datang sendiri, dan bonusnya anak-anak Anda saling bersitegang." Zifa tersenyum dengan puas.


Awalnya wanita ini akan mencoba membuka pintu maaf dan membiarkan masalah ini benar-benar di selesaikan oleh hukun, tetapi dia sendiri berdamai dengan perasaanya tetapi, ia salah ternyata justru Eira sendiri berbicara yang kurang mengenakan sehingga Zifa pun melakukan hal yang sama.


"Kurang ajar puas kamu, menghancurkan keluarga ku?" bentak Eira bahkan kedua wanita yang berdiri di samping Eira menahan wanita itu agar tidak membuat keributan.


"Jujur Ifa masih kurang puas. Awalnya Ifa sempat berpikir kalau nyawa di balas dengan nyawa, tetapi Tuhan tidak mengizinkan dan sekarang kondisi Kemal sudah sadar, ada rasa sedih, tetapi tidak masalah yang terpenting Anda mendekam di dalam penjara." Zifa semakin membuat Eira murka.


Ahhhh.... Brukkkk... Dalam seketika rambut Zifa di tarik dengan kuat dan wajahnya di benturkan beberapa kali ke meja hingga bibirnya pecah dan dari hidungnya keluar darah.


Dalam seketika juga ruangan besuk ramai dan gaduh.


"Hai, kamu jangan bikin gara-gara mau masa tahanan kamu di perpanjang," bentak dua wanita yang menjaga Eira. Entah apa yang tengah diperbuat mereka hingga Zifa bisa kena amuk, dan mereka baru melerai setelah wajah Zifa babak belur.


"Wanita itu yang salah, dan kurang ajar, mulutnya lancang," rancau Eira ingin melepaskan diri dari dua penjaga wanita yang sedang menahanya dan kembali memberikan pelajaran pada Zifa.


"Diam, kalau kamu semakin gila kaya gini, kami tidak akan segan-segan untuk menghukum kamu lebih berat lagi," bentak penjaga lagi, dan Eira di seret ke ruang tahanan kembali. Sementara Zifa hanya tersenyum dengan kecut.


"Nona ayo kita obati," ucap polisi wanita yang membantunya sembari memberikan tisu untuk mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


"Tidak usah Bu, saya akan langsung pulang. Mohon maaf kalau kedatangan saya membuat gaduh ruangan ini," ucap Zifa dengan  menuduk dengan hormat.


"Iya tidak masalah, sudah biasa di sini dengan keributan seperti ini," balas polisi wanita itu dengan membalas senyum Zifa.


Tangan Zifa merogoh ponsel di tas selempangnya, dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul tiga. "Sebentar lagi Ghava pulang aku sebaiknya pulang juga, apalagi kalau dia tahu kalau aku tidak di rumah sakit, dan juga tidak di rumah pasti dia akan makin cemas." Ia kembali melangkahkan kakinya menuju rumah suaminya.


Sejak tragedi penembakan itu, kini Zifa dan Ghava kembali pindah rumah, tidak lagi di rumah itu. Ghava yang mengusulkanya, karena laki-laki itu takut kalau Zifa akan trauma ketika memasuki rumah itu. Ia sekarang tinggal di apartemen miliknya.


"Besok aku akan menemui Mba Lyra deh, aku ingin bercerita dengan Mba Lyra rasanya kalau belum cerita ada yang kurang." Zifa bergumam sepanjang jalan. Kini wanita itu setelah melewati perjalanan yang cukup lama pun saat ini ia sudah ada diapartemen milik suaminya. Biasanya Zifa kemana-mana akan diantar oleh sopir pribadi. Baru kali ini ia melalang buana menggunakan taxi.


Bermodal alamat kini Zifa pun sampai di tempatnya ia tinggal tanpa menyasar. Niatnya ia tadi ingin mengenalkan dua ponakannya yang makin pintar justru gagal karena keributan yang menyebabkan wajahnya nyeri.


******


Di tempat lain Ghava seperti biasa setiap pulang kerja pasti langsung menuju ke rumah sakit untuk menjemput pulang istrinya. Kakinya diayunkan dengan sedikit tergesa, terutama ketika ia mendapatkan kabar kalau Kemal sudah sadar.


Sebenarnya laki-laki itu akhir-akhir ini sangat cape, pekerjaanya yang sangat banyak harus dikerjakan seorang diri dan bolak balik ke rumah sakit, sehingga tubuhnya terasa semakin pegal dan daya tahan tubuhnya berkurang.


Dengan tangan yang berat Ghava membuka pintu ruangan Kemal, rasanya ia sudah tidak sabar ingin bercerita banyak hal tentang  mamihnya dan keluarganya saat ini. Ghava mengembangkan senyumnya ketika pandangan matanya melihat adik bungsungya sedang bersender menatap layar televisi.


Namun, sedetik kemudian, matanya nampak mencari  kesegala penjuru mencari Zifa yang tidak ada dalam ruangan itu, tetapi ia tetap berpikir positif, mungkin saja Zifa sedang keluar.


"Sejak kapan loe sadar, kenapa gue baru tahu sore ini?" cecar Ghava yang langsung mengayunkan kakinya untuk duduk di samping Kemal.


"Baru sore ini. Kondisi Mamih gimana Bang?" tanya Kemal dengan sangat  penasaran.


Ghava membuang nafas kasar. "Sesuai hukum yang berlaku di negri ini, setiap yang bersalah pasti akan di hukum sesuai perbuatanya," jawab Ghava dengan suara yang sangat lemah. "Dan kalau di tanya kondisi, kurang bagus. Mamih sering melukai tubuhnya dan bisa kamu bayangkan lah. Beliau yang biasa hidup berkecukupan tiba-tiba tinggal di dalam penjara, pastri setres berat."


Kemal pun nampak membuang nafas kasar dan memejamkan kedua matanya cukup lama, sesak itu yang dia rasakan.


"Apa persidangan kasus ibunya Zifa sudah di mulai? Dan apa tidak ada keringanan hukuman untuk Mamih?" tanya kemal lagi,


Ghava hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sebagai tanda memang hukum tetap diproses sesuatu yang tertera dalam undang-undang.