Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 125


"Apa yang kamu bilang benar Zifa?" tanya Alwi terkejut ketika Zifa mengatakan kalau Ghava meminta untuk menikahinya, tentu sebelumnya Zifa sudah lebih dulu memberikan video rekaman dari Lyra yang menandakan kalau semuanya tinggal menunggu waktunya akan terungkap. Itu sebabnya Ghava memberikan penawaran itu.


"Serius Bang, aku juga sempat terkejut, tetapi aku juga tidak bisa memungkiri aku butuh perlindungan yang kuat dari Ghava. Abang lihat sendiri kan video yang aku kirimkan tadi, rasanya bom waktu sudah akan meledak, terlebih Mba Lyra juga sudah memberikan aku peringatan. Itu sebabnya aku saat ini harus memiliki perlindungan yang kuat. Dan Ifa juga ingin menitipkan Kakak Zara pada Abang dulu, Abang tidak masalah kan. Nanti kalau semuanya sudah aman Ifa janji akan ambil Raja dan Ratu serta Kakak Ara," oceh Zifa menjelaskan dengan detail apa yang akan dia lakukan untuk langkah ke depannya.


Alwi di sebrang telepon hanya bisa diam mendengarkan apa yang Zifa katakan.


"Kalau kamu memang membutuhkan Ghava, Abang sih setuju ajah dengan dia, jujur selama Abang kenal dengan Ghava juga Abang melihat kalau laki-laki itu baik dan sepertinya sangat tidak masuk akal kalau ternyata Ghava justru akan membuat kamu celaka," balas Alwi, sebagai sesama laki-laki ia  bisa menilai kalau Ghava itu orang baik dan memang serius cinta dengan Zifa, itu sebabnya dia berani pasang badan untuk Zifa.


"Baik terima kasih izin dan dukungannya Bang, semoga memang apa yang di cemaskan oleh Zifa tidak terbukti," lirih Zifa, sebab kalau memang Ghava mau mencelakai Zifa, jalanya sudah sangat gampang, dan tidak ada kesempatan untuk Zifa lari lagi.


"Amin, tapi kamu juga sebaiknya meminta izin dan masukan dari Lyra, karena tidak bisa dipungkiri kalau Lyra jauh lebih mengenal keluarga mereka dan bukan tidak mungkin juga Lyra juga jauh mengenal Ghava dari pada kamu, dan mungkin malah dia bisa memberikan masukan sedikit-sedikit  mengenai Ghava, dan kamu juga harus tetap hati-hati  Ifa jangan terlalu percaya dengan Ghava, waspada harus tetap nomor satu, karena kamu masih belum tahu dengan betul Ghava itu tempat paling aman buat kamu, atau justru dia adalah tempat yang paling bahaya. Kamu harus tetap berwaspada," ucap Alwi, laki-laki yang dipanggil abang oleh Zifa juga tidak bisa terlalu banyak memberikan bantuan, mengingat ia juga  belum begitu tahu orang-orang yang akan Zifa hadapi.


"Baik Bang, setelah menghubungi Abang, Ifa memang akan segera menghubungi Mbak Lyra, dan ingin menceritakan semuanya, karena jujur Mba Lyra lah yang justru sangat banyak membantu Ifa, dan dari Mbak Lyra juga Ifa jadi semakin tahu dengan keluarga itu, dan juga  sudah banyak bukti yang Ifa kantongi itu semua adalah bantuan dari Mba Lyra." Zifa setelah menghabiskan waktunya satu jam lebih untuk curhat dengan Alwi dan juga tentunya  berkomunikasi dengan Kakak dan juga dua ponakan kembarnya.


Setelah mendapatkan izin dan juga nasihat dari Alwi, orang yang banyak membantu Zifa dan Zara, tanpa pamrih dan tanpa pilih-pilih, kini Ifa akan menghubungi Lyra, guna meminta bimbingan dan juga masukan buat Zifa dan Ghava nantinya.


Mungkin apabila sudah mengantongi izin dari Lyra dan juga Alwi, Zifa akan mengambil keputusan menikah dengan Ghava, soal masa depannya ke depan akan Zifa pikirkan sebari berjalan. Yang ada dalam pikiran Zifa saat ini adalah tentang keamanan untuk dia, Zifa tidak mau mati dengan sia-sia karena berhubungan dengan orang-orang itu.


'Tumben Mba Lyra tidak mengangkat telpon dariku, apa Mbak Lyra sudah tidur?' batin Zifa ketika melihat jam dinding sudah pukul setengah sebelas malam. Di mana jam segitu pasti sebagian orang sudah merasakan kalau itu sudah terlalu larut dan harus beristirahat, apalagi Lyra adalah pekerja yang harus bekerja di ke esokan harinya.


Dikamar yang berbeda, tetapi masih dalam satu rumah yang sama Ghava juga sama tidak bisa tidur, ia terlalu takut kalau Zifa tidak mau menerima cintanya. Semakin hari Ghava semakin di hantui dengan perasaan ketakutan yang teramat, takut kalau suatu hati nanti dia akan kehilangan Zifa.


Baru kali ini Ghava merasakan cinta yang sangat berlebihan jangankan harta bahkan nyawa sendiri Ghava rela mengorbankanya demi Zifa. Terlebih Ghava sudah mengingat semua cerita Kemal yang dulu setiap ada masalah, dan ada kabar sedikitpun dengan Zifa dan keluarganya ia langsung mengabari Ghava sehingga Ghava tahu betul dengan apa yang terjadi dengan Zifa. Mungkin itulah sebabnya Ghava rela melakukannya demi Zifa karena Ghava sudah tahu dengan jelas awal permasalahanya diantara Zifa dengan keluarganya.


'Tapi gimana kalau nanti Wina dan keluarganya tahu kalau aku sudah menikah dengan Zifa, apa nanti Zifa akan baik-baik saja? Aku malah akan semakin membuat dia sulit dong,' batin Ghava. Otaknya kembali di putar agar pernikahannya dengan Zifa tidak diketahui oleh orang-orang rumahnya dan juga Wina serta sekutunya.


'Aku harus kabur membawa Zifa bersama, tetapi kabur kemana? Surabaya?' batin Ghava kembali bergumam, mengingat selain kota Balikpapan dan juga Bandung yang proyek sedang berjalan adalah di Surabaya. Namun pikirnya lagi-lagi menepisnya, mengingat kalau dia bersembunyi di lubang semut sekalipun pasti akan tercium juga. Berati ini adalah kode agar sebaiknya tetap bersikap biasa dan menghadapi ujian bersama-sama.


Mereka kabur sekalipun Mereka tidak akan bisa tenang, karena itu tandanya ia justru menunda-nunda masalah, dan bukan menyelesaikannya. Dan juga bukanya apabila menunda masalah itu artinya Zifa dan dia justru masalahnya akan semakin lebih besar lagi.


'Baiklah, aku sudah yakin akan memulainya saat ini juga. Ifa butuh bantuanku. Sudah cukup selama ini dia berjuang seorang diri. Sudah saatnya kalau memang ibunya di bunuh harus ada keadilan yang dia dapatkan. Dan juga anak-anak Zara setidaknya tahu siapa ayahnya. Meskipun tanpa tahu ayahnya mereka tidak akan kekurangan kasih sayang,' batin Ghava.


Yah, meskipun dari pengakuan Zara sudah sangat jelas kalau Abas lah ayah biologis dari Raja dan Ratu, tetapi untumeyakinkan lagian Ghava akan melakukan tes DnA untuk menguatkan dugaan Zifa dan yang lainya. Tanpa bukti yang kuat mereka akan dengan gampang menyerang balik Zifa.


'Tidak akan aku biarkan lari barang sedikit pun Abas dan pelaku pembunuhan kalau memang semuanya benar. Fakta harus terungkap secara adil,' batin Ghava. Sama halnya seperti Zifa, Ghava pun malam ini tidak bisa tidur dengan nyenyak, pikirannya melalang buana ke masalah yang sedang dihadapi oleh Zifa.


...****************...