Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 84


"Teh Ifa yakin mau minta orang itu di sini, padahal kan wanita itu tidak kita kenal, gimana kalau kita nanti malah rugi, karena ternyata wanita itu adalah penjahat, pencuri atau apa gitu yang menyamar jadi orang baik, dan taunya mau merampok kita," bisik Leni, ketika Lyra pergi ke kamar Beni dan Zifa serta Leni pergi ke kamar bersama untuk tidur juga.


"Hust, kamu jangan ngomong gitu ah! Nanti takutnya orang itu dengar malah kita tidak enak, ngegibahin orang yang kita tidak kenal. Lagian iya kalau dia jahat, kalau ternyata dia adalah orang yang baik yang memang benar-benar membutuhkan pertolongan kan jatuhnya kasihan kalau tidak di bantu," balas Zifa, agar Leni cepat tidur seperti yang lainya, dan jangan berisik apalagi gibahin orang, kan nati malah tambah dosa.


"Hehehe... iya sih Teh, dari kelihatanya wanita itu lagi banyak banget masalahnya, Teh Ifa lihatkan wajahnya pucat, sedih, terutama di area kedua matanya bengkak." Leni masih penasaran dengan sosok wanita yang saat ini tidur di ruko mereka.


"Hemz... sepertinya begitu, tetapi kita tidak boleh menebak-nebak, biar juga nanti kalau wanita itu mau bercerita baru kita siap sebagai pendengar, tapi kalau memang kita tidak dia ceritakan atas apa yang menimpa mereka itu tandanya kita memang tidak di perbolehkan untuk tahu kisah hidup dia itu yang dianggap prifasi, dan kita harus hargai prifasi orang lain," saran Zifa, agar Leni jangan memulai bertanya dulu sebelum orang yang bersangkutan cerita duluan.


"Iya baik Mba, Leni juga mana berani kurang ajar sama pengunjung."


Mereka pun pada akhirnya memejamkan kedua bola matanya menyusul teman-teman lain yang sudah lebih dulu tidur duluan.


 Begini lah keadaannya di mana di kamar utama rame sekali, mereka tidur dalam satu ruangan yang cukup luas. Sebenarnya ada lagi satu kamar yang luasnya sama kayak kamar Beni. Dimana tempat itu seharusnya di tiduri oleh Tasi, dan sikembar  Lena dan Leni, tetapi mereka malah lebih senang tidur ngampar di kamar utama, kata mereka tidak apa-apa tidur di lantai hanya beralas kasur tipis yang penting bareng Raja dan Ratu.


Yah, dua anak kembar itu memang selalu menjadi perhatian mereka, apalagi makin besar makin terlihat cantik dan tampanya, sehingga meskipun Raja dan Ratu adalah anak yang terlahir tanpa tahu papahnya, tetapi untuk kasih sayang tidak kurang sedikit pun, baik dari ibunya maupun papahnya yaitu Alwi, di mana Alwi juga lebih menyayangi mereka. Dokter Alwi biarpun Zara tidak ada jadwal terapi, tetapi tidak seharipun absen untuk tidak mengunjungi anak angkatnya itu.


*****


Zifa dan Lyra pun berpisah di mana, Lyra akan tidur di kamar Beni yang berada di ujung lantai dua, dan berpemandangan langsung dengan balkon yang selain pemandangan yang indah karena berhadapan denga pusat kota. Di balkon juga  banyak jemuran salah satunya yang menari perhatian Lyra di mana itu adalah pakaian bayi yang berwana biru dan pink. "Apa di tempat ini juga ada bayi, apa bayinya kembar," batin Lyra, sembari memegangi dadanya yang teriingat lagi dengan kejadian beberapa  jam yang lalu, di mana ia di ceraikan secara sepihak oleh Abas, suaminya, dengan alasan bayi, dia yang tidak bisa memberikan anak untuk pernikahan mereka.


Tubuh Lyra mematung menatap jemuran baju Raja dan Ratu. Tanganya memegang perutnya. "Kenapa Tuhan tidak mau memberikan seorang bayi di rahim aku. Apa aku terlalu hina dan tidak pantas untuk memiliki anak, apa aku sebegitunya tidak dipercaya oleh Tuhan sehingga Engkau tidak mau memerikan aku keturunan," lirih Lyra, tanpa terasa air matanya menetes kembali. Luka yang tadi sudah ia coba obatinya dengan cara melupakanya, tetapi kali ini kembali lagi, sakit itulah yang Lyra rasakan.


"Ya Allah andai Engkau mengabulkan doaku, aku ingin apabila nanti menikah lagi aku bisa memiliki seorang anak, dari rahim ini, dan apabila aku tidak terlalu jahat aku ingin mantan suami aku merasakan yang sebaliknya. Agar mereka tahu siapa yang bermasalah di dalam rumah tangga ini." Doa Lyra dalam hatinya.


Setelah puas menatap pakaian bayi, Lyra membuka pintu kamar yang tertutup. Wangi parfum laki-laki memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas. mungki luasnya hanya tiga kali tiga meter saja, dan kasur pun hanya ada kasr busa yang cukup untuk tidur satu orang, dan lemari kecil diujung ruangan serta kipas angin yang menempel di dinding.


Lyra mengawasi ruangan yang tidak luas itu, "Meskipun ini sangat jauh dari tempat tinggal aku yang dulu, tetapi tidak terlalu sempit lah. Lumayan untuk sekedar bermalam di sini," lirih Lyra, lalu wanita itu membuka blazernya dan menggantung di gantungan pakaian yang mana di sana juga tergantung pakaian Beni.


Tubuhnya yang sudah sangat lelah di baringkan di atas kasur lantai yang jauh sekali dari rasa nyaman, da tidak terasa empuknya dibandingkan kasur yang biasa ia tiduri. Tanganya meraba-raba bawah bantal di mana di sana ada buku catatan kecil, karena penasaran Lyra pun membuka catatan bukunya.


"Tidak terlalu buruk, anak muda itu pandai menggambar," batin Lyra, tanganya terus membuka buku itu, dan di sana ada foto laki-laki yang tadi sempat berkomunikasi dengan dirinya. "Lumanyan cakep juga anaknya, tapi sayang masih bocil," kekeh Lyra ketika melihat foto Beni, yang saat ini kamarnya di tidurinya, bahkan Lyra sempat tertawa cukup lama, karena foto Beni yang masih terlihat seperti anak-anak, padahal umur Beni tidak seperti anak-anak sekarang saja usia dia sudah dua puluh satu tahun. Memang sih kalau di bandingkan Lyra jauh lebih muda, di mana saat ini Lyra usianya sudah memasuki usia tiga puluh tahun.


Tanganya masih lanjut membuka, lembaran demi lembaran. "Ya Tuhan ternyata dia adalah tulang punggung keluarga, dan dia rela tidak membeli barang-barang yang dia inginkan agar adiknya tetap sekolah. Calon suami yang baik," puji Lyra pada Beni. Tanpa terasa Lyra pun tertidur dengan buku catatan dan foto Beni masih ditanganya.


Pagi hari menyapa, Lyra matanya tiba-tiba dipaksa terbuka ketika lagi-lagi suara bayi yang nyaring menangis mengiris hatinya. Lyra langsung beranjak bangun dari kasurnya, dan buru-buru mencari sumber suara yang berhasil membangunkan dirinya. Dimana yang lain sudah bangun, bahkan toko sudah dalam persiapan buka. Sedangkan Zifa jadwal sebelum ke kampus selalu saja membantu Mbak Sisri untuk mengurus Raja dan Ratu yang saat ini sudah makin besar dan tentunya makin pandai.


Dibalik pintu tubuh Lyra mematung mencoba mengintip ke dalam kamar yang jauh lebih luas di bandingkan kamar yang semalam ia tempati, kedua matanya tertuju pada dua anak keci, Dimana yang satu sedang menangis dan yang satu lagi masih bermain, Harum bedak bayi, minyak telon membuat hati Lyra teriris.


"Hust... Teh itu siapa?" lirih Sisri sembari memberi kode pada Zifa, ketika melihat ada wanita yang sedang berdiri diambang pintu. Wanita cantik dengan penampilan rambut yang sedikit acak-acakan dan mata seolah tidak berkedip melihat Zifa yang sedang memakaikan pakaian pada Ratu yang sedang menangis. Tubuh Lyra bersandar dipintu seperti anak orang yang  kebingungan.


"Kedua mata Zifa mengikuti kode mata dari pengasuh ponakanya. Bibirnya lalu di tarik ketika tahu siapa gerangan yang saat ini sedang berdiri di pintu kamarnya.


"Mba Lyra sini, kenalin ini ponakan Ifa," ujar Zifa, sembari tanganya di gerakan melambai agar Lyra yang sedang berdiri dengan mematung itu masuk saja kedalam sana, toh tidak akan ada yang memarahinya kok.


Lyra membalas senyum Zifa, dan setelahnya mengikuti apa kata Zifa, yaitu Lyra masuk dan langsung mengambil duduk di samping anak kembar yang sudah wangi itu.


Zifa dan Sisri bingung ketika Lyra langsung meneteskan air mata ketika melihat Raja dan Ratu. Mereka saling melembar pertanyaan melalui kode-kode matanya.


"Ifa apa aku boleh gendong salah satu ponakan kamu?" tanya Lyra tetapi pandangan matanya masih tertuju pada kedua anak kembar itu.


"Tentu boleh Mba, kalau Mba Lyra mau gendong dua-duanya juga boleh kanan dan kiri," jawab Zifa, yang mendua kalau mungkin saja Lyra pengin punya anak atau mungkin malah Lyra mengingat anaknya yang sudah meninggal. Zifa akan menunggu hingga Lyra apabila mau bercerita, dan dia akan mendengarkanya  menjadi pendengar yang baik.


"Kamu serius, aku boleh gendong dua ponakan kamu?" tanya Lyra  dengan antusias bahkan kedua matanya diangkat menatap Zifa dengan mata merah sisa tangisnya.


Zifa membalasnya dengan anggukan, dan di balas dengan senyum manis dari Lyra.