
Tujuh bulan mendatang.
Zifa menangis sesegukan ketika dua bayi yang tampan dan cantik berada di hadapanya. Yah, dia adalah putra dan putri dari Zara di mana Zara saat ini sudah melahirkan dengan normal. Sungguh keajaiban dari Tuhan di mana semuanya seolah di permudahkan dengan semua urusanya. "Siapa nama bayi kembar itu?" tanya dokter Marni mengagetkan Zifa, dokter yang membantu persalinan Zara.
Zifa mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya yang membanjiri pipinya, sungguh bahagiaa dan sedih menjadi satu di saat melihat wajah bayi yang tidak berdosa dengan sangat lucu. Zifa menggeleng lemah. Zifa belum memiliki nama untuk dua ponakan Ifa," jawab Zifa, " Mungkin Kak Zara punya nama untuk putra, putrinya," imbuh Zifa dengan menatap Kakaknya yang tengah di bersihkan dan tampak lemas.
Zifa berjalan kearah kakaknya dan tersenyum bangga. Di mana kakaknya adalah wanita yang kuat mampu melewati ini semua. "Selamat yah, Kakak sekarang sudah punya bayi sepasang putra dan putri tampan dan cantik seperti kakak Zara." Zifa mencium kening kakaknya yang masih basah oleh keringat sisa ia berjuang melakirkan dua buah hatinya.
Zara menanggapi ucapan adiknya dengan tersenyum. Selama tujuh bulan Zara menjalani terapi sudah banyak sekali perbedaanya, dan Zara juga kini sedang merintis usaha dengan Zifa. Yah Zara yang jago membuat kue akan di tugaskan di bagian dapur sedangkan Zifa yang saat ini sudah lulus sekolah akan bekerja di bagian promosi dan jualan agar produk mereka di kenal oleh masyarakat luas. Untuk sementara Zifa akan membantu usaha kakaknya dulu hingga nanti ada seseorang yang mungkin akan menggantikan dia, dan Zifa baru akan melanjutkan kuliahnya hingga nanti Bi Tini, mengabari apabila keluarga majikan ibunya membutuhkan pembantu ataupun apa, agar Zifa bisa masuk ke dalam keluarga itu. untuk mencari semua bukti-bukti yang di butuhkan untuk melengkapi semua tuduhanya hingga polisi bisa menangkap mereka dengan semua perbuatan yang mungkin mereka telah lakukan.
"Kakak apa Kak Zara ada ide nama untuk nama anak kaka?" tanya Zifa.
Zara tampak berfikir di mana saat ini di kedua tanganya sudah ada jagoan di sebelah kanan dan putri di sebelah kiri. Zara mengamati wajah dua buah hatinya yang sedang terpejam mungkin mereka tengah terlelap tidur. "Kalau Raja dan Ratu gimana Fa?" lirih Zara sembari menatap adiknya meminta masukan.
Zifa langsung membalas dengan acungan jempol. "Cantik dan tampan namanya, Zifa suka," balas Zifa dengan senyum mengembang sempura, begitupun dokrer Marni. Di mana beliau yang selama ini menjadi dokter kandungan untuk Zara.
Tidak lama pintu di ketuk, Bunda Anna masuk di mana beliau juga terlihat sangat cemas dengan keadaan Zara.
"Ya Allah apa ini anak kamu Zara? Kenapa lucu-lucu sekali," ucap Bunda Anna. Yah, sebenarnya sudah bisa di lihat dari anak-anak Zara yang terlihat seperti bule dan itu sudah bisa di pastikan bahwa yang menghamili kakaknya bukan orang biasa, dan hal itu semakin membuat Zifa makin yakin bahwa salah satu dari anak majikanya yang melakukan pelecehan hingga kakaknya hamil. Gen atau keturunan tidak akan pernah bohong, seperti itu kira-kira yang Zifa fikirkan.
"Iya Bunda," jawab Zara dengan sedikit lesu. Memang sejak beberpa hari ini Zara selalu bertanya pada Zifa siapa yang sudah menghamilinya, dan siapa yang menjadi papah dari anak-anaknya. Zifa sampai saat ini belum bisa menjawab pertanyaan dari Zara. Terlebih ia juga belum berkonsultasi dengan dokter Alwi, dokter yang selama ini mendampingi kakaknya dengan sabar melakukan terapi. Meskipun Zara sudah di tangani oleh bunda Anna tetapi dokter Alwi masih sering mengecek kondisi Zara, terlebih Alwi senang kalau datang ke yayasan di mana di sana akan di suguhkan dengan anekan kue buatan Zara. Yang bagi Alwi itu sangat lezat rasanya.
Bayi laki-laki yang mulai menggeliat hendak bangun, Bunda Anna dengan sigap menggendong cucu barunya. Bunda Anna yang mengajukan diri ingin dipanggil nenek.
Tangan Zara yang kanan mengusap pipi merah Ratu yang masih dengan damai tertidur. Berbeda dengan Raja yang sudah bangun dan kini sedang bermain dengan Neneknya. "Kata Bunda Anna, kalau hamil ada suami, dan kalau punya anak ada Ayahnya. Suami Zara dan Ayah dari anak Ara siapa Fa?" tanya Zara. Zifa bingung untuk menjawabnya dan tentu takut salah menjawab juga.
Bunda Anna mendekat ketika Zifa kebingungan dengan pertanyaan kakaknya. "Suami Ara nanti pulang, sekarang masih kerja jauh. Nanti pasti nemuin Zara dan anak-anak Zara." Bunda Anna mengambil alih pertanyaan Zara yang tidak bisa di jawab oleh Zifa. Meskipun di wajah Zara masih terlihat kebingungan. Dia masih sulit mengerti suami dan ayah untuk anak-anaknya. tetapi bukan berati Zara tidak memikirkan itu semua.
Zifa menatap Bunda Anna dengan penuh pertanyaan, bagaimana kalau nanti kakaknya bertanya lagi dan lagi apa nanti yang dia akan katakan dengan kakanya lagi. Kalau terlalu berbohong nanti juga jadi semakin banyak dosa yang di tumpuk.
"Bun, kalau nanti Kak Zara bertanya lagi gimana?" tanya Zifa.
"Nanti akan Bunda bicarakan dengan dokter Alwi, kamu coba tenang saja dan fokus dengan ponakan kamu dan usaha kue kalian, karena setelah ini Bunda semakin yakin kalau toko kue kalian akan semakin laris." Bunda Anna menenangkan Zifa, dan seperti biasanya asal bunda Anna sudah bilang semuanya kan baik-baik saja maka Zifa juga akan percaya begitu saja.
"Raja dan Ratu." Zifa yang sedang menggendong ratu dengan hati-hati langsung terfikir nama buah hati kakanya untuk sebuah nama toko kue yang akan meleka rintis setelah kakanya pulih paska lahiran.
"Semoga kelahiran kalian adalah sumber dari kebahagiaan kita yang sudah lama hilang. Semoga kalian adalah lentera di tengah jalan kegelapan kami. Kalian adalah malaikat penolong buat kami," lirih Zifa.
Semua duka semua derita yang selama ini tante dan Mamah kalian alami akan sirna dengan hadirnya kalian. Semoga kalian adalah jawab dari harapan kami. Harapan agar kami mendapatkan keadilan. Harapan agar kalian tahu siapa ayah kalian.
Memang Zara sudah banyak mengalami perubahan meskipun Zara belum bisa mengingat kejadian di mana ibunya meninggal dan kejadian dia di per-kosa. Semuanya seperti manusia amnesia sehingga Zara tidak bisa mengingat kejadian di man dulu dia alami.
Zara hanya bisa mengingat kejadian baru-baru ini, terutama rezep masakan. Hari-harinya selama ini diisi dengan latihan memasak dan belajar mengingat sesuatu terutama ingatan kebelakang, tetapi hal itu masih belum membuahkan hasil. Hanya memasak dan membuat kue yang Zara ingat.
Berkat usulan dokter Alwi dan pengurus yayasan akhirnya Zara dan Zifa berencana membuat toko kue, untuk mengisi hari-hari Zara. Serta terus memancing ingatanya.