Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 107


Suara sorak bahagia terdengar dari satu anggota keluarga, yaitu Abas, Orlin dan juga kedua mertuanya dan juga mamih serta papih dari Abas. Mereka bersorak karena ada kabar yang teramat bahagia, di mana kehamilan Orlin yang berusia lima bulan, dan setelah hari ini melakukan check kehamilan mereka, hasil dari check itu adalah mengatakan bahwa jenis kelamin bayi Abas dan Orlin adalah laki-laki.


Kebahagiaan yang datang hingga berkali-kali lipat. Untuk Abas bisa mendapatkan anak saja sudah kebahagiaan yang sangat besar, di mana dari pernikahan sebelumnya mereka tidak memiliki keturunan. Padahal usia pernikahan mereka sudah berjalan sepuluh tahun. Sekarang kebahagiaan itu bertambah dengan kabar anak mereka yang berjenis kelamin laki-laki,  bak mendapatkan durian runtuh, itu mungkin gambaran kebahagiaan mereka yang luar biasa besar.


"Selamat yah Sayang... selamat..." ucapan selamat tidak henti-henti Orlin terima baik dari mertua dan juga orang tuanya sendiri. Tidak ketinggalan tentunya suami yang setia dan selalu siap sedia apabila Orlin membutuhkan sesuatu, dan juga Abas sangat siap apabila istrinya yang sedang hamil menginginkan sesuatu.  Bahkan dalam otak Abas sudah terencana kalau laki-laki itu akan mengadakan syukuran yang sangat meriah pastinya untuk merayakan kehamilan Orlin.


"Apa Mamih bilang, kamu cerai sama wanita mandul itu malah dapat berkah kan. Coba kamu terus bertahan dengan wanita itu yang ada Mamih dan Papih tidak akan pernah merasakan menggendong cucu dari kamu,"sungut Eira, siapa lagi yang mereka omongin kalau bukan Lyra. Memang Lyra tidak ada di rumah mewah nan megah milik keluarga mantan suaminya.


Namun, otak Lyra yang sudah terbiasa dengan perlakuan kurang baik dari mantan keluarga suaminya juga tidak tinggal diam, justru para pegawai di rumah mewah itu dengan suka rela selalu melaporkan apa yang terjadi di dalam rumah mewah itu. Seperti saat ini diam-diam ada yang merekam percakapan mereka untuk diadukan pada bos mereka yaitu Lyra. Per-setan apabila ada yang mengatakan dengan adu domba yang terpenting Lyra tahu sejauh mana kebusukan mereka.


Yah, jelas busuk. Bagus di luar dan busuk di dalamnya. Mereka berkomunikasi dengan Lyra sangat manis seperti beberapa waktu dekat ini.  (Wah selamat yah Lyra, kamu memenangkan penghargaan. Mamih ikut senang semoga kamu juga cepat dapat jodoh pengganti Abas dan bisa hamil seperti Abas dan Olin saat ini) Itu pesan yang mantan mertuanya kirimkan setiap Zifa memposting tentang pencapaian mereka.


"Iya mih, Abas sekarang seneng banget karena akhirnya Abas akan punya anak. laki-laki lagi. Kebahagiaan yang sempurna. Orlin memang istri yang sempurna." Abas dengan tidak tahu malu memcium dan bermesraan di hadapan mertua dan orang tuanya sendiri. Dan mereka pun seolah sudah biasa ketika melihat pemandangan seperti itu. Justru mereka senang dengan pemandangan itu, dan itu seolah menandakan bahwa mereka berhasil melakukan perjodohan.


Dua keluarga yang sedang sangat bahagia pun sekarang sedang sibuk dengan urusan pesta menyambut kehamilan anak Abas dan juga Orlin. Bahkan pesta yang akan mereka rayakan untuk saat ini akan lebih meriah lagi dibandingkan pesta pernikahan mereka sendiri kemarin.


Seolah mereka tidak akan rugi dengan menghambur-hamburkan uang dengan nominal yang tidak sedikit. Semua keluarga kerabat dekat maupun jauh akan diundang di acara mereka. Eira pun tidak ketinggalan memberi kabar pada dua putranya untuk pulang diacara yang akan mereka adakan itu.


*****


Ditempat yang berbeda Ghava yang sedang makan bersama Zifa terkejut ketika mamihnya ingin melakukan hubungan telepon. Cukup lama Ghava menatap layar ponselnya yang menunjukan nama mamihnya telepon.


"Kenapa nggak diangkat?" lirih Zifa ingin tahu gimana Ghava apakah mau mengangkat telpon dihadapanya terutama ini dari mamihnya. Mungkin saja Ghava tidak nyaman kalau harus mengangkat telepon mereka dihadapan Zifa. Mungkin takut akan ada rahasia yang terbongkar.


Ghava tersentak kaget ketika mendengar  ucapan Zifa. "Malas sebenarnya kalau angkat telpon dari Mamih, pasti urusanya ribet," balas Ghava dengan menunjukan rasa tidak sukanya.


"Angkat ajah siapa tahu mau di kawinin dengan calon tunangan kamu," ucap Zifa ketus.


"Aku akan buktikan sama kamu Fa, kalau aku hanya cinta dan ingin kamu yang menjadi pendamping aku. Aku nggak suka wanita yang Mamih sediakan untuk aku. Aku ingin menikah hanya dengan wanita pilihan aku," ucap Ghava dengan nada yang dingin. Zifa pun tahu kalau Ghava memang serius dengan ucapannya.


"Angkat ajah, telpon dari Mamih kamu. Pengin tau mau ngomongi apa." Zifa kembali meminta Ghava untuk mengangkat telpon mamihnya. "Kalau tidak diangkat dan itu tandanya ada rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Ifa,"


Sontak tanpa pikir panjang Ghava mengangkat telpon dari mamihnya. "Ghava, kamu pulang segera ke Jakarta yah, akhir pekan ini Abang kamu Abas akan mengadakan syukuran anak yang di kandung oleh Orlin, anaknya laki-laki kita semua akan mengadakan syukuran yang besar. Kamu dan Kemal harus, dan wajib pulang kita akan buat syukuran yang paling meriah buat calon anak abang kamu," Suara Eira langsung terdengar dengan kencang, terlebih Ghava loadspeaker percakapan antara ia dan mamihnya, karena Ghava tidak ingin Zifa mengira bahwa dia ada yang di sembunyikan diantara keluarganya.


Sementara Zifa yang mendengar ocehan tidak berfaidah itu pun hanya menyunggingkan senyum sinis. "Baru dalam kandungan, anak laki-laki udah heboh luar biasa, belum tahu kan anaknya normal kah, atau malah nanti keguguran, atau mungkin nanti akan sama dan lebih parah kondirinya dari kakak Zara. apa mereka akan terima dengan anak itu. Lihat dua ponakan aku normal semua, dan juga pintar cantik dan tampan apakah ada niat untuk mengakuinya?" Hati Zifa kembali bergemuruh mengingat perlakuan keluarga itu.


"Semua percakapan Ghava dan mamihnya Zifa dengar, dan dari nada yang Zifa dengar Ghava memang sepertinya tidak menyukai usulan maimihnya untuk pulang ke Jakarta, terlebih yang mengatakan tentang baju couple dengan Wina dan lain sebagainya, Ghava di mina harus dekat dengan Wina dan harmonis. Zifa hanya diam saja tetapi tetap dalam hatinya ia mengumpat juga. Karena tidak menyukai cara Eira memperlakukan calon bayi yang saat ini tengah di kandung oleh Orlin.


Setelah Eira yakin kalau Ghava akan pulang dan juga tentunya diacara itu ia akan bertemu dengan tunanganya dan pasti akan berbahagia. Zifa masih diam saja masih kesal dengan perlakuan keluarga itu . "Pantas Mba Lyra ingin segera membuka borok keluarga itu, ternyata memang sangat menyebalkan. Ghava, Kemal sih baik, tapi kalau punya mertua kayak mereka jijik amat," dengus Zifa dalam batinya. Untuk menikah dan memiliki mertua semacam itu saja sangat menjijikan, apalagi harus benar-benar kenyataan.


"Aku tidak akan datang," ucap Ghava sembari meletakan ponselnya dengan malas.


Zifa pun langsung tersentak dari lamunanya, ketika ia mendengar ucapan Ghava. Sedangkan dia tadi bilang dengan mamihnya kalau dia akan pulang, bahkan Kemal yang ada di luar negri ajah di wajibkan datang lalu kenapa Ghava malah tidak ingin datang.


"Kenapa, tadi bukanya kamu bilang akan datang sama mamih kamu," balas Zifa, padahal Zifa biasa saja, dan dia mencoba mengerti dengan yang terjadi dengan drama keluarga itu karena Zifa juga sedikit banyak tahu dengan kondisi semrawudnya keluarga itu.


"Aku nggak mau menyakiti kamu, aku hanya ingin kamu seorang yang jadi kekasih aku, dan itu berati tandanya aku juga harus menjaga perasaan kamu bukan," ucap Ghava dengan pandangan mata menatap penuh serius pada Zifa.


"Tapi kalau nanti mereka tahu kamu tidak datang hanya untuk wanita miskin dan yatim piatu seperti aku, malah kamu tandanya mempersulit posisi aku," balas Zifa, belum benar-benar semuanya berjalan saja hidup Zifa seolah sudah terlilit dengan banyaknya masalah yang nantinya akan menghadang.


...****************...


Teman-teman sembari menunggu kelanjutan kisah Ghava, dan Zifa. Yuk mampir ke karya bestie othor, di jamin pasti akan baper...


Kuy ramaikan....