
Kemal menghirup nafasnya dalam ketika ia baru saja tiba di bandara. 'Semoga saja kepulangan aku tidak akan ada masalah,' batin Kemal, ia sebenarnya sudah berniat akan meminta kebijakan dari wanita yang telah melahirkannya. Sebenarnya seperti yang udah-udah laki-laki itu tidak ingin kuliah di luar negeri, ia sebenarnya hanya ingin kuliah di dalam negeri saja. Bagi Kemal kuliah di mana sama saja asal dia memang benar-benar niat belajar dengan benar, maka hasil akan tetap bagus.
Perjalananya yang memakan waktu belasan jam tidak ada masalah yang berarti Kemal pulang tepat waktu sesuai yang dijadwalkan. Tanpa membutuhkan waktu lama kini Kemal sudah sampai di depan rumah mewahnya. Ia memang sengaja tidak memberi kabar kepulangannya kapan, itu semua karena ia ingin memberi kejutan pada keluarganya. Benar saja kepulangan Kemal berhasil membuat kejutan untuk keluarganya.
"Kemal... Sayang kenapa kamu pulang tidak memberi kabar pada Mamih, atau paling tidak minta jemput gitu, biar Abang kamu kan bisa jemput," ucap Eira dengan antusias, senang sekali, berkat kehamilan Orlin kini keluarganya akan berkumpul bersama.
"Tidak usah Mih, lagian Kemal bukan anak kecil lagi sekarang usia Kemal sudah dua puluh empat tahun jadi untuk pulang dengan naik taxi sendiri sudah berani." Kemal pun akhirnya berkenalan dengan Orlin, sang kakak ipar yang sebentar lagi akan memberikan ponakan ditengah-tengah keluarganya yang sudah sangat merindukan hadirnya cucu di keluarga ini.
Kemal akui Orlin memang wanita idaman Abas, yah Abas memang suka dengan wanita yang montok seperti Orlin apalagi kehamilannya menambah besar aset-asetnya.
"Coba Ghava pulang juga pasti rumah ini akan semakin ramai," ucap Mamih, sangat menyayangkan kalau Ghava yang bekerja di luar kota malah belum pulang. Kemal saja sudah sampai di rumah yang berkuliah di luar negri. Justru Ghava yang di luar kota belum pulang.
Kemal pun tampak heran. 'Bukanya Ghava udah pulang duluan, kan sudah dua hari yang lalu dia bilang kalau bakal pulang, tapi masa sih belum sampai rumah,' batin Kemal, laki-laki itu mulai curiga bahwa ada yang disembunyikan dari abangnya itu. Apalagi bisa-bisanya keluarganya belum tahu kalau Ghava belum pulang dan menuduh kalau Ghava masih berada di luar kota.
'Aku harus cari tahu apa yang sedang disembunyikan oleh Ghava,' gumam Kemal dalam hatinya lagi.
Setelah bercengkrama dan berbasa basi dengan kakak iparnya yang baru, Kemal pun menarik diri lebih dulu untuk istirahat. Cape, dengan alasan itu Kemal berhasil lebih dulu pergi istirahat ke dalam kamar. Langkah pertama adalah melemparkan tubuhnya keatas kasur yang empuk.
'Aduh kangen banget sama kasur ini, apalagi sama kamar ini. Biarpun ada yang lebih empuk dan lebih nyaman dari kasur ini, tetapi tetap kasur sejarah ini yang paling nyaman.' Kemal berguling kesamping dari ujung kanan dan ujung kiri, menikmati kasur kesayangannya.
Setelah cukup lama ia merasakan nyaman rebahan di kasur kesayangannya, kini tangannya meraih ponselnya dan nomor abangnya yang jadi tujuan utamanya, mungkin setelah berkomunikasi dengan Ghava ia akan bergantian dengan pujaan hati, Zifa. Obat lelahnya.
Dilain tempat Ghava masih terbaring lemah di atas ranjang pasien, dan Zifa masih dengan sabar menemaninya. Tentu Zifa sesekali berkomunikasi dengan orang-orang toko dan juga Lyra yang saat ini berada di rumahnya bersama dengan dua keponakannya yang ganteng dan cantik.
'Ternyata ada untungnya juga Ghava sakit sehingga Mba Lyra bisa tetap ketemu dengan Raja dan Ratu. Pasti kalau Mas Ghava tidak sakit sekarang bisa jadi yang bermain dengan duo kembar adalah Mas Ghava,' batin Zifa.
"Fa, minta tolong dong, kayaknya ada yang telpon deh," ucap Ghava. Zifa pun baru ingat kalau ponsel Ghava masih ada di tasnya. Zifa terkejut ketika melihat nama sang pemanggil. 'Kemal' padahal sejak tadi ia juga berkomunikasi dengan nama si pemanggil itu dan Zifa juga sudah tahu kalau Kemal sudah sampai di Jakarta.
"Siapa Fa?" tanya Ghava ketika melihat Zifa seperti kaget dengan melihat ponselnya.
"Oh, iya sini mungkin ada yang penting." Ghava mengulurkan tangannya, meminta ponsel yang masih di genggaman tangan Zifa. Tanpa menunggu lama Zifa pun langsung memberikan ponselnya pada kekasihnya, dan karena kekepoan yang tinggi Zifa berpura-pura duduk di samping Ghava dengan tangan memainkan ponselnya. Padahal kuping Zifa di gunakan dengan sangat baik untuk mendengarkan percakapan di antara Ghava dan Kemal. Mungkin saja Zifa bisa menemukan info yang penting buat kasus yang sebentar lagi Zifa yakin bakal naik kepermukaan.
Bukti sedikit demi sedikit sudah mulai bermunculan, terutama dari asisten rumah tangga di rumah itu, tentu Zifa mendapatkan dari Lyra, yang diam-diam bekerja sama dengan hampir seluruh pekerja di rumah itu, dari satpam, asisten rumah tangga hingga tukang cuci di rumah itu semuanya adalah teman Lyra. Sehingga ada info apapun Lyra pasti akan mendapatkannya. Termasuk acara meriah yang akan mantan mertuanya adakan, untuk menyambut kehamilan Orlin.
Zifa pun menjulurkan ponsel Ghava yang sedang ada di dalam genggamannya. Kemudian dia pun mengambil duduk di samping Ghava, pura-pura bermain ponsel tetapi tentu telinganya mendengarkan apa yang kira-kira terjadi percakapan antara kekasihnya dengan adiknya, Kemal, yang mana Kemal adalah selingkuhan Zifa.
Telinga Zifa dengan tajam mendengarkan percakapan antara Ghava dan Kemal, kini Zifa sudah tahu kalau Kemal sudah tiba di Jakarta juga.
[Bang loe lagi di mana sih? Kok gue udah pulang ke rumah Mamih dan juga keluarga tidak ada yang tahu kalau loe udah pulang. Bukanya kemari loe bilang ke gue kalau loe sebentar lagi melakukan penerbangan ke Jakarta?] cecar Kemal.
[Gue udah pulang tapi malas pulang ke rumah,] jawab Ghava dengan santai.
[Loe ada di mana biar gue nyusul loe aja malas juga ada di rumah?] ujar Kemal, dan Ghava pun memberikan alamat di mana di di rawat, dan itu tandanya Kemal akan datang kerumah sakit di mana Ghava di rawat.
Jantung Zifa bergemuruh hebat ketika wanita itu mendengar kalau Kemal akan datang, itu tandanya ia akan bertemu dengan Kemal, dan Kemal akan tahu kalau ternyata Zifa adalah kekasih dari abangnya Ghava.
'Mungkin ini memang sudah saatnya kalau semua ini akan mulai terbuka. Bukankah aku yang menginginkan berada di situasi yang seperti ini, dan mungkin ini sudah saatnya. Cepat atau lambat semuanya akan terbuka, dan lebih cepat mungkin lebih baik,' batin Zifa. Hatinya mempersiapkan semuanya. Semua perkiraan yang mungkin saja bisa terjadi. Tidak lupa tentu do'a pelindung agar ia tetap aman dari rencananya.
*******
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan Zifa dan Ghava, yuk ramaikan novel bestie othor, dijamin bikin baper...
Kuy ramaikan....