
"Kamu belum pulang Fa?" tanya Ghava dengan suara lirihnya. Zifa hanya membalas dengan gelengan lemah.
"Gimana Zifa mau pulang, kalau lihat kondisi Mas Ghava ajah drop lagi. Mungkin malam ini Ifa akan tidur di rumah sakit, buat memastikan kalau Mas Ghava tidak sakit lagi," balas Zifa.
Pandangan Ghava dialihkan pada laki-laki yang sedang duduk dengan tidak bersemangat siapa lagi kalau bukan Kemal.
"Kemal kamu sudah datang?" tanya Ghava mengagetkan Kemal yang sedang bermain ponsel, padahal Kemal juga dari tadi sedang melihat foto Zifa saat ia belum pergi keluar negeri
"Hemz... gue datang dari Jakarta sampai ke Bandung kirain loe nggak ada yang jaga, taunya loe sudah ada yang khawatirin, cewek cantik lagi, gue nyesel," balas Kemal seolah dia benar-benar merajuk.
"Jangan baper deh, sinih, gue mau kenalin loe sama Ifa, cewek gue. Sudah satu tahun lebih kita pacaran, dan Ifa kenalin dia Kemal, adik Mas, dan kemal adalah anak yang paling bandel." Ghava dengan ramah memperkenalkan Zifa, pada Kemal.
"Iya kita udah kenalan Mas, tadi pas Mas istirahat," balas Zifa, padahal sebelum kenal dengan Ghava sudah jelas-jelas lebih kenal Kemal dan Zifa.
"Oh, bagus lah, dia gimana kalau kata kamu orangnya?" tanya Ghava pada Zifa, untuk menilai Kemal, sedangkan Kemal yang berada di sebrang Zifa sejak tadi tidak berkedip menatap Zifa, yang menurut Kemal makin cantik dan makin dewasa.
"Bahkan Kemal rasanya tidak akan melepaskan Zifa demi abang'nya, ia akan berjuang sekali lagi untuk mendapkan Zifa. Namun kembali lagi kalau memang Zifa tetap memilih Ghava mungkin Kemal yang akan pergi dari negara ini lagi.
Zifa pura-pura menilai Kemal dengan pandangan dari atas kebawah dan sebaliknya dari bawah keatas.
"Kemal, baik, ganteng sama kayak Mas Ghava," balas Zifa sedangkan sebelumnya mereka berdua saling berkomunikasi lewat pandangan yang saling bertemu.
"Setandar banget yah," balas Kemal ikut nimbrung dengan obrolan Ghava dan Zifa.
'Ya memang gitu yang Ifa tau, masa harus bilang apa, perhatian, manja dan ini itu, nanti malah ada yang cemburu. Iya kan Mas?" tanya Zifa pada Ghava, mungkin lebih tepatnya meminta pembelaan.
"Fa, kamu dan Kemal pulang ajah yah, ini sudah malam nant kamu malah kecapean ingat kamu besok itu kuliah," ujar Ghava, sembari memberi kode pada adiknya untuk mengantarkan kekasihnya pulang. Kemal kembali mencuri pandangan pada Zifa.
"Kayaknya Ifa lebih baik pulang sama Beni ajah deh Mas. Biar Kemal jaga Mas di sini kasihan kan Mas kalau harus sendirian di sini. Apalagi Mas masih sakit jadi yang lebih harusnya di khawatirin itu Mas," ucap Zifa, secara tidak langsung menolak usulan Ghava, lagian Zifa juga bingung nanti kalau berada dalam satu mobil yang sama dengan Kemal otomatis jadi semakin tidak nyaman,"
'Kamu yakin tidak mau diantar oleh aku, sekalian pendekatan sama adik ipar masa nggak mau?" tanya Kemal, dan Zifa tahu kalau laki-laki itu sedang berusaha mendekatkan diri lagi ke Zifa.
"Bukan nggak mau Kemal, tetapi kasihan abang kamu nggak ada yang jaga iya kan Mas?" Zifa kembali meminta dukungan dari Ghava. Kali ini Ghava pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Zifa.
"Ya udah kamu telpon Beni saja, biar Kemal nungguin aku di sini. Lagian aku juga kurang setuju kamu pulang bareng dengan Kemal, nanti malah dia macam-macam lagi," balas Ghava dengan senyum jahil pada adiknya yang tahu Kemal juga sebenarnya pengin mengantarkan Zifa pulang.
Bruggg.... Kemal memukul pundak Ghava. "Loe mah tidak senang banget lihat gue seneng sedikit. Kasih kek sebentar buat cuci mata," dengus Kemal.
Rencana mereka benar-benar berjalan dengan lancar, sampai Ghava tidak curiga kalau Kemal dan Zifa memang sudah saling kenal.
"Zifa melihat ponselnya ketika satu pesan masuk ke dalam telepon gengamnya. 'Mas Ghava, Ifa pulang dulu yah. Besok pulang kuliah, Ifa sempatin datang kesini lagi buat lihat perkembangan Mas Ghava. Makanya yang teratur dan juga istirahat yang cukup jangan sampai sakit lagi, bikin orang cemas ajah," ucap Zifa sebelum benar-benar pulang kerumah, dan di rumah sakit Ghava di urus oleh Kemal.
"Iya Sayang, demi kamu Mas pasti akan cepat sembuh. Mas udah kangen banget sama Raja dan Ratu," balas Ghava dengan suara manja dan di bikin sesedih mungkin, tujuanya datang kesini untuk bermain dengan dua kembar malah dia harus tumbang sebelum bertemu dua anak kembar yang makin lucu.
"Ya udah, nanti di sampaikan salamnya buat dua ponakan Ifa," balas Zifa dan kini Zifa pun mau menuju parkiran, di mana di sana sudah ada Beni yang baru sampai di rumah sakit.
"Bang gue antar calon kakak ipar sampai depan boleh nggak?" tanya Kemal sebelum Zifa keluar, dan Ghava yang tidak curiga pun mengangguk itu tandanya ia mengizinkan Kemal berduaan dengan Zifa, meskipun hanya sampai lobi.
"Fa tunggu!!" Kemal langsung menahan Zifa yang sudah lebih dulu berjalan di depan, sedangkan Zifa yang sudah tahu kalau kemal akan menyusul memang mempercepat langkahnya.
Awww... Kemal menarik tangan Zifa kelorong yang tidak terlalu ramai.
"Fa, aku masih cinta kamu," ucap Kemal dengan menahan tubuh Zifa ke dinding rumah sakit.
Sontak Zifa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Kemal. " Jangan gila kamu Kemal, aku adalah calon istri Abang kamu, Aimana jadinya kalau Ghava tahu aku menjalin kasih dengan adiknya," jawab Zifa dengan suara bergetar ini adalah cara Zifa memainkan cara agar Kemal semakin percaya dan tentunya panas dengan hubungan Zifa dan Ghava. Ini cara Lyra tetapi Zifa sangat menikmatinya.
"Kita jalaninnya dengan rapih Ghava tidak akan sadar, lagian dia juga sibuk dengan pekerjaanya.
Plakkk... Kini gantian Zifa menampar pipi Kemal dengan kuat, menyadarkan laki-laki itu yang mungkin sedang tidak waras.
"Ingat yah Kemal, meskipun aku tidak sepenuhnya cinta dan sayang dengan abang kamu tetapi aku sudah nyaman dengan Ghava jadi jangan kamu besar kepala dan berbangga hati karena dulu aku mencintai kamu, tetapi sekarang aku sudah yakin kalau Ghava pasti lebih baik dari pada kamu," ujar Zifa sebelum Zifa meninggalkan Kemal sendirian.
Setelah itu Zifa tersenyum penuh arti, rencananya sampai saat ini bisa dia kendalikan dengan baik, dan sekarang Kemal sudah mulai masuk kedalam perangkapnya. Berati yang terpenting sekarang Zifa harus makin menunjukan perhatian padahal Ghava, tentu agar Kemal makin cemburu.
Sedangkan Kemal yang Zifa tinggalkan menjambak rambutnya dengan kasar.
"Zifa kalau aku nggak mendapatkan kamu, berati Ghava juga seharusnya tidak bisa mendapatkan kamu, rasanya aku nggak ikhlas kalau kamu itu bisa berduaan dengan Ghava sedangkan aku hanya jadi teman nyimak kamu," batin Kemal, dan laki-laki itu pun kembali keruangan abangnya, dan kembali adik yang baik dan manis.
****
Teman-teman terima kasih buat yang sudah berkenan mampir, sembari menunggu Kemal dan Ghava serta Ifa up yuk mampir ke karya besti othor di jamin bikin baper sampai luber-luber...
Kuy ramaikan....