Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Modal Dusta


Uhukkk... Uhukkk... Ghava langsung terbatuk begitu mencoba satu sendok makanan yang Zifa sebut dengan nama seblak. Tanganya langsung menyambar air putih yang ada di atas meja. Setelah segelas air putih berhasil mengisi perut Ghava hingga terasa penuh perutnya, tetapi rasa pedas di dalam mulutnya belum juga menghilang. Wajahnya merah padam karena rasa  pedas yang bagi Ghava sangat membakar tenggorokan.


"Mas, Mas Ghava enggak apa-apa?" tanya Zifa yang panik ketika melihat wajah Ghava yang seperti terbakar itu. Zifa coba mengambil buah di dalam lemari pendingin. Satu potong melon Zifa ambil mungkin dengan memakan buah melon rasa pedas di mulut Ghava akan  sembuh.


"Mas, coba makan buah, mungkin pedasnya akan sembuh." Zifa menjulurkan satu piring melon yang sudah di kupas dan dipotong-potong itu.


"Terima kasih, Fa." Ghava yang matanya merah dan seperti mau menangis karena kepedasan langsung meraih piring berisi buah dan memakanya. Setengah piring buah sudab berpindah ke perut Ghava, dan kali ini dia merasakan mulutnya sudah mendingan, meskipun masih ada sisa panas di pinggiran bibirnya.


"Fa, itu makanan apa sih? Kenapa rasanya aneh sekali dan kenapa kamu makan-makanan seperti itu sih Fa, lebih baik kamu jangan makan kaya gitu lagi Fa. Sayang usus dan lambung kamu, nanti kamu malah sakit." Ghava langsung menceramahi Zifa yang ada- ada ajah makan dengan makanan seblak yang rasanya memboom di mulut.


"Ini seblak, kalau Ifa yang sudah biasa makan seperti ini enggak pedes kok Mas," jawab Zifa dengan santai, dan kembali menikmati makanan yang berkuah merah itu.


Sontak saja Ghava melototkan kedua matanya. "Enggak pedes kamu bilang Fah? Ini pedes banget, bibir aku ajah sampe panas." Ghava menunjuk bibirnya yang seksi dan seolah terbakar, hal itu dapat Zifa lihat dari bibir Ghava yang merah merekah, dan pasti itu rasanya panas sekali. Zifa yang melihat bibir Ghava justru terkekeh.


"Itu karena Mas Ghava belum terbiasa makan pedas saja, jadi kayak gitu rasanya. Kalau Ifa sudah biasa makan sambal, bahkan kalau makan itu seperti hal yang wajib banget ada sambal. Jadi makanan seblak seperti ini sudah biasa. Bahkan ini kalau kata Ifa kurang pedes loh Mas," jawab Zifa dengan santai dan tanganya terus menyuapkan sendok demi sendok ke dalam bibirnya. Hal itu sontak sajah lagi-lagi membuat Ghava kembali terkaget.


Laki-laki yang saat ini duduk di samping Zifa sampai menggeleng-gelengkan kepalanya menunjukan keanehanya. "perut kamu tidak sakit kalau makan pedes kayak gitu?" tanya Ghava terus, dia sangat penasaran kenapa bisa ada yang doyan makanan dengan rasa yang pedes. Padahal rasa pedes itu sangat menyiksa baik di mulut, tenggorokan yang panas, dan juga perut yang bisa saja melakukan protes dan berakhir bolak balik ke kamar mandi. Itu yang Ghava sering alami apabila makan terlalu pedas, bahkan sampai tidak bisa tidur, karena harus bolak balik kamar mandi dan berakhir di atas ruang rawat karena kekurangan cairan.


Zifa buru-buru menggeleng dan mengusap keringat yang ada di keningnya dengan tisu. "Tidak, kan sudah biasa perutnya," jawab Zifa tanpa menoleh pada Ghava yang tatapanya sejak tadi tidak teralihkan dari wajah Zifa yang sangat menarik di pandang, apalagi dengan keringat di wajahnya.


Laki-laki tampan itu sampai lupa kalau dia juga belum selesai makanya, malahan nasinya masih banyak. Hal itu karena dia yang baru makan beberapa suap tetapi tergiur dengan makanan yang Zifa makan, dan berujung bibir terbakar.


Meskipun nasi belum habis, tetapi perutnya sudah terasa kenyang hal itu karena air putih yang sudah ia minum dengan jumlah banyak, dan melon setengah piring yang sudah ia makan.


"Udah kenyang lihat kamu makan, kayaknya enak banget lihat kamu makan Fah, sampe aku kenyang duluan. Aneh biasanya kalau cewek itu selalu perhitungan banget sama kalori yang masuk ke dalam tubuh, tetapi kamu sepertinya cuek ajah tuh dengan berapapun kalori yang masuk ketubuh kamu. Apa enggak takut gemuk ini sudah telat dari jam makan malah loh, tetapi makanan yang kamu makan sudah cukup banyak. Olahraga untuk bakar lemaknya pasti berat itu," ujar Ghava sembari menyenderkan tubuhnya di sova tanganya di rentangkan. Pandangan tetap tertuju pada wajah Zifa, yang sejak tadi mengganggu pikiraanya. Gadis yang baru ia temui beberapa jam yang lalu sudah berhasil menggelitik isi hatinya.


"Zifa dari dulu tidak pernah olahraga tuh dan juga kalau mau makan apa-apa ya makan saja, mau jam berapa pun dan tidak masalah lah kalau gendut juga yang penting menikmati hidup, ditahan-tahan pengin ini pengin itu kalau sudah waktunya meninggal ya meninggal saja," jawab Zifa dengan santai, dan perinsipnya itu sangat berbeda jauh dengan apa yang Ghava anut.


Perinsip Ghava justru sebaliknya dari Zifa, selalu memperhatikan jumlah kalori yang masuk ke tubuhnya, dan latihan otot hampir setiap hari utuk menjaga kebugaran tubuhnya.


Dua jempol diacungkan oleh Ghava dengan perinsip Zifa, meskipun sebenarnya perinsif Zifa sangat bertentangan dengan yang diyakini oleh Ghava, tetapi namanya manusia bukanya selalu memiliki perinsif sendiri-sendiri, dan Ghava tetap hargai perinsif Zifa.


"Udah Mas, jangan bahas kalori, makan itu dan jahe hangatnya di minum nanti di marahin sama dokter Alwi loh, dia dokter paling galak," ucap Zifa sembari melirik ke ruang depan di mana Alwi dan Beni sedang sibuk mendekor ruangan.


Ghava pun yang merasakan bibirnya sudah membaik bahkan rasa panas dan pedas sudah tidak ia rasakan lagi. Kembali mengambil piring yang tadi ia letakan diatas meja dan kembali memakan, makanan yang sempat tertunda. "Tau nggak Fa, tadi aku bisanya berhenti tepat dihadapan kamu'kan karena mau beli bebek bakar ini, dan tadi di dalam mobil sempat membayangan makan bebek bakar sambal hijau kayaknya enak banget, tapi malah gagal. Eh Tuhan maha baik di kasih sama kamu, enggak jad ngiler deh," oceh Ghava sembari menikmati makanannya.


"Oh iya, ngomong-ngomong Mas Ghava bisa sampai Bandung gimana ceritanya? Kayaknya Mas Ghava bukan orang yang dengan sengaja datang ke kota ini? Emang Mas dari mana dan mau kemana dan mau ngapain?" kini Zifa sudah kembali degan layar pintarnya untuk membalas pesananan yang sudah masuk dan mulai menanyakan menu yang tersedia untuk besok pembukaan toko kue Raja dan Ratu.


"Kalu aku sih tinggal dan lahir di Jakarta, emang sih datang kesini enggak tau mau ngapain dan mau kemana, lagi ada masalah ajah dengan orang di rumah, jadi ingin nenangin diri. Eh ternyata sampai di sini dan ketemu kamu. Berhubung sudah sampai Bandung, jadi rencananya mau cari tempat buat buka usaha aku ajah kebetulan kataknya di tempat ini belum ada usaha milik aku didirikan, tetapi kalu udah ada kayaknya tidak di tempat ini. Sekarang aku pengin buka di sini biar dekat dengan kamu," ujar Ghava dengan senyum tersungging sempurna.


"Awas jangan macam-macam ingat istri di rumah, jangan jelalatan matanya, apalagi kalau sampai sudah punya anak dan pawang, kasihan keluarga Mas Ghava dan aku juga tidak mau di cap sebagai pelakor, nanti yang ada nama baik aku dan kakak aku hilang lagi," dengus Zifa, tetap berhati-hati dari pada di katai pelakor dan di fitnah padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Hahaha... pawang, ekor? justru ke Bandung mau nyari pawang sama bikin ekor yang selalu ngikutin kemana aku pergi. Aman Fa aku masih singgel kok, belum ada cincin yang melingkar di jari manisku, dan itu tandanya aku masih bebas dan boleh kalau mau mendekatin kamu buat di jadikan pawang hatiku." Ghava menunjukan dua tanganya dan menggerak-gerakanya di mana di jari-harinya aman tidak ada cincin yang melingkar.


Zifa mendengus dengan kasar. " Modus."