Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Rumah Penuh Kenangan


Zifa terus memandangi kakanya yang tengah menikmati makanan alakadarnya. Ada kedamaian ketika melihat kakanya bisa bersikap manis seperti ini, tetapi tidak jarang juga kakanya menguji dia dengan tingkahnya yang menurut Zifa sangat kekanakan.


"Kak Ara nanti selesai makan kita rapihkan baju kakak dan Ifa yuk," ucap Zifa yang sejak tadi melihat kakanya makan penuh nafsu jadi tidak bisa berkata apa-apa, hanya syukur yang terlintas dari dirinya karena masih diberikan kakak meskipun dengan kondisi yang istimewa.


"Kemana Ifa?" tanya Zara yang dia bertanya mau kemana kenapa membereskan baju.


"Kita pindah dari rumah ini yah Kak, kita akan mulai kehidupan yang baru. Kakak penginĀ  sembuh kan? Kakak mau bantu Zifa buat cari pembunuh ibu dan bapak dari anak yang kakak kandung kan?" tanya Zifa suaranya kembali berat, meskipun Zifa tahu Zara tidak begitu paham dengan ucapanya itu, tetapi mungkin ada satu kata yang bisa kakanya pahami. Zara memang bisa berkomunikasi dengan Zifa dan ibunya, tetapi kalimat yang ia gunakan adalah kalimat yang pendek. Kakaknya itu tidak bisa menangkap percakapan dengan kalimat yang panjang. Dia akan sulit mnenangkap kalimat panjang itu sehingga ia seperti orang yang tengah kebingungan. Apabila diajak berkomunikasi dengan kalimat yang panjang.


"Ibu?" tanya Zara, seolah tidak mau pergi dari rumah ini. Kakaknya seolah berat meninggalkan rumah penuh kenangan ini sama seperti Zifa dia juga berat meninggalkan rumah penuh kenangaan ini tetapi bagai manapun Zifa dan Zara harus pergi dari sini. Namun bagai mana Zifa harus membujuk kakaknya agar mau pergi dari rumah ini.


Zara biasanya apabila tidak mau sesuatu atau sebaliknya ia akan marah dan akan mengamuk, Zifa takut kalo kakaknya jadi mengamuk dan marah. Dalam isi kepalanya ia berputar mencari ide bagaimana caranya agar kakanyq mau mengikuti kemauan Zifa pindah dari rumah sejuta cerita ini.


"Ibu nanti ikut sama kita kok, kita sekarang bareskan baju yuk," ajak Zifa sembari menuntun kakanya agar mau ikut dengan dirinya. ini sudah lewat waktu tengah hari sehingga waktu untuk merapihkan semuanya tinggal beberapa jam lagi sebelum Kemal datang mereka harus sudah siap. Agar tidak ada yang melihat bawa mereka akan pergi. Yah, mereka sudah sangat-sangat seperti buronan saja. Mau keluar rumah saja Zifa seperti tidak bebas. Seperti ada yang memata-matainya.


"Ibu nanti ikut Ifa?" tanya Zara terus, bahkan pertanyaan itu entah sudah keluar dari bibir mungil kakanya sudah berapa kali. Zifa sendiri sampai bosan dan ingin memaki kakanya. Zifa belum bisa sepenuhnya mengontrol emosinya dia masih sering kelepasan terutama apabila kakaknya selalu menayakan ibunya. Sekuat apapun ia mencoba kuat dan ikhlas dengan semua ini, apabila kakaknya selalu menayakan ibunya ia akan kembali terpancing lagi emosinya. Entah bagaimana caranya nanti Zifa bisa menjelaskan pada kakaknya bahwa ibunya sudah tidak ada. Seperti kejadian tadi Zifa membentak Zara agar diam dan lanjut memilih pakaian yang Zara suka dan memisahkanya lalu Zifa akan merapihkan ke dalam tas pakeian. Baju-baju Zara banyakan yang bermotif cartun kesukaanya padahal Zara sudah dewasa dan tubuhnya sudah besar, bahkan Zifa dan Zara tubuhnya hampir seimbang tetapi pakaian yang Zara pakai rata-rata bertema kartun. Dia akan merajuk apabila pakaianya tidak sesuai dengan yang ia mau. Memang dia itu masih seperti anak-anak, tetapi tidak jarang juga Zara bisa diajak komunikasi dengan benar.


Zara yang tadi sempat di betak oleh Zifa pun diam dan kembali fokus memilih baju yang dia suka tanpa banyak bertanya ibunya lagi. Mungkin Zara marah atau apa, tetapi Zifa sangat yakin bahwa kakaknya dalam hatinya sedih karena Zifa yang sering membentaknya.


Helai demi helai pakaian mereka sudah masuk ke dalam tas dan kini rumah pun sudah sedikit rapin dan Zifa maupun Zara tuinggal membersihkan diri dan menunggu Kemal datang untuk menjemput mereka. Bahkan Zifa belum tahu kemana nanti dia akan pergi. Kemana nanti dia akan bersembunyi untuk mempersiapkan semua samapi ia bisa yakin dan memiliki bukti untuk membalas dendamnya untuk mencari keadailan. Atas meninggal ibunya dan juga kehamilan kakaknya, Zara. Mereka mungkin saat ini masih bisa bernafas dengan lega dan tidur nyenyak, tetapi dalam hati Zifa ia tetap yakin bahwa keadilan akan tetap bisa ia gapai. Meskipun nanti bakal banyak hal merintang yang menghadang di depan, Zifa akan siap dengan itu semua asalkan ibunya bisa beristirahat dengan tenang. Dan dia bisa membuat perhitungan denga orang yang telah menghamili kakaknya.


"Mih, Kemal pergi dulu yah," pamit Kemal begitu dia turun dari tangga, tetapi sepasang mata sudah mengawasinya dengan penuh selidik.


"Apa tidak sebaiknya mamih ikut dan membereskan semua ini?" tanya mamih sembari memberikan uang senilai satu miliar, yang kemari sempat Kemal minta. Dengan alasan mempertanggung jawabkan perbuatanya yang telah menabrak anak kecil hingga meninggal dunia.


"Tidak usah Mih, kali ini sajah, tolong percaya sama Kemal," ucap Kemal, meskipun kemal tidak yakin kalo mamihnya benar-benar mendengarkan ucapan Kemal. Pria berumur delapan belas tahun itu tahu bahwa mamihnya juga tengah memiliki rencana lain pasti mamih meminta orang kepercayaanya untuk memata-matai anaknya.


"Baiklah, Mamih akan biarkan kamu kali ini menyelesaikam kesalahanmu. Belajar bertanggung jawab. Tapi ingat kalo orang itu macam-macam kamu bisa meminta mamih untuk membereskanya. Mamih tidak akan segan-segan mebereskan orang itu sampai aman," ucap mamih, seolah ia tengan memberikan ancaman pada Kemal.


"Baik Mih, Mamih tenang saja, kemal janji akan hati-hati," balas Kemal sembari memasukan uang dua miliar itu ke kantong tas rangselnya. Setelah semuanya aman Kemal pun pamit dengan mamih. Aga sedikit aneh kenapa penolakan yang mamih tunjukan seolah hanya akal-akalan saja. Mamih sepertinya sangat gampang kali ini utuk dia kelabuhi.


Di mana mamih seharusnya selalu menolak bahkan tidak jarang membatalkan uang yang tidak sedikit itu, tetapi kenapa kali ini, mamih terlihat lebih pasrah dan terima saja.


Kemal diotaknya masih terus menebak-nembak kiranya mamihnya sedang merencanakan apa. Kemal tetap waspada penuh. Terlebih ketika ia melihat ada mobil yang terus mengikutinya.


"Sial gue di ikuti orang suruhan mamih," oceh Kemal dengan Naqa kesal dan memukul setir mobilnya. Kemal segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pintarnya. Ghava, yah kakaknya itu lagi-lagi akan di jadikan dewa penolong buat Kemal menyelesaikan masalah yang mamihnya buat.


Kemal sudah yakin bahwa mamihnya tidak akan mudah percaya begitu saja dengan karangan cerita kemal. Maka dari itu Kemal harus selangkah lebih cerdik dari mamihnya.