Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 106


Zifa saat ini berada di depan kamar Beni. Wanita itu menghirup nafas dalam dan membuangnya, ia merasakan kegugupan yang teramat. Setelah merasakan sedikit lega, wanita itu mengetuk pintu kamar Beni yang di dalam sana ada kekasihnya yang masih tertidur dengan damai. Cukup lama Zifa mengetuk pintu kamar itu. Namun Ghava tidak juga bangun.


"Hist... ini orang apakan masih hidup, atau jangan-jangan nyawanya udah kabur. Nanti kalau ada apa-apa di rumah ini malah aku yang disalahkan lagi," gerutu Zifa di depan pintu kamar Beni. Zifa yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana ia pun mendorong pintu dengan perlahan.


"Tidak di kunci," gumam Zifa, yah meskipun Zifa dari awal sudah tahu kalau Ghava memang apabila tidur di dalam kamar Beni tidak pernah mengunci pintunya, tetap sebagai wanita ia takut kalau Ghava di dalam sana belum siap untuk menerima siapapun yang masuk.


Dengan langkah perlahan Zifa pun berjalan uantuk menghampiri Ghava yang masih bergulung di dalam selimutnya. Yah, meskipun kamar Beni tidak menggunakan Ac, tetapi cuaca Bandung cukup sejuk. Apalagi di luar sana cuaca sedikit menghitam dan seolah mengabarkan pada penduduk bumi bahwa sebentar lagi akan turun hujan.


Ditangan sebelah kanan Zifa membawa satu kantong pelastik berisi nasi padang yang baruan ia beli dari warung makan khas minang yang berada di sebelah ruko mereka.


"Mas... Mas Ghava..."Zifa dengan perlahan menepuk-nepuk tipis pundak Ghava. Bibirnya juga terus memanggil kekasihnya itu yang ternyata kalau tidur sangat sulit untuk dibangunkan. Zifa paham sih, pasti Ghava sangat kelelahan Ghava selalu bilang kalau dia kerja dengan sangat keras agar bisa segera selesai kerjaanya.


Punggung tangan Zifa mengecek kening Ghava. "Hemz... pantes tidur kayak orang pingsan. Badanya demam gini," gerutu Zifa, wanita itu langsung membuka selimut yang membelit Ghava.


"Ya Tuhan, kenapa dia tidur pakaian di lepas sih," pekik Zifa , kaget ketika tubuh Ghava ternyata setengah telanjang. Zifa buru-buru kekamar mandi mengambil air untuk kompres.


Mata Ghava terbuka, sipit, tetapi makin lama makin lebar. "Mas Ghava lagi sakit yah?" cecar Zifa ketika ia melihat Ghava bangun dengan mata menyipitnya.


"Kayaknya cuma masuk angin ajah Fa," balas Ghava dengan suara yang lemah dan juga lirih.


"Jangan kayaknya-kayakanya, tetap harus pergi berobat.  Untung Ifa datang kekamar untuk ngantar Mas Ghava makan, taunya malah sakit kayak gini coba." Mode galak Zifa yang menggemaskan berhasil sedikit meringankan sakit di pelipis Ghava yang seolah seisi kepalanya di pukulin dengan kentongan ronda.


Ghava mengangkat tubuhnya yang awalnya masih rebahan dan saat ini duduk menyandar di dinding. Bibirnya di tarik dengan sempurna dan menatap Zifa penuh kagum. Wajahnya yang cantik natural, berhasil membuat Ghava jatuh hati berkali-kali lipat. Ada rasa bangga memiliki kekasih seperti Zifa yang cantiknya alami, alis hitam alami dan bulu mata yang alami sehingga tidak ada rasa takut apabila naik motor akan lepas bulu matanya.


Wanita yang di perhatikan oleh Ghava sejak tadi pun bangun dan menghampiri lemari Beni. Kaus tipis milik Beni diambil oleh Zifa. "Nih pakai, jangan pamer tubuh mulus. Nanti mata anak gadis ternodai," ujar Zifa dengan nada yang tetap ketus, Ghava menahan senyumnya dan matanya justru menatap perutnya yang six peck dan itu semua karena laki-laki itu selain suka dengan olahraga GYM dan  pola makan yang selalu di jaganya membuat tubuh Ghava memang selalu ideal dan terjaga masa ototnya.


"Berati aku berhasil dong, kalau kamu tergoda. Fa, nikah aja Yuk! Aku udah pengin nikah nih. Pengin bikin anak kayak Raja dan Ratu juga," celoteh Ghava. Tanganya memang mengambil kaus yang Zifa berikan, tetapi tidak segera ia pakai seolah memang saat ini laki-laki itu dengan sengaja ingin membuat Zifa tergoda.


"Nih makan dulu, jangan mikirin nikah atau kawin dulu. Isi perut dulu, biar nggak sakit habis itu berobat, jangan ngoceh ngelantur ke mana-mana. Yang tadi pengin jalan-jalan padahal badan sakit kayak gini. Satu-satu napa penginya." Bibir Zifa langsung membuat bibir Ghava terdiam, bukan karena Ghava yang merasa kalah dengan ucapan calon istrinya, tetapi memang karena apa yang keluar dari bibir Zifa semuanya benar.


Ghava pun hanya bisa garuk-garuk kepala dan menyengir kuda, seolah laki-laki itu tengah menunjukan pada Zifa bahwa gigi-giginya putih dan bersih.


"Fa, aku serius sama yang aku bilang tadi, gimana kalau kita nikah ajah," lirih Ghava di tengah-tengah makan mereka yang terlalu banyak diamnya.


Zifa menatap dengan bingung pada Ghava. "Kita itu bagai langit dan bumi Mas Ghava jangan berpikiran yang aneh-aneh, karena sekuat cinta kita, diding penghalang hubungan kita itu sangat tinggi. Bahkan ter'cor dengan beton," jawab Zifa.


Lagian mana mungkin Zifa bisa menikah dengan Ghava atau pun Kemal, ibunya adalah orang yang di duga membunuh ibu Zifa, rasanya tidak akan bisa hidup dengan anak seorang pembunuh. Itu yang Zifa rasakan.


"Ya, terus kita menjalin kedekatan semacam ini untuk apa, kalau bukan untuk sebuah hubungan yang serius. Fa, kamu percaya deh sama aku. Aku benar-benar cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu, bahkan sayang banget dan perbedaan yang kamu bilang, aku tidak pernah menganggap kita ini ada perbedaan. Perbedaan si kaya dan si miskin itu sangat wajar Fa. Sangat wajar jadi kenapa kamu seolah menganggap perbedaan yang wajar di kalangan masyarakat, tapi justru kamu buat pusing," lirih Ghava, saking seriusnya laki-laki itu berbicara, ia sampai rela menghentikan makananya.


Sangat berbeda jauh dengan Zifa yang terus menikmati makanan yang ada di hadapanya. Zifa terus mengunyah makanan yang ada di hadapanya hingga habis dan bersih. Selain perutnya memang benar-benar lapar. Berpikir untuk mencari alasan menolak keinginan Ghava juga butuh tenaga.


"Terus tunangan kamu gimana? Apa kamu ingin aku di cap pelakor? Kamu ingin wanita kaya itu datang keruko ini dan mengacak-acak toko kue kami lalu menuduh aku yang tidak-tidak dan lalu kabar tentang Zifa sang pelakor tersebar ke seluruh penjuru. Usaha kue aku hancur dan masih banyak kemungkinan buruk lainya. Kamu ingin itu semua terjadi sama aku," ucap Zifa kali ini makanan dia sudah habis sehingga Zifa bisa berpikir jernih dengan alasan yang bisa ia gunakan untuk menolak permintaan Ghava.


"Tapi, aku sudah berbicara jujur, sejujur-jujurnya kalau aku tidak pernah mencintai Wina. Dia hanya wanita yang di jodohkan oleh orang tua aku, dan perasaan aku hanya untuk kamu Zifa, hanya kamu tidak ada yang lain apalagi sampai kefikiran menikah dengan Wina, hal itu tidak pernah sama sekali terlintas di benak aku. Aku hanya mencintai kamu, harus seperti apa yang aku tunjukan pada kamu agar kamu percaya bahwa dalam hati aku hanya ada kamu," balas Ghava laki-laki itu berbicara dengan sangat yakin dan tidak sedikit pun terlihat kebohonganya.


"Buktikan kalau aku hanya wanita satu-satunya untuk kamu, aku tidak mau kalau aku dapat cap pelkor atau perebut tunangan orang. Silkahkan kamu selesaikan hubungan kamu dengan Wina, dan setelah itu mungkin kita bisa dilanjutkan berbicara ke jenjang yang serius. Kalau kamu tidak bisa membuktikan kalau kamu memang bisa menyelesaikan masalah kamu berati kamu harus bisa merelakan kami salah satu.


Raut wajah Ghava sangat terlihat masam dan tentunya seperti kecewa berat. "Aku kan buktikan sama kamu, bahwa kamu adalah wanita satu-satunya yang telah mengisi relung hatiku paling dalam dan paling sepesial."


"Aku tidak begitu bisa percaya, kalau kamu belum membuktikanya."


...****************...


Teman-teman sembari menunggu kelanjutan hubungan Ghava dan Zifa.


Yuk mampir ke karya bestie othor, di jamin bikin baper...