
"Kamu serius Fa mau ke Jakarta?" tanya Bunda Anna ketika Zifa izin akan ke Ibukota. Mungkin beliau takut apabila Zifa kenapa-kenapa nanti ketika pergi ke kota kelahiranya. Di mana di sana situasi belum aman, meskipun Zifa tidak menjelaskan dengan detail apa saja yang akan dia lakukan di sana.
"Iya Bun, semuanya demi kebaikan kita, Zifa hanya ingin menemui teman Ibu, itu saja kok, Zifa tidak akan melakukan apa-apa lagi. Zifa tahu mereka masih bersiap, ditakutkan Zifa akan mencurigai kematian ini, Zifa akan tunggu sampai situasinya sudah dingin baru Zifa akan mulai mencari tahu lebih detail. Zifa juga begitu selesai urusanya akan segera kembali kesini rasanya tidak tega meninggalkan Kak Zara lama-lama," ujar Zifa, agar Bunda Anna tidak cemas dan bisa meyakini Zifa bahwa Zifa tidak akan melakukan apapun terutama yang akan membahayakan dirinya.
"Ya udah kalau memang mau kamu seperti itu, Bunda tidak bisa melarang kamu, karena itu juga demi kebaikan kamu, hanya saja Bunda meminta kamu agar kamu hati-hati dan jangan sembrono. Ingat ada Kakak kamu dan calon ponakan kamu yang sangat membutuhkan kamu. Kamu juga harus ingat ada Bunda yang sudah menganggap kalian sebagai anak sendiri, jaga diri dan selalu berhati-hati." Bunda Anna langsung memeluk Zifa dan memberikan mejangan agar Zifa selalu berhati-hati, dan tidak boleh ceroboh.
Zifa sangat terharu, karena sebegitu sayangnya Bunda Anna, padahal mereka baru kenal dalam hitungan hari.
"Kak, Ifa pamit pulang dulu yah, Kakak di sini sama Ibu yah, nanti ada Abang Alwi yang bakal temanin Kakak, untuk sementara Zifa tidak temanin Kakak main dulu," pamit Zifa pada kakaknya. Yah, meskipun Zara mungkin tidak tahu apa yang Zifa maksud tetapi rasanya kalau tidak berpamitan dengan sodara satu-satunya Zifa merasakan kurang, terlebih sekarang Zifa hanya punya Zara. Dan pelajaran yang dulu mengajarkan Zifa semakin memperdulikan Kakanya. Zifa tidak mau Zara kurang perhatian dan arahan.
"Ifa kemana? Sekolah?" tanya Zara dengan polos, ketika Zifa sudah membawa rangselnya.
"Iya Ifa akan sekolah, Kakak disini sama Ibu yah, jangan nakal dan nanti belajar ama dokter Alwi yah." Zifa mengelus rambut panjang kakanya yang hitam, dan terlihat bagus. Alwi memang malam tadi berkata bahwa untuk malam ini dan kedepanya dia akan datang, untuk memastikan bahwa Zara yang belum terbiasa dengan tempat baru tidak seperti malam tadi yang hesteris dan pikiranya terbang memikirkan hal yang membuatnya ketakutan.
Setelah memastika semuanya aman, Zifa pun pamit meninggalkan kota Bandung dan menuju kota Jakarta dengan menggunakan bus malam. Hawa dingin kota ini tidak menyurutkan niat Zifa untuk menemui temen ibunya, yaitu Bi Tini.
Perkiraan Zifa nanti sampai kota Jakarta pukul sepuluh atau paling lambat pukul sebelas malam dan nanti Zifa akan langsung datang kerumah majikan Bi Tini, beliau sudah meminta izin bahwa akan ada sodaranya yang datang malam ini, dan majikan Bi Tini pun tidak keberatan, karena sudah percaya dengan asisten rumah tangganya.
Sampai di terminal Zifa langsung menaiki taxi yang sudah mangkal di tempat itu, dengan memberikan alamat yang sudah di kirimkan oleh Bi Tini, sekarang Zifa langsung menuju kerumah itu, dan sebelumnya tentu Zifa sudah mengabarkan sama Bi Tini bahwa ia akan segera sampai di rumah majikanya.
Bi Tini pun di rumah mewah majikanya sudah mrnunggu Zifa, karena takut kalau anak sahabatnya nyasar.
Mata Zifa tertuju pada rumah yang paling mewah diantara yang lain. "Oh, mungkin ini adalah rumah majikan ibu, di mana kata ibu rumah majikanya paling mewah dan paling besar. Ternyata memang benar yang dikatakan oleh ibu majikanya sangat kaya raya. Gimana caranya aku bisa menyentuh kasta setinggi langit itu, sedangkan aku adalah rakyat miskin," batin Zifa dengan menatap terus rumah mewah itu. Tidak lama dia melihat sebuah mobil mewah masuk ke dalam rumah itu, terlihat pria tampan yang sedang menyupir, itu dapat Zifa lihat dari kaca mobil yang diturunkan sedikit. "Apa mungkin itu anak majikan ibu, yang kemungkinan besar ibu curigai sebagai bapak dari bayi yang di kandung kakak Zara," guman Zifa lagi. Cukup lama Zifa berhenti di depan rumah mewah itu, dan mengawasinya, membayangkan bagaimana ibunya menjalani hari-hari di rumah itu. Bagaimana ibunya mengakhiri hidupnya di rumah mewah itu?
"Neng, ini turun di sini atau di mana?" tanya sopir taxi yang mengantarkan Zifa.
Setelah membayar ongkos, Zifa mengenakan kerudung dan maskernya untuk masuk kerumah majikan Bi Tini, dan kebetukan beliau sudah nunggu sejak tadi di halaman depan. (Zifa untuk menutupi identitasnya memutuskan memakai penutup kepala, hijab)
"Maaf Bi, nunggu lama yah?" tanya Ifa sembari menjabat tangan Bi Tini dan memeluk dengan hangat. Nampak Bi Tini terisak pilu ketika memeluk Zifa. Sementara Zifa yang sudah sedikit mengendalikan emosinya, berpura-pura tegar, dan tidak menumpahkan air mata lagi seperti biasanya. Dalam hati pasti masih teriris sakit, tetapi di wajah Zifa sudah bisa bersikap biasa saja.
"Masuk yuk!" ajak Bi Tini dengan mengusap sisa air matanya. Dan Zifa menarik bibirnya membentuk senyum samar, mengikuti Bi Tini masuk kerumah mewah itu.
Zifa duduk di ruang keluarga sedangkan Bi Tini membuatkan minuman buat Zifa.
"Minum dulu Fa." Bi Tini menyodorkan teh hangat, dan goreng pisang untuk ganjal perut Zifa yang memang dia tidak makan apa-apa sejak berangkat ke Jakarta.
"Terima kasih Bi," ucap Zifa dengan senyum raham dan dia menyambar teh hangat, lalu meneguknya, dengan tegukan besar.
"Bi ngomong-ngomong majikan Bibi yang dulu punya anak berapa? Tadi Ifa sempat berhenti di rumah itu sebentar, dan kebetulan ada mobil masuk dan kayaknya itu anaknya, keliatanya ganteng dan masih mudah," tanya Ifa, dia tentu penasaran dengan anggota keluarga yang diduga membunuh ibu dan pemerkosa kakaknya.
"Ada tiga Fa, semuanya laki-laki tapi kalau yang satu masih ada di luar negri dia jarang pulang ke negara ini, dan kalau pulang juga jarang kerumah ini lebih memilih tinggal di rumahnya. Yang ada dirumah itu ada dua anak pertama dan terakhir yang tetakhir masih sekolah SMA, yang pertama sudah menikah, tapi tinggal di rumah itu karena permintaan orang tuanya." Bi Tini menjelaskan dengan singkat.
"Berati yang Ifa lihat tadi anaknya yah Bi? Pake jas rapih gitu, dan terlihat masih muda banget," teras Zifa semakin penasaran.
"Sepertinya Den Abas yang Ifa lihat, soalnya Abas itu kerja kalo yang bungsu sekolah jarang pulang malam. Apalagi denger dari temen kalo Den Kemal juga udah nyusul ke Belanda. Ikut Kakek dan Neneknya. Kalo Den Ghava tidak mungkin, kan dia juga masih di Belanda sama Papihnya." Bi Tini terus menjelaskan apa yang dia tahu.
Wajah Zifa langsung berubah ketika nama orang yang ia sangat kenal disebut oleh Bi tini. "Kemal," lirih Zifa, matanya tiba-tiba memanas dan tidak bisa di bendung lagi air matanya jatuh.