
Petugas medis pun datang bertepatan dengan polisi. Tubuh Zifa yang sedari tadi menahan Kemal bisa menghirup nafas lega.
"Kemal bertahanlah, kamu bilang sama aku kalau kamu mencintai aku. Ayo bertahan dan buktikan kalau kamu mencintai aku," lirih Zifa dengan tangan dan pakaianya yang sudah berlumuran darah. Ia ingin berjanji sesuatu yang lebih tetapi ia sadar betul statusnya juga istri dari abangnya.
Jahat apabila Zifa melakukan itu, rela meninggalkan Ghava yang baik, demi bahagianya bersama Kemal.
Zifa terus memegang tangan laki-laki yang sudah sangat pucat, dan tubuhnya sangat dingin. Bahkan detak jantunya sudah semakin lemah. Zifa sendiri tidak tahu kalau dia benar-benar kehilangan Kemal gimana. Wanita itu belum siap apabila harus kehilangan teman, sekaligus laki-laki yang pertama ia cintai. Bahkan sampai saat ini cinta itu masih tersimpan rapih. Meskipun Zifa selalu mengatakan tidak, tetapi pada kenyataanya Zifa dan Kemal saling mencintai.
Namun, karena hubungan keduanya terhalang dengan masalah keluarganya sehingga Zifa memutuskan tidak menerima cinta Kemal buka berarti Zifa tidak mencintainya, nama dan kenangan bersama Kemal selalu tersimpan di hati yang paling dalam.
Kini Zifa dan asisten rumah tangga dan juga kemal sendiri berada di dalam ambulance, bahkan di dalam mobil itu sangat hening yang terdengar dari alat medis yang di gunakan untuk mengontrol jatung Kemal masih berdekat atau tidak. Tanpa menunggu lama mereka sudah sampai di depan rumah sakit dan Ghava langsung mendapatkan pertolongan pertama.
"Nona duduk dulu, jangan terlalu khawatir, Den Kemal itu pasti sembuh karena Den Kemal itu laki-laki yang kuat," ucap Siti, nama asisten rumah tangga yang saat ini menemani Zifa ke rumah sakit.
Zifa pun mengikuti apa kata Siti duduk dengan perasaan yang masih cemas. Dia tidak menyangka kalau Eira akan benar-benar menembaknya. Zifa berpikir kalau Eira itu hanya mengertaknya dan tidak benar-benar menembaknya, dan juga Kemal dia tidak berpikir kalau Kemal akan mau melakukan ini demi dirinya. Gadis yang telah menghianati cintanya.
"Nona, tubuh Anda saya bersihkan dulu yah," ucap Siti yang melihat di tangan dan juga pakianya banyak darah dari Kemal yang menempel di tubuhnya, bahkan Zifa yang biasanya akan takut dengan darah, seketika itu rasa takutnya telah hilang dengan kepanikan yang menghampirinya.
Zifa menatap tubuhnya yang sangat menyedihkan bahkan rambut dan wajahnya mungkin lebih menyerupai dengan orang gila.
"Siti apa nanti Kemal akan tetap bertahan untuk hidup?" tanya Zifa pandanganya kosong entah pikiranya sedang memikirkan apa.
"Nona, Anda percayalah kalau Den Kemal pasti akan sembuh Den Kemal itu orang yang kuat," hibur Siti dengan mengusap-usap tangan Zifa yang penuh darah itu.
Siti pun dengan lembut membersihkan tangan Zifa yang banyak darah, sedangkan Zifa terduduk dengan tubuh menyender dengan lemas matanya terpejam, bibirnya terus merapalkan bacaan yang ia harapkan akan membantu Kemal untuk kuat melewati cobaan ini.
Bahkan saking paniknya Zifa dan juga Siti, sampai-sampai mereka berdua lupa kalau mereka belum menghubungi Ghava, di mana sebelum berangkat tadi Ghava menitipkan pesan kalau mereka harus segera menghubunginya apabila terjadi sesuatu.
Dari kejauhan Ghava mengedarkan pandangan mencari sosok yang sangat di kenalnya. Zifa, yah laki-laki itu begitu sampai di halaman parkir rumah sakit langsung melarikan diri dan mencari sosok yang sangat dia hafal. Bahkan ia tidak memperdulikan pengunjung lain, hingga ia beberpa kali bertabrakan dengan pengunjung rumah sakit yang lain. Untung mereka semua mencoba mengerti kondisi Ghava yang mungkin sedang panik itu.
"Mas..." balas Zifa dengan suara yang tercekat di tenggorokan, sakit seperti orang tercekik itu yang Zifa rasakan setelah mendengar suara Ghava. Ingin wanita itu membagi ketakutanya. Dengan langkah kaki yang Berat Ghava pun mengayunkan kakinya menghampiri Zifa, dan Zifa pun langsung menghambur pada sosok laki-laki yang menjadi suaminya.
Zifa menumpahkan semua sesak yang dirasakanya, semua ketakutan yang Zifa rasakan selama ini. Dia tidak ada kekuatan lain selain Ghava saat ini.
Tangan Ghava membelai rambut Zifa yang acak-acakan, bahkan dari dia bangun tidur hingga kejadian mengerikan tadi yang berlangsung sangat singkat itu Zifa tidak sedikitpun merapihkan rambutnya.
"Kamu yang sabar yah, yang kuat, semua ini pasti akan baik-baik saja. Kemal pasti akan baik-baik saja dan dia tidak akan menyerah dengan semua ini Kemal akan kuat untuk berkumpul bersama-sama kita," hibur Ghava, padahal dalam hatinya ia pun sama merasakan ketakutan yang luar biasa, tetapi ia harus kuat. Adik, abang dan mamihnya sangat membutuhkan tenanganya ia harus kuat demi mereka.
"Aku takut kalau Kemal akan menyerah dan semua ini karena aku. Aku hutang nyawa dengan dia," lirih Zifa dengan tatapan yang sangat menyedihkan sekali.
"Kamu tidak boleh sedih, dan kamu harus kuat ingat tujuan kamu masuk ke dalam keluargaku adalah untuk mencari keadilan, dan tinggal selangkah lagi keadilan itu akan kamu dapatkan," lirih Ghava, ia sangat sakit mengatakan itu. Namun, memang semuanya terjadi atas izinnya yang membiarkan Zifa masuk ke dalam keluarganya. Mungkin kalau Ghava tidak membiarkan Zifa hadir dalam hatinya, semuanya tidak akan terjadi seperti ini.
Semuanya salah Ghava yang tidak bisa lebih peka terhadap keluarganya dan terutama mengawasi mamihnya, ia terlalu terbuai hidup dengan Zifa, dan yakin bisa melindungi Zifa, tetapi pada kenyataanya dia tidak bisa memberikan tempat yang nyaman untuk istrinya, dan menimbulkan kekacauan yang sangat besar.
"Sekarang kondisi Kemal gimana?" tanya Ghava sembari menuntun tubuh istrinya untuk duduk.
"Den Kemal masih mendapatkan pertolongan dan tadi dokter sudah meminta persetujuan untuk melakukan operasi dan Bu Zifa sudah menandatanganinya," jawab Siti yang mengambil alih pertanyaan Ghava, Asisten rumah tangga itu tahu kalau Zifa belum bisa memberikan jawaban sehingga ia yang mengambil alih pertanyaan Ghava.
Ghava menggerakan kepalanya naik turun. "Yang dilakukan Zifa sudah benar. Bi tolong belikan pakaian untuk Zifa," ucap Ghava pada Siti, terlebih melihat tubuh Zifa sangat kacau banyak darah di pakainya, Siti pun meninggalkan dua majikannya dan mencari pakaian untuk Zifa.
"Apa Mamih kamu sudah diamankan polisi? tanya Zifa, dengan posisi masih di dalam pelukan Ghava.
"Semuanya sudah sesuai prosedur," jawab Ghava dengan lemah.
"Maaf kehadiranku malah membuat keluarga kamu jadi hancur," lirih Zifa, yang bisa menangkap arti dari ucapan Ghava.
"Tidak perlu minta maaf, memang semuanya sudah harus seperti ini. Pepatah mengatkan sepandai-pandainya tupai meloncat, maka akan jatuh juga. Dari awal Mamihku sudah salah dan mungkin ini adalah akibat yang harus diterima oleh ibuku dan itu semua karena kesalahan Mamih." Ghava berusaha tenang di hadapan Zifa, tidak menyalahkan istrinya tetapi dia sendiri tidak ada henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri.