Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 164


"Tunggu aku, aku akan sembuh untuk kamu dan anak kita." ucap Kemal dengan sangat yakin. Dia sudah memutuskan kalau dia akan menyingkirkan nama Zifa dari dalam hatinya, sekarang yang harus dia puja, dan perjuangkan bukan Zifa istri dari abangnya, tetapi Wina. Wanita yang sedang mengandung anaknya.


"Kalau begitu aku akan pulang dan akan menunggu sampai sembuh." Wina beranjak dari tempatnya berdiri dan kembali menyambar tasnya.


"Terima kasih sudah datang ke sini dan membangunkan aku dengan kabar bahagia ini. Aku sangat suka karena kamu memberikan kado terindah di umurku yang sebentar lagi menginjak dua puluh tiga tahu," bisik Kemal dengan nada yang setengah bercanda.


Wina pun cukup terkejut ketika mendengar ucapan Kemal. "Umur kamu baru mau dua puluh tiga tahun?" tanya Wina, dengan mimik wajah yang  terkejut.


Kemal hanya mengagguk dengan senyum bangga.


"Astaga kenapa kamu masih kecil sekali, umur aku sudah hampir dua puluh sembilan tahun, yang artinya aku akan menikah dengan berondong?" Wina nampak lemas. 'Apa kata teman-teman aku nanti, dapat berondong, pasti bakal sangat-sangat menyebalkan.  Jadi berasa aku yang mengasuh nih bocah,' batin Wina, bahkan masalah satu persatu muncul yang di buat oleh Kemal sudah ada dalam pikiran Wina.


"Umur tidak menjamin orang dewasa atau tidak, aku akan buktikan biarpun aku berondong tetapi aku tanggung jawab, dan selalu menjadi pelindung buat keluargaku, dan yang pastinya tidak manja," balas Kemal dengan sangat yakin.


"Yah, mudah-mudahan itu akan terjadi," balas Wina dengan senyum getirnya. "Aku akan pulang karena pekerjaan aku sudah banyak menunggu." Wina pun sudah benar-benar melangkahkan kakinya untuk  kembali kerumahnya. Bongkahan batu yang seolah menghimpitnya sudah terpecahkan bahkan saat ini ia sangat merasakan kelegaan. Kakinya ringan melangkah, tidak seperti tadi yang terasa sangat berat sekali.


*******


Sementara itu Zifa di luar ruangan Kemal semakin tidak tenang, ketika Wina sudah lebih dari satu jam, tetapi tidak juga keluar ruanganya.


"Ti, kenapa Mba Wina lama sekali yah keluarnya. ini bahkan sudah jam satu jam lebih tetapi Mba Wina belum keluar juga. Kira-kira di dalam sana sedang apa yah?" tanya Zifa dengan perasaan yang semakin gelisah.


"Siti juga tidak tau Non, mungkin memang banyak yang ingin Nona Wina katakan." Berbeda dengan Zifa yang terlihat sangat panik, Siti masih terlihat biasa saja dan di masih terlihat memaklumi Wina yang belum keluar juga.


"Ishhh... Siti, Kemal itu masih koma, dan  dia juga pasti tidak akan merespon Mba Wina bicara apa. Apa kita masuk saja yah. Aku takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kemal."


"Loe, tidak usah khawatir sesuai yang dikatakan oleh gue, karena gue tidak membuat masalah," balas Wina, yang baru saja keluar dari ruangan Kemal.


Zifa nampak terkejut dengan Wina yang keluar secara tiba-tiba. "Mba Wina, maaf bukan bermaksud apa-apa aku hanya khwatir dengan kondisi Kemal saja."


Wina tertawa dengan sinis. "Iya gue tahu, loe khawatir karena takut gue berbuat jahat pada Kemal, dan loe kayak gini karena loe terlalu mencintai Kemal. Zifa apa kamu tidak puas dengan Ghava sebagai suami loe, sampai loe secemas ini sama Kemal, yang mana dia adalah adik kandung dari suami loe. Aku kalau jadi Ghava mending cari wanita lain dari pada punya istri tapi tidak bisa menghargai perasaanya. Kasihan Ghava dalam hati istriya masih ada laki-laki lain dan itu adalah adik kandungnya. Pasti dia tertekan sekali,"  ketus Wina, dan ucapanya itu langsung membuat Zifa diam tidak berkata-kata lagi.


'Apakah aku terlalu menunjukan kalau aku masih menyimpan perasaan itu,' batin Zifa, dia sudah berkali-kali berusaha tidak terlalu menujukan perasaanya dengan Kemal, tetapi di alam bawah sadarnya ia selalu mengulang kesalahan yang sama.


"Kamu di cari sama Kemal, katanya dia kangen sama kamu." Wina berjalan meninggalkan Zifa yang salah tingkah dan juga Siti.


"Kamu lihat saja sendiri, kamu masih bisa melihat, buka pintu dan masuklah, dia sudah menunggu kamu di dalam." Wina berucap sedikit lebih kencang karena jarak dirinya dan Zifa sudah lumayan jauh.


"Siti, kamu dengarkan apa kata Mba Wina, katanya Kemal sudah sadar. Ayok kita lihat!!" Zifa langsung buru-buru masuk ke dalam ruangan Kemal. Wanita itu pun mematung tidak percaya ketika ia melihat kalau Kemal memang sudah bangun.


'Kenpa bisa, Kemal bangun ketika bersama dengan Mba Wina?' batin Zifa dengan berjalan sedikit masih tidak percaya.


"Kemal kamu sudah sadar? Aku senang sekali dengan kabar ini. Aku pikir apa yang dikatakan Mba Wina tidak benar, tetapi semuanya memang benar. Aku ikut senang dengan ini semua," racau Zifa dengan wajah berseri bahagia.


Kemal membalas ucapan Zifa dengan senyum terbaiknya yang masih sedikit kaku. "Fa, aku minta maaf mulai besok yang menjaga aku cukup asisten rumah tangga saja yah, mereka bisa gantian dengan yang lain," balas Kemal, dengan suara lirihnya.


Deg!!


Jantung Zifa seolah berhenti berdetak. "Memang kalau aku yang jaga kamu kenapa?" tanya Zifa dengan heran, tidak biasanya Kemal akan seperti ini. "Bukanya kamu dulu yang sering ingin bersama aku terus, kenapa kamu sekarang seolah membatasi interaksi di antara kita?" imbuh Zifa.


"Maaf Fa, tapi kamu sudah menjadi istri dari Ghava. Sementara Ghava adalah abangku sendiri, dan yang paling tidak pantas adalah Ghava abang kandung. Aku hanya tidak ingin hubungan keluargaku hancur hanya karena satu wanita," lirih Kemal dengan nafas tersengal dan dada yang bergemuruh hebat.


Ia sadar tidak bisa memiliki Zifa, meskipun Kemal juga sadar sekali kalau Zifa sendiri juga mencintai dirinya. Namun, Ghava adalah abangnya sekalipun Ghava merelakan Zifa untuk kebahagiaanya, ia tidak akan tega melakukanya.  Terlebih Wina juga saat ini hamil dan itu karena kesalahanya. Ia harus bisa membuktikan kalau dia adalah laki-laki yang bisa tanggung jawab atas perbuatanya.


Zifa yang mendengar jawaban dari Kemal sontak kedua matanya langsung memanas. ia tidak menyangka kalau Kemal akan berkata seperti itu, tetapi Zifa juga dalam hatinya tidak menyalahkan apa yang dikatakan Kemal karena yang dikatakan laki-laki itu benar. Zifa sudah menjadi istri Ghava, meskipun selama ini Ghava diam dan itu pasti hanya di luarnya saja dalam hatinya pasti bergemuruh hebat.


"Apa semua ini ada hubunganya dengan Mba Wina juga?" lirih Zifa kali ini suaranya lebih lirih  lagi.


"Bukanya tujuan kamu masuk ke dalam anggota keluarga aku sudah tercapai, dan saat ini kamu harus lebih fokus dengan masalah ibu kamu, dan keluarga kamu. Ada atau tidak hubungan aku dan Wina, biar jadi rahasia aku dan wanita itu, yang terpenting aku melakukan ini demi kebaikan keluarga aku. Aku tidak mau keluarga aku bercerai berai. Bukanya kamu juga sangat menyayangi keluarga kamu? Aku pun sama sangat menyayangi mereka." Kemal tampak terenggah-enggah mengucapkan kalimat panjang itu.


"Baiklah aku mengerti maksud kamu, kalau gitu aku pamit. Aku akan pulang, dan semoga kamu cepat sembuh yah." Zifa berdiri dan menatap Siti dengan senyum terbaiknya.


"Siti aku niti Kemal yah, kalau ada apa-apa kamu hubungi langsung Ghava yah."


Wanita itu langsung mengambil ponsel dan juga tasnya, dan meninggalkan Kemal bersama dengan Siti.


"Benar apa kata Kemal, tujuan aku masuk ke dalam keluarga itu adalah untuk mencari keadilan, tetapi justru aku malah semakin terbawa dengan gelora asmara yang membingungkan ini." Zifa sendiri mematung di pinggir jalan, wanita itu bingung mau kemana.


"Aku belum pernah menemui pembunuh itu semenjak kejadian itu, sekarang sudah lebih satu bulan dan sidang pun sudah mulai berjalan, aku akan menemuinya mungkin dia ingin meminta maaf," gumam Zifa, kakinya melangkah ke rumah tahanan wanita yang saat ini menjadi tempat Eira menjalani hukuman.