Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 148


Eira langsung masuk ke dalam rumah anaknya. Asisten rumah tangga yang membukakan pintu pun cukup terkejut ketika ada Eira sang nyonyah besar hadir di rumah anaknya. Yah, mereka sudah tahu Eira adalah nyonyah besar mereka. Asisten rumah tangga juga tidak bisa menolak ketika sang majikan besar mereka yang datang.


"Di mana, anak pembantu itu?" tanya Eira dengan matanya yang menatap tajam asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk dirinya.


Sang asisten rumah tangga pun cukup terkejut dan bingung dengan orang yang di maksud dengan nyonyah besar mereka. "Maksud Anda siapa Nyoya?"


"Istri Ghava, di mana dia saat ini?" tanya Eira, dengan tatapan yang awas menatap ke sekeliling rumah anaknya.


"Oh Nona Zifa sedang istirahat di dalam kamarnya, karena bilang badanya sedikit tidak enak, mual dan pusing," jawab asisten rumah tangganya, itu yang memang dikatakan oleh Zifa, tetapi pada kenyataanya dia tidak merasakan itu semua, yang Zifa katakan hanyalah cara agar dirinya bisa tenang istiraht tanpa ada yang mengganggunya.


Deg!!! Jantung Eira seolah berhenti. Dalam hatinya sangat takut kalau anak dari pembantunya justru hamil, dan itu tandanya keluarganya hanya memiliki keturunan dari anak pembantu itu. Kejadian Abas akan terulang kembali. Mata Eira memanas ia sangat takut kalau nanti ia akan  memiliki cucu dari anak wanita yang sangat dibencinya.


"Bagaimana kalau wanita itu juga hamil anak Ghava, mana mereka sudah menikah." Eira pun langsung kembali terfokus dengan tujuan utamanya, yaitu memberi perhitungan pada wanita itu, bukan menyingkirkannya. Namun setelah ia mendengar jawaban dari asisten rumah tangga yang mengatakan kalau Zifa, mual dan pusing, niatnya kembali berubah.


Gimana kalau wanita itu hamil dan semua harta yang dikumpulkanya tentu akan dengan mudah dimanfaatkan oleh mereka, dan itu tandanya mereka akan naik derajatnya setelah menjadi nyonyah dari anak-anaknya. Itu yang sejak tadi mengganjal pikiran Eira.


Eira perlahan melangkahkan kakinya ke lantai dua di mana kamar anaknya berada. Ini adalah rumah Ghava, yang mana setiap sudut rumahnya bahkan Eira sangat hafal.


Tokk...Tokkk... Tokk... tangan Eira mengetuk pintu kamar Ghava yang terkunci dari dalam sana. Meskipun tanganya mengetuk dengan sedikit keras, tetapi pikiran Eira sudah terbang entah kemana. Niatnya diputar seratus delapan puluh derajat. Ia bukan lagi akan memberikan peringatan saja pada wanita itu, tetapi wanita paruh baya itu justru mengubah haluan menjadi menyingkirkan wanita itu yang ia yakini sedang hamil.


Tanganya merogoh tasnya. Di dalam tasnya memang ada senjata api, tetapi ia tadinya menggunakan alat itu untuk menakut-nakuti Zifa.


Ceklekkk... pintu kamar Zifa di buka, dengan wajah yang kusut karena Zifa memang sedang istirahat terlihat jelas oleh Eira. Cukup lama Zifa mematung mencoba mengenali siapa wanita paruh baya yang ada di hadapanya itu. Begitupun Eira cukup lama terlibat kebekuan, menatap Zifa dengan wajah lesunya.


Eira aku wanita yang tengah berdiri memang sangat cantik. Tidak heran kalau laki-laki di keluarganya memuja keluarga itu.


Brukkkk.... Eira dengan tiba-tiba mendorong Zifa dengan kuat hinga wanita itu yang tidak ada persiapan pun langsung tersungkur ke belakang. Tubuh Eira masuk ke dalam kamar Zifa, dengan cekatan tanganya mengunci pintu kamar itu dari belakang.


"Ka... kamu siapa?" tanya Zifa dengan suara yang  tercekat, kaget dan terkejut serta rasa sakit di bagian bokongnya.


"Kalian pakai susuk apa, sampai-sampai anak-anaku memuja kalian, dasar benalu, hanya anak pembantu saja ingin naik tahta menjadi nyonya. Mimpi kamu ke tinggian manusia licik dan miskin," tuduh Eira, nada bicaranya semakin tinggi dan semakin menjijihkan.


Bibir Zifa justru tersenyum dengan sinis, tubuhnya bangun dengan santai, dan tanganya menepuk-nepuk bokongnya, dan pakaianya yaang setengah lusuh, terutama bagian tubuhnya yang di dorong oleh Eira. Sehingga lebih terlihat seperti meremehkan apa yang dilakukan oleh Eira.


"Jangan mimpi kamu gadis miskin, hingga mati pun aku tidak akan sudi menjadi menantu kalian. Aku tahu apa tujuanmu datang menggoda anak-anakku, agar kalian bisa naik derajat dengan mudah kan, dan sekarang tujuan ibumu diwujudkan oleh anak-anaknya, hilang satu tumbuh satu, dasar parasit." Eira semakin dibuat geram dengan kelakuan Zifa yang baginya sangat tidak memiliki sopan satu.


Namun, Eira mungkin lupa kalau Zifa melakukan itu karena pancingan dari dirinya yang juga tidak bisa menghormati orang lain terlebih, ketika orang itu derajatnya lebih rendah dari dirinya. Eira dengan arogan akan menghinanya dari ujung kaki hinga ujung kepalanya.


"Baguslah, asal Anda tahu Nyoyah, kehadiran saya di tengah-tengah keluarga Anda adalah  karena menginginkan kematian Anda. Saya ingin menuntut keadilan dari perbuatan Anda yang keji dan biadab. Anda MEMBUNUH ibu saya dengan sangat rapih dan kebohongan demi kebohongan Anda lakukan untuk menutupi semua yang Anda lakukan. Sudah cukup sampai sini Anda bersembunyi Nyonya. Saya datang untuk menjemput Anda untuk mempertanggung jawabkan apa yang pernah Anda lakukan terhadap keluarga saya. Nyawa dibayar dengan nyawa." Zifa berbicara dengan sangat serius bahkan rasa takut pun tidak ada sama sekali mungkin biarpun dihadapanya itu adalah manusia paling berkuasa di dunia ini Zifa  tidak akan ciut.


Dia tahu betul bahwa ia tidak akan mengulang kesempatan emas ini. Di mana dia dipertemukan sedekat ini dengan pembunuh ibunya.


Hahahaha... Eira tertawa dengan renyah. "Lalukan lah, kamu ingin membunuhku kan lakukan, atau kamu ingin memperjarakan aku, maka lakukan. Kamu tidak akan bisa mewujudkan mimpi gilamu itu dasar anak tukang cuci yang tidak tahu diri. Diberi pekerjaan sampai bertahun-tahun dan malah menusukku dari belakang. Aku tidak akan melakukan kejahatan itu kalau kalian tidak dulu membangunkan macan yang sedang tidur. Kalian duluan orang miskin, kalian semua yang membangunkanku hingga rasa sabar ini hilang dan aku harus melakukan  itu semua demi nama baik keluargaku dan keutuhan keluargaku," ujar Eira dengan nada yang tidak kalah menjijihkan di dengar oleh Zifa.


Zifa membuang nafas kasar menadakan kalau dia jengah dengan ucapan Eira itu. "Memang benar apa kata orang kalau namanya maling tidak akan pernah mau mengaku, sekalinya mengaku polisi tidak ada tugasnya lagi," dengus Zifa dengan membuang pandangan keluar.


"Yah, sama seperti ibumu yang datang sebagai duri dalam pernikahan kamu, tapi apa dia mengaku? Tidak bukan dia seolah menjadi korban, tapi kenyataanya apa, dia hanyalah perusak rumah tangga orang. Dia hanyalah orang miskin yang mencoba mengoda majikanya dan dia yang bosan kerja hingga bisa menikmati apa yang kami dapatkan dengan kerja keras." Semakin Zifa memancing, semakin tertantang juga Eira untuk membongkarnya. Tidak mungkin dia menghilangkan nyawa dengan sangat gampang kalau wanita itu tidak menggoda suaminya dengan genit.


"Apa lagi ini? Inikah cara Anda agar bersih dari hukum dan kejahatan-kejahatan yang sudah Anda lakukan. Dengan mengfitnah, manusia yang sudah meninggal dunia? Dan kalau memang benar itu tandanya suami Anda adalah suami yang tidak benar, atau Anda yang tidak bisa melayaninya sehingga  suami Anda memilih ibuku untuk memuaskanya?" tanya Zifa dengan jijih pada wanita yang saat ini berdiri dengan arogan dihadaapanya.


Plakkkkk... sebuah tamparan mendarat di pipi Zifa. Panas, itu yang wanita itu rasakan. Tangan Zifa meraba wajahnya yang terasa panas karena tamparan dari Eira.


Hemmmzzz... "Kenapa marah? Apa yang aku katakan itu benar adanya? Anda tidak bisa melayani suami Anda yang Hipers*k itu sehingga suami Anda melamipaskan pada ibuku yang pandai melayaninya?" ujar Zifa dengan sengaja ia memancing kemarahan Eira lagi.


"Memang sebaiknya kamu mati, sama seperti ibumu yang murahan itu." Tangan Eira mengambil pistol yang ada di tasnya, Eira yang sudah dikuasai kemarahan karena ucapan Zifa pun tidak memberikan pilihan lagi, dibahkan tidak berpikir bahwa yang ia lakukan akan membuat ia masuk ke dalam penjara.


Yang ada dalam pikiran Eira adalah ia tidak sudi harta-hartanya jatuh ke tangan wanita yang hampir saja menghancurkan rumah tangganya, dan saat ini justru anak-anaknya terlibat hubungan dengan wanita yang di sebut ******* itu.


"Pergi keneraka dasar kau parasit!!"


Dooorrrr....


Ah... darah menyembur keluar dengan deras.