Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 82


Zifa melihat jam di ponselnya, ini sudah lebih dari jam delapan, tetapi tamunya belum juga beranjak dari tempat duduknya, dan itu tanda malam ini toko akan tutup lebih malam. Wanita yang datang ke toko Zifa saat ini sedang menyembunyikan wajahnya di atas meja dengan beralaskan kedua tangan yang saling bertumpu. Ingin Zifa menanyakan sampai jam berapa sang wanita akan tetap di toko ini? Sebab Zifa juga harus segera beristirahat karena esok pagi tentu harus kuliah lagi dan juga harus membuka toko kembali.


Bahkan Zifa dan Leni sudah selesai merapihkan meja-meja, tetapi wanita itu sepertinya tidur atau malah  ada apa-apa sehingga sejak tadi terlihat anteng tidak terusik dengan suara yang berisik ketika Zifa dan Leni membereskan meja dan lantai. Pintu dan gordeng sudah tertutup dengan sempurna tetapi wanita itu tidak juga bergerak.


"Siapa Teh?" tanya Beni pada Zifa dan menunjuk Lyra yang masih meletakan wajahnya di atas meja, sudah pasti kalau wanita itu sedang tidur pulas. Sementara Beni baru pulang setelah membuang sampah.


"Pengunjung, kayaknya dia ketiduran, kira-kira enaknya kita bangunkan atau gimana yah Ben?" tanya Zifa pada Beni, sementata Zifa juga kalau harus membangunkan tidak tega, tetapi kalau tidak di bangunkan nanti orang rumahnya mencari wanita ini gimana? Nanti malah dikira Zifa dan teamnya menculik lagi, bingung Zifa jadinya.


Beni tidak langsung menjawab, tetapi berpikir dulu, "Kalau di suruh nginap saja gimana Teh, biar tidur di kamar Beni ajah dan Beni nanti tidur di lantai bawah atau malah tidur depan ruang nonton tivi juga enggak apa-apa," usul Beni, Zifa dan Leni pun langsung saling melemparkan tatapannya, seolah mereka saling meminta pendapat.


"Coba bangunkan dulu saja Beni, mungkin saja dia mau pulang, tetapi kalau dia mau nginap di sini dan kamu mau tidur di depan ruang TV ya terserah keputusan ada di tangan kamu," imbuh Zifa, dan Beni pun melakukan yang Zifa minta, yaitu membangunkan wanita yang pakaianya sangat anggun dan terlihat mahal-mahal itu.


Beni menepuk punggung Lyra dengan pelan, "Mba... Mba... bangun ini sudah malah toko kami mau tutup," lirih suara Beni terus mencoba membangunkan wanita yang sepertinya saangat pulat tertidur itu.


Setelah cukup lama Lyra  mencoba di bangunkan, kini ia menggeliatkan tubuhnya, kedua matanya di kedip-kedipkan dan dahi yang mengerut, sebagai tanda bahwa wanita itu memang seperti belum mengenali tempat yang di jadikanya tempat tidur. Ditambah kepalanya yang melayani sedikit berdenyut dan pusing.


"Kok aku bisa ada di sini?" tanya Lyra, masih belum ingat pikiranya, terlebih sejak terbangun kepalanya menjadi sedikit berdenyut dan sakit.


Beni terhipnotis dengan wanita cantik itu dan juga tubuhnya wangi. sekali, tidak seperti dirinya yang bau sampah.


"Mba, mabok pingsan atau amnesia? Kan tadi Mba sendiri yang datang ke toko ini untuk makan kue. Nama toko ini Raja dan Ratu," sela Leni, mencoba memancing agar wanita itu mengingat memorinya.


Mungkin karena Lyra kepalanya pusing sehingga dia sedikit jadi pelupa. "Oh, iya saya ingat. Apa saya tidur di sini? Maaf kepala saya sedang berat sekali jadi ketiduran tidak berasa," lirih Lyra, sembari menunjukan rasa bersalahnya.


"Iya tidak apa-apa Mba, sekarang Mba itu asalnya dari mana, mau pulang atau gimana?" Kali ini Zifa yang mengambil alih pertanyaan dari anak buahnya.


Lagi, Lyra terlihat bingung dengan pertanyaan Zifa. "Mohon maaf kalau boleh tau ini namanya daerah apa? Soalnya saya jalan kesini hanya mengikuti apa kata hati, dan tiba-tiba sampai di depan toko Anda, dan saya kecapean juga kelaparan, sehingga saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat ini, tapi maaf sekali lagi saya malah sepertinya ketiduran di sini," Lyra mencoba menjelaskan kenapa dia bisa terdampar di tempat ini, dan berapa lama Lyra menyusuri jalanan, dan berapa kilometer jalan yang sudah Lyra tempuh.


"Hah... Bandung?" Lyra nampak kaget banget ketika laki-laki yang ada dihadapanya memberi tahu tempat yang sudah ia singgahi, pada dirinya.


Beni yang ditanya pun langsung menjawabnya dengan anggukan kuat, sebagai jawaban benar.


"Kenapa saya bisa ada di Bandung? Sedangkan saya berasal dari Jakarta," tanya Lyra, pertanyaan yang aneh memang, dia sendiri tidak tahu kenapa bisa ada di Bandung, lalu gimana temaanya mau tahu Lyra bisa sampai di kota ini, dan berhenti di toko kuenya.


"Kalau rumah Mba jauh kayak gitu, apa Mba mau tidur di sini atau malah mau kembali pulang kerumah? Tapi bukanya jarak Jakarta dan Bandung itu jauh sekali yah, kayaknya lebih baik bermalam disini, apa mau gimana? Soalnya kami mau tutup dan mau istirahat," ucap Zifa, agar Lyra segera mengambil keputusan, terlebih perempuan itu sudah cape dan sangat ngantuk, ingin buru-buru beristirahat.


Cukup lama Lyra berfikir, kalau mau pulang tidak mungkin hal itu karena Lyra ingin menenangkan pikiranya, tetapi kalau mau cari hotel juga tidak memungkinkan, selain sudah malam dia juga tidak tahu daerah sini, iya kalau nemu hotel kalau tidak malah Lyra makin nyasar.


"E... kalau saya menginap di sini apa ada tempat dan di bolehkan sama kalian?"  lirih Lyra, berhubung kepalanya yang sedikit berdenyut dan raasa ngantuk yang masih menguasai sehingga Lyra memutuskan menginap di toko ini, entah milik siapa sebab baik Zifa maupun Lyra  belum saling meperkenalkan diri.


"Kalau memang Mba mau, tadi katanya Beni mau tidur di ruang nonton TV, atau kalau tidak nanti Beni bisa tidur di ruangan bawah sini, dia laki-laki bahkan tidur di pos ronda juga tidak masalah," balas Zifa sembari mengedip edipkan matanya pada Beni dan Beni hanya menangguk saja.


"Iya teh Beni mah tidur di mana wae jadi,"  imbuh Beni. Apalagi ini demi bidadarinya, tentu akan Beni lakukan.


"Ayok Mba naik keatas soalnya kalau tempat untuk tidur di atas, disini hanya buat jualan dan bikin kuenya saja. Ngomong-ngomong Mba namanya siapa?" tanya Zifa dengan mengjulurkan tangan agar Lyra segera mengikutinya naik ke kamar.


"Nama sama Lyra, kalau Mba sendiri namanya siapa?" tanya balik Lyra pada Zifa yang saat ini berjalan di depanya.


"Nama saya Ifa dan ini naman Leni, sedangkan di toko ini ada Lena, Tasi dan Sistri sama Kakak Ara, tapi mereka sudah istirahat lebih dulu karena, nanti pukul tiga sudah mulai bangun dan bikin kue. Nanti enggak apa-apa kan kalau masih pagi sudah berisik sama alat-alat bikin kue, kalau tidak pintunya ditutup, biar tidak terlalu bising sama bunyi-bunyi dari mixser dan lain sebagainya, takutnya Mba keganggu dengan bunyi yang belum biasa," jelas Zifa, agar Lyra tidak kaget, nanti malah niatnya istirahat di ruko ini malah tidak bisa tidur.


"Salam kenal buat Mba semuanya yah. Iya nanti pintunya di tutup, dan kayaknya saya kalau sudah tidur tidak akan terganggu dengan suara gaduh Mba, segini juga saya ucapin terima kasih, karena Mba sudah mau tampung saya." Lyra pun masuk kekamar Beni dan begitu pun Zifa dan Leni hendak tidur masuk kekamar masing-masing.