
"Dok, apa yang harus Ifa lakukan agar Ifa bisa mendapatkan keadilan? Ifa takut kalau nanti salah ambil langkah, dan nasib Ifa sama dengan Ibu. Hanya berakhir sia-sia dengan kematian, dan mereka akan bersih kembali?" lirih Zifa dengan tatapan yang menunduk dan air matanya sejak tadi sudah menetes entah berapa banyak air mata yang sudah Zifa produksi hari ini.
Ghava yang saat ini duduk di samping Zifa pun sakit hatinya ketika mendengar jeritan hati sang istri. Pikirannya yang sejak saat tadi membayangkan kejahatan ibunya pun tersentak kaget dengan pertanyaan Zifa. Tangan Ghava menggenggam tangan Zifa hingga wanita itu tersentak kaget. Pandangan mata mereka bertemu. Seolah saling memberi kekuatan dan mengungkapkan kesedihan.
"Kamu tidak sendiri, ada aku yang akan melangkah kamu bersama sampai kapanpun," lirih Ghava dengan pandangan mata yang saling terkunci. Tidak hanya Zifa yang berkaca-kaca. Laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya pun matanya berkaca-kaca. Membayangkan Zifa sendiri terombang-ambing mencari keadilan untuk sang kakak dan ibunya. Ghava tidak bisa membayangkan bahwa ibu kandungnya adalah orang paling jahat.
Zifa tidak menjawab apa yang Ghava katakan, justru terkesan tidak percaya dengan ucapan Ghava. Pandanganya menatap Alwi yang saat ini juga merasakan kesedihan yang teramat. "Pergilah Fa, aku percaya Ghava bisa melindungi kamu. Zara dan anak-anaknya akan aman disini. Saya tidak akan membiarkan siapapun menyentuh mereka apalagi sampai melukai mereka. Mereka aman bersama saya," lirih Alwi, dengan yakin.
Sekuat apapun mereka menahan air mata, tetap saja rasanya dadanya sesak. Anak mana yang akan diam saja mendapatkan ketidak adilan pada ibunya. Terlebih mereka semua dengan kejam meminta ibunya meminum yang sudah pasti itu adalah racun yang merusak organ tubuh ibunya. Lalu mereka mengatakan itu racun
Zifa menghapus lelehan air mata yang membasahi pipinya. Bibirnya dipaksa melengkung membentuk segurat senyuman, meskipun sangat sakit hatinya.
"Ifa janji akan datang lagi kerumah ini untuk berkumpul dengan Kakak dan Raja serat Ratu dan kita akan bersama-sama datang ke makam ibu, untuk mengatakan bahwa orang yang membunuh ibu sudah mendapatkan hukumannya," ucap Zifa dengan suara bergetar dan berat.
"Aku tahu kamu pasti bisa mewujudkan mimpimu ini. Aku akan menjadi saksi untuk hari itu, yang segera akan tiba," balas Alwi, tatapannya tajam dan saling bertemu dengan tatapan Zifa seolah sedang memberikan energi untuk Zifa.
Setelah perasaan Zifa tenang ia pun berpamitan dengan Alwi dan mereka benar-benar akan berpisah untuk sampai kapan? Zifa sendiri tidak tahu. Mungkin akan cepat semua ini ia lalui atau bahkan Zifa terjebak dalam permainan waktu yang cukup melelahkan.
"Dok, Ifa nitip Raja dan Ratu serta Kakak Zara yah. Maaf banget kalau Zifa yang bukan siapa-siapa Dokter justru merepotkan Dokter. Ifa janji akan datang lagi ke rumah ini untuk menjemput Kakak serta Raja dan Ratu, Ifa akan hidup dengan bahagia bersama mereka, tanpa ada yang bisa mengusik lagi," ucap Zifa sebelum mereka benar-benar pergi.
Alwi menarik tubuh Zifa yang sudah ia nggak, adiknya sendiri. "Kamu jangan pernah khawatir, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mereka. Mereka akan aman bersama Abang di sini. Kamu jaga diri baik-baik dan berjanjilah akan datang kesini dengan sehat dan selamat," balas Alwi dengan tangan terus mengusap rambut Zifa, cukup lama Zifa larut dalam pelukan Alwi yang nyaman.
Kali ini Ghava yang berpamitan pada Alwi. "Va, aku nitip Zifa yah, berjanjilah kamu akan benar-benar menjaga Zifa. Dia tidak ada lagi orang yang melindunginya selain kamu. Aku percaya pada kamu kalau kamu pasti akan melindungi dia. Bantulah cari keadilan untuk Zifa seadil-adilnya meskipun pelakunya adalah ibu kandungmu sendiri aku harap kamu akan tetap berpihak pada yang di rugikan meskipun aku tahu diposisi kamu juga sangat sulit." Alwi pun menarik tubuh Ghava dan menepuk-nepuk punggungnya dengan kuat.
"Aku janji, bahkan kalau bisa ditukar dengan nyawa ini. Aku akan melakukanya," lirih Ghava dengan suara yang berat. Bisa Alwi dengar dan tahu kalau Ghava pun sedih dan ngerti bagaimana beratnya berada di posisi Zifa.
Mobil yang sudah meninggalkan rumah Alwi pun Ghava berhentikan. Tangan Ghava menggenggam tangan Zifa kali ini Zifa diam saja, dengan pandangan yang menunduk menatap tangannya yang di genggam oleh Ghava.
"Aku meminta maaf, meminta maaf untuk semua yang terjadi pada keluargamu atas semua kesalahan keluargaku. Tidak pantas aku sebenarnya meminta maaf dengan kejadian ini semua. Tapi dari dalam hatiku yang terdalam dan mewakilkan keluargaku ibu serta abangku aku meminta maaf. Meskipun aku tahu kamu tidak mau memaafkannya, tetapi percayalah aku akan menebus atas semua kesalahan mereka. Kamu jangan takut kalau kamu akan sendiri ada aku yang selalu akan menggenggam tangan kamu untuk mencari keadilan ini," lirih Ghava.
Sedangkan Zifa hanya diam saja tidak menjawab sepatah katapun dari ucapan Ghava. Maaf? Zifa dari awal tidak pernah memaafkan mereka, dan Ghava mewakilkan mereka minta maaf meskipun berkali-kali Zifa telah berjanji tidak akan pernah memaafkan. Dan biarkan mereka menanggung atas semua yang terjadi pada keluarga Zifa.
Ghava pun yang tahu kalau Zifa tidak ingin memaafkan keluarganya kembali melepaskan tangannya. "Aku tahu kamu tidak mau memaafkan keluargaku, tapi aku akan buktikan pada kamu kalau aku akan terus membuat kamu percaya kalau keadilan itu ada. Aku berjanji sama kamu, kalau kamu akan mendapatkan itu." Ghava kembali melanjutkan mobilnya, dan Zifa pun tidak ingin membalas ucapan Ghava sepatah kata pun.
Bahkan perjalanan Bandung-Jakarta yang ditempuh kurang lebih tiga jam perjalanan tidak sedikit pun Zifa mengeluarkan kata-kata, bibirnya terkunci sempurna. Meskipun Ghava sudah beberapa kali mengajaknya berkomunikasi. Namun Zifa masih tetap dengan mulutnya yang terkunci.
"Kita akan tinggal di sini, ini rumah aku dan kamu akan aman di sini," ucap Ghava meskipun ia tahu kalau Zifa tidak akan mudah mengampuninya, tetapi Ghava terus bersikap baik dan hangat pada Zifa.
Rumah dua lantai yang dijaga dengan ketat Ghava pilih untuk menjadi rumah mereka nantinya. Laki-laki itu tidak mau kalau Zifa tidak nyaman ketika tinggal bersama dengan dirinya.
Rumah mewah dengan segala fasilitas yang modern dan beberapa asisten rumah tangga Ghava pekerjakan untuk membantu Zifa mengurus kebutuhannya dan juga menemani dirinya agar tidak bosan.
Zifa menatap seisi rumah yang mewah itu. Tidak ada yang kurang satu pun. Itu adalah rumah idaman bagian semua istri, tapi lagi-lagi Zifa tidak bisa merasakan bahagia. Justru Zifa seolah berada di tempat yang mengerikan. Bukan karena Ghava, tetapi karena keluarga Ghava sendiri.
Ghava menatap Zifa yang diam mematung, seperti bingung.
"Fa kamu kenapa?" tanya Ghava dengan tepukan tangan yang lembut di pundak Zifa. Sehingga Zifa tersentak dari lamunannya.
"Aku ingin kita pisah kamar."