
Zifa panik, ketika Lyra tiba-tiba menekan ikon berwarna hijau. Sontak saja Abas langsung menyapa....
"Halloh, Tantenya Raja dan Ratu, nomor satu dihati Ghava..."
"Mba Lyra kenapa di angkat," lirih Zifa dengan suara sepelan mungkin, bahkan lebih seperti hanya gerakan mulut saja yang terlihat, tetapi Lyra tahu apa yang Zifa proteskan.
Lyra pun meletakkan jari telunjuk di atas bibir yang berwarna merah chery. Wanita itu memberi kode dari bibir dan tanganya agar Zifa membalas ucapan Ghava.
Zifa pun mengikuti apa kata Lyra. "Ngapain sih telpon..." jawab Zifa dengan jutek, seperti biasanya, apalagi sekarang wanita itu sudah tahu kalau Ghava adalah bagian dari kisah masa lalunya, tambah-tambah juteknya.
"Ya ampun jutek banget Tante Ifa itu, tapi aku suka," balas Ghava nada bicara yang gombal, bahkan Lyra di sebrang Zifa pun memainkan bibirnya untuk menggoda setiap ucapan Ghava.
Ingin rasanya Zifa memutus sambungan telponya, tetapi gadis itu teringat rencana Lyra, dan benar ketika dia ingin membalas dendam dan menghancurkan keluarga itu, bukanya dia harus rela untuk berkorban termasuk korban perasaanya. Setiap berkomunikasi dengan Ghava maka Zifa jangan memggunakan hati, agar tidak kecewa nantinya.
"Apa... apa buruan ah, ngantuk," balas Zifa tetapi justru hal itu membuat Ghava di sebrang sana semakin tertantang dengan kejutekan Zifa.
"Ponakan aku lagi ngapan?" tanya Ghava, cari pembahasan agar Zifa mau meladeninya mengobrol, inilah malam yang Ghava tunggu selalu berkomunikasi dengan Zifa, tetapi menggunakan nama dua anak kembar perempuan dan laki-laki yang sangat di cintainya.
"Yakin mau tanya Raja dan Ratu, atau dua ponakan aku hanya untuk memancing ajah, niatnya mau tanya tantenya?" tebak Zifa, dan tebakanya itu tentu benar dong.
"Aduh, ketahuan deh kalau aku sebenarnya mau tanya tantenya. Tante Zifa, yang cantik lagi ngapain?" tanya balik Ghava dengan suara di bikin selembut mungkin.
"Dih, jijey banget gayanya ngeselin. Aku lagi duduk ajah sambil nunggu telpon dari tukang gombal," balas Zifa yang membuat Ghava langsung terbang ke langit ke tujuh. Seketika dia berasa jadi manusia paling bahagia.
Malam ini pun entah di habiskan berapa puluh menit untuk mengobtol entah apa yang penting nyambung, dan Ghava pun di tempat yang berbeda dengan Zifa semakin yakin bahwa Zifa memberikan lampu hijau untuk dia mendekatinya.
"Mas Ghava udah dulu yah, kan Zifa ambil kuliahnya pagi, jadi mau istrirahat dulu." Zifa berinisiatif untuk mengakhiri obrolan, bahkan ponselnya makin panas, tetapi Ghava masih saja senang untuk merayu Zifa, dan Zifa pun dengan disemangati oleh Lyra akhirnya masih mau meladeni telpon Ghava.
Mungkin ini adalah telpon terlama yang Ghava dan Zifa lakukan, biasanya tiga puluh menita saja Zifa sudah teriak-terik terus agar Ghava sudahan ngobrol dengan dua ponakanya. Tetapi malam ini justru mereka berkencan lewat ponsel.
"Baiklah Zifa, selamat bobo dan selamat belajar yah besok kuliahnya, jaga mata dan jaga hati yah Zifanya Ghava," balas Ghava dengan percaya diri.
"Bagaimana kalau jodoh aku adalah salah satu dari mereka? Apa aku bisa memaafkan yang terjadi pada keluarga aku, apabila ternyata keluarga mereka adalah pembunuh dan pemerkosa kakak aku," batin Zifa. Kepalanya berdenyut, bukan mengantuk tetapi justru dia semakin terbang pikiranya entah kemana.
"Kamu kenapa Fa? Pusing?" tanya Lyra yang melihat Zifa menjambang rambutnya.
"Ifa hanya bingung Mba, bagaimana kalau tadir menggariskan aku berjodoh dengan salah satu anak mertua Mba, di mana Kemal juga pernah menyatakan cintanya pada Ifa, bahkan jauh sebelum ibu meninggal dan saat ini Ghava juga terlihat sekali menginginkan Zifa. Kenapa takdir itu sulit di tebak," lirih Zifa, ingin menjerit mengabarkan pada seluruh penjuru lewat angin malam bahwa ia sedang di landa kebingungan.
"Loh, bukanya itu bagus, tapi yang terpenting kamu fokus dulu dengan niat kamu, pokoknya jangan campur aduk niat balas dendam kamu dengan perasaan, kalau kamu memang sudah tahu siapa pelakunya dan mereka sudah bisa mendapatkan balasanya, kamu mau menjalin dengan salah satu diantara mereka kenapa tidak. Jujur yah Fa, sebenarnya anak-anak Eira itu baik-baik dan menghargai orang lain. Yang super ngeselin itu emaknya. Makanya kalau memang emanknya adalah pelaku pembunuhan ibu kamu, mengingat siang itu yang berada di rumah itu adalah Eira. maka usahakan dia masuk jeruji besi dan kamu menikah dengan anaknya tidak akan ada yang mengganggu kalian bisa bahagia. Aku juga kalau bukan hasutan dari mertua da-jal itu juga bakal bertahan dengan Abas, tapi karena ada Mak lampir jadi malas mempertahankanya, yang ada hanya sakit hati," balas Lyra, masih dongkol dengan orang-orang itu.
Mereka pun setelah saling sharing dan memberikan solusi mulai beranjak ke kamar masing-masing, lagi-lagi Lyra tidur di kamar Beni. Sementara Beni seperti biasa sudah tertidur di lantai bawah dengan kasur lantai seadanya dan berselimutkan sarung.
Yah, tadi sebelum Lyra masuk kekamar laki-laki itu, wanita itu lebih dulu kedapur untuk mengambil minum dan melihat laki-laki itu tidur dengan nyenyaknya, terlihat sangat memprihatinkan.
"Sepertinya aku besok harus beli kasur yang lebih layak untuk tidur Beni, kasihan masa dia tidur hanya dengan kasur tipis dan selimut sarung, mana kota Bandungkan dingin sekali. Nanti kalau masuk angin malah kasihan. Tangan Lyra kembali meraba-raba bawah bantal di mana kemarin terakhir dia menginap di sini, menemukan buku catataan laki-laki itu dan banyak gambar yang berbakat.
"Ah, akhirnya ketemu juga," ujar Lyra, di bukanya lembar per lembar buku itu, dan benar dugaanya sudah menambah beberapa gambar, padahal ia tidak ke kamar itu baru satu minggu tetapi gambarnya sudah cukup banyak.
"Tunggu kok ini kayak gambar aku sih?" Kedua mata Lyra mengawasi gambar yang segaja di lipat dan setelah diamati semakin detail, itu memang gambar Lyra.
"Iya ini gambar wajah aku, tetapi kenapa laki-laki itu menggambar wajah aku dan kapan dia menggambarnya," batin Lyra, bukanya marah karena Beni telah lancang menggambar wajahnya tanpa izin, Lyra justru merasa terharu terlebih gambarnya sangat bagus.
"Aku akan izin minta gambar ini deh buat pajangan di rumah, gambarnya bagus, padahal sepertinya hanya menggunkan pensil tapi gambarnya tetapi hasilnya juara," ucap Lyra terus menatap gambar hasil tangan Beni.
"Tunggu kok ini di belangnya ada lukisan dia sih, dia tampan sih sayang masih brondong dan culun," kekeh Lyra masih teringat foto yang minggu kemari ia lihat, tetapi kali ini Lyra mencoba mencari-cari foto itu tidak ada. "Apa mungkin laki-laki itu sudah menyadarinya dan menyembunyikanya, padahal itu foto lucu." Lyra belum mengantuk dan masih mengamati buku yang berisi gambar-gambar hasil tangan Beni yang di buat hanya bermodalkaan kertas dan pensil, tapi untuk hasilnya jangan diragukan lagi selalu memanjakan mata.
Seperti saat ini mata Lyra sedang di manjakan oleh hasil lukisan Beni yang terlihat sangat simpel menggambarkan gadis tengah bersedih tetapi terlihat sekali pesan yang terlihat dari lukuisan itu. Lyra bahkan bersemangat ketika akan datang ke Bandung dan akan bermalam di kamar Beni, tujuanya dan yang membuat semangat adalah gambar-gambar yang Beni buat, bahkan bisa melupakan sedikit keruwetan dia di Jakarta.
Sama seperti malam sebelumnya setiap selesai melihat gambar-gambar yang Beni buat pasti Lyra tertidur dengan masih memegang buku itu.
"Ga apa-apa yah Beni bukunya dulu yang saat ini tidur dengan Lyra, siapa tau nanti kamu berjodoh dengan si janda."