
Setelah merasa cukup berbicara dengan dokter Alwi, dan bunda Anna, tentang rencananya yang ingin menjadi suami pura-pura kakaknya. Kini Zifa kembali keruangan kakanya dengan perasaan yang lebih lega. Sementara Bunda Anna masih berada di ruangan dokter Alwi, kata bunda Anna ada yang ingin dibahas sehingga Bunda Anna meminta Zifa meninggalkan dirinya hanya bersama Dokter Alwi di ruangan kerjanya.
Zifa membuka pintu ruangan kakaknya dengan perasaan yang sangat gembira. Terlebih ia disambut dengan senyuman yang meneduhkan dari wajah ibu baru itu.
"Ada kabar bahagia Fa, kenapa kamu sekarang terlihat bahagia sekali setelah pergi dengan Bunda Anna?" tanya dokter Marni, penasara.
"Nanti Ifa ceritakan yah Dok, sekarang mau main dulu sana Raja dan Ratu," balas Zifa, dengan mengedipkan mata sebagai kode kalau obrolanya jangan sampai didengar kakaknya, bukan Zifa tidak mau bercerita sekarang, hanya saja ini rahasia yang Kakaknya tidak boleh tahu sehingga Zifa untuk bercerita dengan dokter Marni nanti, ketika mereka berdua saja.
"Kenapa Fa?" tanya Zara yang kepingin tahu juga apa yang Zifa kira-kira sembunyikan dari dirinya setelah mengobrol dengan bunda Anna.
"Tidak ada Kak, Ifa seneng ajah sudah ada Raja dan Ratu, dan rencananya nama toko kue kita nanti juga akan di kasih nama Raja dan Ratu, kira-kira kakak suka tidak?" tanya Zifa, lebih baik ia mnegajak Zara membicarakan bisnis mereka yang rencanya akan di buka setelah kakaknya sehat. Sedangkan Raja dan Ratu nanti akan diasuh bersama dan apabila tidak bisa memungkinkan diasuh berdua oleh Zara dan Zifa maka Zifa akan mengambil tenaga tambahan untuk membatu semua kerjaanya. Untuk semuanya hanya dikerjakan oleh Zara Zifa dan dua pekerja yang akan membantu di dapur nanti. Untuk pemasaran dan pelayanan Zifa yang akan menghendelnya.
"Bagus Fa, Ara suka," balas Zara seolah menunjukan kesukaanya juga pada dokter Marni bahwa Zara suka dengan nama toko kue yang Zifa sarankan itu.
"Kalau begitu nanti semua keperluanya Zifa akan siapkan, sehingga ketika nanti pembukaan kita sudah siap untuk semuanya." Zifa bahkan dalam pikiranya sudah membayangkan desain untuk nama tokonya.
"Kalau butuh bantuan kamu bisa minta bantuan saya saja Fa." Dokter Alwi dan Bunda Anna masuk keruangan Zara
"Eh Dokter, sudah selesai urusanya Dok?" tanya Zifa, sebab tadi Alwi dan bunda Anna bilang kalau akan ada yang mau di bahas sehingga Zifa balik kekamar Zara lebih duluan.
"Udah, lagian orang nggak ada yang bicara penting kok, cuma ngobrol biasa saja. Iya kan Bun?" Pertanyaan dari Alwi mengagetkan bunda Anna di mana beliau sedang mengobrol dengan Dokter Marni.
"Ah, iya Fa, kita cuma bahas yang tadi, tidak ada pembahasan lain. Dokter Alwi sudah pengin lihat jagoan dan princesnya, makanya diajak ngobrol lama juga tidak akan masuk, pikiranya sudah bersama anak-anaknya," balas Bunda Anna, sepertinya bunda Anna sedang membahas rencana dokter Alwi yang akan berpura-pura menjadi Papah untuk anak-anak Zara sekaligus suami untuk Zara.
Senyum manis juga terlihat dari wajah Zara. "Dokter mau gendong Raja?" tanya Zara lebih dulu menawarkan anaknya untuk di gendong Alwi, di mana Ratu sudah sejak tadi di mainkan oleh Zifa.
"Iya dong, kan buru-buru kesini mau main sama si kembar, sampai rasanya enggak sabar sampai praktek hari ini terasa sangat lama selesainya," balaas Alwi sembari mengambil Raja yang tidak tidur, tetapi bayi itu anteng. Apa mungkin karena Ada Alwi yang mengaku jadi papahnya, sehingga dia bersikap baik untuk mencuri perhatian papahnya itu.
Alwi menggendong Raja dan memperhatikan wajah tampannya. Rasa ridunya dengan Mecca sedikit terobati ketika menggendong buah hati angkatnya.
"Kapan rencananya Zara sudah boleh pulang dokter Marni?" tanya Alwi yang sudah tidak sabar dengan kepulangan Zara.
"Besok juga sudah boleh pulang dokter Alwi. Lagian proses persalinan yang Zara lalui itu normal, sehingga untuk proses penyembuhanya lebih cepat," balas dokter Marni.
"Alhamdulullah, ini Zara sama Zifa pulangnya ke yayasan dulu kan Bun, tidak langsung ke kios?" Alwi bertanya lagi, sebab was-was pasti kalu pulang ke kios mereka. Yah, Zifa menggunakan sebagian uang yang Kemal berikan untuk membeli ruko di mana nantinya bagian bawah akan ia peruntukan untuk jualan kue buatan kakaknya, dan bagian atasnya akan ia gunakan untuk tempat tinggal. Tentu semuanya sudah atas persetujuan bunda Anna dan Alwi.
Sedangkan sampai saat ini Zifa masih belum tahu bagaimana kabar Kemal, pesannya mungkin tidak sampai atau memang nomor Zifa yang di blok sehingga Zifa seperti kehilangan jejak.
"Atuh, yang jelas ke yayasan dulu Dok, terlalu rawan kalau Zara dan Zifa berada di ruko tanpa ada yang bantu jaga si kembar." Dokter Marni mengambil alih jawaban.
"Iya saya juga lebih setuju seperti itu," balas Alwi ada perasaan lega, karena Zara berada di yayasan. Sementara untuk menjelaskan bahwa ia adalah suaminya. Alwi akan katakan ketika Zara sudah pulang ke yayasan nanti.
Zifa tidak menyangka bahwa hidupnya perlahan-lahan bisa lepas dari duka derita, tetapi bukan berati ia melupakan setiap kejadian pahit yang menimpanya. Wanita itu akan tetap menjalankan rencananya, tetapi tunggu sampai kakanya ada yang menjaga. Dan dengan bersedianya dokter Alwi menjadi papah dan suami pura-pura Zara, Zifa sedikit tenang, karena itu tandanya kakanya ada yang memperhatikan untuk sementara waktu. Meskipun hubungan suami-istri yang di jalani kakaknya dan dokter Alwi hanya kepura-puraan. Setidaknya dokter Alwi bisa melindungi kakaknya.
Zifa memperhatikan sikap dokter Alwi, yang terlihat sangat sayang dengan Raja, dan juga Zara yang sudah merasa nyaman dengan Alwi. Zifa tidak bisa berharap lebih dari hubungan kepura-puraan itu, karena dia tahu kalau kakanya memiliki daya pikir yang berbeda dengan orang lain. Sehingga Alwi mau membantu dengan menjadi suami pura-pura dan ayah angkat bagi ponakan kembarnya saja sudah suatu keberuntungan yang patut disyukuri. Sudah membuat Zifa bahagia, ada laki-laki sebaik dokter Alwi.