
Zifa menuntun kakanya, Zara. Mereka berjalan menuju mobil Kemal. Kaka beradik itu memang mengenakaan payung, tetapi rasanya payung itu hanya bertengger di atas tubuh mereka hanya sebagai pemanis, sehingga air hujan masih mengenai tubuh mereka.
"Mal, apa tidak lebih baik kita jalan kaki saja, baju kami basah kuyup nanti mobil kamu basah, dan juga kotor," ujar Zifa begitu berada di depan mobil Kemal, dan Kemal menekan remot mobilnya.
"Udah masuk Fa, lagian mobil kotor, basah bisa di bersihkan, dari pada kamu jalan hujan-hujan begini, mana masih pagi banget. Masuk! Tidak akan aku marah karena mobilku kalian basahi bahkan di kotori," balas Kemal, tidak setuju dengan ide konyol Zifa.
Kemal melajukan mobilnya dengan perlahan udara pagi yang dingin, dan rintikan air hujan yang masih turun, walaupun tidak sederas tadi. Tetapi berhasil membuat kabut yang mengganggu penglihatanya.
Kemal melihat ke kursi penumpang dari kaca sepion tengah mobilnya, hatinya kembali tersayat kecil-kecil dengan darah yang seolah mengucur deras. Sakit, ketika melihat Zara tertidur di pangkuan Zifa. "Apa salah mereka, kenapa Tuhan turunkan ujian yang sangat berat buat merek? Jaminan kebahagiaan seperti apa yang akan mereka dapatkan apabila melewati tangga ujian yang curam ini?" batin Kemal, dia mengutuk orang yang telah merenggut kebahagiaan Zara dan Zifa. Meskipun mungkin orang yang telah melakukanya adalah salah satu anggota keluarganya.
Pikira Kemal masih buntu, belum bisa menebak siapa pelaku dari kejahatan ini. Apakah Abas? Lyra? Atau malah mamihnya? Gimana cara untuk cari tahu semuanya? Sementara semua bukti pasti sudah di bersihkan. Ketelitian dalam penghapusan semua bukti sudah pasti sangat tidak diragukan lagi, sehingga sangat mustahil apabila Kemal bisa menelusuri sisa bukti yang mungkin teringgal. Terlebih Kemal harus pergi ke luar negri sekolah di negara mamihnya berasal 'Belanda'.
Tidak membutuhkan waktu terlalu lama kini Kemal sudah memalkirkan mobilnya di halaman rumah Zifa.
"Kakak kamu tidur Fa. Kasihan kalo harus dibangunkan," ucap Kemal sembari menatap kebelakang.
"Iya apa tidak masuk angin yah? Bajunya sangat basah, tapi kalo mau bangunin juga enggak tega," balas Zifa. Kasihan nanti malah bisa-bisa Zara menanyakan ibunya terus.
Kemal yang biasa menyimpan bantal dan alat-alat lain di dalam mobilnya pun turun dari mobil, dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi gaduh sehingga bisa mengganggu tidur Zara. Kemal mengecek di bagasi belakang mobilnya, mungkin saja ada barang yang bisa di pake buat menghangatkan tubuh Zara.
"Ah... lumayan untung ajah ada selimut sisa camping kemarin lupa menurunkanya," batin Kemal.
"Pake ini Fa buat nutupin tubuh Zara, dan kamu pake ini!" Kemal meberikan juga Handuk, Kemal juga memberikan bantal leher agar Zifa juga bisa menggunakannya, ikut kakaknya istirahat.
"Fa, kamu udah ngantuk belum?" tanya Kemal, kalo belum mengantuk, Kemal ingin membahas rencananya pada Zifa dan Zara.
Zifa yang tengah mencoba mengeringkan baju kakaknya dengan handuk dan selimut tebal sudah terpasang di tubuh ringkih Zara. Zifa menghentikan kegiatanya dan menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya yang cukup basah juga.
"Aku ingin membahas sesuatu ini menyangkut kehidupan kalian dan masa depan kalian. Kamu sepertinya harus pindah dari rumah ini. Aku sudah memikirkanya, dan aku mohon kali ini saja kamu dengarkan usulan dariku." Kemal tidak melanjutkan ucapanya, ia ingin melihat reaksi dari Zifa dulu baru setelah tahu respon Zifa. Kemal baru bisa menjabarkan rencananya.
"Rencana apaan? Bilang saja kalo memang untuk kebaikan kami pasti aku bisa pertimbangkan. Kamu tahu kan aku tidak ada siapa-siapa lagi, jadi kalo kamu mau menasihati aku dan memberikan usulan demi kebaikan kami, justru aku sangat terima kasih dan akan mencoba mengikuti apa rencana kamu," ucap Zifa dengan seulas senyum tanpa arti.
"Pertama, aku yakin kakak kamu itu bukan down syindrom seperti yang kamu selalu katakan. Ciri-ciri orang down syindrom buka seperti kakak kamu Fa. Zara bisa mengingat dengan baik, di suatu situasi daya ingatnya bisa tajam. Aku menyarankan Zara kamu titipkan ke yayasan khusus yang mengurus orang-orang dengan kebutuhan khusus, nanti di yayasan itu bakal diadakan pemeriksaan dan terapi dan juga latihan mengolah emosi dan lain sebagainya. Terlihat kejam sih, tapi itu satu-satunya cara agar Zara mungkin saja tahu dengan kejadian ibu kamu dan bisa menjadi saksi kunci kematian ibu kamu apakah dibunuh atau memang benar adanya serangan jantung. Dia juga mungkin bisa menjabarkan kejadian pelecehan s*ksual yang dia alami setelah kakak kamu bisa mengolah emosinya. Aku lihat Zara hanya butuh penanganan khusus Fa, setelahnya semuanya akan terbuka seiring berjalanya waktu, dan kamu bisa fokus di pendidikan kamu, dan mungkin kalo kamu mau bisa menggunakan waktu kamu untuk mencari bukti, tapi pastika sebelum mencari bukti identitas kamu di ganti. Dan itu sudah pasti kamu harus pindah dari rumah ini. Tinggal di rumah ini terlalu beresiko buat kamu, dan identitas kamu juga berbahaya, Zara juga bisa kabur kemakam ibu kamu, itu sangat tidak aman." Kemal menjabarkan dengan detail apa yang ada di otaknya.
Zifa hanya tertawa. "Apa kalau tinggal di yayasan seperti itu tidak butuh uang? Sekolah? Pindah rumah? Uang dari mana Mal? Aku orang miskin, tanpa aku katakan kamu tahu itu," jawab Zifa dengan senyum mengejek.
"Aku ada tabungan, aku tidak menawarkan uang itu dengan geratis, karena aku tahu kamu pasti menolaknya. Aku akan meminjamkan sama kamu. Soal bayar aku tidak memintanya buru-buru. Karena aku juga dalam waktu dekat akan pergi sekolah di luar negri. Orang tuaku dapat tugas di negara orang. Jadi kamu bisa pakai uang itu. Kalo kamu tidak bisa mengembalikan uang itu dengan uang juga, aku ingin kamu mengembalikan uang itu dengan maaf dari kamu," ucap Kemal, secara tidak langsung ia tengah berpamitan dengan Zifa.
"Berapa tahun kamu di negara orang?" tanya Zifa dengan datar. Zifa seolah merasa berat mau berpisah dengan Kemal.
"Aku tidak tahu, bagai mana tugas orang tuaku, kalao cepat bisa lima tahun, kalo lama bisa sepuluh sampai dua puluh tahu," jawab Kemal dengan santai.
"Apa kamu yakin kita akan bertemu kembali?" cecar Zifa lagi.
"Aku yang akan mencari kamu, dan aku pasti punya banyak cara untuk menemukan kamu," jawab Kemal dengan percaya diri.
"Berapa uang yang akan kamu pinjamkan ke aku?" tanya Zifa dengan seriuz.
"Dua miliar, satu miliar aku kirim secepatnya. Satu miliar lagi ketika aku akan pergi dari negara ini."
Zifa yang kaget dengan nominal yang Kemal ucapkan pun langsung tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa. Zifa terlalu syok dengan nominal yang Kemal sebutkan.