
Abas, laki-laki itu terus menggoda hingga membuat pertahanan iman Zara goyah. "Mau..." ucap Zara pada akhirnya tergoda, ia ingin merasakan permen yang Abas tawarkan.
Abas pun dengan senang menyambut keinginan Zara, yang akhirnya mau juga di rayu dengan permen. Abas menutup pintu kamar Ghava, tidak lupa tentu ia menguncinya.
"Buka." Zara menjulurkan satu buah permen dengar rasa yang setroberi bercampur susu. Abas menuntun Zara dan mendudukkan wanita incaranya di samping tempat tidur. Lalu membuka permen loly pop dengan rasa yang Zara tunjuk. Dengan antusias Zara segera memasukan sebutir permen yang sudah di buka oleh Abas ke dalam mulutnya.
"Enak," ucap Zara dengan sorot mata yang berbinar, Abas yang sudah di kendalikan oleh nafsu pun langsung menegang senja-tanya begitu melihat senyum Zara, gerakan bibir Zara yang sedang mengu-lum sebutir permen loly pop membuat hasrat laki-laki itu semakin menegang. Kepalanya seketika sakit sudah tidak sabar lagi mengambil madu dari gadis yang tidak tahu bahwa laki-laki yang sedang berada di hadapanya adalah predator yang sedang mengawasinya. Predator yang akan membuat hidupnya hancur.
Abas terus menunggu hingga semua rencananya berjalan dengan lancar. "Zara bajunya di buka yah," lirih Abas dengan suara pelanya.
Zara yang sedang asik menikmati permen dan juga kue yang ternyata Abas juga menyiapkan kue tart untuk Zara dengan rasa yang terenak. Zara mengangguk ketika Abas meminta izin untuk membuka bajunya. Helai demi helai baju yang Zara kenakan sudah teronggok di tempat tidur. Zara yang mana wanita normal dari segi seksual pun terangsang dengan gerakan-gerakan yang Abas mainkan di atas tubuh telanjangnya.
"Geli," lirih Zara ketika Abas bermain di puncak gu-nung kembarnya.
"Hust...jangan berisik, nanti ada yang minta permen dan kue Zara. Nanti kalau ibu tahu Zara makan permen dimarahin, " lirih Abas. Zara pun lagi-lagi menurut saja apa yang Abas katakan. Gadis itu diam saja meskipun dia merasakan geli dan juga rasa aneh lainya, dia masih menikati sebutir permen. Hingga suara erangan yang samar keluar dari bibir Zara.
"Sakit... sakit... rengek Zara ketika senja-ta milik Abas mencoba masuk gawang kepertahanan gadis itu.
"Hust... jangan nagis! Ini tidak sakit tapi enak. Kalau kamu nangis besok tidak di beri permen dan kue lagi," ancam Abas bibirnya membukam bibir Zara hingga gadis itu tidak bisa memekik lagi ketika sebuah benda tumpul masuk ke dalam gawangnya pertahananya. Zara yang mau naangis pun tidak jadi ketika mengingat bahwa nanti dia tidak di kasih kue lagi. Demi sepotong kue yang lezat Zara diam saja meskipun di bawah sana terasa sakit, tetapi rasa sakit itu lama kelamaan membuat Zara keenakan dan menikmati permainan itu.
Satu sembu-ran la-har yang hangat memenuhi rahim Zara, tanpa takut bahwa gadis yang ia nikmati akan hamil. Abas tanpa pikir panjang membuang calon bayinya di dalam rahim sana. Setelah semua selesai Abas buru-buru memakaikan kembali pakian Zara dan dia juga tidak meninggalkan tanda kepemilikan agar ibunya yang hanya tukang cuci tidak curiga bahwa anak sekarang menjadi boneka s*k Abas.
"Sakit," renget Zara ketika dia membuang air kencing. Abas pun yang sudah menyiapkan semuanya dan tahu bahwa anak dari tukang cuci di rumahnya pasti masih pera-wan meminumkan obat pereda nyeri hingga Zara yang kekenyangan memakan kue pun tertidur di kamar Ghava. Tentu sebelumnya Abas sudah mengancam agar jangan menceritakan apa yang sudah Abas lakukan agar Zara di belikan makanan-makanan lezat lagi. Wanita itu pun nurut saja dengan Abas yang ternyata laki-laki itu juga mengatakan pada Zara bahwa dia adalah suami Zara. Itu sebabnya Zara menolak Alwi menjadi suaminya, karena dalam ingatan bahwah sadar Zara dia masih mengenali wajah laki-laki yang mengatakan bahwa ia suaminya.
Menyesal? Sepertinya tidak. Justru apabila memungkinkan Abas melakukan penyatuan pada Zara lebih dari satu Kali, dan ternyata Zara itu bisa memuaskan Abas hingga ia lupa dengan pelayanan istrinya.
Hari berganti hari, minggu dan bulan hingga akhirnya semuanya terbongkar dan kenikmatan yang Ghava rasakan selama ini harus berakhir, dan kembali hanya bisa merasakan servis dari Lyra, yang sampai saat ini Abas masih menginginkan rasa yang seperti Zara berikan, dia memang gadis yang memiliki kelainan tetapi ketika melakukan penyatuan dia tidak seperti anak kecil. Tubuhnya seolah tahu bagai mana cara memuaskan lawan jenisnya. Tubuhnya tanpa diajarkan tahu harus meberi respon yang seperti apa.
Fleshbeck Off...
Lamunan Aabas tersadar ketika pintu ruanganga di buka oleh wanita berparas cantik dan pakaian seksi, yaitu Lyra yang masuk. Laki-laki itu baru sadar bahwa ia tadi pagi berjanji ingin penyatuan dengan istrinya di kantor. Namun setelah melihat foto bayi yang ada di poto profil Ghava hasrat seknya yang tadi pagi sempat memuncak, kini hilai terganti dengan pikiran penyatuan dengan Zara, gadis yang lama dia cintai tetapi ia hanya bisa menjadikan Zara sebagai pemu-as nafsunya secara sembunyi-sembunyi.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa wajah kamu seperti orang sakit, pucat dan dingin," Lyra memegang kening Abas di mana biasanya apabila sakit orang akan panas badanya, tetapi berbeda dengan Abas yang justru pucat seperti sakit tetapi badanya dingin.
"Enggak tahu sayang tiba-tiba aku seperti merasakan tubuh menggigil seperti sakit tapi badan aku sepertinya biasa-biasa sajah," ujar Abas, agar Lyra tidak meminta di puaskan siang ini. Hasrat s*knya untuk melakukan kewajibanya sebagai suami hilang dengan bayangan penyatuan dia yang membuat ia hanya menginginkan gadis polos itu yang saat ini menari dengan gemulai di atas tubuhnya.
Namun, Abas bingung mau mencari kemana lagi wanita itu, wanita yang mau melayani nafsunya dengan baik, walau hanya dengan imbalan sebutir permen dan sepotong cake ulang tahun.
"Jadi kita tidak bisa saling memuaskan dong sayang?" tanya Lyra dengan wajah di bikin sesedih mungkin dan itu tandanya kedatanganya ke kantor suaminya sia-sia, padahal dia sudah membayangkan penyatuan yang panas selama perjalanan menuju kantor Abas.
"Maaf yah sayang, badan aku tiba-tiba kaya gini, bahkan keinginan bercinta pun sudah hilang," balas Abas dengan jujur, ia yakin bahwa Lyra juga pasti akan mengerti dengan kata Abas.
Abas Laki-laki itu sebenarnya bukan tipe pemain semua wanita. Bahkan wanita yang dijadikan pemu-as hasrat s*knya hanya Lyra dan Zara. Dia sampai saat ini tidak tergoda dengan wanita manapun, dia tanya tergoda dengan Zara dan Lyra. Namun sejak kehadiran Zara, Abas kurang menikmati pelayanan istrinya, dalam pikiran nya hanya Zara yang bisa membuat dia terbuai hingga ke Nirwana.