Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CBD #Episode 147


"Ghava, akhirnya kamu datang juga, kamu kemana saja?" tanya Eira yang sebenarnya sangat kecewa dengan anak keduanya itu, di mana sangat sulit untuk dihubunginya, dan juga malah mengindar entah kemana saja, sangat sulit untuk dicarinya.


Yah, setelah Ghava menerima pesan dari Kemal dan tentunya setelah memastikan istrinya aman ia pun menyusul keluarganya yang sedang menunggu abangnya yang masih koma itu.


"Gimana kondisi Abang?" tanya Ghava yang bisa melihat kalau kondisi abangnya sangat memprihatinkan. Tanpa menanggapi ucapan mamahnya.


"Seperti yang kamu lihat dan mungkin hanya keajaiban yang bisa membuat Ghava bisa sembuh." Omar mengambil alih atas pertanyaan putranya itu.


"Lalu kondisi Orlin gimana? Dia kecelakaan bareng sama Orlin kan?" tanya Ghava lagi.


"Orlin, kondisinya lebih beruntung dari Abas. Itu semua karena Olin langsung keluar dan menjatuhkan diri ketika Abas sudah mulai oleng dan menabrak dinding beton pembatas jalan," jawab Omar, itu yang dia dengar keterangan itu dari Orlin dan keluarganya.


"Syukurlah, anaknya juga nggak ada masalah kan?" Ghava masih  harus menmastikan kondisi istri dari abangnya itu.


"Sejauh ini aman," imbuh Omar, yang lebih banyak menjawab pertanyaan Ghava terlebih soal Orlin.


Pertemuan pagi ini pun  terlihat seperti asing. Ghava pun tidak terlibat banyak obrolan, terutama dengan Kemal. Ghava lebih banyak berkomunikasi dengan Omar papahnya, dengan Eira pun Ghava seolah membatasinya, dan Eira sendiri merasakan perubahan dengan anaknya itu.


Entah berapa lama Ghava terlibat kebisuan seperti orang asing, dan juga ia sendiri bingung mau memulai dari mana.


"Ok, karena Ghava sudah datang, Mamih akan izin untuk pulang dulu, ada banyak yang akan Mamih bawa ke sini, termasuk pakaian ganti untuk kita semua," ucap Eira memecah kebisuan di antara mereka. Kemal tetap diam seolah ia tidak tahu apa yang tadi mamihnya katakan di toilet.


Sementara Omar menatap Eira. Yah, memang yang dikatakan istrinya ada benarnya dan itu semua untuk kebutuhan mereka. "Apa Mamih yakin akan pulang sendiri, tidak diantar oleh Papih atau Kemal gitu?' tanya Omar sembari tatapanya menatap pada Kemal putra bungsunya.


"Tidak perlu Pih, biar Mamih sendiri ajah kalian tunggu Abas, takut terjadi apa-apa dengan Abas, biar Mamih pulang dengan supir," ucap Eira dengan suara yang sedikit tergesa. Mungkin di antara Ghava dan Omar terlihat biasa saja tetapi tidak dengan Kemal yang sudah mencium rencana tidak beres di antara mamihnya itu.


"Ok, kalau ada apa-apa kamu segera hubungi kita," ucap Omar, dan Kemal masih dia, membiarkan mamihnya percaya kalau dirinya akan diam saja dan menunggu Abas di rumah sakit ini. Begitupun Ghava yang lebih fokus dengan abangnya yang  di tubuhnya terdapat banyak alat-alat medis menempel.


Ghava diam mematung dengan menatap Abas dari balik jendela kaca. Sementara Omar mengantarkan Eira hingga ke halaman parkir rumah sakit.


"Bang gue ada urusan, tolong nanti kalau gue telpon ataupun Zifa loe harus angkat buru-buru," ucap Kemal yang artinya ia akan mengikuti mamihnya. Laki-laki itu sangat yakin kalau wanita yang telah melahirkanya tidak akan tinggal diam dengan kesempatan emas itu. Yah, kapan lagi ada kesempatan Zifa ditinggal di rumah sendirian dan Ghava tidak menyadari ada bahaya untuk istrinya, bukanya itu termasuk kesempatan emas.


Ghava yang sedang setengah melamun, langsung mengerjapkan matanya, dan langsung menatap pada Kemal yang buru-buru meninggalkan dirinya, sebelum Ghava protes dan melarangnya pergi.


"Kamu tenang saja Bang. Zifa aman gue nggak akan menyentuhnya karena gue tahu posisi gue sudah tergeser oleh loe," balas Kemal, setidaknya Ghava tidak merasakan cemas dan khawatir dengan Zifa itu. Ghava bisa mendengar ucapan Kemal dan dalam hatinya dia juga percaya kalau Kemal tidak akan tega melakukan itu semua.


Ghava menatap punggung adik bungsunganya yang tertelan lorong rumah sakit. "Kenapa perasaanku tidak tenang," batin Ghava menatap punggung adiknya yang terlihat gagah dan kokoh. Itu semua karena mereka sangat gila GYM dan makan dengan pola yang teratur dan sehat.


Mata Kemal dengan awas mengawasi mobil Mamihnya, yang sebenarnya Kemal sudah tahu dan sudah mendengarnya kalau Zifa saat ini berada di rumah Ghava, dan itu tandanya tujuan mamihnya saat ini juga ke rumah Ghava. "Kira-kira apa yang akan Mamih lakukan pada Zifa?" batin Kemal matanya bahkan seolah tidak berkedip sedikit pun. Ia takut kalau berkedip maka akan kehilangan jejak mobil mamihnya.


Setelah menemuh perjalanan yang tidak sampai memakan waktu dua jam, itu semua karena rumah sakit yang merawat Abas berada di tengah-tengah kota Bandung dan Jakarta. Sesuai tebakan Kemal, mobil mamihnya masuk ke rumah Ghava. Dari kejauhan Kemal mengawasi terus pergerakan mamihnya, bahkan Kemal meninggalkan mobil yang cukup jauh dari rumah Ghava dan dia memilih berjalan kaki untuk mendekat ke rumah abangnya.


Kemal melihat kalau pertama Eira dilarang masuk oleh scurity yang berjaga di sana, tetapi tidak lama kemudian, mobil yang di tumpang oleh Eira berjalan masuk dengan perlahan ke dalam rumah yang seharusnya tidak ada orang yang boleh masuk. Kemal pun semakin mengayunkan kakinya dengan sedikit tergesa.


"Mas mau kemana?" tanya security menahan Kemal yang akan masuk ke rumah abangnya itu.


Kemal menatap heran pada dua security yang berjaga di depan gerbang yang tinggi itu. "Masuk ke dalam, apa tidak diizinkan?" tanya Kemal dengan suara yang dingin. Laki-laki itu sebenarnya sudah bisa menebaknya bahwa dia tidak akan dengan mudah bisa masuk ke dalam sana terlebih Eira sudah di dalam, pasti dia juga meminta rumah itu di seterilkan dengan orang-orang yang mungkin akan menggagalkan rencananya.


"Tidak bisa Mas, Pak Ghava dan Bu Zifa tidak ada yang menizinkan ada yang masuk ke dalam." Security yang berbadan lebih pendek menjawab pertanyaan Kemal.


"Lalu kenapa Mamihku bisa masuk ke dalam sana?" tanya Kemal dengan tatapan yang tajam seolah mencari keseriusan di wajah security itu.


"Tadi Nyonya Eira sudah dapat izin dari Bu Zifa," jawab security yang satunya lagi, dan badannya lebih tinggi.


"Yakin, Zifa yang mengirimkan pesan? Apa dia menghubunginya atau dengan pesan?" tanya Kemal semakin membuat tidak berkutik dua secirity itu.


"Eee itu... Pesan Mas." Security itu menjawab dengan terbata dan seolah ia telah sadar kalau dia melakukan kesalahan.


"Izinkan saya masuk, nyawa Zifa sedang terancam," lirih Kemal, pandangan Kemal masih melihat keraguan di wajah dua security yang berjaga di rumah abangnya itu.


"Kalau ada apa-apa dengan majikan kalian, apa kalian bisa jamin, saya pastikan kalau saya masuk ke dalam rumah ini bukan karena ingin mencelakai majikan kalian semua terlebih majikan kalian adalah abang saya, mana saya tega membuat kekacauan dengan keluarga saya sendiri, tetapi aku datang dengan tujuan sebaliknya. Aku akan melindungi majikan kalian dari bahaya," ucap Kemal yang diyakini dua security itu akan dengan mudah membukakan pagar, tetapi tidak semudah itu.


"Bukanya sama dengan Nyonyah Eira di mana beliau juga ibu dari Pak Ghava, mana tega Beliau mencelaki menantunya," jawab security dengan santai membuat Kemal semakin tinggi emosinya. Kemal menarik rambutnya, sudah hampir sepuluh menit dirinya  tertahan di depan gerbang dan itu tandanya, mungkin saja saat ini mamihnya sudah bertemu dengan Zifa.


"Pak saya mohon, nyawa Zifa terancam, kalau saya berbohong silahkan kalian lihat ke dalam bersama-sama agar kita semua tahu apa yang terjadi di dalam dari pada berdebat, aku takut Zifa tidak selamat," ucap Kemal dengan kedua tangan mengatup memberikan permohonan dengan tulus dan mengiba.