Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Suami pura-pura


"Zara, Bunda pinjam Ifa dulu yah," ujar Bunda Anna ketika Zifa dan Zara sedang bercengkrama dengan putra dan putri Zara yang sangat tampan dan cantik. Sungguh menyesal laki-laki yang tidak mau mengakui anak secantik dan tampan seperti Raja dan Ratu.


Zifa mendongakan kepala dan menatap bunda Anna penuh tanya, tetapi setelahnya mengekor di belakang bunda Anna tentunya setelah Zara mengizinkanya. Zara sendiri masih di dampingi oleh dokter Marni, karena takut kalau Zara akan menyakiti Raja maupun Ratu. Di mana Zara ingatnya masih belum seperti orang normal lainya, ditakutkan nanti ia kembali lupa dan mengira bahwa kedua anak kembarnya adalah boneka dan justru ia mennyakitnya.


"Zara suka tidak punya baby?" tanya dokter Marni, untuk memancing perasaan Zara. Wanita yang baru melahirkan itu, menatap dokter Marni dengan seulas senyum tersungging di wajah cantiknya. "Suka Dok, Ratu cantik, Raja ganteng, kata Zifa," balas Zara, mengikuti ucapan adiknya, sembari terus meperhatikan buah hatinya yang kembali terpejam setelah kenyang minum susu.


"Kalau Zara seneng, nanti Raja dan Ratu jangan dibikin nangis yah, sayangin Ratu dan juga Raja, biar nanti babynya tidak nangis. Kasihan kalau nangis nanti malah tambah sakit Babynya." Dokter Marni, juga mengajarkan cara menggendong dan cara mendiamkan Babynya yang nangis dengan cara di empok-empok bokong, si bayi. Yah meskipun Zara memiliki mental yang kurang dalam menangkap sesuatu yang ada dihadapanya, tetapi Zara juga memiliki nurani yang bagus dan kasih sayangnya jangan di rajukan lagi. Bahkan melebihi manusia normal pada umumnya. Ia adalah anak yang baik, sehingga begitu dinasihati ia akan mengingatknya secara terus menerus.


Zara pun mengangguk mendengarkan nasihat yang di berikan oleh dokter Marni.


****


"Duduk Bun, Fa." Dokter Alwi mempersilahkan Ifa dan bunda Anna untuk duduk di hadapanya. Dua wanita beda usia iu pun langsung duduk sesuai dengan yang di minta Alwi.


"Ngomong-ngomong apa ada yang penting Bang? kenapa Ifa jadi deg-degan gini yah," tanya Zifa dengan suara pelanya.


"Iya terima kasih Bang. Nanti Ifa sampaikan sama Kak Zara," jawab Zifa dengan membalas senyum Alwi. "Jadi kira-kira apa yang ingin Abang sampaikan?" tanya Zifa ulang.


"Obrolanya cukup penting makanya Abang panggil kamu, dan Bunda Anna. Jadi gini Bunda Anna sudah menjelaskan semua yang terjadi dengan kakak kamu, Zara. Di mana kata Bunda akhir-akhir ini Zara sering menanyakan keberadaan suaminya, sekaligus Ayah dari putra putrinya. Hal ini sebenarnya perkembangan yang bagus. Tanpa diarahkan oleh yang lain tandanya Zara dalam pikiranya memikirkan nasib anak-anaknya. Itu tandanya Zara sudah tahu bagimana hubungan sosial. Tadi saya sudah mencoba berunding dengan Bunda Anna, bagai mana kalau saya itu berpura-pura menjadi suami kakak kamu. Sebatas membantu kakak kamu agar dia bisa sembuh dengan total dan mengingat kejadian terdulunya."Alwi berbicara dengan sangat seius.


Zifa tentu terkejut dengan ucapan Alwi, satu sisi dia bahagia ternyata antusias dokter Alwi dan bunda Anna sangat  tinggi, sehingga sampai terfikir dengan suami pura, pura untuk kakaknya. "Sebelumnya Zifa ucapkan banyak terima kasih untuk Bunda Anna dan Abang, yang sungguh bekerja dengan totalitas demi kesembuhan Kakak Zara, tapi apa dokter Alwi tidak keberatan. Terlebih apabila Kak Zara menganggap Abang benar-benar suaminya dan nanti ada wanita yang dekat dengan Abang lalu kalian menikah secara sungguhan kira-kira bagai mana dengan nasib kakak saya? Terus perasaan cewek itu juga gimana, apa nanti tidak cemburu, andai masih terus berlanjut?" tanya Zifa, setidaknya Alwi maupun Bunda Anna bisa menjelaskan dengan rinci agar Zifa percaya dengan ide itu adalah ide yang terbaik, dan tidak menimbulkan masalah lagi.


"Jujur untuk memikirkan sampai sana, saya masih belum terlalu memikirkan yang jauhnya, yang saat ini saya pikirkan, bagai mana agar mood Zara kembali ceria dan dia bisa merawat bayinya dengan baik, karena dia tahu ada suami dan Ayah bagi raja dan Ratu. Mungkin masalah seperti itu bisa dibicarakan lagi nanti kedepanya bagaimana. Sebabkan kita tidak tahu kedepanya rencana Allah akan bagai mana.kalau saya sih cukup memikirkan yang sekarang dulu. Yang akan datang kita fikirkan sekalian jalan," jawab Alwi dengan santai. "Mungkin sisanya Bunda Anna bisa kasih solusi, dan kita cari keputusaanya bersama-sama."


"Kalau Bunda tentu setuju dengan Dokter Alwi, di mana sebaiknya kita fokus dengan yang saat ini, semakin kedepan pasti Zara juga akan bisa berinteraksi semakin baik, jadi tidak perlu ragu dan jangan ada cemas. Kalu Bunda lihat nanti Zara akan mengerti dengan sendirinya. Seperti saat ini tanpa dijelaskan yang detail dan mendalam Zara sudah tahu suami dan Ayah untuk anaknya maka dari itu dia bertanya. Nanti kedepanya juga akan seperti itu, dan kita tinggal menjelaskanya," jawab Bunda Anna terlihat tetap tenang .


"Kalau menurut Bunda dan Abang ini adalah sudah menjadi jalan yang terbaik. Zifa tidak ada alasan untuk menolak, terlebih ini adalah upaya untuk membuat ingatan Kak Zara semakin baik lagi. Justru Zifa ingin ucapkan terima kasih buat Bunda dan Abang, karena kalian sudah mau repot-repot untuk memikirkan ide ini, yang sepertinya tidak semua orang mau melakukanya, terima kasih perhatiannya untuk orang seperti Kak Zara, Zifa sampai bingung mau mengucapkan terima kasih dengan apa lagi, karena selama ini kalian sudah sangat luar biasa membantu kami, terutama, membantu kaka Zara, dan kalian mau menampung serta menyayangi kakak dengan sangat tulus meskipun kondisinya kakak hamil di luar nikah, di mana di sebagian orang di negara ini. Hamil di luar nikah adalah aib yang sangat besar, tetapi kalian masih bisa menyayangi dan tidak menghakimi Kak Zara, terima kasih buat semuanya." suara Zifa bergetar, tetapi Zifa yang sekarang tidak secengeng Zifa yang dulu. Wanita berumur hampir delapan belas tahun itu sudah semakin dewasa.


"Sama-sama sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong kakak kamu Fa, karena kalian adalah orang yang baik. Sekarang tinggal fokus dengan ingatan masa lalu Zara. Terlebih dia sudah memiliki masa depan yang cukup cerah dengan toku kue gagasan kamu, tinggal menunggu orang yang sudah membuat kakak kamu menderita seperti ini, menyesal semua perbuatanya." Alwi dengan seulas senyum memberi semangat buat Bunda..